
William balik menodongkan pistol ke arah kepala Alex,
"Dimana putriku???" tanya William tajam.
Seketika Alex membelalakkan matanya. Mengapa pria tua ini bertanya padanya. Bukankah dia yang membawa Anna kembali..
Jika bukan dia lalu dimana gadis itu sekarang??? pikir Alex cemas.
Dengan cepat Alex menurunkan pistolnya lalu berbalik hendak pergi meninggalkan William.
"Melangkah satu kali lagi maka aku akan menembak mu!!!" tegas William.
Alex menghentikan langkahnya seketika lalu berbalik kembali menatap William dengan tajam.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku!!!" lanjut William.
"Aku tidak tau sekarang dia berada dimana! Yang jelas aku akan menemukannya dan menjadikannya milikku untuk selamanya!!" ujar Alex cepat lalu melangkah pergi.
William menatap kepergian Alex dengan heran. Apa maksud perkataan pria itu? Menjadikan miliknya selamanya?
Apa yang telah dia lewatkan selama ini..
Terlihat jelas tatapan cemas pria itu saat dia mengetahui bahwa Anna tidak ada bersamanya.
Apakah dia memiliki hubungan dengan putrinya?
Lalu dimana putrinya berada sekarang?? pikir William frustasi.
Dengan cepat William kembali masuk ke rumahnya dan memanggil seluruh bawahannya.
"Cari dimana putriku berada sekarang!!! Temukan dia sebelum pria tadi menemukannya lebih dulu!!!" perintah William.
Lalu dengan sigap William dan para bawahannya mulai bergerak mencari keberadaan Anna.
-
Anna menahan nafasnya saat pisau Lidya menyentuh pipinya. Tidak!! dia harus melakukan sesuatu untuk melawan wanita ini.
Tanpa berpikir, dengan cepat Anna membenturkan kepalanya kuat menghantam kepala Lidya.
BUG!!!!
"Aakkhhh!!!!!" teriak Lidya tersungkur kesakitan.
Anna terkulai di atas kursinya, kepalanya terasa sangat pusing dan sakit akibat benturannya dengan kepala Lidya.
Anna menggigit bibirnya kuat untuk menahan sakit.
Lidya memegang kepalanya yang terasa pusing dan memar. Pisau lipatnya pun telah terlempar entah kemana.
__ADS_1
"Dasar ******!!!!!!!!!!" geram Lidya.
Lalu dengan cepat Lidya bangkit dan menampar pipi Anna sampai Anna terjatuh bersama kursinya.
"Akkhh!!!" teriak Anna terkejut.
Dengan brutal Lidya terus memukul dan menendang Anna yang tersungkur dengan posisi yang masih terikat di kursi.
BUG!!
BUG!!!
"****** sialan!!! Beraninya kau melawanku!!! Akan ku bunuh kau!!!!!" teriak Lidya membabi buta sambil terus menghajar Anna tanpa ampun.
Anna yang terkulai lemas mulai merasakan kesadarannya semakin menipis. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit.
'Apakah aku akan mati??' pikir Anna dalam hatinya.
Tiba-tiba earphone di telinga Lidya berbunyi, membuat Lidya berhenti seketika.
"Cek.. Tuan Alex telah kembali! Dia menyuruh kita untuk berkumpul segera!!" terdengar suara Gerald pemimpin penjaga rumah Alex memberikan perintah.
Dengan cepat Lidya menjauh dari tubuh Anna. Dia harus segera kembali sebelum Alex mencurigainya karena dia sedang tidak berada di rumah.
Posisi tempat penyekapan ini memang masih berada di sekitar hutan di rumah Alex. Namun tidak ada yang pernah datang ke gubuk yang sudah tua ini. Lidya sengaja mengurung Anna disini agar dia tidak ketahuan keluar dari rumah Alex, karena ini masih berada di wilayah yang sama.
Lidya menatap Anna yang sudah tak sadarkan diri dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Tubuh yang memar-memar dan pipi yang lebam akibat tamparannya.
-
Alex memarkirkan mobilnya di halaman rumah di ikuti oleh beberapa bawahannya yang tadi ikut bersamanya ke rumah William. Dengan langkah cepat Alex memasuki rumah.
Alex menatap tajam para penjaga yang sudah berjejer menunggu perintahnya.
"Aku menugaskan kalian semua untuk mencari keberadaan gadis tawanan ku secepatnya!! Kurang dari 24 jam kalian sudah harus menemukannya tanpa kecuali!! Jika tidak ada yang berhasil, kalian sudah tau apa hukumannya!!!!" ujar Alex tajam.
