
Setelah selesai rapat pada siang hari ini, Alex terlihat melangkah keluar dari ruangannya dengan diikuti oleh Harry di belakangnya.
Alex terlihat berjalan dengan tatapan dinginnya seperti biasa. Para karyawan yang berpapasan dengannya hanya dapat membungkuk dengan gugup. Berbeda jika pria itu sedang berjalan dengan istrinya, para karyawan akan berani menyapanya karena Boss mereka itu terlihat lebih ramah jika sedang bersama dengan sang istri.
Alex dan Harry menuruni lift menuju lantai bawah, tepatnya ke tempat parkir pribadi Alex. Harry terlihat menurut dan tidak bertanya apa-apa pada Boss nya itu.
Saat sebelum rapat tadi, Boss nya itu memintanya untuk ikut dengannya menemui seseorang. Harry sempat bertanya kemana mereka akan pergi, tetapi Alex hanya menjawab 'Jangan banyak bertanya, kau cukup ikuti perintahku!' dengan wajah dinginnya.
Dan, setelah itu Harry pun tidak berani bertanya lagi dan hanya mengikuti kemana Boss nya itu akan pergi.
Harry mengendarai mobil dan mengikuti arahan Alex,
"Apa.. Kita akan pergi menemui rekan bisnis Tuan hehe??" tanya Harry mencoba memecahkan keheningan.
Alex terlihat melirik sekilas pada Harry dan kembali menatap kearah luar jendela,
"Kita akan pergi ke perusahaan Locorp" jawab Alex singkat.
Seketika Harry pun sedikit membelalakkan matanya,
"Locorp??" tanyanya memastikan.
"Apa.. Apa Tuan akan bekerjasama dengan perusahaan itu??" tanyannya lagi.
Setau Harry, perusahaan itu adalah perusahaan yang cukup terkenal karena kontroversi mereka. Itu adalah perusahaan milik Leonard, pria yang selalu memiliki kontroversinya sendiri. Sebelum dan sesudah menikah, orang itu selalu di penuhi dengan gosip-gosip yang negatif, bahkan sampai gosip perceraiannya juga.
Alex tidak menjawab pertanyaan Harry dan terlihat sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Sebenarnya Alex juga sudah tau tentang reputasi Leonard yang buruk. Bahkan saat Erika menikah dengan pria itu sebenarnya Alex tidak begitu yakin, tetapi dia bukanlah tipe orang yang terlalu peduli dengan kehidupan orang lain.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit, akhirnya mobil Alex pun telah tiba di perusahaan Locorp. Harry memarkirkan mobilnya di depan gedung perusahaan tersebut,
"Apa, Tuan telah membuat janji dengannya??" tanya Harry.
Alex menatap gedung di depannya dan mulai membuka pintu mobil untuk turun,
"Tidak perlu membuat janji" ujarnya datar.
Setelah itu Harry pun dengan terburu-buru ikut turun dari dalam mobil dan mengikuti langkah Alex dari belakang.
Saat mereka berada di depan pintu masuk, seorang petugas langsung menghalangi langkah mereka.
"Permisi, tolong tunjukkan kartu identitas kalian" ujarnya tegas.
Harry dengan segera mengeluarkan kartu identitas dirinya dan juga Alex. Petugas itu terdiam sejenak dan kembali menatap kearah Alex dan Harry,
"Apakah kalian sudah membuat janji??" tanyanya.
Harry seketika menatap Alex dengan gugup. Namun Alex terlihat santai dan menatap datar pada si petugas,
"Katakan pada Leonard bahwa Alexander Wijaya ingin bertemu dengannya sekarang!" ujar Alex dingin dan tegas.
Seketika petugas itu terdiam menatap Alex dan terlihat sedikit ragu untuk mengizinkan pria itu masuk,
"Tunggu sebentar" ujarnya sambil melangkah menjauh untuk menghubungi seseorang.
Disisi lain, Leonard tengah menatap sebuah berkas di tangannya sambil menyeringai pelan. Ternyata rencananya berhasil juga untuk membuat pengacara Alex kalah dan tak berkutik, pikirnya.
Dan sekarang langkah selanjutnya ada di tangan Erika. Dia berharap wanita itu bisa segera memberikan informasi yang berguna untuknya..
