Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Disease


__ADS_3

Alex memarkirkan mobilnya dengan cepat di halaman rumah sakit. Pria itu keluar dari dalam mobil dan menutup pintunya dengan kencang lalu berlari masuk ke dalam rumah sakit.


Sebelumnya Bibi Van telah memberitahu Alex dimana ruangan istrinya berada.


Saat ini Alex sudah berada di lantai 3 dan berjalan dengan cepat menuju ruangan Anna.


Alex menatap Bibi Van yang sedang duduk di luar ruangan. Pria itu pun menghampirinya,


"Bibi bagaimana keadaan Anna???" tanya Alex cepat.


Bibi Van berdiri dari duduknya dan menatap Alex,


"Nona masih di dalam Tuan, dokter sudah memeriksanya. Sekarang Nona sedang di temani oleh seseorang.." ujar Bibi Van pelan.


Alex mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Bibi Van barusan, seseorang??? pikirnya.


"Seseorang??? Siapa???" tanya Alex tidak sabaran.


Sebelum Bibi Van menjawab, pria itu dengan cepat melangkah kearah pintu dan membukanya.


CKLEK!!


DEG!!!


Seketika Alex membelalakkan matanya saat melihat seorang pria yang sangat dia benci tengah berada tepat di hadapannya.


Emosinya seketika meningkat dan tanpa pikir panjang pria itu langsung memukul wajah Daniel dengan kuat.


BUGH!!!


"BAJINGAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!" teriaknya.


Daniel pun langsung tersungkur ke atas lantai dengan sudut bibirnya yang berdarah karena pukulan keras Alex.


Anna yang berada di atas tempat tidur seketika terduduk dan menatap kejadian itu dengan terkejut,


"BERANINYA KAU!!!!!!!!" teriaknya lagi.


Alex dengan cepat meraih kerah baju Daniel dan hendak memukul wajah pria itu lagi. Namun suara Anna yang bergetar menghentikan gerakkannya,


"Alex hentikan!!!!!" teriak Anna.


Alex menahan tangannya di udara dan menatap wajah Daniel dengan tatapan membunuhnya. Sedangkan Daniel menatap berani pria itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


Rahang Alex mengeras kuat menahan gejolak amarah di dalam hatinya. Cengkraman tangan Alex di kerah baju Daniel semakin kuat, membuat wajah Daniel memerah,


"Cukup Alex...... Aku tidak ingin ada keributan disini..." ujar Anna lagi sambil menangis.


Alex masih terdiam di posisinya dan semakin mengencangkan cengkraman tangannya di kerah baju Daniel,


"Kumohon....." ujar Anna lagi.


Dengan terpaksa Alex menurunkan tangannya dan mendorong kuat tubuh Daniel. Pria itu membuang nafasnya kasar sambil menatap Daniel dengan tajam,


"Pergi dari sini sekarang!! Sebelum aku membunuhmu!!!!" desis Alex tajam.


Daniel kembali tersungkur di atas lantai dan menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Pria itu mencoba bangkit dan berdiri sambil membawa berkas yang terjatuh.


Daniel dengan berani menatap Alex dan menyeringai kecil padanya, membuat Alex semakin menatap tajam kearahnya.


Lalu tatapan Daniel pun beralih menatap Anna yang sedang duduk di atas tempat tidurnya dengan wajah yang berlinang air mata,


"Aku tau kau masih peduli padaku..." bisik Daniel dalam pada Anna.


Pria itu pun kembali menatap wajah Alex yang terlihat sedang menahan emosinya, lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Alex mengepalkan tangannya kuat dan dengan keras memukul tembok di sampingnya,


BUGH!!!


"Brengsek!!!!" desis Alex.


Pria itu terlihat sangat emosi karena harus menahan dirinya untuk tidak memukul Daniel karena permintaan Anna.

__ADS_1


Nafasnya memburu dengan kencang. Alex menutup matanya dan mencoba untuk tenang.


