Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Penyesalan


__ADS_3

Daniel masih mengendarai mobilnya menuju apartemen Alex. Hujan turun cukup lebat membuat arah pandangnya sedikit terganggu. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Daniel telah tiba di depan apartemen Akasaka.


Dengan segera Daniel pun mengambil payung dan keluar menuju gerbang apartemen. Seorang petugas yang berjaga menatap kedatangan Daniel.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan???" tanyanya pada Daniel.


Daniel pun menyimpan payungnya dan menatap petugas itu.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu??" tanya Daniel pada petugas itu.


Petugas itu pun menatap Daniel dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Lalu setelah berpikir dia pun menganggukkan kepalanya.


"Apakah ada seorang gadis datang kemari dan menanyakan tentang Alexander Wijaya??" tanya Daniel.


Petugas itu terlihat berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.


"Benar, tadi ada seorang gadis yang mencari Tuan Alexander... Tetapi Tuan Alex tidak ada di apartemennya sejak 2 hari yang lalu" ujar petugas itu.


Daniel terdiam mendengarkan ucapan petugas itu. Jadi benar, pria itu sudah tidak ada di apartemennya sejak hari kecelakaan malam itu, pikir Daniel. Dia pun menganggukkan kepalanya dan kembali menatap petugas di depannya itu.


"Apa kau tau... kenapa dia belum kembali ke apartemennya??" tanya Daniel hati-hati.


"Sebenarnya saya kurang tau, tetapi ada kabar yang mengatakan bahwa Tuan Alexander mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Tetapi polisi masih belum memastikan identitas korban" ujar petugas itu.


Daniel pun terdiam dan mengangguk pelan,


"Oh begitu..." bisik Daniel sambil menunduk.


Lalu dia pun kembali menatap petugas itu,


"Oh iya... Apakah kau melihat kemana gadis tadi pergi??" tanya Daniel.


Petugas itu terlihat berpikir dan menggelengkan kepalanya,


"Maaf, saya tidak tau" ujar petugas itu singkat.


Daniel menghela nafasnya lalu kembali mengangguk pada petugas itu,


"Baiklah, terimakasih" ujar Daniel mengambil kembali payungnya dan hendak pergi.


Namun, Daniel kembali menghadap petugas itu dan menghampirinya,


"Maaf, apakah gadis tadi sudah lama pergi dari sini??" tanyanya.


Petugas itu kembali menatap Daniel,


"Kurasa... sekitar setengah jam yang lalu" jawab petugas itu.


Daniel pun mengangguk cepat,


"Terimakasih" ujarnya, lalu dengan cepat berjalan kembali menuju mobilnya.

__ADS_1


Daniel pun masuk ke dalam mobil dan melajukan nya kembali untuk mencari Anna. Pasti gadis itu tidak jauh dari sini, pikir Daniel. Pandangannya mengarah ke kiri dan ke kanan, memperhatikan orang-orang yang sedang berteduh. Mengamati wajah mereka satu persatu, namun sayangnya Daniel tidak melihat Anna disana.


Daniel kembali melajukan mobilnya, namun seketika pandangannya mengarah pada seorang gadis yang sedang terduduk di pinggir jalan. Daniel kembali memperhatikan gadis itu dari dekat..


"Anna????" bisik Daniel.


Seketika matanya terbelalak setelah memperhatikan gadis itu dari dekat. Benar itu Anna!!!


Daniel pun dengan cepat memberhentikan mobilnya di pinggir jalan lalu membawa payung untuk keluar.


"Anna!!!!" teriak Daniel yang terpendam oleh suara hujan.


Daniel pun menghampiri Anna dan berjongkok di depan gadis itu dengan membawa payung.


"Anna!!! Apa yang kau lakukan disini!!" ujar Daniel khawatir.


Anna hanya menunduk sambil terus menangis. Daniel mengangkat wajah Anna dan menatap gadis itu dengan prihatin. Matanya sembab serta bibirnya yang sudah pucat karena kehujanan.


"Ayo kita pulang... Kau bisa sakit" ujar Daniel mencoba membujuknya.


Anna tidak merespon dan masih tertunduk sambil terus menangis. Daniel menghela nafasnya merasakan sesak di dadanya, melihat gadis yang dia cintai terluka seperti ini.


"Dimana??? Dimana dia Daniel??? Bantu aku untuk menemukannya..." ujar Anna menatap Daniel sambil memohon.


Daniel menggertakkan giginya menahan sakit di dadanya menatap wajah Anna yang putus asa. Apakah pria itu benar-benar begitu berarti bagi Anna?? Sampai dia tidak berdaya seperti ini..


"Anna... Pria itu sudah tidak ada! Kau harus menerima kenyataannya!!" ujar Daniel.


Anna menggeleng kuat sambil mencengkram kuat bahu Daniel,


Gadis itu kembali menunduk dan menangis kencang. Tubuhnya bergetar hebat. Daniel menahan air matanya melihat kesedihan Anna. Entah mengapa melihat gadis itu terluka membuatnya merasakan hal yang sama berkali lipat. Ditambah gadis itu menangisi seseorang yang sangat dia cintai. Dan sayangnya, orang itu bukan dirinya..


Dengan perlahan Daniel pun membawa tubuh Anna ke dalam pelukannya, mencoba menenangkan gadis itu. Memeluknya dengan erat dan memberikannya kehangatan.


