
"Oh hay!! Lihat siapa disini???" ujar salah satu gadis cukup keras.
Gadis itu berambut pirang dan memakai pakaian yang cukup terbuka.
Anna, Bianca dan Jennie pun seketika mengarahkan pandangannya ke samping dan melihat segerombolan gadis-gadis itu.
Seketika Anna pun menghela nafasnya dengan malas.
Gadis menyebalkan itu...
Mengapa gadis itu senang sekali mengganggunya sejak dulu, pikir Anna malas.
"Hallo Anna, sudah lama tidak bertemu.." ujar gadis berambut pirang itu dengan senyuman yang terlihat palsu di mata Anna.
Seketika pandangan gadis pirang itu mengarah ke sekeliling seperti mencari keberadaan seseorang,
"Oh iya, dimana suamimu??" tanyanya.
Anna terdiam mendengar pertanyaan gadis itu dan memilih tidak menjawabnya. Bianca yang melihat wajah tidak nyaman Anna seketika menatap gadis pirang di depannya itu dengan kesal,
"Untuk apa kau bertanya?? Memangnya ada urusan apa kau dengan suami Anna??" tanya Bianca sinis.
"Sudahlah Gladis.. urus saja urusanmu sendiri" lanjutnya.
Seketika gadis pirang yang bernama Gladis itu pun menyeringai pelan mendengar ucapan Bianca,
"Memangnya apa yang salah?? Aku hanya bertanya bukan.." jawab Gladis tak mau kalah.
Gladis kembali menatap penampilan Anna dari ujung rambut hingga kaki gadis itu. Lalu berpura-pura terkejut dan prihatin melihat penampilan Anna,
"Ohh... Apa suamimu itu tidak datang dan tidak menemanimu kemari??" tanya Gladis dengan wajahnya yang super menyebalkan di mata Anna.
Anna tidak menjawab pertanyaan Gladis dan memilih memalingkan wajahnya sambil menghela nafasnya pelan. Dia harus banyak bersabar menghadapi si rambut jagung itu. Jika di ladeni, gadis itu akan semakin menjadi-jadi, pikir Anna.
Gladis menutup mulutnya dan menggeleng pelan,
"Ckck.. Ya ampun.. Jadi benar ya, suamimu itu tidak datang menemanimu kemari???" ujarnya lagi.
"Tega sekali dia, membiarkan istrinya yang sedang hamil datang kemari seorang diri" lanjutnya lagi berpura-pura sedih dan prihatin pada Anna.
Jennie yang berada di samping Anna pun seketika terlihat kesal dan mulai maju selangkah untuk mendekati Gladis,
"Hey Gladis!! Bukankah tempat ini sangat luas?? Bukankah disini begitu banyak orang selain Anna?? Kenapa kau selalu berusaha untuk mengganggunya?? Sejak dulu kau memang tidak pernah berubah.. Apa karena Anna lebih cantik darimu dan lebih beruntung darimu, maka dari itu kau selalu berusaha untuk mengganggunya karena kau iri???" kesal Jennie.
Seketika Gladis pun tersenyum mencemooh mendengar ucapan Jennie,
"Apa kau bilang??? Iri??? Untuk apa aku iri padanya??" tanya Gladis tak mau kalah.
"Aku tidak merasa dia lebih cantik daripada aku!! Dan aku juga tidak merasa dia beruntung!!" lanjutnya tidak terima.
Gladis pun menyilangkan tangannya di dada dan menatap Anna dengan tatapan merendahkannya,
"Maaf ya.. Aku tidak pernah iri sedikit pun padanya!! Aku juga mempunyai seorang kekasih dari kalangan pengusaha kaya!! Dia juga tampan, sukses.. Dan, yang lebih penting lagi, sesibuk-sibuknya dia pada pekerjaannya, dia selalu mengutamakan aku dalam hidupnya!!" ujar Gladis keras.
Gadis itu pun menunjuk seorang pria berpakaian rapih yang sedang berdiri di sudut ruangan sambil menatap kearahnya dan tersenyum.
Gladis pun menyeringai sambil melambaikan tangannya pada pria itu,
"Lihat!! Dia bahkan mengawasiku disini. Dia sangat peduli padaku dan dia tidak akan pernah membiarkan aku pergi seorang diri kemanapun" lanjutnya menyindir Anna.
