Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Trouve Un Moyen


__ADS_3

Seorang gadis tengah berjalan dengan hati-hati sambil memegangi perut besarnya.


Gadis itu mengarahkan pandangannya ke sekitar dengan waspada..


Setelah mematikan sekring lampu tadi, Anna juga tak tanggung-tanggung langsung menghancurkan kamera cctv di lantai itu agar keberadaannya tidak lagi terlacak.


Setelah itu Anna berjalan cepat menjauhi anak buah Leonard yang mengikutinya. Walaupun dengan kondisi gelap, tetapi setidaknya Anna masih dapat menyentuh tembok untuk membantunya melangkah.


Dan, sekarang listrik di gedung itu telah kembali menyala. Anna kembali bersembunyi dan berjalan menjauh dari anak buah Leonard yang masih berusaha mencarinya.


Langkah kakinya membawanya masuk ke dalam sebuah lorong yang cukup gelap.


Anna dengan hati-hati masuk ke dalam dan mencoba mencari tempat bersembunyi yang aman. Namun, saat langkahnya semakin masuk ke dalam lorong itu, tiba-tiba dari kejauhan Anna mendengar suara rintihan seseorang.


Anna seketika berhenti di tempatnya dan terlihat sedikit takut untuk menghampiri suara itu. Namun suara rintihan itu semakin jelas terdengar di telinganya.


Gadis itu pun menutup matanya dan menghela nafasnya perlahan. Ia memberanikan diri untuk melangkah masuk kembali ke dalam lorong itu.


Disudut lorong itu terlihat samar-samar cahaya lampu redup yang keluar dari sebuah sel. Anna menghilangkan rasa takutnya dan berjalan kembali untuk menghampiri sel itu.


Saat sudah berada di depan sel, Anna menatap ke dalam sana dan melihat bayangan seorang wanita yang tengah menunduk sambil menangis.


Dengan penasaran Anna pun mendekati sel yang terkunci itu dan mencoba melihat lebih dekat.


Dan seperti merasa ada seseorang yang menghampirinya, wanita yang berada di dalam sel itu dengan cepat menatap kearah Anna dengan ekspresi ketakutan,


DEG!!


Saat wanita itu menatap kearahnya, seketika Anna pun terkejut sambil menutup mulutnya,


"Bi... Bibi Van?????" ujar Anna tak percaya.


Iya!! Anna tidak mungkin salah.. Itu pasti Bibi Van, pikirnya.


Dengan cepat Bibi Van membelalakkan matanya dan merangkak mendekati Anna,


"NONA!!!!!!!" teriaknya menangis haru.


Bibi Van mendekati Anna yang berada di depan sel sambil menangis tersedu. Anna masih terlihat syok melihat penampilan Bibi Van yang terlihat sangat berantakan dengan pakaian yang sudah compang-camping serta tubuh yang penuh luka lebam.


Pipi kanan Bibi Van pun terlihat melepuh seperti terkena air keras,


"Bibi!!!! Apa yang terjadi????" ucap Anna terkejut dengan prihatin.


Bibi Van menyentuh tangan Anna dan masih menangis,


"Mereka.... Mereka... Menyiksa Bibi disini... Mereka.. Mereka.. bukan manusia!!! hiks..." ucap Bibi Van terbata-bata sambil menangis.


Anna mencoba menenangkan Bibi Van dan mengusap tangannya,


"Tenang Bibi... Tenang... Kita akan keluar dari sini" ujar Anna lembut.


Anna pun berjalan kearah pintu sel dan melihat gembok yang terkunci disana. Gadis itu terlihat mengarahkan pandangannya ke sekitar untuk mencari sesuatu yang bisa membantunya untuk membuka gembok itu.


Namun, tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mendekat kearah mereka.


Anna pun dengan cepat mencoba mencari tempat bersembunyi sebelum orang itu tiba. Terlihat Bibi Van menggeleng kearah Anna dengan ketakutan. Wanita paruh baya itu terlihat sangat ketakutan dan trauma...


Entah apa yang telah di lakukan orang-orang itu padanya sampai seperti ini, pikir Anna.


Anna bersembunyi di balik sebuah tong besar tepat di depan sel Bibi Van. Ia menempelkan jari telunjuknya di bibir untuk membuat Bibi Van tenang.


Seorang pria bertopeng terlihat berjalan kearah sel Bibi Van dan membuat Bibi Van langsung merangkak mundur dengan ketakutan.


Pria itu menatap Bibi Van dan terkekeh pelan,


"Mengapa kau terlihat begitu takut padaku???" tanyanya mencemooh.


Pria itu pun mengeluarkan sebuah kunci dan membuka sel Bibi Van dengan santai. Sedangkan Bibi Van terlihat bergetar ketakutan melihat pria itu.


Pria bertopeng itu membuka topengnya dan tertawa pelan pada Bibi Van. Ia melangkah mendekat dan membuat Bibi Van mundur dengan ketakutan,

__ADS_1


"Ada apa??? Aku datang kemari hanya butuh sedikit hiburan.." ujarnya dengan suara yang terkekeh.


Sepertinya pria itu sedang mabuk, pikir Anna.


Pria itu pun berjongkok dan mencengkram wajah Bibi Van,


"Setidaknya kau bisa memuaskan nafsuku.. Walaupun kau hanya wanita tua dengan wajah yang tidak menarik!!" ujarnya terkekeh kembali.


DEG!!


