
-
Alex melangkah memasuki ruangan pribadinya. Di dalam sana ada ruangan kerjanya yang luas dan nyaman tempat Alex biasa menghabiskan waktunya untuk bekerja semalaman.
Alex terus melangkah ke arah pintu di sudut ruang kerjanya. Alex menempelkan telunjuk jari tangannya untuk membuka pintu.
Kemudian pintu itu terbuka dengan otomatis.
Terlihat sebuah kamar yang sangat luas dengan desain modern yang di dominasi dengan warna putih di balik pintu itu..
Alex melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, dan pintu pun kembali tertutup secara otomatis.
Alex meletakkan tubuh Anna di atas tempat tidur lalu berjalan kearah lemari. Alex mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari dan kembali menghampiri Anna di tempat tidur.
Alex mengeluarkan sebuah suntikan dari dalam tas kecil yang dia bawa. Menyuntikan suntikan itu pada cairan bening yang ada di dalam botol kecil dan mengisinya.
Setelah suntikan terisi, Alex menyuntikkannya pada lengan Anna.
Setelah selesai Alex kembali membereskan alat-alatnya dan menyimpannya kembali ke dalam lemari.
Alex menatap Anna yang masih tak sadarkan diri di atas tempat tidurnya dengan tatapan dinginnya.
"Ini belum saatnya untukmu mati" ujarnya dingin.
Lalu Alex keluar dari dalam kamarnya dan meninggalkan Anna yang terlelap seorang diri.
-
Anna mengerjapkan matanya perlahan. Matanya terasa sangat berat, seluruh tubuhnya terasa pegal dan kepalanya sedikit pusing.
Setelah membuka matanya, Anna menatap ke sekitar..
'Dimana ini?' pikirnya.
Anna mencoba bangkit dan duduk bersandar di atas tempat tidur. Dia menatap ke sekeliling kamar. Kamar ini sangat asing bagi Anna. Kamar yang begitu luas, bergaya modern, terasa nyaman dan tenang, namun entah mengapa terasa kosong dan dingin menurut Anna. Sebenarnya kamar siapa ini? tanyanya dalam hati.
Ckrek..
Terdengar seseorang membuka pintu. Anna mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Matanya terbelalak kaget melihat Alex yang masuk dengan tatapan dinginnya.
"Ka.. Kau.." ujar Anna gugup.
Apakah kamar ini adalah kamar yang di tempati oleh pria kejam itu? Anna menatap Alex dengan curiga. Seingatnya tadi dia berada di taman, menyentuh setangkai bunga kemudian pria itu datang, lalu setelahnya Anna tidak ingat apa-apa lagi..
"A.. Apa yang terjadi? Kenapa aku ada disini?" ujar Anna menatap curiga pada Alex.
Apa yang di lakukan pria kejam itu padanya? Kenapa dia membawanya ke kamar ini?
__ADS_1
Berbagai pikiran buruk memenuhi otak Anna.
Alex menatap Anna lalu berjalan menghampirinya dengan pelan,
"Seorang gadis bodoh, menyentuh dan menghirup wangi bunga yang dia tidak tau bahwa bunga itu mengandung racun yang dapat membuat siapa saja yang menghirupnya akan kehilangan kesadaran dan sulit untuk bergerak. Bahkan, akan membunuhnya jika sedikit saja terlambat untuk ditangani" jelas Alex yang sudah berada di hadapan Anna, menatapnya dengan tatapan tajam.
Anna menatap heran pada Alex. Kenapa pria itu menyelamatkannya? Bukankah akan lebih baik jika membiarkannya mati? pikir Anna.
"Kenapa kau menyelamatkanku?" ujar Anna menatap curiga pada Alex.
Alex menyeringai mendengar pertanyaan Anna. Dia menundukkan wajahnya, mensejajarkan pandangannya pada Anna lalu menyentuh dagunya pelan.
"Karena.. Ini belum saatnya bagimu untuk mati!" bisik Alex tajam pada Anna.
Anna menepis kasar tangan Alex pada dagunya dan menatapnya tajam.
"Apa yang kau inginkan dariku? Sudah ku katakan tidak ada gunanya kau menyandera ku disini!!" geram Anna.
Alex menyeringai mendengar ucapan Anna,
"Benarkah?? Kita lihat saja nanti, apakah kau cukup berguna atau tidak!" jawab Alex mencemooh.
Alex berjalan kearah lemari besar disudut kamarnya, lalu membawa pakaian yang di gantung di dalam lemari dan melemparnya pada Anna.
