
CKLEK!!
Pintu ruangan Leonard pun terbuka, memperlihatkan asisten wanitanya masuk sambil membungkuk pelan padanya,
"Tuan, tamu anda sudah tiba" ujarnya pelan.
Leonard menyeringai pelan dan menautkan tangannya di atas meja,
"Persilahkan dia masuk" ujarnya.
Asisten itu pun kembali membungkuk dan mempersilahkan Alex untuk masuk. Tatapan asisten wanita Leonard itu terlihat menatap wajah dan tubuh Alex dengan tatapan nakalnya. Pakaian asisten itu cukup terbuka dan terlihat jelas ingin memancing Alex untuk menatap kearahnya.
Perusahaan Leonard memang bukan termasuk perusahaan yang terkenal. Tetapi Leonard mempunyai pengaruh yang cukup besar dan sedikitnya cukup 'pintar' dalam berbisnis dengan caranya sendiri.
Alex tidak melirik sedikit pun pada asisten Leonard yang berdiri di depannya. Pandangannya langsung mengarah pada Leonard yang terlihat santai duduk di kursinya.
Sebelumnya Alex hanya diizinkan masuk seorang diri, dan petugas di bawah tadi tidak mengizinkan Harry untuk ikut bersamanya, sesuai dengan perintah Leonard.
Alex menerobos masuk dan menatap Leonard dengan tatapan datarnya. Leonard berdiri dari duduknya dan menyambut kedatangan Alex,
"Selamat sore, Tuan Alexander" sapanya.
"Silahkan duduk" lanjutnya tersenyum.
Alex melangkah menghampiri meja Leonard dan duduk di depan pria itu.
Leonard tersenyum ramah dan kembali duduk di kursinya,
"Wah.. Wah.. Aku benar-benar tidak menyangka, orang yang super sibuk sepertimu mau menyempatkan waktunya untuk datang ke perusahaan yang tidak ada apa-apanya ini.." ujarnya merendah dengan nada yang cukup menyebalkan di telinga Alex.
Leonard tersenyum dan menyandarkan punggungnya di kursi,
"Sepertinya ada keperluan yang sangat penting yang ingin anda sampaikan.. Tidak mungkin kan, anda datang kemari hanya sekedar untuk berkunjung??" tanya Leonard.
Alex menatap pria di depannya itu dengan datar dan mengangguk pelan,
"Sepertinya kau sudah sangat tau apa yang membuatku sampai mau repot-repot datang kemari.." balasnya dingin.
Leonard terdiam seketika dan sedikit mendelik tajam mendengar ucapan Alex yang terdengar sangat angkuh di telinganya. Pria itu menyeringai pelan dan kembali menatap Alex,
"Jadi.. Apa itu artinya, anda Tuan Alexander yang terhormat, mencurigai kekalahan pengacaramu di persidangan kemarin??" tanya Leonard tajam.
Alex mengarahkan tatapan tajamnya pada Leonard dan menyeringai pelan,
"Jika itu yang kau pikirkan" ujarnya memancing.
Leonard menggertakkan giginya pelan dan kembali memasang senyuman mencemooh di wajahnya,
"Ckck.. Tuan Alexander, apa kau berpikir aku sepicik itu??" tanyanya tajam.
"Untuk apa aku harus repot-repot melakukan cara kotor seperti itu?? Lagipula... Bukankah jika di bandingkan denganmu, aku ini tidak ada apa-apanya??" tanyanya lagi sinis.
"Bagaimana bisa aku mengalahkan seorang pengacara profesional jika memang pengadilan yang telah menetapkannya?? Apa anda berpikir aku telah mengancam pengacaramu atau menyogok dan semacamnya???" lanjutnya.
Leonard mengangkat tangannya keatas meja dan menautkannya,
"Tuan, Apa kau sadar.. Jika kau berpikir seperti itu, secara tidak langsung kau telah merendahkanku" ujarnya sinis.
Alex terdiam sejenak dan tersenyum pelan. Pria itu menegakkan kembali posisi duduknya dan menatap Leonard.
__ADS_1
"Kau terlalu berlebihan Tuan Leonard..." ujarnya santai.
"Mengapa kau bisa berpikir seperti itu?? Bahkan aku sama sekali belum mengatakan apapun padamu??" lanjut Alex dengan seringainya.
Seketika Leonard pun terdiam dan mencoba untuk merubah mimik wajahnya. Sial, dia telah terpancing.. pikirnya.
Leonard tersenyum pelan dan kembali menatap Alex dengan santai,
"Maaf, aku bisa berpikir seperti itu karena biasanya orang-orang dari kalangan atas selalu tidak terima dengan kekalahannya, dan berpikir yang tidak-tidak pada pihak lawan. Mereka sangat ambisius dan tidak ingin kalah.. Mereka selalu melakukan berbagai macam cara untuk menyelesaikan masalah dengan uang mereka.. Bukankah begitu Tuan Alexander??" ujarnya mencemooh.
Alex menatap tajam pada Leonard sambil tersenyum sinis,
"Jadi.. seperti ini pikiran dari orang-orang kalangan bawah??" tanya Alex sinis yang seketika membuat Leonard menatap tajam padanya.
Pria itu terlihat termakan emosi dengan ucapan Alex. Leonard merasa tersindir dan menganggap Alex telah mengolok-oloknya sebagai kalangan bawah.
Alex tiba-tiba tersenyum dan menatap wajah kesal Leonard dengan santai,
"Aku hanya bercanda.." ujarnya.