Seketika Anna membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya saat mendengar ucapan pria itu. Jadi.. Jadi.. Pria itu telah berbuat sesuatu yang menjijikkan pada Bibi Van???? pikirnya tak percaya.


"Gadis-gadis itu tidak bisa aku sentuh.. Boss akan membunuhku jika aku menyentuh mereka. Padahal mereka masih muda dan cantik.." ujarnya lagi.


Bibi Van menggeleng kuat saat pria itu mencengkram wajahnya dengan kuat,


"Tetapi... setidaknya kau bisa menjadi pelampiasanku hahaha" ujarnya tertawa puas.


Bibi Van terlihat semakin ketakutan dan hanya bisa menutup matanya saat pria di depannya itu perlahan membuka celananya dan menyodorkan miliknya pada Bibi Van,


"Ayo.. Buka mulutmu ****** tua!!!!" ujarnya memaksa.


Bibi Van masih menutup matanya dan mencoba untuk melawan. Namun pria itu menarik rambutnya kuat dan mengarahkan paksa wajah Bibi Van pada miliknya.


"Ayo cepat!!!! atau aku akan menembakmu!!!!!!!!!" gertaknya sambil menyodorkan pistol pada kepala Bibi Van.


Namun sebelum pria itu kembali memaksa Bibi Van, sebuah pukulan keras pun mendarat di belakang kepalanya,


BUGH!!!


"AARRGGHH!!!!" teriak pria itu sampai terduduk di lantai sambil memegang belakang kepalanya.


Anna kembali memukul kepala pria itu dengan tongkat kayu yang di bawanya tanpa ampun,


BUGH!!!


BUGH!!!!


Bibi Van yang melihat hal itu hanya dapat menangis ketakutan..


BUGH!!!


BUGH!!!


Pria itu pun sudah tak bergerak dengan darah yang mengalir deras di kepalanya. Sepertinya pria itu telah mati..


Anna mencoba menenangkan dirinya dan mengatur nafasnya yang memburu. Gadis itu melempar kayu yang sudah terbelah itu di atas tubuh pria tadi sambil menahan tangisnya.


Anna pun menatap kearah Bibi Van yang sudah menangis dan dengan cepat menghampirinya lalu memeluknya dengan erat,


"Maafkan aku Bibi...." bisiknya tersedu.


Bibi Van membalas pelukan Anna dan menggeleng pelan,


"Terimakasih Nona.. Terimakasih telah menyelamatkan Bibi..." ucapnya sambil menangis.


Anna pun melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Bibi Van,


"Bibi jangan menangis lagi... Kita akan keluar dari sini sekarang" ujar Anna.


Anna pun membuka kardigannya dan memasangkannya pada Bibi Van,


"Apa Bibi masih bisa berjalan???" tanya Anna hati-hati.


Bibi Van pun mengangguk dan mulai berdiri,


"Kalau begitu, ayo kita segera pergi dari sini" ujar Anna sambil menggenggam tangan Bibi Van dengan erat dan membawanya keluar dari sel itu.



__ADS_1


Erika mengendap-endap dengan perlahan menuju lantai 3 di gedung itu. Wanita itu sudah cukup tau tentang letak lokasi di gedung tua itu.



Dan, sekarang tujuan Erika adalah pergi ke ruangan Leonard. Tempat dimana ia sempat menguping pembicaraan pria itu dengan anak buahnya.



Erika berjalan dengan hati-hati sambil mengarahkan pandangannya ke sekitar dengan waspada. Erika tau gerak-geriknya sedang diawasi oleh kamera pengawas. Namun Erika tidak gentar sedikitpun..


Tujuannya saat ini adalah untuk membalaskan dendamnya pada Leonard!! Jika dia harus mati pun Erika rela, asalkan dendamnya terbalaskan pada pria itu!!



Erika telah hampir tiba di depan pintu ruangan Leonard. Namun, terlihat seorang anak buah Leonard baru saja keluar dari ruangan itu.



Erika dengan cepat bersembunyi di balik tembok agar tidak ketahuan oleh pria bertopeng itu.



Setelah di rasa aman, Erika pun berjalan cepat dan masuk ke dalam ruangan itu lalu menguncinya.



KLIK!!



Erika membalikkan tubuhnya dan menatap seluruh layar cctv yang menyala.



Wanita itu menatap satu persatu layar di depannya..



Ia tidak menemukan keberadaan Leonard dimana pun. Ruangan rahasia Leonard memang tidak memasang kamera cctv yang dapat dilihat dari ruangan itu.



Erika mencoba menekan beberapa tombol untuk melacak beberapa ruangan. Namun, seketika tatapan mata wanita itu mengarah pada sebuah benda yang terletak di atas meja.



Erika dengan cepat menghampiri benda itu dan mengambilnya. Wanita itu mengamati benda di tangannya sambil mengernyitkan keningnya,



"Ini... Bukankah ini... Benda yang dicari Leonard selama ini????" bisiknya pelan.



Bersambung...



Hallo, tolong di bantu like, komen, vote dan hadiahnya ya ☺️



Tapi buat yang udah baca jangan lupa tinggalin jejak ya, dan kasih hadiahnya buat author walaupun recehan 🥲



Oh iya, novel kedua author yang judulnya Mysterious Man sudah up ya ☺️


Yuk bantu di ramaikan 😁🙏


__ADS_1


Terimakasih ❤️


__ADS_2