
William menghela nafasnya dan menatap Alex dengan serius,
"Apa kau tau tentang hubunganku dan ibumu dulu??" tanya William dengan wajah datarnya.
Alex menatap tajam pada William dan mendengus sinis,
"Aku tau segalanya!! Sekarang langsung saja pada intinya, kenapa kau membunuh mereka???" tanya Alex tidak sabaran.
William terdiam sejenak dan kembali menatap Alex,
"Apa kau pikir aku akan membunuh orang yang sangat aku cintai di dunia ini??" tanya William.
Alex menatap William dan tersenyum sinis,
"Mungkin saja... kecemburuan terkadang bisa membuat orang lupa diri dan berbuat nekat" ujar Alex tajam.
William menatap Alex dengan datar dan tersenyum tipis,
"Bukankah lebih baik jika aku hanya membunuh ayahmu saja, lalu membawa ibumu pergi sampai ke ujung dunia dan hidup bersama selamanya??" ujar William.
Alex menggertakkan giginya dan menatap William dengan sinis,
"Kau terlalu bertele-tele!!!!" sindir Alex tajam.
William pun bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati jendela,
"Aku tidak pernah membunuh Diana" ujar William tiba-tiba.
Seketika Alex membelalakkan matanya dan menatap punggung William dengan emosi.
"Omong kosong!!! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!!! Kau yang menembak ibu dan ayahku!!!" ujarnya marah.
William terdiam sejenak dan masih menatap ke luar jendela. Perlahan dia menutup matanya dan menghela nafasnya pelan.
"Kau tidak melihat apa yang terjadi sebelumnya. Yang kau lihat hanya saat aku menembak ayahmu. Dan kau tidak melihat bahwa ayahmu juga sedang menggenggam sebuah pistol di tangannya" ujar William tenang.
Alex masih menatap William dengan tajam dan tersenyum sinis,
"Pembohong!!!!" geram Alex.
William pun membalikkan badannya pada Alex dan menatap pria itu dengan serius,
"Terserah kau mau percaya atau tidak. " ujar William.
Alex mengepalkan tangannya kuat dan menatap William dengan mata yang berkilat,
"Jadi maksudmu, ayahku yang telah menembak ibuku??? Itu tidak mungkin!!!!!!" ujar Alex marah.
William perlahan kembali membalikkan tubuhnya menghadap jendela dan memunggungi Alex yang masih terduduk tidak percaya di atas sofa,
"Aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Tapi aku berkata yang sesungguhnya..." ujar William datar.
"Saat Frans menembak Diana, amarahku memuncak dan tanpaku sadari aku juga menembak Frans sampai dia tewas..." lanjutnya.
Alex menundukkan wajahnya dan masih mencoba untuk menahan amarahnya yang sudah memuncak. Sial!!!! Apakah bajingan ini mempermainkannya???? pikir Alex marah.
"Jika itu semua benar... Tetap saja kau yang bersalah atas kematian mereka!!! Kenapa kau muncul pada saat itu??? Jika saja kau tak ada, mungkin saja kejadian itu tidak akan pernah terjadi!!!!!!" teriak Alex emosi.
__ADS_1
William memejamkan matanya dan merasakan dada nya bagai tertusuk ribuan duri yang tajam saat mendengar ucapan pria itu,
"Mungkin kau benar... Tapi..... aku tidak bisa diam saja saat wanita yang ku cintai disakiti oleh pria lain!!!" ujar William tajam.
"Kurasa kau juga tau, bahwa hubungan diantara kedua orang tuamu tidaklah harmonis" lanjutnya.
Alex menunduk dan meremas rambutnya dengan kasar. Sial!!! Alex memang tau bahwa hubungan kedua orang tuannya tidak harmonis. Tetapi dia tidak menyangka bahwa ayahnya akan tega membunuh ibunya hanya karena kecemburuannya pada William.
"Hubungan cinta kami begitu rumit karena campur tangan keluarga. Dulu Peter selalu berusaha memisahkanku dan Diana dengan berbagai cara apapun. Awalnya aku tidak menyerah, namun banyak orang-orang di sekitarku yang menjadi korban. Akhirnya aku memutuskan menyerah dan melepaskan Diana walaupun aku tak ingin" jelas William.
"Sejak saat itu aku menaruh dendam pada Peter dan keluarga Wijaya. Aku selalu ingin menghancurkan mereka untuk membalaskan sakit hatiku. Aku tidak ingin bertemu bahkan menjalin hubungan dengan keluarga Wijaya kembali. Termasuk juga kau!!" ujar William sambil menatap Alex dengan tajam.
"Aku tidak ingin Anna berhubungan denganmu! Kau adalah salah satu keturunan dari keluarga Wijaya. Aku telah berjanji pada diriku sendiri, sampai kapanpun aku tidak akan mau berhubungan dengan keluargamu lagi!!!" tegasnya.
Alex terdiam sejenak, lalu tersenyum sinis pada William,
"Kau pikir aku peduli!!! Sekeras apapun kau menghalangi hubunganku dan Anna, aku tidak akan pernah menyerah!! Walaupun seisi penjuru dunia ini menghalangiku, aku tidak akan menyerah sampai aku mati!!!! Aku bukan pengecut sepertimu William!!!" ujar Alex tajam.
