
-
-
Sinar matahari masuk melalui celah kecil dari atap yang sedikit terbuka. Anna mencoba membuka matanya yang terasa berat. Seluruh tubuhnya terasa sakit, bibirnya kering dan pucat, matanya sembab karena menangis. Anna memeluk tubuhnya yang terasa dingin. Tubuhnya hanya di balut oleh dress dalaman tipis yang sudah kotor.
Anna mencoba mengangkat tubuhnya berusaha untuk duduk dan bersandar pada dinding. Tenggorokannya sangat kering, sudah hampir seharian dia di kurung di penjara bawah tanah ini dan dia belum makan apa pun. Anna memegang perutnya, dia sangat lapar. Tapi apalah daya, tidak akan ada orang yang memberikannya makanan. Mungkin dia akan benar-benar mati kelaparan disini.
Anna menyentuh lukanya yang sudah mengering, sepertinya lukanya yang tidak diobati menjadi infeksi. Anna mencoba membersihkan lukanya dengan air liurnya, setidaknya cara itu bisa sedikit membersihkan lukanya..
Saat sedang fokus dengan luka di lututnya, Anna mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Seketika Anna terdiam dan waspada, siapa itu? pikirnya cemas.
Anna menatap waspada kearah pintu jeruji..
"Nona.." bisik seseorang.
Tunggu.. suara itu.. bukankah suara Lidya?
"Nona.." bisik nya lagi.
Tiba-tiba seseorang muncul di depan jeruji yang Anna tempati, orang itu menggunakan penutup pada wajahnya.
"Nona.. ini aku Lidya" ujarnya mendekat.
Anna membelalakkan matanya terkejut melihat kedatangan Lidya.
"Li.. Lidya kenapa kau kemari?" tanyanya.
"Nona.. Aku membawa sedikit air dan makanan, ini makanlah.." ujar Lidya lalu memasukan sepotong roti dan air mineral ke selah jeruji.
"Tapi.." ucap Anna ragu.
"Tidak apa-apa Nona, tidak ada yang tau.. Ayo makanlah, aku tau Nona pasti lapar" ujar Lidya.
Anna menghampiri Lidya ragu, lalu mengambil roti dan air mineral yang Lidya berikan.
"Makanlah.." ujar Lidya.
Dengan ragu Anna memakan sepotong roti itu dan meminum air yang Lidya berikan.
"Maafkan aku.. Karena aku Nona tertangkap dan di kurung disini" tutur Lidya sedih.
"Ini bukan salahmu.. Seharusnya aku berterima kasih padamu, kau sudah mau menolongku.. namun aku terlalu ceroboh dan akhirnya tertangkap kembali" ujar Anna tersenyum miris.
__ADS_1
Lidya menatap iba pada Anna,
"Nona tidak mengatakan apa-apa pada Tuan Alex kan?" tanyanya ragu.
"Tidak.. Aku tidak mengatakan apapun padanya" jawab Anna.
Lidya terlihat bernafas lega,
"Kami juga di hukum oleh Tuan Alex.." ujar Lidya.
Anna menatap Lidya prihatin,
"Hukuman apa yang dia berikan?" tanyanya.
Lidya menaikan lengan bajunya, lalu menunjukkan chip kecil yang tertanam di pergelangan tangannya.
"Ini.. Ini adalah hukumannya" ujar Lidya.
Anna memicingkan matanya tidak mengerti,
"Jadi.. orang-orang yang bekerja dengan Tuan Alex sebelumnya telah di tanamkan chip kecil ini di setiap pergelangan tangan mereka.. Setiap chip terhubung dengan tombol remot yang dimiliki Tuan Alex. Jika mereka melakukan kesalahan maka hanya dengan menekan tombol remot miliknya, Tuan Alex sudah menghukum bawahannya. Dan kau tau bagaimana rasanya hukuman itu? Rasanya seperti kau ditusuk oleh ribuan pisau berulang-ulang, tapi tidak membuatmu terluka dan berdarah. Bayangkan kau harus merasakan kesakitan itu berjam-jam lamanya. Bahkan mungkin lebih baik di bunuh langsung dari pada merasakan siksaan kejam itu.." jelas Lidya.
Anna menatap sedih dan prihatin pada Lidya dan juga merasa sangat bersalah. Karena ingin menolongnya, Lidya harus merasakan siksaan yang kejam dari Tuan nya.
"Jangan salahkan dirimu.. Ini juga salahku, karena aku tidak memikirkan secara matang rencana untuk menolong mu keluar, dan berakibat fatal seperti ini" ujar Lidya.
"Sudahlah.. Tidak ada yang perlu di sesalkan, semua sudah terjadi. Sekarang yang terpenting kau harus bertahan disini, jika ada kesempatan aku akan mengunjungimu dan membawakan makanan. Walaupun Tuan Alex tidak mengizinkan siapapun untuk memberikanmu makan. Tapi aku akan tetap membantumu... Suatu saat aku yakin kau akan bebas dan keluar dari tempat ini" ujar Lidya tersenyum menghibur Anna.
