
Alex menatap Anna yang terlihat terdiam sejak tadi sambil menundukkan wajahnya. Alex pun mengangkat tangannya dan menyentuh dagu gadis itu, mengangkatnya perlahan agar wajah mereka saling bertatapan.
"Apa yang kau pikirkan??" tanya Alex lembut.
Anna pun menatap pria itu dan menghela nafasnya perlahan,
"Aku... Aku hanya merasa tidak enak pada Paman Austin dan Bibi Bella" ujar Anna pelan.
Alex pun mengelus pelan pipi gadis itu dan menatapnya dalam,
"Kau tidak perlu merasa seperti itu, cepat atau lambat mereka harus mengetahui hubungan kita. Aku ingin semua orang tau bahwa kau adalah milikku" ujar Alex dalam.
Anna pun menatap pria itu dan tersenyum lembut sambil menganggukkan kepalanya.
Alex mengulurkan tangannya di depan gadis itu, membuat Anna mengernyitkan keningnya seketika.
"Bagaimana kalau kita berjalan-jalan malam ini dan meninggalkan pesta ini??" tanya Alex tersenyum.
Anna pun membalas senyumannya dan menerima uluran tangan Alex. Mereka pun berjalan bergandengan bersama meninggalkan kediaman keluarga McCartney.
-
Peter Wijaya sedang duduk di meja makan sambil memakan sarapannya dengan perlahan. Pagi ini dia sarapan seorang diri, memang Peter sudah terbiasa, namun entah mengapa dia mulai merasa bosan dan jenuh dengan kesendiriannya.
Donna, adik Diana sudah lama tidak tinggal bersamanya sejak dia menikah setelah setahun Diana tiada. Donna memiliki seorang putri yang usianya masih 17 tahun. Kini dia tinggal di Inggris dan sudah lama tidak mengunjunginya.
Peter selalu memikirkan, siapa yang akan meneruskan kejayaan keluarga Wijaya setelah dirinya tiada??
Sejak dulu dia selalu berpikir bahwa putra Diana lah yang akan menjadi penerusnya. Namun, dia malah pergi meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali.
Peter menyadari bahwa kepergian Alex dulu juga karena kesalahan dirinya. Tapi, setelah pria itu pergi, Peter selalu mencarinya dan berharap dia akan kembali. Namun Peter tidak menyangka, Alex bisa berdiri sendiri dan menjadi seorang pria sukses berkat usahanya sendiri.
Tetapi bagaimana pun juga, dirinya tetap menginginkan cucunya itu untuk kembali dan menjadi penerus keluarga Wijaya.
Seorang pengawal masuk dan menghampiri Peter di meja makannya. Lalu membungkukkan badannya pada Peter.
"Tuan, ini beberapa informasi yang aku dapatkan tentang Tuan Alexander. Dan informasi terbarunya adalah, Tuan Alex telah kembali terbang ke Jepang kemarin malam" ujar pengawal itu.
Peter pun terdiam, mengapa pria itu kembali ke Jepang?? pikirnya. Bukankah perusahaannya ada disini?? Memangnya apa yang dia lakukan disana, pikir Peter tidak mengerti.
Lalu Peter pun mengambil berkas itu dan mulai membacanya satu-persatu.
Tiba-tiba pandangannya terarah pada foto Alex dan seorang wanita muda yang berada di lembar kertas itu. Alex dan seorang gadis terlihat begitu akrab. Di foto itu juga terlihat jelas keintiman mereka yang tidak canggung saling bergandengan tangan dan tersenyum pada satu sama lain.
"Siapa gadis di foto ini??" tanya Peter pada pengawalnya.
__ADS_1
Pengawal itu pun melihat foto yang di tunjuk Peter,
"Menurut informasi yang saya dapat. Gadis itu adalah kekasih dari Tuan Alexander" terangnya.
Lalu penjaga itu mengambil sebuah kertas yang berisi profil dari gadis yang di maksud oleh Peter tadi. Peter mengernyitkan keningnya dan mulai membaca informasi tentang gadis itu.
Seketika matanya terbelalak saat melihat nama orang tua dari gadis itu. Peter sampai kembali mengulang membaca nama yang tertulis disana dengan tidak percaya.
"William Pratama???? Apakah gadis ini anak dari William Pratama???" tanya Peter tidak percaya.
Lalu dia mengambil selembar foto yang berada di balik kertas. Dan melihat wajah William terpampang disana. Seketika Peter pun menggertakkan giginya kuat dan meremas foto William yang berada di tangannya.
"Brengsek!!!! Jadi pria ini masih hidup!!! Dan sekarang Alex sedang berhubungan dengan putrinya????" ujar Peter marah.
Seketika Peter pun merasakan sakit di bagian kepalanya, dan menyentuhnya dengan kuat.
"Arghh!!!" rintihnya.