"Aku berusaha keras mencoba berdamai dengan masa laluku... aku berusaha mengesampingkan dendam ku padamu karena bagaimanapun juga aku harus menghormatimu sebagai ayah dari wanita yang aku cintai... Jadi... Sekeras apapun kau menghalangiku, maka sekeras itu juga aku akan menghadangnya!!" lanjut Alex.
DEG!!!!
William menatap mata Alex yang berkilat tajam di depannya. William bisa melihat keseriusan pria itu terpancar jelas di matanya.
Mungkin Austin benar... Pria di depannya ini jauh lebih berani dari dirinya di masa lalu. Jika saja dulu dia memiliki keberanian seperti pria ini, mungkin dirinya tidak akan kehilangan Diana.
"Kurasa semua sudah cukup jelas..." ujar Alex berdiri dari kursinya lalu melangkah ke arah pintu dan membukanya.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti di depan pintu,
William termenung sejenak dan kembali melangkah ke arah kursi. Dia terduduk disana sambil memijit kepalanya.
"Diana... apa yang harus aku lakukan sekarang..." bisiknya pelan.
-
Peter perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat. Kepalanya terasa sakit dan pandangannya pun terasa buram.
"Ayah.... Kau sudah sadar???" tanya seseorang.
Perlahan Peter mengarahkan pandangannya pada suara itu dan menatap seorang wanita yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya.
"Ayah..... Ini aku, Donna" ujarnya pelan.
Seketika Peter mengusap matanya dan menatap putrinya Donna sedang berada di hadapannya.
"Donna.... Benarkah itu kau???" tanya Peter dengan suara lemahnya.
Donna pun meraih tangan Peter dan menyentuhnya dengan lembut,
"Iya ayah.. Ini aku, maaf aku baru bisa kemari setelah sekian lama" ujar Donna sedih.
Peter pun tersenyum dan menggenggam tangan putrinya itu dengan erat,
"Tidak apa, aku mengerti kau cukup sibuk disana.. Dimana Jonas dan cucuku Key???" tanya Peter mencoba untuk duduk.
Donna dengan sigap membantu Peter untuk duduk,
__ADS_1
"Jonas sedang berada di perusahaan untuk mengecek beberapa laporan, sedangkan Key, dia sedang berada di kamarnya, aku akan menyuruh pelayan untuk memanggilnya kemari" ujar Donna.
Seorang pelayan pun mengangguk dan bergegas ke kamar Key untuk memanggilnya.
Donna pun kembali duduk di samping Peter dan memijit tangannya dengan perlahan,
"Sudah berapa jam aku tak sadarkan diri?? Lalu kapan kau tiba kemari??" tanya Peter.
Donna menatap Peter dan tersenyum lembut padanya,
"Aku baru tiba disini beberapa jam yang lalu. Dan.. ayah sudah lebih dari 24 jam tak sadarkan diri. Untung saja Chris langsung menelpon ku dan dengan segera aku berangkat kemari" ujar Donna.
Peter menghela nafasnya lelah lalu menatap langit-langit kamarnya sambil termenung,
"Huh.... Aku sudah sangat tua dan lemah. Aku merasa... hidupku tidak akan lama lagi" ujarnya pasrah.
"Ayah... Jangan berkata seperti itu. Ayah pasti akan sehat kembali. Dokter bilang ayah terlalu banyak pikiran yang membuat tekanan darah ayah tinggi. Sebenarnya apa yang ayah pikirkan sampai seperti ini???" tanya Donna khawatir.
Peter menghela nafasnya dan kembali termenung,
"Aku... Aku sedang memikirkan Alexander, putra dari Diana. Aku menginginkannya kembali ke rumah ini dan menjadi penerusku" ujar Peter.
Seketika Donna mengernyitkan keningnya dan menatap Peter tidak mengerti,
"Alexander... Putra dari mendiang kakak??? Apa ayah bertemu dengannya???" tanya Donna penasaran.
Peter terdiam sesaat lalu menatap Donna,
"Aku sempat membawa paksa dia kemari. Tapi sayangnya, anak itu terlalu keras kepala dan berhasil kabur dari sini. Aku tidak tau lagi bagaimana caranya agar dia bisa kembali ke rumah ini" ujar Peter putus asa.
Donna pun menghela nafasnya,
"Dia tidak salah... Tentu saja dia tidak akan mau kembali ke rumah ini. Dulu ayah secara tidak langsung mengusirnya dari sini.. aku tidak bisa membayangkan hal apa saja yang telah dia lalui selama ini" ujar Donna sedih.
Peter pun terdiam sesaat dan tidak menampik ucapan putrinya itu,
"Tapi... aku juga punya kabar buruk tentang anak itu" ujar Peter tiba-tiba.
Donna mengernyitkan keningnya dan menatap Peter penuh tanya,
"Kabar apa???" tanya Donna penasaran.
Peter pun menghela nafasnya dan menatap Donna dengan serius,
"Dia... mempunyai hubungan dengan putri William... William Pratama" ujar Peter.
Seketika Donna membelalakkan matanya dan menutup mulutnya tidak percaya,
"Wi.... William Pratama????????"
Bersambung....
Jangan bosen-bosen support cerita ini ya, kasih like dan komen yang banyak ☺️
Boleh juga kasih vote dan gift nya hehe..
Makasih buat para pembaca setia, sayang kalian banyak-banyak 🙏❤️🥰
__ADS_1