Ucapan Gladis pun seketika membuat Anna sedikit tersinggung dan merasa kesal sekaligus sedih. Entah mengapa ucapan gadis pirang itu sedikit membuatnya terganggu dan berpikir negatif.
Anna pun dengan cepat menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk berpikir positif. Gladis yang melihat tingkah Anna seketika tersenyum puas,
"Hey Anna.. Aku sangat kasian padamu. Kukira suamimu itu orang yang sangat peduli pada istrinya.. Tapi ternyata, dia lebih memperdulikan pekerjaannya daripada dirimu.." ujarnya menyindir.
"Suamimu memang tampan dan kaya.. Tetapi, semua itu tidak menjamin ya..." lanjutnya lagi.
Gladis menyeringai dan mendekatkan tubuhnya pada Anna,
"Mungkin saja... Suamimu itu sudah bosan padamu.." bisiknya pelan yang membuat Anna seketika membelalakkan matanya.
Lalu Gladis pun kembali menatap Anna sambil menutup mulutnya,
__ADS_1
"Oopss.. Atau.. Jangan-jangan.. Sebenarnya suamimu itu sekarang sedang sibuk..." ujarnya terputus.
"Sibuk bersama dengan wanita lain..." lanjutnya sambil menyeringai.
Seketika Anna pun mengepalkan tangannya dan dengan cepat menampar pipi Gladis dengan kuat.
PLAK!!!
Pandangan orang-orang disana pun seketika tertuju pada mereka. Jennie, Bianca dan teman-teman Gladis terlihat mengangakan mulut mereka karena terkejut. Begitu juga dengan Gladis, gadis itu terlihat begitu terkejut dengan apa yang Anna lakukan.
Gladis menyentuh pipinya dan menatap Anna dengan tajam,
"KAU!!!!!" teriaknya tidak terima.
Anna menatap Gladis tajam dengan nafasnya yang sedikit memburu. Kesabarannya sudah habis pada gadis pirang itu.
Sejak dulu dia selalu saja memilih diam jika Gladis mengganggunya. Tetapi sekarang, perkataan Gladis tadi benar-benar sudah keterlaluan dan di luar batas. Anna harus memberikan gadis itu sedikit pelajaran agar dia sadar dengan perbuatannya,
"Cukup!!! Kau sudah benar-benar keterlaluan!!!" ujar Anna tajam.
Gladis terlihat emosi mendengar ucapan Anna dan hendak membalas menyerang Anna. Namun dengan cepat Jennie dan Bianca mencoba menghalangi gadis itu.
Lalu.. tiba-tiba seorang pria pun datang menghampiri mereka,
"Ada apa ini??" tanyanya keras.
Gladis pun menatap pria itu dengan tidak terima,
"Brian!! Lihat.. wanita gila itu telah menamparku!!" teriaknya kesal.
Bianca maju selangkah dan menunjuk Gladis dengan kesal,
"Dia yang memulainya lebih dulu!!" ujarnya tidak terima.
Teman-teman Gladis ikut maju dan hendak melawan Bianca. Namun dengan cepat Brian menghalangi mereka,
"Sudah cukup!!! Tolong jangan buat keributan disini!! Sebentar lagi acaranya akan di mula!!" ujar Brian tegas.
Pria itu pun menatap kearah Gladis dan teman-temannya,
Gladis hendak membantah ucapan Brian, namun pria itu dengan keras menggelengkan kepalanya,
"Jika kau membuat keributan lagi, maka aku tidak akan segan-segan memintamu keluar dari sini!!" ujarnya.
Gladis pun akhirnya hanya dapat menghela nafasnya kasar sambil menatap tajam pada Anna. Dia dan teman-temannya pun akhirnya berjalan menjauh dari tempat itu.
Jennie menatap cemas pada Anna yang terlihat sedang menyentuh keningnya,
"Kau tidak apa-apa???" tanyanya cemas.
Anna menutup matanya pelan sambil menggeleng pelan,
"Aku tidak apa-apa" jawabnya pelan.
Brian pun menatap cemas pada Anna. Bianca memegang tangan Anna dan menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi,
"Duduklah dulu disini.. Aku akan mengambilkanmu minum" ujarnya lembut.
