Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Plan Diabolique


__ADS_3

Hari masih menunjukkan pukul 4 dini hari. Erika terlihat gelisah di dalam kamarnya sambil berjalan mondar-mandir.


Semalam setelah mendengar rencana Leonard di telepon, Erika semakin merasa tertekan dan tidak tenang. Wanita itu mengira tugasnya sudah selesai untuk menyelidiki rumah Alex. Namun ternyata, Leonard malah semakin membuat ide yang lebih gila.


Saat di telepon kemarin, Leonard menyuruh Erika untuk mencelakai Anna, karena menurut Leonard kelemahan Alex ada pada istrinya. Tapi, Erika langsung menolak hal itu kemarin. Dia tidak bisa mencelakai Anna, gadis itu tidak bersalah sama sekali. Urusan Erika dan Leonard adalah dengan Alex, bukan istrinya. Apalagi Anna sedang hamil besar sekarang..


Namun sayangnya, Leonard terus membujuk dan memaksanya untuk melakukan hal itu karena tidak ada cara lain yang mempan untuk menjebak Alex.


Erika terlihat mengacak rambutnya frustasi dan duduk di tepi tempat tidur. Wanita itu kembali berpikir, dirinya memang terkadang cemburu melihat Alex yang begitu perhatian pada istrinya. Tapi tetap saja, dia tidak ingin menghukum orang yang tidak bersalah.


Erika mengambil sesuatu di dalam tas yang kemarin di bawanya. Sebuah botol kaca kecil berisi cairan yang Erika tidak tau apa isinya. Semalam dalam panggilan teleponnya, Leonard mengatakan pada Erika bahwa dia telah memasukan sesuatu ke dalam tas nya. Dan Leonard menyuruh Erika untuk memasukan cairan ini ke dalam makanan atau minuman Anna.


Erika sedikit curiga dengan cairan itu, dia berkata pada Leonard jika dia tidak mau memberikan cairan ini pada Anna jika fungsi cairan ini untuk meracuni atau membahayakan Anna dan kandungannya. Tetapi Leonard mengatakan bahwa cairan itu tidak berbahaya dan hanya membuat mual saja. Lagipula rencana itu hanya untuk memancing Alex masuk ke dalam perangkap Leonard.


Setelah berpikir cukup lama akhirnya Erika pun menyetujui rencana Leonard.


Wanita itu menghela nafasnya dan menggenggam botol kecil di tangannya. Baiklah, dia akan melakukan apa yang Leonard perintahkan padanya. Dan Erika hanya akan menuangkan cairan ini sedikit saja ke dalam makanan Anna.


Erika pun bangkit dari atas tempat tidur dan mulai melangkah ke pintu. Wanita itu membuka pintu perlahan dan melihat ke sekeliling. Biasanya di jam ini Alex dan Anna belum turun ke lantai bawah, dan Erika tau Bibi Van pasti tengah menyiapkan sarapan di dapur sekarang.


Wanita itu pun melangkah keluar kamar dan berjalan pelan kearah dapur. Erika mencoba terlihat santai dan menghilangkan kegugupannya.


Dan, benar seperti dugaannya, Bibi Van tengah berada di dapur dan bersiap untuk memasak. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk Erika.


Wanita itu melangkah masuk ke dalam dapur dan menyapa Bibi Van yang tengah memotong sayuran,


"Selamat pagi Bibi" sapanya pelan.


Bibi Van seketika membalikkan tubuhnya dan menatap Erika sambil tersenyum,


"Selamat pagi Nona.. Anda sudah bangun??" tanya Bibi Van.


Erika tersenyum dan mendekati Bibi Van,


"Iya.." jawabnya.


Erika memperhatikan Bibi Van yang melanjutkan pekerjaannya memotong sayuran dan berdehem pelan,


"Apa.. Bibi sedang membuat sarapan??" tanyanya.


Bibi Van pun mengangguk pelan,


"Iya, Bibi baru saja mau mulai memasak. Pagi ini Tuan Alex akan pergi ke kantor, jadi Bibi harus memasak lebih awal" jawabnya.


Erika seketika terdiam mendengar ucapan Bibi Van. Bukankah ini kesempatan bagus untuknya?? pikirnya dalam hati.


Erika pun mengangguk pelan dan menatap Bibi Van dengan ragu,


"Bolehkah, aku membantu Bibi??" tanyanya.


Bibi Van seketika menatap kearah Erika dan tersenyum,


"Tentu saja boleh, jika Nona tidak keberatan" ujar Bibi Van terkekeh pelan.


Erika pun tersenyum dan mulai membantu Bibi Van menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.


Setelah selesai memotong-motong bahan-bahan yang ingin di masak. Bibi Van pun mulai memasak beberapa jenis makanan.


Erika terlihat mulai mengarahkan pandangannya ke sekeliling, mencoba untuk mencari kesempatan untuk menuangkan cairan yang di berikan Leonard kemarin.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar, wanita itu mengeluarkan botol kecil itu dari saku celananya. Erika membuka tutup botol perlahan dan hendak menuangkan cairan itu ke dalam mangkuk sup yang baru selesai di buat oleh Bibi Van.


Erika meletakan botol itu di atas mangkuk dan mulai memiringkannya. Namun tiba-tiba Bibi Van membalikkan tubuhnya sambil menatap kearah Erika,


"Nona, bisakah Nona ambilkan gula yang ada di lemari itu??" tanyanya sambil mengarah pada lemari yang berada di samping Erika.