Anna yang terkejut refleks menangkap pakaian itu di pangkuannya.
"Pakai itu!!" ujar Alex memerintah.
"Mulai besok kau akan menjadi pelayan pribadiku!" tegas Alex.
Anna menatap bingung Alex di depannya. Pelayan pribadi? Apa maksud pria ini?
"Pelayan pribadi?" tanya Anna tidak percaya.
"Apa kau pikir aku membiarkanmu berkeliaran di rumah ini dengan cuma-cuma?" ujar Alex tajam.
Anna menatap Alex kesal 'Sudah kuduga, dia membiarkanku berkeliaran di rumah ini pasti ada alasannya' gerutu Anna.
"Tugasmu melayani dan mempersiapkan segala kebutuhanku!!" tegas Alex.
Anna hanya bisa menggerutu di dalam hatinya. Untuk saat ini dia hanya bisa menuruti segala perkataan pria kejam ini. Dan memikirkan cara agar bisa lepas dari cengkeramannya. Anna berharap ayahnya bisa segera menolongnya keluar dari tempat ini..
"Jika tidak ada hal lain, kau boleh keluar dari sini!" ujar Alex dingin.
Dengan segera Anna berjalan keluar dari ruangan pribadi milik pria kejam dan arogan itu. Walaupun badannya masih terasa sakit, namun berlama-lama bersama pria itu membuat kondisi Anna semakin memburuk.
Anna bergegas keluar dan menutup pintu ruangannya.
__ADS_1
"Dasar Psikopat!!" gerutu Anna. Lalu melangkah ke kamarnya yang tidak jauh dari ruangan Alex.
-
Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Seorang penjaga pria menaiki tangga menuju lantai 2 dengan sebuah nampan di tangannya.
Penjaga itu mengetuk sebuah pintu di depannya.
Tok.. Tok..
Anna sedang memandangi pemandangan malam di balik jendela kamarnya. Dia tersadar dari lamunannya ketika mendengar ketukan pintu di kamarnya. Siapa yang mengetuk malam-malam begini? Apakah Lidya? pikir Anna.
Anna melangkahkan kakinya ke arah pintu dan membukanya perlahan.
Anna menatap seorang pria yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan membawa makanan di atas nampan yang di bawanya.
"Si.. Siapa kau?" tanya Anna gugup.
Bukankah pria ini seorang penjaga di rumah ini? Sepertinya Anna pernah melihatnya sebelumnya. Wajahnya tidak begitu asing. Kenapa dia membawa makanan ke kamarnya? pikir Anna.
"Oh.. Maaf Nona jika sudah mengganggu. Aku kemari mengantarkan makan malam untuk Nona. Lidya sedang tidak enak badan, jadi dia menyuruhku untuk mengantarkannya pada Nona" jelas pria itu.
Anna mengangguk mengerti pada pria itu,
"Oh.. Terimakasih" ujar Anna, lalu mengambil makanannya dari penjaga itu.
"Kalau begitu aku permisi, selamat malam" ujar penjaga itu lalu membungkuk dan pergi.
Anna kembali menutup pintu kamarnya dan menyimpan makanannya di atas meja di dekat sofa. Kebetulan sekali perutnya sudah lapar..
Namun Anna memikirkan perkataan penjaga itu, Lidya sedang sakit? Sepertinya dia harus menemuinya besok. Bagaimanapun hanya Lidya satu-satunya di rumah ini yang cukup dekat dengannya, walaupun entah mengapa belakangan ini Lidya seperti menjaga jarak dengannya. Namun Anna sudah menganggapnya sebagai seorang teman..
Anna duduk di atas sofa dan mengambil makanannya. Perutnya sudah tidak sabar untuk diisi.
Ketika Anna mengambil piringnya, sesuatu terjatuh di atas lantai. Anna yang sadar pun mengambil benda itu.
Sebuah amplop??
Dengan ragu Anna membuka amplop itu dan membuka isinya. Sebuah kertas yang di lipat membuat Anna penasaran untuk membuka dan membacanya..
Untuk Anna,
Dari Ayah..
Anna membelalakkan matanya membaca tulisan awal di dalam surat itu. Surat ini dari ayahnya? untuknya..
Bersambung..
Keep support cerita ini ya, tolong kasih like dan komennya dong biar semangat nerusin cerita ini 💬👍
__ADS_1
Mulai sedikit bosan untuk menulis hehe..
Semoga aku tetep konsisten ya lanjutin cerita ini sampai tamat, Thank you yang udah mau baca dan ngasih like+komen 🤗