Anna tersenyum tulus pada Lidya. Ternyata Lidya sangat tulus menolongnya. Bahkan dia mengambil resiko yang besar untuk sekedar mendatanginya dan memberikannya sedikit makanan. Dia mempertaruhkan dirinya untuk Anna. Anna mulai mempercayai Lidya, dan yakin bahwa Lidya benar-benar tulus ingin membantunya.
"Terimakasih Lidya" ucap Anna.
"Tidak perlu berterima kasih, aku sudah menganggap mu seperti adikku sendiri. Sekian lama hidup sebagai wanita seorang diri di rumah ini, membuatku merindukan sosok teman yang sama denganku. Dan setelah kau datang, aku seperti merasakan mempunyai seorang adik perempuan" ucap Lidya.
Anna tersenyum menanggapi ucapan Lidya yang menyentuh hatinya..
Anna sudah menghabiskan makanannya. Lidya kembali membereskan bekas makanan yang di makan oleh Anna. Lalu membantu Anna mencuci bekas luka di lutut dan dagunya yang sudah mengering.
"Baiklah kalau begitu.. Aku akan kembali ke dalam rumah sebelum ada yang menyadari keberadaan ku disini.. Kau berhati-hatilah disini" ujar Lidya.
Anna menganggukkan kepalanya dan kembali berterima kasih pada Lidya.
Lidya kemudian pergi keluar dari ruangan bawah tanah itu dan kembali meninggalkan Anna seorang diri.
__ADS_1
Anna menatap luka di lututnya yang sudah di bersihkan. Ternyata masih ada orang yang peduli dengannya. Walaupun dia mengenal Lidya belum lama, tetapi dia yakin Lidya orang yang baik dan tulus padanya..
-
-
Setelah melepaskan penutup wajahnya, Lidya kembali masuk ke dalam rumah. Senyum puas tergambar di wajahnya. Tugasnya saat ini adalah untuk mengambil kepercayaan gadis bodoh itu. Dan sepertinya rencana nya berhasil. Gadis itu terlihat mulai mempercayai Lidya dan tidak menaruh curiga sedikitpun tentang apa yang sudah terjadi. Bagus.. tinggal beberapa langkah lagi dia bisa memperalat gadis itu, dan menyingkirkannya..
Terdengar suara pintu terbuka. Alex memasuki rumah dengan wajah lelahnya. Lidya yang melihat pemandangan itu merasa iba pada Alex dan berharap bisa memeluknya sesaat, mengobati rasa lelah Alex yang sudah bekerja keras seharian. Alex berangkat pagi-pagi sekali tadi ke kantor dan pulang sekarang saat hari sudah hampir gelap.
Alex menatap Lidya sekilas dan berjalan menaiki tangga. Lidya hanya membungkukkan badannya menyambut kedatangan Alex.
Tiba-tiba langkah Alex terhenti di atas tangga,
"Siapkan air hangat untukku, aku ingin berendam" perintah Alex singkat, lalu kembali melangkah.
"Baik Tuan" balas Lidya. Tuan nya pasti benar-benar lelah hari ini, pikir Lidya.
-
Lidya menyiapkan air hangat di dalam sebuah bak besar yang ada di kamar mandi pribadi milik Alex. Dia juga menyalakan lilin aroma terapi di sekeliling ruangan dan wine yang di sukai Alex. Berharap itu semua bisa mengobati lelah Tuan nya.
Tidak lama kemudian Alex masuk ke dalam kamar mandi pribadinya melepaskan jasnya dan menyisakan kemeja putih miliknya. Alex masuk tanpa menatap Lidya sedikitpun.
"Keluar!" ucap Alex dingin.
Lidya membungkukkan badannya lalu keluar dari kamar mandi..
Namun Lidya tidak menutup rapat pintunya, dia mengintip sedikit dari celah pintu yang terbuka. Menikmati pemandangan yang sangat indah di hadapannya..
Alex masuk ke dalam bak mandinya dan membuka kancing kemejanya. Tubuhnya yang proposional terlihat sangat sempurna..
Otot di tubuhnya, dadanya yang bidang, rambut dan tubuhnya yang basah..
Lidya membayangkan dirinya berada dalam dekapan tubuh Alex, mencumbunya..
Seketika pikiran nya kacau, obsesinya untuk memiliki Alex semakin kuat. Dia tidak akan membiarkan wanita manapun memiliki Alex kecuali dirinya, hanya dirinya seorang!!
Bersambung..
Keep support this story guys 🤗 like + komen juga...
Semoga next episode update nya bisa cepat ya hehe 💪
__ADS_1