Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Kemajuan


__ADS_3

"Ada apa ini????" ujar William marah.


Seketika pandangan William pun mengarah pada seorang pria yang berjalan menghampiri mereka.


"Kau???" ujar William kesal.


Anna yang terkejut pun membelalakkan matanya saat melihat siapa orang yang telah membuat para karyawan wanita disana histeris,


"A.... Alex????"


Alex berjalan dengan wajah dinginnya, lalu menghampiri Anna dan William yang menatapnya dengan terkejut.


"Selamat pagi sayang" sapa Alex tersenyum lembut pada Anna.


Lalu tatapannya pun beralih pada William,


"Selamat pagi.... Ayah mertua" sapa Alex pada William dengan tatapan datarnya.


Seketika para karyawan disana saling menatap satu sama lain dan terkejut mendengar ucapan Alex barusan.


"Mertua??? Apakah pria itu menantu dari Tuan William??" bisik salah satu dari mereka.


"Bukankah itu Alexander Wijaya, pengusaha tampan dan sukses yang sering ku lihat di surat kabar dan televisi" bisik seorang lagi.


"Benar dia Alexander Wijaya, apakah dia menantu Tuan William???" ujar seorang menyahut.


William pun menatap Alex dengan tatapan tajamnya. Dan berdehem keras menghentikan bisik-bisik dari para karyawannya.


"Kembali bekerja!!! Aku membayar kalian disini bukan untuk bergosip!!!!!" ujar William marah.


Lalu dengan cepat para karyawan yang ketakutan itu pun kembali ke ruangan dan meja kerja mereka masing-masing.


"Apa yang kau lakukan disini???" tanya William tajam.


Alex masih menatap datar pada William,


"Tentu saja aku kemari untuk menjemput calon istriku" ujar Alex.


William mengernyitkan keningnya menatap Alex,


"Menjemput?? Apa kau tidak lihat Anna sedang sibuk bersamaku disini??" tanya William sinis.


"Aku tidak mengizinkanmu untuk membawanya, sekarang kau boleh kembali. Ayo Anna kita lihat beberapa ruangan lagi" ujar William sambil menarik tangan Anna.


Namun dengan cepat Alex menahan satu tangan Anna yang lain, dan membuat William menatap pria itu dengan tajam.


"Bukankah aku sudah katakan kemarin bahwa aku akan menjemput Anna?? Aku telah membuat janji terlebih dahulu" ujar Alex tajam tak mau kalah.


William menatap tidak terima dan menahan tangan Anna kuat,

__ADS_1


"Dia putriku!! Perusahaan ini juga akan jadi miliknya!! Sekarang Anna tidak punya waktu utuk bermain-main denganmu!!" ucap William tak mau kalah.


Alex menyipitkan matanya tajam dan tersenyum sinis,


"Apa kau pikir aku sedang bermain-main!!!" geram Alex tak terima.


Seketika Anna menatap Alex dan William secara bergantian lalu menghela nafasnya pelan.


"Apakah kalian bisa tenang!! Para karyawan disini sedang memperhatikan kita" ujar Anna mencoba menghentikan keributan antara Alex dan ayahnya.


Anna perlahan melepaskan tangannya dari cengkraman Alex dan ayahnya. Lalu menatap pergelangan tangannya yang memerah.


Seketika Alex dan William terkejut melihatnya dan menyentuh pergelangan tangan Anna secara bersaman.


"Maafkan aku... Apakah aku menyakitimu???" ujar Alex cemas.


"Maafkan ayah.." ujar William merasa bersalah.


Anna menatap wajah Alex dan ayahnya yang terlihat sama-sama cemas, lalu dia pun tersenyum tipis.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja" ujar Anna.


Lalu wajah Alex dan William pun terlihat lega. Anna menatap Alex yang masih menyentuh lembut pergelangan tangannya. Sebuah ide pun muncul di pikirannya.


"Alex, aku harus membantu ayahku dulu disini. Apakah... kau juga mau ikut membantu kami???" tanya Anna sambil tersenyum.


Seketika William menatap Anna dengan tatapan tidak sukanya. Alex pun menatap tajam pada William dan terlihat dengan jelas bahwa dia tidak menyukai hal itu.


"Huh.. Baiklah, aku tidak bisa menolak ucapanmu" ujar Alex lembut sambil menyentuh pipi Anna.


