
Anna seketika mengernyitkan keningnya dengan penasaran,
"Sesuatu?? Sesuatu apa??" tanyanya penasaran.
Alex pun mengangkat wajahnya dan menatap Anna dengan serius,
"Dia ingin.. Dia ingin aku membunuhnya saat itu juga..."
Seketika Anna pun membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya tidak percaya,
"Mem.. Membunuh??" tanyanya tidak percaya.
"Lalu.. Apa kau menuruti keinginannya??" tanyanya lagi penasaran.
Alex menatap Anna dan menggeleng,
"Tentu saja aku tidak melakukan hal itu.." jawab Alex.
"Saat itu, ayah Erika, atau aku sering memanggilnya Tuan Morgan, sampai berlutut dan memohon padaku untuk membunuhnya dan menjaga Erika untuk menggantikannya. Tapi aku langsung menolaknya dengan keras dan mencoba berbicara dengannya.. Aku bertanya tentang sebenarnya apa yang terjadi, dan apa yang membuat dia bisa nekat berkata seperti itu. Tapi, Tuan Morgan masih saja bungkam dan terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.." jelas Alex.
"Aku sudah curiga sejak awal, pasti ada sesuatu hal yang membuatnya menjadi putus asa seperti itu. Aku mencoba membujuknya untuk mengatakan yang sebenarnya dan menjamin keselamatannya jika memang dia sedang diancam oleh seseorang atau apapun itu.. Tapi, Tuan Morgan memilih diam dan akhirnya menangis sambil meminta maaf padaku.."
"Dia bilang.. Dia hanya sedang putus asa karena kebangkrutannya. Dan dia sangat mengkhawatirkan nasib Erika suatu saat nanti.."
"Tetapi.. Dari sorot matanya, aku dapat mengetahui bahwa ia sedang berbicara bohong padaku. Dia tidak mengatakan yang sebenarnya.." lanjut Alex terdiam sesaat.
"Lalu aku berkata padanya agar tidak perlu khawatirkan hal-hal seperti itu. Aku akan menjamin perusahaannya dan membantunya bangkit kembali.. Tuan Morgan pun berterimakasih padaku dan memutuskan untuk kembali pulang.."
"Tapi, hatiku merasakan sesuatu kejanggalan atas sikapnya.. Tuan Morgan adalah orang yang pintar dan berwibawa, tidak mungkin hanya karena kebangkrutannya dia menjadi pesimis dan menyerah seperti itu, sampai-sampai ingin bunuh diri. Lagipula Erika adalah anak satu-satunya yang dia milikku. Ibu Erika juga telah meninggal saat melahirkan Erika dulu" sambung Alex.
Anna terlihat prihatin mendengar cerita Alex tentang Erika. Gadis itu pun menghela nafasnya dan kembali menatap Alex,
"Lalu.. Setelah itu, apa semuanya kembali menjadi baik-baik saja??" tanyanya penasaran.
Alex terdiam sejenak sambil menundukkan kepalanya sedikit,
"Setelah hari itu, Aku tidak pernah kembali bertemu dengannya ataupun Erika. Menurut beberapa orang terdekatnya, Tuan Morgan dan Erika memilih pergi keluar negri. Aku cukup terkejut mendengar berita itu. Tapi, aku berusaha berfikir positif dan menganggap mereka mungkin memilih hal itu untuk memulai hidup yang baru" ujarnya.
"Tapi.. Satu bulan kemudian, tiba-tiba saja ada seseorang yang menghubungiku, dan ternyata itu adalah Tuan Morgan.. Pada suatu malam, dia menghubungiku dan ingin bertemu denganku. Tuan Morgan mengirimkan alamatnya dan dengan segera aku pun datang ke tempat itu"
"Saat tiba disana, aku melihat sebuah rumah yang cukup besar dan mewah. Seorang pengawal menyambut kedatanganku dan mengatakan bahwa Tuan Morgan tengah menungguku di dalam... Setelah itu aku pun masuk dan melihat Tuan Morgan yang sedang duduk di ruang tamu lalu tersenyum menyambut kedatanganku"
"Kami pun mulai mengobrol dan saling bertanya kabar. Tuan Morgan bilang bisnisnya sudah mulai bangkit dan Erika masih berada di luar negri untuk melanjutkan sekolahnya disana.. Aku sedikit lega mendengar hal itu, tapi, entah perasaanku atau bukan, aku merasa Tuan Morgan semakin kurus dengan kerutan di wajahnya yang mulai terlihat"
__ADS_1
"Setelah cukup lama mengobrol, aku pun berpamitan dengannya. Tuan Morgan memelukku sebelum aku pulang sambil mengusap-usap punggungku beberapa kali.. Saat itu, aku sedikit merasa aneh dengan sentuhan tangan Tuan Morgan di punggungku.. Aku merasa dia tengah membetuk huruf tanda seru secara berulang-ulang di punggungku. Aku mencoba mengabaikannya dan melangkah untuk pergi meninggalkan rumah itu. Tapi.." ujar Alex terhenti sejenak.