"Kau menyindirku sebagai kalangan atas, jadi aku menyindirmu dengan sebaliknya" lanjutnya.
Leonard kembali berusaha mengendalikan mimik wajahnya dan tersenyum kecut,
"Kukira anda bukan orang yang suka bercanda Tuan Alexander" ujarnya mencoba santai.
Alex menatap Leonard sejenak dan mengangguk pelan. Lalu tiba-tiba pandangan Alex pun tidak sengaja mengarah pada pergelangan tangan Leonard yang tersikap karena pria itu sedang menautkan kedua tangannya di atas meja.
Sebuah luka bakar yang cukup jelas terlihat di pergelangan tangan kirinya. Dan fokus Alex pun kembali mengarah pada sebuah tato kecil bergambar kepala elang yang berada di pergelangan tangan kanannya.
Alex memicingkan sedikit matanya dan mencoba mengingat sesuatu. Sepertinya dia pernah melihat tato itu sebelumnya..
Leonard kembali meletakkan tangannya di atas meja dan menatap Alex,
"Jadi... Sebenarnya tujuan Tuan Alex kemari ini untuk apa??" tanyanya tiba-tiba.
Alex pun mengarahkan pandangannya pada Leonard sambil menghela nafasnya pelan,
"Aku datang kemari bukan untuk mengungkit masalahmu dengan Erika. Aku bukanlah orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain. Aku hanya menjalankan tugasku untuk membantunya karena dia adalah anak dari seseorang yang telah membantuku dulu" terangnya datar.
Leonard pun seketika mengernyitkan keningnya,
"Jadi.. tujuan anda datang kemari untuk apa??" tanyanya lagi.
Alex menatap Leonard dengan serius dan menegakkan tubuhnya,
"Aku datang kemari , untuk berinvestasi dan bekerja sama dengan perusahaanmu" ujarnya tiba-tiba.
Seketika Leonard pun membelalakkan matanya dan menatap Alex dengan tatapan tidak percaya,
"Apa?? Apa aku tidak salah dengar??" tanyanya cukup terkejut.
Sejak dulu Leonard selalu mengincar perusahaan Alex untuk bekerjasama, tetapi tidak pernah di gubris oleh Alex karena reputasi buruk perusahaannya. Bahkan saat dirinya sudah menikah dengan Erika pun, Alex tetap enggan untuk bekerjasama dengannya. Alex hanya bekerjasama dengan perusahaan kecil milik Erika.
Alex menatap Leonard dengan tatapan seriusnya dan mengangguk pelan,
"Apa aku harus mengulangi lagi kata-kataku??" tanyanya datar.
Leonard menatap wajah Alex dengan tatapan penuh waspadanya. Sebenarnya apa rencana pria ini?? pikirnya.
__ADS_1
Namun seketika Leonard pun menyeringai pelan. Sepertinya Alex ingin mencari tau tentang dirinya lewat kerjasama ini, pikir Leonard.
Jika pria ini ingin bermain-main dengannya, maka dengan senang hati dia akan melayaninya.. pikirnya lagi tersenyum puas.
"Sungguh sebuah kehormatan bagiku Tuan Alexander, bisa bekerjasama dengan pengusaha sukses sepertimu, itu sangat menguntungkan untuk perusahaanku bukan??" ujarnya tersenyum.
Alex pun mengangguk dan menatap wajah Leonard dengan tatapan yang sulit diartikan,
"Tentu.. Aku akan menyuruh asistenku untuk mengurus kerjasama kita" ujarnya datar.
Leonard pun menyeringai pelan dan menyodorkan tangannya pada Alex untuk berjabatan dengannya,
"Terimakasih.. Kuharap rencana kerjasama ini bisa segera di laksanakan dan berjalan dengan baik" ujar Leonard penuh arti.
Alex menatap tangan Leonard dengan tatapan dinginnya lalu mengangkat tangannya untuk membalas jabatan tangan pria itu.
"Kuharap juga begitu" balas Alex penuh arti.
Anna dan Erika terlihat tengah berkeliling di taman belakang. Mereka menikmati senja sambil duduk di taman yang di kelilingi dengan berbagai macam bunga.
Setelah mengelilingi rumah tadi, Anna merasa lelah dan pegal. Erika yang merasa tidak enak pun menuntun Anna dan membantunya duduk di taman.
Sebenarnya Erika merasa tidak puas karena Anna tidak benar-benar membawanya ke setiap sudut dan ruangan yang berada di dalam. Gadis itu hanya membawa Erika pada ruangan-ruangan yang umum dan tidak menjelaskan tentang detail setiap ruangan.
Bahkan mereka hanya berkeliling sampai di lantai 2 saja. Anna hanya menjelaskan ruangan di lantai atas saja pada Erika dan seperti tidak berniat untuk mengajaknya kesana.
Sepertinya memang Erika sendiri yang harus melihatnya. Wanita itu akan mencari waktu yang tepat untuk bisa secara diam-diam pergi ke lantai atas. Wanita itu yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan di lantai atas rumah ini, pikirnya..
Bersambung..
Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️
Banyakin komentarnya ya dan jempolnya juga 😁🙏
Terimakasih..
Dan, kalau baca novel jangan sampai lupa waktu ya, apalagi buat ibadah 😁🥰
Yuk ramaikan kolom komentarnya, sepi nih.. 😔
__ADS_1
Pembaca pada ngilang, bikin semangat juga ilang 🤧