GREP!!!


Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhnya dari belakang, membuat Alex seketika membuka matanya dan merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Emosinya pun seketika mulai mereda.


Alex membalikkan tubuhnya dan melihat sang istri yang memeluk tubuhnya dengan tubuh yang bergetar.


Pria itu memeluk tubuh Anna dengan khawatir,


"Sayang.. kenapa kau turun dari tempat tidur???" ujar Alex cepat.


Pria itu pun menggendong tubuh Anna sambil membawa infusnya.


Dengan perlahan Alex menidurkan kembali tubuh Anna di atas tempat tidur. Anna masih menangis dan menatap wajah suaminya,


"Maafkan aku....." lirih Anna.


Alex menghela nafasnya dan duduk di samping tempat tidur. Pria itu menggenggam tangan Anna dan mengecupnya dengan lembut,


"Aku yang seharusnya minta maaf... Maafkan aku..." ujar Alex lembut.


Pria itu mengusap air mata di pipi Anna dan mengecupnya pelan,


CUP!!


"Sudah jangan menangis... Jangan pikirkan apapun.. Istirahatlah..." lanjutnya.


Alex berusaha untuk menenangkan Anna. Dia tidak ingin istrinya itu sedih. Walaupun sebenarnya dia masih sangat emosi dengan Daniel.


Bagaimana pria bajingan itu bisa berada disini bersama istrinya??? pikir Alex marah.


Lalu.. Kenapa Anna masih peduli pada pria itu?? pikirnya lagi gusar.


Namun untuk saat ini Alex tidak akan memikirkannya. Dia hanya akan fokus pada kondisi Anna agar istrinya itu bisa kembali sehat. Setelah itu, baru dia akan membuat perhitungan dengan si brengsek tadi..


-


-


"Tuan... Anda baik-baik saja??" tanya Bibi Van.


Daniel menatap Bibi Van dan tersenyum padanya,


"Aku tidak apa-apa... Kalau begitu aku permisi dulu" jawab Daniel.


Pria itu pun kembali melangkah, namun Daniel berhenti sejenak dan membalikkan tubuhnya menghadap Bibi Van,


"Oh iya, tolong.. jagalah Anna dengan baik. Jangan biarkan dia melakukan pekerjaan yang berat setelah ini. Dan... pastikan berikan dia makanan dan minuman yang sehat" ujar Daniel lalu kembali melangkah pergi.


Bibi Van mengernyitkan keningnya dan mengangguk pelan.


Saat Daniel berbelok di koridor, dia berpapasan dengan dokter dan perawat yang memeriksa Anna tadi. Pria itu menghampiri mereka,


"Dokter... Tolong ingat pesanku tadi. Jangan beritahu dulu suami atau pun siapapun tentang kehamilan Nona tadi. Tolong katakan saja padanya, bahwa Nona tadi kelelahan dan harus banyak istirahat" ujar Daniel.


Dokter itu terlihat berpikir sejenak dan mengangguk pelan,


"Baik Tuan... Semoga kejutannya berhasil" ujar dokter itu sambil tersenyum lalu menepuk pundak Daniel dan berlalu pergi.


Daniel pun membalas senyumannya. Setelah dokter itu pergi kearah ruangan Anna. Daniel kembali terdiam dan menatap berkas di tangannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Setelah itu dia pun kembali melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.


-


-


CKLEK!!!


"Selamat siang Tuan" sapa seorang dokter yang baru saja masuk ke dalam ruangan Anna.


Alex mengangguk pelan pada dokter itu sambil masih menggenggam tangan Anna.

__ADS_1


"Syukurlah Nona sudah sadar. Kalau begitu aku akan periksa kembali keadaan Nona" ujarnya.


Dokter itu pun kembali memeriksa keadaan Anna,


"Apa yang terjadi dengan istriku dokter??" tanya Alex.


