
"Bagaimana keadaannya dokter??" tanya seorang wanita paruh baya.
Dokter pun mengarahkan pandangannya pada wanita paruh baya itu dan tersenyum,
"Keadaan Tuan Daniel sudah cukup membaik.. Syukurlah dia di bawa ke rumah sakit dengan cepat. Luka memar di wajah dan sobekan di sudut bibirnya juga akan segera membaik setelah di berikan obat" ujar dokter itu.
Bella, ibu dari Daniel pun menghela nafasnya dan mengangguk pelan pada dokter itu,
"Syukurlah... Terimakasih dokter" ujarnya.
Dokter itu pun mengangguk dan kembali menatap Bella dengan serius,
"Aku akan berbicara dengan Tuan McCartney di ruanganku. Ada beberapa hal yang harus aku sampaikan padanya" ujar dokter itu.
Bella terdiam sesaat dan mengangguk pasrah pada dokter itu,
"Baik dokter... Tolong lakukanlah yang terbaik" ujarnya.
Dokter itu kembali mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Daniel.
Bella membalikkan tubuhnya dan kembali duduk di samping tempat tidur putranya. Wanita itu menatap Daniel dengan tatapan lembutnya,
"Syukurlah lukamu tidak terlalu parah..." ujarnya pelan.
Daniel menatap pada ibunya dan hanya terdiam menanggapi ucapan wanita itu. Bella menundukkan kepalanya dan terdiam sesaat,
"Kenapa... Kenapa kau menyembunyikan tentang penyakitmu pada kami???" tanya Bella sambil menahan kesedihannya.
Ibu mana yang tidak merasa terpukul saat pertama kali mendengar bahwa anak lelaki satu-satunya itu telah mengidap penyakit yang dapat merenggut nyawanya.
Bella bahkan hampir pingsan saat dokter memberitahu bahwa putranya itu memiliki penyakit serius dan hanya memiliki kesempatan hidup yang sebentar.
Air mata Bella kembali menetes saat melihat Daniel yang hanya terdiam dan tidak menjawab dengan tatapan kosongnya,
"Mengapa kau jadi seperti ini Daniel??? Dimana pria periang dan optimis itu sekarang???" tanya Bella sedikit terisak.
"Apa... Apa karena kau tidak bisa memiliki Anna, kau berubah menjadi seperti ini???" tanyanya lagi.
Bella menggigit bibirnya dan menatap Daniel dengan air mata yang berlinang,
"Apa... Apa wajah babak belur ini juga karena kau berkelahi dengan Tuan Alex???" tanyanya lagi.
Daniel tidak menjawab pertanyaan Bella dan hanya diam dengan sorotan mata yang sulit diartikan.
Bella menutup wajahnya dengan tangan dan menunduk sambil kembali terisak,
"Ya Tuhan..... Apa salahku...." lirih Bella menangis.
Daniel menutup matanya dan setetes air mata pun mengalir di sudut matanya,
"Maafkan aku....." bisik Daniel.
Bella semakin terisak dan menunduk dalam. Wanita itu terlihat sangat terpukul melihat nasib putranya.
Sedangkan di ruangan lain, Austin McCartney ayah dari Daniel sedang duduk bersama seorang dokter di sebuah ruangan,
"Ini hasil tes nya Tuan.." ujar dokter itu sambil memberikan sebuah berkas pada Austin.
Austin mengambil berkas itu dan mulai membacanya dengan teliti.
Setelah selesai, pria paruh baya itu pun menghela nafasnya sambil menutup matanya dengan sedih,
__ADS_1
"Ginjal kiri Tuan Daniel sudah cukup rusak dan hanya bisa berfungsi sekitar 30 persen saja. Lalu, paru-paru Tuan Daniel juga memiliki masalah yang cukup serius.." terang dokter itu.
"Aku menyarankan Tuan Daniel untuk segera melakukan perawatan serius. Jika tidak, maka penyakitnya akan semakin parah dan melebar pada anggota tubuh yang lain" lanjutnya.
Austin menyentuh kening nya dan menutup matanya. Bagaimana dia bisa tidak tau bahwa putranya itu memiliki penyakit yang serius seperti ini?? Sebenarnya ada apa dengan putranya..
"Tuan Daniel memiliki daya tahan tubuh yang sangat lemah. Maka dari itu dia mudah terserang penyakit, apalagi Tuan Daniel sering mengabaikan kesehatannya dan tidak pernah meminum obat yang selama ini aku berikan" ujar dokter itu.
Austin mengangkat wajahnya dan menatap dokter itu dengan serius,
"Jadi... Sudah sejak kapan, putraku mengetahui penyakitnya???" tanyanya.
Dokter itu menatap Austin dengan serius,
"Sebenarnya Tuan Daniel telah mengetahui penyakitnya sekitar beberapa bulan yang lalu.. Saat itu aku sudah menyuruhnya untuk langsung berobat, tetapi Tuan Daniel menolaknya" jawab dokter itu.
Austin kembali menunduk dan menggelengkan kepalanya tidak percaya,
"Yang kutahu sebelumnya... Tuan Daniel sudah mengalami depresi. Mungkin karena percintaannya yang gagal, Tuan Daniel jadi stress dan patah hati yang berlarut-larut" lanjut dokter itu.