"Menangislah...." bisik Daniel sambil mengusap punggung gadis itu dengan lembut.


Anna menenggelamkan wajahnya pada dada pria itu dan menangis kencang. Meluapkan segala kesedihannya..


Namun, tiba-tiba kepala Anna terasa pusing dan berat. Penglihatannya pun mulai kabur. Daniel merasakan tubuh Anna berhenti bergetar dan terasa berat. Dengan panik Daniel pun mengangkat wajah Anna dan menatap gadis itu telah tak sadarkan diri.


"Anna!! Anna!!!" seru Daniel panik.


"Anna sadarlah!!!!" teriaknya.


Daniel menjatuhkan payungnya dan membiarkan tubuhnya basah terkena hujan. Mengangkat tubuh Anna yang pingsan dan membawanya dengan cepat ke dalam mobil.


'Kumohon Anna... Bertahanlah...' ujar Daniel dalam hatinya. Lalu pria itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit..


-


William baru keluar dari ruang rapat dan berjabatan dengan beberapa petinggi yang hadir. Hari ini ada pertemuan dengan beberapa petinggi perusahaan untuk membahas kerjasama mereka. William harus membangkitkan kembali perusahaannya yang sempat bangkrut. Sekarang dia akan memulai kembali bisnis nya di negara ini..

__ADS_1


William merasakan handphonenya bergetar. Segera pria itu mengambil handphone di dalam saku jas nya dan menatap nama Daniel di layar, lalu mengangkatnya.


"Hallo, Ada apa???" tanya William.


("Paman.. Anna berada di rumah sakit sekarang, aku baru saja membawanya kemari. Dia pingsan, dan sekarang berada di ruang ICU") ujar Daniel.


William mengerutkan keningnya mendengar ucapan Daniel,


"Rumah sakit?? Apa yang terjadi???" tanya William.


Terdengar helaan nafas Daniel sebelum menjawab pertanyaan William,


("Aku akan menceritakannya pada Paman setelah Paman kemari") ucap Daniel pelan.


William pun menyentuh keningnya dan memijitnya pelan, entah mengapa perasaannya mulai tidak enak..


"Baiklah, aku segera kesana" ujarnya.


William pun mematikan teleponnya dan bergegas menuju rumah sakit.


...----------------...


William menatap dalam pada Anna yang sedang terbaring tak berdaya dan belum sadarkan diri. Tangannya tertusuk jarum infus, dan wajahnya terlihat pucat. Setelah dia tiba di rumah sakit, Daniel langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada William.


William tidak menyangka bahwa Anna akan melakukan hal senekat itu. Kabur dari rumah hanya untuk mencari dan memastikan tentang kabar kecelakaan Alex.


William menyentuh tangan Anna dan mengusapnya perlahan. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya. Dia juga takut kehilangan putri satu-satunya ini. Sebenarnya semua yang di lakukan William adalah untuk kebaikan Anna.


Dia tidak ingin Anna bersama dengan pria keturunan keluarga Boston dan Wijaya yang telah membuatnya sakit hati dan terpuruk.


Dulu, saat keluarga Wijaya tau tentang hubungan dirinya dan Diana, mereka langsung bertindak dan membuatnya hidupnya sengsara. William harus di pecat dari pekerjaannya dan di blacklist dari semua perusahaan. Dia sempat menjadi pengangguran dan tidur di jalanan.


Awalnya William tidak menyerah dengan hal itu. Namun saat keluarga Wijaya mulai mengusik orang-orang dan teman-teman di sekitarnya, membuat hidup mereka juga kesulitan seperti dirinya, saat itulah William sudah muak dan terpaksa harus menyerah mempertahankan Diana. Membiarkannya menikah dengan Frans walaupun dirinya tidak bisa menerima hal itu dan menyesalinya sampai saat ini.


Pada saat itulah perusahaan milik Ronald, ayah dari Merry mau menerimanya menjadi seorang pekerja walaupun hanya menjadi seorang cleaning service.


Pada saat itu, William mulai fokus dan giat bekerja. Membuat Ronald kagum dan menaikan jabatannya. Sampai dia bertemu dengan Merry...


Siapa menyangka wanita itu jatuh hati padanya. Ronald mulai menjodohkan dirinya dengan Merry. Semula dia tidak tertarik dengan perjodohan itu. Namun, melihat kejayaan keluarga Wijaya membuatnya terobsesi untuk menyaingi dan mengalahkan perusahaan mereka.


Dan pada saat itulah William menerima perjodohan itu lalu menikah dengan Merry hanya untuk membalas dendamnya pada keluarga Wijaya. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya juga bisa menjadi orang yang sukses dan sederajat dengan mereka.


Namun, William tidak menyangka putrinya akan bertemu dengan Alex, putri dari Diana, keturunan Wijaya, dan jatuh cinta pada pria itu.


Jika saja orang yang dicintai putrinya bukanlah Alex, mungkin William tidak akan menghalanginya dan membuatnya terluka sampai seperti ini.


Sekarang pria itu sudah tiada. William hanya berharap semoga Anna bisa membuka hatinya untuk Daniel. Pria yang baik dan cocok untuk Anna menurutnya....


Bersambung...


Gimana nih, apa Anna cocok sama Daniel??? 🤔

__ADS_1


Keep support this story ya, jangan lupa kasih like dan komennya 🤗


Terimakasih 🙏❤️


__ADS_2