Anna pun duduk di kursinya. Sedangkan Bianca dan Jennie pergi sebentar untuk mengambilkan Anna minuman,
"Kau yakin baik-baik saja???" tanya Brian cemas.
Anna menatap Brian sejenak dan mengangguk pelan,
"Aku tidak apa-apa.." jawabnya.
"Maaf telah membuat keributan" lanjutnya merasa bersalah.
Brian pun tersenyum dan menatap Anna dengan lembut,
"Tidak apa, aku tau sifat Gladis.. Bukankah dia selalu seperti itu sejak dulu??" ujarnya tersenyum pada Anna.
Anna pun tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Brian sudah tau sifat Gladis karena dulu gadis itu sempat menyukainya dan melabrak Anna karena secara terang-terangan Brian mengatakan pada gadis itu bahwa dia menyukai Anna, bukan dirinya..
__ADS_1
"Oh iya.. Apa... Kau datang bersama suamimu??" tanya Brian pelan.
Anna pun menatap Brian sekilas dan menggeleng pelan,
"Tidak" jawabnya singkat.
"Dia sedang ada rapat penting di kantor" lanjut Anna pelan.
Brian dapat melihat wajah Anna yang sedikit kecewa. Pria itu pun mengangguk pelan dan tanpa sengaja menatap perut Anna yang sedikit menonjol dengan terkejut,
"Kau... Maaf... Apa... Apa kau sedang hamil???" tanya Brian pelan.
Anna pun menatap arah pandang Brian dan mengangguk pelan sambil mengusap perutnya.
Brian terlihat terdiam dan sedikit menunduk sambil mengangguk pelan,
"Selamat ya..." ujarnya lagi.
Anna pun menatap Brian dan tersenyum tipis. Lalu salah satu pria terlihat sedang berlari kecil menghampiri Brian dan membisikkan sesuatu pada lelaki itu. Brian pun mengangguk dan menatap Anna kembali,
"Sebentar lagi acaranya akan di mulai.." ujarnya pelan.
"Kalau begitu, aku akan ke panggung dulu.. Tidak apa-apa jika aku tinggal sendiri disini??" tanyanya pada Anna.
Anna pun menatap Brian dan mengangguk,
"Tidak apa-apa, pergilah.." jawabnya.
Brian pun mengangguk dan tersenyum pada Anna. Setelah itu dia pun berlalu pergi meninggalkan Anna.
Anna menghela nafasnya pelan setelah kepergian Brian. Gadis itu pun dengan segera mengeluarkan handphone dari dalam tas nya.
Anna terlihat berpikir sejenak sebelum menyalakan handphonenya.
'Apakah rapatnya telah selesai??' pikir Anna ragu.
Entah mengapa ucapan Gladis tadi sedikit menganggu pikirannya. Anna ingin Alex segera datang kemari dan menemaninya untuk menutup mulut gadis rambut jagung itu.
Semenjak dirinya hamil, Anna menjadi sangat sensitif dan hal-hal kecil dapat menganggu pikirannya. Dan demi kebaikan pikirannya, Anna pun mencoba untuk menghubungi suaminya itu agar segera datang menjemputnya.
Anna menekan ponselnya dan mulai menempelkannya di telinga untuk menghubungi Alex,
Tut...
Tut...
(Nomor yang anda tuju sedang.......)
Seketika Anna pun langsung mematikan panggilannya dengan kecewa.
'Apa Alex sesibuk itu sekarang??' pikirnya.
Anna pun menatap jam di layar ponselnya,
'Bukankah ini terlalu malam untuk rapat??'
'Apa rapat harus selama ini??' pikirnya lagi overthinking.
Anna pun menghela nafasnya kasar sambil memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas dengan kesal,
'Apakah Alex benar-benar sedang rapat??' pikirnya lagi tiba-tiba.
Bersambung...
Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️
Banyakin komentarnya ya dan jempolnya juga 😁🙏
Oh iya, author juga mau minta dukungan buat novel kedua author ya, yg judulnya 'Mysterious Man' 🙏
Terimakasih..
Dan jangan lupa pesan author, kalau baca novel jangan sampai lupa waktu ya..
__ADS_1
Apalagi ibadahnya sampai terlewat 😁