Anna mengernyitkan keningnya dan menunggu kelanjutan cerita Alex dengan penasaran,
"Tapi saat aku sudah hampir sampai di depan pintu, aku mendengar suara tembakan dari dalam.. Dengan segera aku membalikkan tubuhku dan mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi..."
"Saat aku kembali, aku melihat Tuan Morgan yang tengah berlutut sambil menyentuh dadanya yang mengeluarkan darah. Aku menghampirinya dengan panik.. Tuan Morgan mengeluarkan darah dari mulutnya dan menatapku dengan panik.. Dia mengangkat tangannya dan mengibaskannya beberapa kali, seperti menyuruhku untuk segera pergi.." ujarnya sambil kembali mengingat kejadian itu.
****FLASHBACK**** (Alex saat berusia 22 tahun)~~
"Tuan!!" teriak Alex.
Morgan terlihat mulai kehilangan kesadarannya. Alex masih mencoba mengguncang tubuh pria paruh baya itu sambil menutup luka di dadanya.
TAK..
TAK..
Tiba-tiba dari kejauhan Alex mendengar suara langkah kaki yang mendekat kearahnya. Pria itu menatap sepasang sepatu yang berada di hadapannya dan mengangkat wajahnya dengan perlahan.
Alex menatap seorang pria dengan jubah dan topeng serba hitamnya sedang menodongkan senapan panjang kearah kepalanya,
"Akhirnya aku bertemu denganmu..." ujar pria itu dengan suara mencemoohnya.
"Siapa kau?? Apa yang kau inginkan??" tanya Alex tajam.
Pria itu terlihat terdiam sesaat dan mulai tertawa mendengar pertanyaan Alex,
"Siapa aku??? Kau tidak perlu tau siapa aku!!" ujarnya tajam sambil masih menodongkan pistolnya ke kepala Alex.
Pria itu pun mendekatkan wajahnya pada Alex dan menatapnya dengan tajam,
"Kau membuatku muak!!" ujarnya sinis.
Alex menggertakkan giginya dan menatap pria itu dengan berani,
"APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA??" teriak Alex emosi.
Pria itu menatap tubuh Morgan yang terlihat tak sadarkan diri dan masih bernafas pendek,
"Dia memang tidak berguna.. Sebentar lagi dia juga akan mati" ujar pria itu enteng yang membuat Alex semakin emosi.
Dengan cepat Alex pun hendak berdiri dari duduknya, namun tiba-tiba beberapa orang pria dengan pakaian serba hitam menahan tubuhnya,
__ADS_1
"Jangan bergerak!!" perintah mereka pada Alex sambil memborgol tangan Alex ke belakang tubuhnya.
Pria di depan Alex pun mengangkat senapannya dan menaruhnya di atas bahu,
"Bawa dia!!!" perintahnya pada anak buahnya.
Mereka pun mengangguk dan mulai menarik tubuh Alex untuk berdiri dan menyeretnya. Alex terlihat mulai memberontak sambil menatap tubuh Morgan yang tergeletak di atas lantai. Jika tidak segera di selamatkan, Morgan pasti akan mati, pikirnya.
"Lepaskan aku!!!" geram Alex mencoba melepaskan diri.
Namun sayang tangannya telah di borgol dan tubuhnya pun di seret oleh 4 orang anak buah pria yang membawa senapan itu.
Mereka membawa Alex ke salah satu ruangan yang berada di lantai atas. Suasana di lantai itu terlihat redup dengan beberapa penerangan dari lentera lilin yang berjejer di sepanjang koridor.
Alex mencoba menenangkan diri dan tidak memberontak. Para pria itu membuka salah satu ruangan dan mendorong tubuh Alex sampai tersungkur di lantai.
BRUK!!
"Akh.." rintih Alex pelan.
Si pria yang membawa senapan itu berjongkok dan menyeringai menatap wajah Alex,
"Aku akan bermain-main sedikit denganmu.. Tapi, sebelum itu, aku akan membereskan si tua bangka itu" ujarnya mencemooh.
Alex menatap pria itu dengan tajam. Lalu pria itu pun bangkit berdiri dan menatap anak buahnya,
"Jaga dia disini.. Aku akan membereskan si tua itu sebelum putrinya tiba" perintahnya yang membuat Alex seketika mengangkat wajahnya dengan terkejut.
Putrinya??
Apa yang pria itu maksud adalah Erika?? pikir Alex.
Bersambung..
Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️
Banyakin komentarnya ya dan jempolnya juga 😁🙏
Oh iya, author juga mau minta dukungan buat novel kedua author ya, yg judulnya 'Mysterious Man' 🙏
Terimakasih..
Dan jangan lupa pesan author, kalau baca novel jangan sampai lupa waktu ya..
__ADS_1
Apalagi ibadahnya sampai terlewat 😁