
-Alex POV-
Aku memarkirkan mobilku di depan sebuah club mewah milik Roy. Aku sebenarnya malas untuk datang ke tempat ini, tapi Roy bilang dia mempunyai informasi penting yang akan membuatku senang. Awas saja jika informasi yang dia miliki bukanlah informasi yang aku inginkan, maka aku tidak akan segan-segan untuk memberinya pelajaran.
Aku dan Roy bisa di bilang teman yang cukup dekat. Aku mengenalnya ketika aku berusia 22 tahun. Roy adalah anak dari salah satu pemilik perusahaan yang bekerja sama denganku, walaupun saat itu Roy masih muda tapi dia sudah tertarik dengan bisnis dan mulai mengambil alih beberapa pekerjaan di kantor milik ayahnya. Roy lebih muda 2 tahun dariku, dia mempunyai sifat yang sedikit kekanakan, suka bersenang-senang, seorang playboy sejati, cerewet, tetapi jika dalam kondisi serius sifatnya akan berubah 180 derajat. Sifat kami sangat bertolak belakang, entah mengapa aku bisa tahan dengannya selama ini. Walaupun awalnya aku tidak pernah mengacuhkannya, tetapi dia tidak pernah menyerah mendekatiku dan menganggap ku sebagai temannya. Dan sampai saat ini pertemanan kami masih terus berjalan. Walaupun aku bukanlah orang yang terbuka padanya, tetapi dia selalu mengerti dan memahami ku.
Aku memasuki pintu masuk VVIP di club ini. Walaupun aku tidak terlalu sering kemari, tetapi para pekerja disini telah mengenalku.
Aku masuk ke dalam ruangan, dan melihat Roy sedang duduk di sofa yang dikelilingi oleh para wanita. Ini adalah pemandangan yang selalu aku lihat jika aku bertemu Roy di tempat ini.
Roy sedang berciuman panas dengan salah satu wanita yang sudah setengah telanjang di pangkuannya. Pemandangan itu membuatku muak. Dia belum juga menyadari kedatanganku, dan masih asik bergulat dengan wanita itu.
Aku yang sudah hilang kesabaran lalu mengambil gelas yang berada di atas meja dan melemparnya ke lantai hingga pecah, membuat para wanita disana terkejut tak terkecuali si brengsek Roy ini.
"Woahh.. Man!! Kau mengganggu kesenanganku!!" ujarnya.
"Menurutmu?? Apa kau menyuruhku kesini untuk menonton adegan menjijikkan ini!!" geram ku.
"Oke..oke.. Santai bro.. rileks.." ujarnya tenang sambil memakai kembali pakaiannya.
"Sayang pakai pakaianmu, nanti kita lanjutkan lagi.." ujarnya pada wanita di pangkuannya.
Wanita itu terlihat tidak senang dan melihat kearah ku yang berada di belakangnya. Matanya terbelalak terkejut saat dia melihat wajahku. Dia tersenyum menggoda padaku dan menggigit ujung bibirnya kemudian melangkah pergi diikuti wanita-wanita lainnya, menjijikkan!!
"Baiklah Alex, silahkan duduk dulu dan nikmati minuman yang telah aku persiapkan, ini adalah wine terbaik di dunia" ujarnya tersenyum bangga sambil mengambil sebuah botol wine dan menuangkannya di gelas.
"Kau tau, aku bukanlah orang yang suka basa-basi!" ujarku.
"Baiklah.. Baiklah.. Ya ampun kau ini memang tidak sabaran!" gerutunya.
"Minumlah dulu" paksanya.
Tanpa berlama-lama aku langsung meneguk habis wine itu.
"Ya ampun.. benar-benar orang yang tidak punya kesabaran" gerutunya.
"Begini.. Bukankah kau sedang mencari keberadaan William?" tanyanya.
"Darimana kau tau?" tanyaku dingin.
"Ya ampun Alex.. Kau seperti tidak tau aku saja. Aku adalah temanmu, aku tau kau sedang ada masalah, dan aku mencoba membantu secara diam-diam.. Bagaimana? Aku sahabat yang perhatian kan?" ujarnya bangga.
"Cih.. Aku tidak butuh bantuan mu" ujarku.
"Kau benar-benar pria yang tinggi harga diri.. Untungnya aku sudah terbiasa" ucap Roy sambil menggelengkan kepalanya heran.
__ADS_1
"Jadi apa informasi yang kau dapat?" tanyaku.
Roy menyeringai senang lalu menatapku,
"Aku tau dimana William berada sekarang" ujarnya.
Aku menyipitkan mataku dan menatap Roy dengan serius,
"Dimana?" tanyaku.
"Dia sekarang berada di Jepang.. Dan kau tau? menurut informan ku, William mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan para Yakuza disana" ujarnya.
Aku tersenyum sinis mendengar perkataan Roy. Si tua itu ternyata ingin berlindung di bawah para Yakuza. Nyalinya ternyata tidak cukup berani untuk menghadapi ku langsung.
"Kenapa kau tersenyum?" ujar Roy heran.
"Bajingan itu ternyata cukup payah.. bahkan berlindung di bawah para Yakuza seperti seorang pecundang. Dia pikir aku akan takut dan menyerah?" ucapku sinis.
" Ya.. Aku tau.. Kau adalah Alexander Wijaya yang tidak kenal takut pada apapun" ujar Roy menyindir.
"Tapi tetap saja kau harus waspada. Tenang saja aku akan membantumu" ujarnya.
"Tanpa bantuan mu pun, hal sekecil ini bisa aku tangani" ujarku dingin.