Setelah selesai memeriksa, dokter itu pun tersenyum pada Alex,


"Istri ada hanya kelelahan, pastikan istri anda mulai sekarang harus banyak beristirahat. Jangan melakukan pekerjaan yang berat dan makanlah makanan yang sehat dan bergizi" terang dokter itu.


Alex pun mengangguk pelan dan kembali mengusap tangan Anna,


"Baik dokter" ujar Alex.


"Untuk hari ini istri anda akan di rawat disini, perawat akan memberikan beberapa obat yang harus diminum mulai sekarang. Mungkin besok setelah infusnya habis, istri anda sudah bisa kembali pulang" ujar dokter itu.


Alex kembali mengangguk pada dokter itu,


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu" ujar dokter itu dan berlalu pergi.


Namun saat hendak keluar dokter itu seketika berhenti dan membalikkan wajahnya pada Alex,


"Oh iya... Untuk sementara jangan dulu melakukan hubungan intim ya" ujar dokter itu sambil tersenyum penuh arti lalu berlalu pergi.


Alex mengernyitkan keningnya tidak mengerti. Kenapa dokter itu melarangnya?? pikirnya.


Alex pun mencoba berpikir positif, mungkin karena Anna sedang sakit dan tidak boleh kelelahan, pikirnya tidak ambil pusing.


Alex pun mengusap kepala Anna dan mencium keningnya dengan lembut,


CUP!!


"Syukurlah.. Mulai hari ini jangan melakukan pekerjaan apapun. Kau harus banyak beristirahat" ujar Alex lembut.


Anna tersenyum kecil pada Alex dan mengangguk pelan. Lalu gadis itu kembali terdiam dan menatap wajah Alex dengan serius,


"Sat aku sadar tadi, Daniel sudah berada disini... Jadi... Aku tidak..." ujar Anna terpotong ketika telunjuk Alex menyentuh bibirnya dengan lembut.


"Ssstt... Kau tidak perlu menjelaskannya padaku. Aku percaya padamu sayang..." ujar Alex tersenyum lembut.


Anna membalas senyuman Alex dan mengangguk pelan.


Seketika pintu kamar Anna pun terketuk. Alex berjalan kearah pintu dan membukanya. Lalu tak lama Bibi Van pun masuk ke dalam ruangan,


"Syukurlah Nona sudah siuman..." ujar Bibi Van lega.


Anna tersenyum pada Bibi Van,


"Maaf Bibi, aku sudah membuatmu khawatir dan kerepotan" ujar Anna.


Bibi Van menyentuh tangan Anna dan menggeleng pelan,


"Tidak Nona... Aku yang merasa bersalah, seharusnya aku tidak membiarkan Nona ikut berbelanja" ujarnya.


"Tapi.. Untung saja pas kemari, Tuan tadi menolongku membawa Nona kesini" lanjut Bibi Van.


Seketika Alex mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Bibi Van,


"Pria tadi??? Apakah pria brengsek tadi???" tanya Alex marah.


Bibi Van pun mengangguk pelan dengan takut,


"I.. Iya Tuan, Tuan tadi bilang.. dia masih bersaudara dengan Nona. Jadi... dia yang masuk dan menemani Nona sejak Nona belum sadar" ujar Bibi Van sedikit takut.


Alex menggertakkan giginya kuat mendengar ucapan Bibi Van. Anna menggenggam tangan Alex untuk menenangkannya. Alex pun menatap Anna dan mencoba untuk menenangkan dirinya lagi.


Sedangkan Anna, tiba-tiba dia kembali teringat dengan ucapan Daniel tentang penyakitnya.


Apakah pria itu baru saja menemui dokter??


Jadi... Daniel tidak berbohong tentang penyakitnya??


Bersambung...

__ADS_1


Dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, komen, vote dan hadiahnya 🙏


Terimakasih ❤️


__ADS_2