Austin pun seketika mengetahui penyebab putranya itu patah hati dan depresi. Jadi... putranya itu masih belum bisa menerima kenyataan, pikir Austin.
"Baiklah dokter, terimakasih... Aku akan menyuruh Daniel untuk segera melakukan pengobatan" ujar Austin.
Dokter pun mengangguk pelan,
"Iya, sebaiknya sesegera mungkin" ujar dokter itu.
Austin kembali mengangguk lalu berpamitan pada dokter dan keluar dari ruangannya.
Austin bertekad agar dia bisa segera membujuk Daniel untuk segera melakukan pengobatan dan membuat putranya itu melupakan sakit hatinya...
-
-
Gadis itu terlihat sangat gugup dengan mata yang masih fokus pada sebuah monitor di depannya. Sedangkan seorang pria juga tengah menggenggam tangan istrinya dan mencoba untuk menenangkannya. Pandangannya juga tengah fokus pada sebuah monitor di depannya dengan jantung yang juga berdebar kencang.
"Nah.. Ini dia janinnya... ukuran janinnya baru sebesar biji wijen. Sekarang usia kandungan Nona baru sekitar 5 minggu 5 hari" terang dokter itu.
Sebuah senyuman pun terlihat di wajah Anna. Gadis itu menatap gambar monitor di depannya dengan mata yang berkaca-kaca.
Walaupun janinnya masih terlihat sangat kecil dan belum terbentuk tetapi Anna bisa merasakan dan membayangkan sang calon buah hati yang berada di dalam perutnya.
Alex mengusap tangan Anna dan tersenyum lembut padanya,
"Itu anak kita..." bisik Alex dengan wajah penuh haru bahagia.
Anna mengangguk pada Alex dan membalas senyumannya,
"Bulan depan pasti janinnya sudah mulai sedikit terbentuk walaupun ukurannya masih kecil..." ujar dokter itu.
Dokter pun kembali menempelkan alatnya di perut Anna untuk mencoba mendengar suara detak jantung janin yang berada di dalam perut gadis itu.
degdegdegdeg~~
Terdengar suara detak jantung yang berdenyut cepat,
"Ini suara detak jantung janin nya..." ujar dokter itu sambil tersenyum kearah Anna.
Seketika Anna pun tak kuasa membendung air matanya. Hatinya langsung menghangat dan ada perasaan bahagia bercampur haru yang sulit di artikan di dalam hatinya.
__ADS_1
Alex mengusap air mata di pipi Anna dan tersenyum pada istrinya dengan mata yang berkaca-kaca,
"Itu suara detak jantungnya.." ujar Anna pada Alex sambil menangis.
Alex membalas senyuman istrinya dan mengangguk pelan,
"Iya sayang..." bisik Alex.
Setelah itu dokter pun melepaskan alatnya dan tersenyum kembali kearah sepasang suami istri itu,
"Suara detak jantungnya sudah terdengar dan normal, itu artinya janin dalam keadaan sehat" ujar dokter itu.
"Mulai hari ini Nona harus menjaga makanan, harus memakan makanan yang bergizi dan juga mengkonsumsi buah dan sayuran secara rutin. Lalu mulai meminum susu untuk ibu hamil jika perlu.. Dan, nanti aku juga akan memberikan beberapa obat yang harus di minum rutin mulai hari ini" lanjut dokter itu.
Anna pun mengangguk dan mulai bangkit dari tidurnya,
"Baik dokter" ujarnya.
Setelah selesai memeriksa kandungannya, Anna dan Alex pun keluar dari rumah sakit dan masuk ke dalam mobil untuk pulang.
Senyuman masih terpancar di wajah Anna, gadis itu masih tidak percaya bahwa sebentar lagi dia akan memiliki seorang anak dan menjadi seorang ibu,
"Aku sangat bahagia..." ujar Alex tersenyum sambil mengemudikan mobilnya.
Pria itu melirik sekilas ke arah istrinya sambil terus menggenggam tangan Anna dengan sebelah tangannya,
"Aku juga sangat bahagia..." ujar Anna.
Alex seketika memindahkan tangannya dan mengusap perut Anna dengan lembut,
"Sehat-sehat ya malaikat kecilku... Kami akan selalu menjagamu" ujar Alex.
Anna tersenyum melihat tingkah Alex dan menatap tangan suaminya yang berada di perutnya yang masih datar.
Seketika Anna pun sedikit mengerutkan keningnya saat melihat tangan suaminya yang sedikit bengkak dan terluka.
Anna menyentuh tangan Alex dan memperhatikannya,
"Ini.... Mengapa tanganmu seperti ini??? Apakah kau terluka???" tanya Anna tiba-tiba.
Seketika Alex pun terkejut dan menatap tangannya yang lebam.
Luka itu...
Itu adalah luka saat dirinya menghajar wajah Daniel berkali-kali kemarin malam.
Alex tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Anna..
Apakah dia harus berbohong lagi pada istrinya?? pikir Alex bimbang.
Bersambung..
Halo, dukung selalu cerita ini ya,
Jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya,
Terimakasih ☺️
Oh iya mungkin bentar lagi author bakal ngeluarin novel terbaru..
Kira-kira genre nya apa ya 😁
__ADS_1
Mohon dukungannya ya readers biar author semakin semangat 😁🙏❤️