Kring..
Terdengar suara telepon berdering di atas mejanya. Leonard menatap telepon itu sambil berdecak kesal. Siapa yang berani mengganggunya?? pikirnya kesal.
Dengan kesal Leonard pun mengangkat teleponnya,
"Jika tidak penting maka jangan berani-berani kau menghubungiku!!!" ujarnya tajam.
Terdengar suara deheman gugup dari balik sana,
("Tu.. Tuan Leonard, maaf menganggu anda. Di bawah ada tamu yang ingin bertemu dengan anda") ujarnya gugup.
Leonard mengernyitkan keningnya sambil mencoba menahan amarahnya,
"Siapa?? Apakah dia sudah mempunyai janji denganku??" tanya Leonard tajam.
("Be.. Belum Tuan") jawabnya pelan.
Leonard seketika mengeram pelan dan berdecak,
"Bukankah sudah ku bilang jangan biarkan siapapun yang tidak membuat janji denganku untuk masuk?? Kenapa kau hanya membuang-buang waktuku saja untuk mengangkat panggilan tidak penting ini, dasar bodoh!!" ujarnya keras.
("Ma.. maafkan aku Tuan.. Ta.. Tapi..") ujar petugas itu takut.
("Tapi.. Tamu yang datang itu bernama Alexander Wijaya. Dia datang bersama asistennya") lanjutnya.
Seketika Leonard pun terlihat terkejut dan terdiam mendengar ucapan bawahannya itu. Alexander Wijaya??? pikirnya.
Leonard pun menggertakkan giginya kuat lalu menyeringai pelan sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.
'Sepertinya pria itu menyadarinya..' pikir Leonard.
"Biarkan dia masuk!!" perintahnya tiba-tiba.
("Ba.. Baik Tuan") jawab petugas itu.
Leonard menutup panggilannya dan tersenyum licik,
"Huh.. Sepertinya memang benar, pria itu sulit untuk di kecoh. Pasti Alex telah menyadari keganjalan atas kekalahan pengacaranya di persidangan" bisiknya pelan.
"Baiklah... Jika ada mangsa yang datang sendiri ke kandangmu, maka kau tidak boleh menyia-nyiakannya Leonard.." bisiknya lagi sambil menyeringai.
__ADS_1
Sore ini Anna tengah berada di dapur bersama dengan Bibi Van. Mereka terlihat sedang memasak sesuatu untuk makan malam nanti.
"Sebaiknya sekarang Nona istirahat.." ujar Bibi Van saat melihat Anna yang tengah memegang pinggangnya.
Anna mengarahkan pandangannya pada Bibi Van dan tersenyum,
"Aku tidak apa-apa Bibi, hanya sedikit pegal.. Lagipula jika aku hanya duduk dan diam saja, rasa pegalnya malah semakin terasa di seluruh tubuh" ujarnya sambil tertawa pelan.
Bibi Van tersenyum dan menatap perut Anna yang terlihat lebih besar dari usia kandungannya,
"Nona, Bibi merasa... perut Nona terlihat lebih besar dari usia kandungan Nona" ujar Bibi Van tiba-tiba.
Anna menatap Bibi Van sejenak lalu beralih menatap perutnya yang memang terlihat jauh lebih besar dari sebelumnya. Anna mengelus perutnya dan tersenyum pada Bibi Van,
"Aku juga merasa seperti itu.. Apa, karena aku banyak makan dan bayi di dalam perutku ini kegemukan??" tanya Anna polos pada Bibi Van.
Bibi Van yang mendengar ucapan Anna pun seketika tertawa pelan,
"Ya ampun Nona.. Tidak seperti itu juga haha" ujarnya tertawa.
Anna pun ikut tertawa bersama Bibi Van. Lalu tiba-tiba dari arah lorong dapur terlihat Erika yang berjalan pelan menghampiri mereka.
Bibi Van yang menyadari kedatangan Erika pun seketika berhenti tertawa dan menatap kearah Erika sambil tersenyum padanya. Anna pun mengikuti arah pandang Bibi Van dan tersenyum ramah pada Erika,
"Maaf, apa.. aku menganggu??" tanya Erika tidak enak.
