
Wajah pria itu terlihat sangat lelah. Entah mengapa Anna merasa sangat iba pada pria tua itu. Dengan ragu Anna pun mencoba mengangkat tangannya dan menggenggam tangan pria tua itu dengan lembut.
"Hallo kakek... Aku Anna, putra dari William" ujar Anna pelan.
"Segeralah pulih dan sehat kembali...." bisik Anna bergetar.
DEG!!!
Tiba-tiba salah satu jari Peter dalam genggaman Anna pun bergerak. Anna membelalakkan matanya dan menatap kembali wajah Peter dengan tidak percaya.
'Apakah kakek bisa mendengarku???' pikir Anna.
Perlahan mata Peter mengerjap dan mencoba untuk membuka matanya. Anna yang terkejut pun berdiri dari duduknya dan mendekati wajah Peter.
"Kakek, kau sudah sadar??" ujar Anna tidak percaya.
Donna yang telah selesai menjawab panggilan pun kembali masuk ke dalam kamar dan terkejut mendengar ucapan Anna.
"Apa yang terjadi??? Siapa yang sadar??" ujar Donna penasaran.
Dengan cepat dia pun berlari kearah tempat tidur dan menghampiri Peter. Matanya terbelalak tidak percaya menatap pemandangan di depannya.
"Ayah... Kau... Kau sudah sadar???" ujar Donna bergetar.
Donna pun terduduk di atas lantai dan menangis kencang,
"Terima kasih Tuhan....." ujarnya penuh haru.
Anna yang melihat hal itu pun seketika tidak dapat membendung air matanya dan ikut menangis.
Setelah itu Donna menghapus air matanya dengan cepat dan mengusap wajah Peter yang menatapnya dengan pandangan kosongnya.
"Ayah.... Akhirnya ayah sudah sadar" ujar Donna sambil mengusap wajah tua Peter dengan lembut.
Pandangan Donna pun mengarah pada Anna dan wanita itu dengan cepat langsung memeluknya,
"Terimakasih...." bisik Donna.
Anna menggeleng pelan dan melepaskan pelukan Donna,
"Aku tidak melakukan apapun Bibi... Ini semua karena Tuhan telah mendengar dan mengabulkan doa Bibi" ujar Anna lembut.
Donna pun mengangguk dan mengusap air matanya,
"Aku akan menelpon dokter sekarang" ujar Donna lalu mengambil handphonenya.
"Aku akan kabari yang lain" ujar Anna pada Donna.
__ADS_1
Donna pun tersenyum dan mengangguk. Anna melangkah keluar dan berjalan kearah ruang tamu untuk memberitahu Alex dan juga Jonas.
Setelah sampai di ruang tamu, Alex pun tersenyum lembut menyambut kedatangannya.
"Ada kabar baik... Kakekmu telah sadarkan diri" ujar Anna penuh rasa bahagia.
Seketika senyuman Alex pun menghilang dari wajahnya. Berbeda dengan Jonas yang langsung bangkit dari duduknya sambil tersenyum,
"Benarkah??? Syukurlah.... Aku akan kesana" ujar Jonas lalu berlalu pergi.
Namun langkahnya terhenti seketika dan membalikkan wajahnya untuk menatap Alex,
"Alex... Apa kau ingin melihat kakekmu juga???" tanya Jonas.
Alex pun terdiam dengan wajah datarnya dan tidak menanggapi ucapan Jonas. Anna yang melihat hal itu pun tersenyum pada Jonas,
"Nanti kami akan menyusul" jawab Anna pada Jonas.
Jonas pun mengangguk mengerti dan melangkah pergi menuju kamar Peter.
Perlahan Anna mendekati Alex dan duduk di sampingnya,
"Ada apa?? Apa kau tidak senang??" tanya Anna pelan.
Alex menunduk sesaat dan menghela nafasnya,
Anna bisa mengerti perasaan Alex saat ini. Dia pun mengangkat tangannya dan menggenggam tangan pria itu dengan lembut,
"Aku mengerti... Tapi, bagaimana pun juga dia adalah kakekmu Alex... Dia adalah anggota keluargamu" ujar Anna pelan.
"Alex... Kita tidak tau sampai kapan umur seseorang di dunia ini. Hidup itu begitu singkat.. Jadi, kita harus memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya. Aku mengerti mungkin kau masih sakit hati dengan masa lalu mu... Tapi, kita tidak tau bagaimana dan alasan apa kakekmu melakukan hal itu semua di masa lalu" lanjutnya.