Erika yang masih terkejut seketika memasukkan botol kecil tadi secara terburu-buru ke dalam saku celananya kembali,


"Oh.. Baiklah" ujarnya lalu dengan segera mengambil gula di dalam lemari.


Erika memberikan gula itu dengan cepat pada Bibi Van. Wanita itu mencoba menenangkan kembali jantungnya yang masih berdegup kencang, bahkan tangannya sedikit bergetar saat dia memberikan gula tadi pada Bibi Van.


Apa Bibi Van melihatnya tadi?? tanya Erika cemas dalam hatinya.


Erika kembali menelisik pergerakan Bibi Van dan menggeleng pelan. Sepertinya wanita paruh baya itu tidak melihat apa yang dilakukannya tadi, pikirnya lagi.


Erika menghela nafasnya pelan. Wanita itu terdiam sejenak sambil menatap sayur sup yang berada di depannya,


'Apa tadi dia sudah berhasil menuangkan cairan itu??' pikirnya ragu.


Sepertinya cairannya sudah masuk sedikit, pikirnya lagi.


Erika pun kembali mencoba mengatur nafasnya dan bersikap seperti biasa. Semoga saja rencana ini berhasil, ucapnya penuh harap di dalam hati.


-


Sekarang hari sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Sarapan telah tersusun rapih di atas meja. Sepasang suami istri tengah turun dari atas tangga sambil bergandengan tangan.


Alex terlihat sudah rapih dengan jas di tubuhnya. Pria itu harus ke kantor pagi ini karena ada beberapa urusan mendadak yang harus dia tangani.


Anna merapihkan dasi di baju Alex dengan teliti. Pria itu tersenyum pelan dan mengecup lembut pipi sang istri,


Anna mengangguk pelan dan tersenyum pada Alex,


"Tidak apa-apa sayang.. Aku mengerti" ujarnya.


Alex mengusap rambut Anna dengan lembut,


"Aku akan membawa bekal saja untuk sarapan di kantor" ujar Alex.


"Tidak apa-apakan??" tanyanya lagi merasa bersalah.


Anna menatap Alex dan kembali mengangguk pelan,


"Tentu saja tidak apa-apa" jawab Anna.


Gadis itu pun menyiapkan makanan untuk di bawa Alex ke kantor. Setelah itu, Anna mengantar Alex seperti biasa sampai ke mobilnya,


"Ini, jangan lupa di makan" ujar Anna sambil memberikan bekal Alex.


Alex tersenyum lembut dan mengambil bekal itu,


"Terimakasih sayang.. Aku pasti akan makan" ujarnya.


Alex mencium kening Anna lama dan beralih ke bibirnya. Pria itu ********** dalam cukup lama.


Setelah selesai Alex pun menatap Anna dengan dalam dan khawatir,


"Sayang.. Ingat pesanku semalam, jangan percaya pada Erika.. Walaupun aku belum benar-benar menemukan bukti niat jahatnya, tetapi aku yakin dia mempunyai niat lain berada disini" ujarnya berbisik pelan.

__ADS_1


"Aku akan kembali dengan cepat setelah urusanku selesai. Jika ada apa-apa kau bisa menghubungiku dan aku akan menyuruh pengawal untuk terus mengawasimu.." lanjutnya.


Anna mengangguk pelan dan tersenyum pada Alex,


"Iya sayang, aku mengerti. Jangan khawatir.." ujar Anna menenangkan.


Alex pun menghela nafasnya dan memeluk tubuh Anna cukup lama,


"Kalau begitu aku berangkat dulu" ujarnya berpamitan.


Alex mulai masuk ke dalam mobilnya dan melambai pada sang istri,


"I love you.." ucapnya lembut.


Anna tersenyum pada Alex dan melambaikan tangannya,


"I love you too" jawab Anna.


Setelah Alex pergi, Anna pun mulai masuk kembali ke dalam rumah. Gadis itu masuk ke ruang makan dan melihat Bibi Van yang sudah duduk di salah satu kursi.


"Ayo Nona, mari kita sarapan" ujar Bibi Van.


Anna tersenyum dan duduk di kursinya sambil mengarahkan pandangannya ke sekitar. Sepertinya Erika belum bangun, pikir Anna.


Anna pun mulai memakan makanannya bersama Bibi Van,


"Hmm.. Enak sekali, sepeti biasa.." puji Anna pada masakan Bibi Van.


Bibi Van tersenyum mendengar pujian Anna,


"Makanlah yang banyak Nona" ujarnya.


Namun saat Anna hendak kembali menyodokkan makanannya, tiba-tiba gadis itu merasa perutnya terasa kram dan sakit,


"Akh.." rintih Anna pelan sambil memegang perutnya.


Bibi Van menatap kearah Anna dan terlihat cemas,


"Ada apa Nona??" tanyanya.


Anna menggeleng pelan sambil menggigit bibirnya. Mengapa perutnya terasa sakit?? pikirnya.


"Bibi.. Perutku.. Perutku sakit.." rintih Anna.


Bibi Van pun dengan cepat menghampiri Anna sambil menyentuh perutnya,


"Apakah sangat sakit Nona??" tanyanya mulai panik.


Anna kembali merintih dan merasakan perutnya semakin terasa kram dan sakit. Apa yang terjadi?? pikir Anna yang mulai cemas.


Bersambung..


Halo, support selalu cerita ini ya,


Jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️


Yuk, bikin author semangat lagi nulis dengan tinggalkan jejak di kolom komentar 🙏😁


Dan, jangan lupa kalau baca novel jangan lupa waktu ya, dan ibadah juga ☺️🙏

__ADS_1


__ADS_2