"Tidak, kemarilah.." ujarnya.
Bibi Van kembali mempersiapkan beberapa makanan di atas piring. Erika menghampiri Anna dan memperhatikan gadis itu yang tengah memindahkan masakannya ke atas mangkuk,
"Biar aku bantu" ujar Erika tiba-tiba dan mengambil alih pekerjaan Anna untuk memindahkan masakannya ke atas mangkuk.
Anna hanya tersenyum pelan dan membiarkan Erika untuk membantunya,
"Apa kau sudah lebih baik??" tanya Anna pada Erika.
Sebelumnya Erika meminta beberapa obat pada Bibi Van karena merasa tidak enak badan akibat kehujanan semalam. Dan sejak pagi tadi Erika juga hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar untuk beristirahat.
"Iya, aku merasa lebih baik sekarang" jawabnya.
Setelah itu mereka pun kembali mempersiapkan makanannya dan menaruhnya di atas meja.
Hari sudah menunjukkan pukul 5 sore. Anna dan Bibi Van telah selesai mempersiapkan makanan untuk malam ini dengan di bantu oleh Erika.
Erika menatap ke setiap arah rumah dengan teliti. Wanita itu mengambil kesempatan untuk sedikit melihat detail rumah ini. Selain terlihat begitu banyak kamera pengawas di setiap sudut, Erika juga melihat banyak ruangan di rumah ini yang terlihat tertutup, dan dia sangat penasaran tentang ruangan itu.
Anna memperhatikan pandangan Erika yang terlihat menelisik ke setiap sudut rumah di lantai satu ini. Erika yang merasa di tatap oleh Anna pun seketika mengarahkan pandangannya pada Anna dengan gugup,
"Ah... Maaf, aku... aku hanya melihat-lihat saja" ujarnya terbata.
__ADS_1
Anna tersenyum pada Erika,
"Hey, santai saja.. Mengapa kau terlihat begitu gugup??" ujar Anna sambil tertawa pelan.
Erika hanya tersenyum dan mencoba menyembunyikan kegugupannya,
"Maaf, a.. aku hanya merasa terpukau saja dengan rumah ini. Rumah ini begitu besar..." ujarnya mencoba terlihat lebih santai.
Erika menatap kembali pada sudut rumah dan tangga yang mengarah ke lantai dua,
"Aku tidak menyangka Alex mempunyai rumah semegah ini.. Dia sangat beruntung, sejak dulu dia begitu gigih dan sangat bekerja keras... Dia pantas mendapatkan semua ini.." ujar Erika pelan.
Anna terdiam sejenak dan mengangguk pelan,
"Iya, dia memang pekerja keras" jawab Anna.
Erika kembali mengarahkan pandangannya ke sekeliling rumah dan menatap Anna sekilas sambil mencari cara bagaimana caranya dia bisa berkeliling ke setiap sudut rumah ini..
"Emm... Rumah ini memiliki 4 lantai ya??" tanya Erika mencoba memancing.
Anna mengarahkan pandangannya keatas dan mengangguk pelan,
"Iya.." jawabnya pelan.
Anna menatap kearah Erika yang terlihat penasaran sambil menatap ke sekeliling rumah. Gadis itu pun tersenyum pelan melihat tingkah Erika,
"Apa kau mau berkeliling??" tanya Anna tiba-tiba.
Seketika Erika pun mengarahkan pandangannya pada Anna,
"Bo.. Bolehkah??" tanyanya ragu.
Anna mengangguk pelan dan tersenyum,
"Tentu saja.." jawabnya.
"Ayo, aku akan mengajakmu berkeliling" ajak Anna.
Erika pun seketika tersenyum dalam hatinya dan mengangguk pada Anna.
Inilah kesempatannya untuk mengetahui setiap detail rumah Alex, pikirnya.
Bersambung..
Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️
Banyakin komentarnya ya dan jempolnya juga 😁🙏
Terimakasih..
Dan, kalau baca novel jangan sampai lupa waktu ya, apalagi buat ibadah 😁🥰
Yuk ramaikan kolom komentarnya, sepi nih.. 😔
__ADS_1
Pembaca pada ngilang, bikin semangat juga ilang 🤧