Para penjaga itu terlihat takut mendengar ucapan Alex. Lalu dengan cepat menganggukkan kepala mereka.
"Siap Tuan!!!!!!!" ujar mereka serentak.
Seseorang masuk terburu-buru dan bergabung ke dalam barisan. Alex memicingkan matanya menatap Lidya yang datang terlambat.
"Kau!!!! Darimana saja kau!!!" ujar Alex marah.
Lidya terlihat ketakutan dan menundukkan wajahnya.
"Ma... Maaf Tuan, tadi aku sedang di kamar mandi" ujar Lidya gugup.
Alex menatap tajam pada kening Lidya yang terlihat memar.
__ADS_1
"Ada apa dengan kepalamu??" tanya Alex.
Lidya membelalakkan matanya terkejut mendengar pertanyaan Alex. Sial, padahal dia sudah menutupi luka di keningnya, tapi tetap saja mata tajam Alex bisa melihatnya.
"A... Aku tadi terbentur sesuatu karena terburu-buru" ujar Lidya menunduk.
Sejenak Alex memicingkan matanya menatap Lidya curiga.
"Baiklah, kalian sudah mendengar perintahku! Jadi cari gadis itu sekarang!!! Deteksi kembali kamera keamanan di rumah ini!!!" tegas Alex.
Lidya sedikit gugup mendengar perintah Alex. Sial!!! Dia tidak boleh sampai ketahuan! Kalau sampai itu terjadi maka tamatlah riwayatnya, ujar Lidya dalam hatinya.
Para penjaga mulai mencari ke arah hutan dan sebagian memperbaiki jaringan cctv di seluruh rumah Alex.
Alex terlihat berjalan kesana kemari dengan cemas. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Anna. Jika itu terjadi maka yang harus disalahkan adalah dirinya.
Alex menghentikan langkahnya teringat sesuatu. Dengan cepat dia kembali ke ruangannya dan mengambil kertas surat yang di tulis Anna untuknya. Alex menatap tajam pada kertas itu.
Tulisan ini... Dia harus mencari tau apakah benar tulisan ini adalah tulisan Anna, atau tulisan orang lain...
-
Hari sudah mulai gelap. Para penjaga masih terus mencari di dalam hutan yang luas. Mereka belum menemukan gubuk tua itu, karena memang posisi gubuk itu berada di ujung dan ditutupi oleh akar-akar pohon yang merambat.
Sementara itu di dalam gubuk, terlihat Anna mengerjapkan sedikit matanya. Matanya terasa sangat berat, seluruh tubuhnya benar-benar sakit.
Anna mencoba kembali memfokuskan pandangannya. Disini sangat gelap, hanya ada sedikit cahaya bulan purnama yang masuk melalui celah-celah. Anna mencoba menggerakkan tubuhnya, dia sulit bergerak karena tangannya masih terikat di kursi yang juga jatuh bersamanya.
Sesuatu benda di depan sana mengalihkan pandangannya yang silau terkena cahaya rembulan. Anna menyipitkan matanya untuk melihat benda itu.
Tidak jauh darinya, Anna melihat pisau lipat yang ditinggalkan Lidya tadi.
Lalu sebuah ide muncul di kepalanya.
Dengan perlahan Anna mencoba menggeser tubuhnya yang terikat di kursi untuk menghampiri pisau itu. Tubuhnya terasa sangat sakit, namun Anna mengabaikannya. Dia harus keluar dari tempat ini sebelum wanita gila itu kembali.
Dengan perlahan Anna menggeser tubuhnya terus menerus sampai akhirnya pisau itu berada di hadapannya. Anna mencoba memutar tubuh dan kursinya agar tangan belakangnya bisa menggapai pisau lipat itu.
Setelah dia memutar tubuhnya, Anna mencoba menggapai pisau itu dengan tangannya.
Keringat membanjiri tubuh Anna. Dia harus bekerja keras untuk menggapai pisau itu. Namun sayang pisau itu belum juga tergapai oleh tangannya.
Anna sudah hampir menyerah. Tubuhnya sudah tidak bertenaga dan sangat lelah..
Apakah dia harus menyerah dan berakhir disini?? sedihnya dalam hati.
'Ya Tuhan.. Tolong bantu aku!!' lirih Anna dalam hatinya..
Bersambung....
__ADS_1
Halo support selalu cerita ini, jangan lupa kasih like dan komennya ya, biar semangat 💪🤗
Bantu share dan rekomendasikan juga ya buat teman-teman yang lain, terimakasih ❤️