Pengawalnya pun terlihat panik dan menahan tubuh Peter yang hampir ambruk,
"Tuan!!!! Anda baik-baik saja???" ujarnya cemas.
Lalu selang beberapa lama Peter pun terkulai di pangkuan pengawalnya dan tak sadarkan diri.
-
Mereka telah tiba di sebuah taman luas yang indah dengan danau yang terlihat berkilau karena di kelilingi oleh cahaya lampu, dan juga bunga sakura yang berjejeran di sepanjang jalan. Taman ini cukup ramai, Alex pun menggenggam tangan Anna dan berjalan bersamanya sambil bergandengan.
"Indah sekali.." ujar Anna kagum melihat pemandangan di depannya.
"Iya... sangat indah..." ujar Alex yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah Anna yang tersenyum.
Anna yang merasa di perhatikan pun seketika menolehkan pandangannya pada Alex,
"Ada apa?? Kenapa... kau melihatku seperti itu??" tanya Anna sedikit gugup.
Alex pun menghentikan langkahnya dan menyentuh pipi Anna dengan lembut,
"Menurutku tidak ada pemandangan yang paling indah disini selain pemandangan yang berada di depanku saat ini" ujar Alex.
Anna pun seketika membalikkan badannya dan menatap ke belakang. Di belakangnya terlihat ada berbagai macam bunga yang berjejeran berwarna warni yang di terangi oleh lampu-lampu bulat berjejer di atasnya. Membuat warna bunga itu terlihat lebih terang dan indah saat di malam hari.
"Kau benar, bunga-bunga itu sangat indah" ujar Anna kagum.
Alex pun sontak tersenyum gemas menatap Anna yang mengira dirinya baru saja memuji bunga-bunga di belakangnya.
__ADS_1
Tangan Alex pun terangkat menangkup wajah Anna dan mengarahkannya tepat di depan wajahnya.
"Bukan bunga-bunga itu yang aku maksud... Tapi kau..." ujar Alex lembut.
Anna pun merasakan jantungnya berdebar seketika dan pipinya mulai merona merah. Alex yang menatap wajah merona Anna pun seketika merasakan debaran jantungnya juga berdetak dengan kencang.
Gadis ini begitu cantik dan membuat gejolak di dalam tubuhnya meningkat seketika.
Dengan perlahan Alex pun mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir merah muda Anna. Namun dengan cepat Anna menaruh jari telunjuknya di depan bibir pria itu,
"Alex, ini tempat umum.. Terlalu banyak orang disini" bisik Anna mencoba menahan kegugupannya.
Alex pun menghela nafasnya dan meraih jari telunjuk Anna yang berada di bibirnya, lalu mengecupnya dengan lembut,
"Baiklah, setelah ini aku akan menagihnya" ujar Alex dengan senyum menggodanya.
Anna pun memalingkan wajahnya untuk menutupi rona merah di pipinya. Lelaki ini memang pandai menggoda, pikir Anna dalam hatinya.
Tangan Alex pun kembali meraih tangan Anna dan menggenggamnya erat sambil terus berjalan menyusuri taman.
Cukup lama mereka terdiam sambil menikmati pemandangan, Anna pun dengan berani menatap Alex yang berada di sampingnya.
"Jadi... Bisakah kau ceritakan padaku kenapa kau bisa tiba-tiba menghilang??" tanya Anna.
Alex pun menatap Anna dan mengelus tangan gadis itu yang berada di genggamannya dengan lembut.
"Kakekku membawa aku pergi kembali ke kediaman keluarga Wijaya" ujar Alex.
Anna pun membelalakkan matanya dan menatap Alex terkejut,
"Kakek??? Kupikir.... kau tidak punya keluarga" ujar Anna hati-hati.
Alex pun terdiam sesaat dan kembali menatap pemandangan di depannya.
"Sebenarnya... Aku masih memiliki seorang kakek. Dia adalah ayah dari ibuku. Saat itu dia memerintahkan anak buahnya untuk membawaku kembali. Dia menginginkanku untuk menjadi penerusnya dan mengambil alih kepemimpinannya di keluarga Wijaya" ujar Alex.
Anna menatap Alex sejenak dan tidak berkata apa-apa. Jadi... Alex tidak benar-benar hidup sebatang kara, pikir Anna.
Lalu, mengapa dia memilih hidup seorang diri?? pikir Anna tidak mengerti.
Bersambung....
Dukung terus cerita ini ya, jangan lupa kasih like dan komen yang banyak 🤗
Thank you juga buat para pembaca yang dari awal selalu setia nungguin cerita ini 🥺 Aku hafal loh beberapa nama yang selalu hadir dan nungguin cerita ini...
__ADS_1
Dan yang pergi juga ntah kemana... 😔
Jangan bosen ya, butuh support nih biar semangat lanjutnya. Terkadang memang otak buntu, jadi mohon di maklumi 😅🙏