Alex menggertakan giginya dan menunduk dalam,
"Dia telah membuat semua luka yang sangat dalam di hatiku... Karena keegoisannya aku harus hidup dengan segala penderitaan di masa lalu. Seharusnya aku tumbuh menjadi anak lelaki normal seperti yang lainnya. Tapi... Karena perbuatannya, aku harus menanggung beban yang berat sedari dulu. Aku harus hidup sebatang kara dan tidak ada seorang pun yang membantuku!!!" geram Alex.
Anna terdiam dan menghela nafasnya. Mungkin dia tidak tau bagaimana sengsaranya hidup Alex sejak dulu. Tapi.. dendam seperti ini selamanya tidak akan membuahkan hasil apapun dan malah akan menghancurkan hubungan Alex dengan keluarganya sendiri.
"Alex... aku mungkin memang tidak mengerti bagaimana kesakitan dan luka di dalam hatimu. Masa lalu memang tidak bisa di rubah... Tetapi untuk masa depan, kita bisa merencanakan dan merubahnya menjadi lebih baik. Dulu mungkin kau memang hidup sendiri.. Tetapi lihatlah... sekarang keluargamu ada disini... Aku pun juga ada disini..." ujar Anna lembut.
"Mungkin Tuhan memberikanmu masa lalu yang begitu menyakitkan. Tapi, bisa saja di balik itu semua Tuhan merencanakan sesuatu yang luar biasa untukmu... Lihatlah sekarang kau bisa menjadi pengusaha yang sukses, kau bisa memiliki apa pun yang kau inginkan.. Dan pertemuan kita pun juga sama. Mungkin jika masa lalu mu berbeda, pertemuan kita pun tidak akan pernah terjadi..." lanjutnya.
"Sekarang kau juga memiliki seorang Bibi yang sangat baik dan mengerti dirimu. Alex... sekarang kau tidak sendirian lagi..."
Anna pun menggenggam kedua tangan Alex, membuat pria itu menatap pada kedua matanya dengan pandangan yang penuh luka.
"Aku yakin, kakekmu itu sangat menyayangi dirimu Alex... Jika tidak, mana mungkin dia selalu memaksa dirimu untuk kembali ke rumah ini... Aku juga yakin pasti ada penyesalan di dalam hatinya tentang masa lalu..." ujar Anna dalam.
__ADS_1
Anna pun mengusap tangan Alex dan menatapnya dalam,
"Bisakah kita melupakan masa lalu dan hanya fokus memperbaiki masa depan??" tanya Anna bergetar.
"Jika kau bisa memaafkan ayahku atas masa lalumu... Apakah sekarang kau juga berkenan untuk memaafkan kakekmu???" lanjutnya memohon.
Alex terdiam dan menatap mata Anna yang penuh harap padanya. Hatinya pun mulai terasa bimbang dan ragu. Tapi... dia tidak bisa melupakan itu semua begitu saja, pikirnya.
Setelah beberapa saat pria itu pun perlahan melepaskan tangan Anna dan berdiri dari duduknya,
"Maafkan aku...." bisik Alex.
"Aku tidak bisa" lanjut Alex lalu berlalu pergi meninggalkan Anna.
Anna terpaku dalam duduknya dan menunduk pelan. Setetes air mata pun mengalir di pipinya.
Sepertinya luka di dalam hati Alex terlalu dalam dan sakit sampai membuat pria itu sulit untuk memaafkan Peter. Dan sepertinya Anna juga terlalu banyak berharap pada pria itu. Dirinya berpikir bisa membujuk Alex untuk memaafkan Peter... Namun, ternyata semuanya hanya sia-sia..
Anna pun menghapus air matanya dan berdiri dari duduknya. Mungkin Alex butuh waktu untuk sendirian. Dan Anna tidak ingin mengganggunya.
Gadis itu pun memutuskan melangkah kembali ke kamar Peter.
Dari depan pintu dia melihat Donna, Jonas dan juga Key sedang berada di dekat Peter. Pria tua itu sedang di periksa oleh dokter. Anna pun mengurungkan niatnya untuk masuk dan memilih kembali melangkah menuju kamarnya.
Anna masuk ke dalam kamarnya dan berjalan ke arah balkon. Saat pintu balkon terbuka, angin malam langsung meniup rambut nya yang tergerai dengan lembut.
Gadis itu menutup matanya dan menghirup udara malam yang meniup wajahnya.
GREP!!!!
Seketika seseorang memeluk tubuhnya dari belakang dengan erat,
"Maafkan aku....." bisik orang itu di telinga Anna.
Bersambung...
Halo, i'm back ☺️
Adakah yang nunggu cerita ini?? 🤔
Sudah 2 hari tidak up karena sakit huhu..
Akhirnya bisa up lagi, semoga banyak yang nungguin ya..
Terima kasih pembaca setia 🤗
Jangan lupa ya kasih like dan komen yang banyak, boleh juga kasih vote dan gift nya 😁🙏❤️
__ADS_1