"Ya ampun Alex.. Kau memang tidak pernah berubah. Selalu mengandalkan diri sendiri, memikirkan diri sendiri, segalanya hanya untuk dirimu sendiri.. Aku penasaran apakah kau akan menikah suatu saat nanti atau akan menjadi seorang bujang seumur hidupmu" sindirnya.
"Baiklah.. Baiklah.. Aku menyerah.. Berbicara denganmu seperti berbicara dengan tembok" sindirnya dan meneguk habis wine nya.
"Ku dengar kau juga menyekap putri dari William, apa yang telah kau lakukan padanya? apakah dia cantik dan sexy?" tanyanya penasaran.
"Hanya seekor tikus kecil yang tidak berguna" ujarku dingin.
"Benarkah??" tanyanya menggoda.
"Aku pernah mendengar sekilas tentangnya, putri William itu termasuk anak yang cerdas dan mandiri di sekolah, bahkan dia mendapatkan beasiswa di luar negri. Dan banyak yang mengatakan dia adalah gadis yang cantik.. Jika aku jadi kau mungkin aku sudah melahapnya habis" ujarnya sambil menyeringai.
"Untungnya aku bukan kau. Pria playboy yang sudah tidur dengan banyak wanita, bahkan aku yakin mungkin kau sudah terkena penyakit kelamin" ujarku acuh.
" Enak saja kau!! Aku tidak terkena penyakit!! Lagipula aku selalu memakai pengaman" ujarnya.
"Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu" ujarku dan bergegas pergi.
"Hei.. Hei.. tunggu dulu, apa kau tidak ingin berterima kasih padaku!!" teriaknya.
Aku menghiraukannya dan melangkah pergi keluar.
__ADS_1
Saat aku keluar dari ruangan VVIP tadi, tiba-tiba ada seorang wanita yang menghalangi jalanku. Dia memakai pakaian yang terbuka dan mulai menghampiriku.
"Hai tampan.. Kita berjumpa lagi" ujarnya.
Wanita ini adalah wanita yang berada di pangkuan Roy tadi.
Dia mulai berani menyentuh bahuku dan mengamati tubuhku dari atas sampai bawah, menjijikkan.
"Ingin bermain?" tanyanya dengan ekspresi yang menjijikkan.
"Singkirkan tangan kotormu!" ujarku tegas.
Aku menarik tangannya dan menghempaskan nya dengan kuat sampai terjatuh.
Aku kembali melangkah tanpa memperdulikannya yang sudah tersungkur.
Tiba-tiba dia kembali bangkit dan menarik kuat tanganku sampai berbalik padanya. Dan dengan tidak tau malu nya langsung mencium bibirku dan ********** ganas.
Wanita ini rupanya ingin cari mati, seketika amarahku meningkat..
Aku melepaskan ciuman itu dengan kuat dan mencekik lehernya sampai dia terbentur ke tembok. Aku meludahkan liurku ke lantai merasa jijik dan menatapnya tajam. Dia berusaha melepaskan tanganku yang ada di lehernya, namun tenaganya tidak sebanding denganku. Wajahnya mulai memerah karena tidak bisa bernafas, air matanya menetes dan memohon ampun padaku.
"To....to....long...." ujarnya tersenggal.
Aku melepaskan tanganku di lehernya dan membuat dia terjatuh seketika dengan terbatuk dan nafas yang tersenggal.
"Aku akan mengampuni mu untuk kali ini. Jika aku melihat wajahmu lagi, aku akan membunuhmu!!" ujarku tajam, lalu melangkah pergi.
Aku mengendalikan mobilku dengan kencang, sialan wanita ****** itu membuat mood ku hancur seketika. Jika bukan karena aku berada di club Roy tadi, mungkin aku sudah membunuhnya, sayangnya aku tidak mau membuat masalah disana.
Aku memasuki halaman rumah dan keluar dengan membanting kuat pintu mobil. Aku melonggarkan dasi ku dan berjalan cepat kedalam rumah. Aku memasuki lift menuju lantai paling atas. Sialan.. aku mengelap bibirku berkali-kali tetapi tetap saja masih terbayang ciuman menjijikkan tadi.
Setelah sampai lantai atas aku langsung menuju ruangan dimana gadis itu berada, aku membuka kunci pintu dengan tidak sabaran, dan membukanya kuat.
Aku melihat wanita itu sedang berdiri diujung jendela ruangan yang menghadap keluar, dia menatapku kaget dan mencoba untuk menghindar.
Dengan kuat aku menarik tangannya lalu menarik wajahnya padaku dan mencium bibirnya ganas. Gadis itu mencoba mendorongku kuat namun tenaganya tidak sebanding denganku.
Aku terus ******* bibirnya agar menghilangkan jejak wanita ****** tadi di bibirku. Gadis itu terlihat sudah lelah memberontak dan hanya bisa pasrah dengan apa yang kulakukan..
Tetapi entah mengapa semakin lama dengan mencium gadis ini emosiku tadi seketika menghilang. Semakin dalam ciumanku padanya semakin aku bisa merasakan gairah yang tidak pernah aku rasakan selama ini..
Sebenarnya ada apa denganku??
Bersambung...
__ADS_1
Keep support this story ya 🤗
Mohon maaf untuk yang tidak nyaman, untuk beberapa episode ke depan ceritanya terlalu banyak POV belum aku revisi ulang hehe, tapi cuma beberapa kok, selebihnya ngak.. jadi lanjut baca ya 🤗 di jamin ceritanya seru ❤️