William pun mendengus kesal dan berjalan terlebih dahulu,


"Dasar anak muda..." dengusnya pelan.


Anna pun tersenyum senang dan menuntun tangan Alex untuk mengikuti ayahnya,


Mereka pun berkeliling ruangan untuk melihat-lihat perusahaan baru milik William. Setelah itu Anna membantu William membereskan kembali beberapa buku di salah satu ruangan yang harus disusun di dalam rak.


Alex membantu mengeluarkan buku dari dalam dus, sedangkan Anna mengelap buku-buku itu dan William yang menyusunnya di dalam rak.


Mereka bekerja dalam diam. Anna memperhatikan wajah datar Alex dan juga William. Walaupun mereka bekerja bersama tetapi Anna masih bisa merasakan ketegangan diantara kedua pria ini.


"Maaf Anna, kau harus bekerja penuh debu seperti ini. Belum ada cukup pekerja di perusahaan ini, jadi ayah yang harus turun tangan" ujar William pada Anna.


Anna pun mengangguk mengerti pada William,


"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan mengerjakan ini semua" ujar Anna.


William pun tersenyum menatap putrinya itu,

__ADS_1


"Sebenarnya kita tidak harus bekerja kembali dari awal seperti ini, jika saja seseorang tidak membuat perusahaan ayah bangkrut" sindir William sambil menatap Alex tajam.


Alex yang merasa tersindir pun mendelik tajam pada William. Anna yang melihat hal itu hanya tersenyum dan mencoba menenangkan Alex.


Setelah beberapa saat pekerjaan mereka hampir selesai. Alex mengarahkan pandangannya pada buku-buku yang sedang disusun oleh William. Seketika dia pun berdecak kesal dan menghampiri rak buku itu.


"Seharusnya kau menyusun buku ini sesuai dengan abjadnya!!" ujar Alex tajam.


Alex memang tipikal orang yang rapih dan detail. Dia suka menyusun buku berdasarkan abjadnya agar mudah di cari.


Seketika William terdiam dan menatap Alex yang sedang menyusun ulang kembali buku-buku itu.


DEG!!!


Jantungnya berdetak seketika. Ternyata sifat pria ini benar-benar mirip dengan Diana. William kembali teringat saat Diana mengomelinya karena menyusun buku tidak beraturan, lalu Diana pun kembali menyusunya sesuai abjad dari buku itu.


Setelah selesai Alex pun membalikkan badannya dan menatap William dengan acuh.


"Baiklah, kurasa kami sudah cukup membantu disini" ujar Alex tiba-tiba.


"Kalau begitu, aku dan Anna harus pergi sekarang" ujar Alex sambil menggenggam tangan Anna.


Anna pun terdiam dan menatap William sedikit takut jika ayahnya tidak mengizinkannya pergi dengan Alex.


William terdiam sejenak lalu membalikkan badannya memunggungi Alex dan Anna,


"Antarkan putriku kembali sebelum larut malam" ujar William tiba-tiba.


Anna pun menatap William sedikit terkejut, apakah ayahnya baru saja mengizinkannya pergi dengan Alex?? pikir Anna tidak percaya.


"Kau tidak perlu khawatirkan hal itu" ujar Alex dingin lalu menuntun Anna untuk berjalan keluar.


Setelah Anna dan Alex pergi, William pun menghela nafasnya pelan. Mungkin saatnya bagi dirinya untuk menerima kenyataan dan takdir. Dia harus berdamai dengan masa lalunya. William tidak ingin menyakiti putrinya.


Mungkin Tuhan memisahkannya dengan Diana saat itu untuk mempertemukan dan mempersatukan Alex dan Anna, keturunan mereka berdua.


William tidak ingin Anna bernasib sama seperti dirinya. Dia ingin putrinya bahagia..


Dan mungkin memang pria yang tidak mudah menyerah seperti Alex itu adalah orang yang tepat untuk putrinya..


"Tuhan, apakah aku harus mengkhianati janjiku dulu???" ujar William pasrah.


Bersambung...


Keep support this story ya, jangan lupa kasih like, komen, vote dan gift nya ya 🤭😁


Makasih untuk yang selalu setia menunggu dan menunggu updatenya 🤗


Agak kaget pas lihat rate dari 5.0 jadi 4.9, sedikit down tapi ngak apa-apa, mencoba semangat lagi 😁😁

__ADS_1


Fighting!!! semoga makin suka ya sama ceritanya..


__ADS_2