Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Kemarahan Alex


__ADS_3

Bangkrut? Apa maksud perkataan wanita ini? pikir Anna tidak mengerti.


"Bukankah akan lebih baik jika kau membantu membangkitkan kembali perusahaan ayahmu, daripada kau harus kemari mengganggu Alex yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.." ujar Gracia mencemooh.


Anna tidak terlalu merespon perkataan Gracia yang menyindirnya. Dia lebih fokus dengan ucapan wanita itu tentang kebangkrutan ayahnya. Apakah ini semua ulah pria kejam ini? pikirnya.


"Jika tidak ada kepentingan lain, kau boleh pergi sekarang juga!!" usir Alex pada Gracia.


Gracia lalu berdiri dari duduknya dan merapihkan sedikit rok pendeknya.


"Baiklah, Lagipula aku juga sedang sibuk dengan beberapa pekerjaanku di kantor. Aku bukan pengangguran yang hanya bisa bergelayut manja dengan pria kaya raya" ujar Gracia menatap Anna dengan seringai meledeknya.


Anna menatap kesal pada Gracia yang meledeknya. Namun dia memilih diam karena mood nya tiba-tiba memburuk.


"Kalau begitu aku permisi dulu.." ujar Gracia lalu berlalu meninggalkan ruang kerja Alex.


Seketika Anna berdiri dari pangkuan Alex dan menatapnya tajam.


"Apakah yang dikatakan wanita itu benar?" tanya Anna dengan memendam kemarahannya.


Alex menghiraukan pertanyaan Anna dan memilih kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Anna menatap Alex marah,


"Apakah ini semua perbutan mu?" tanyanya lagi.


"Huh... Sudah kuduga!" lanjut Anna.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Urusanmu itu dengan ayahku! Aku tidak tau menahu mengenai masalahmu dengan ayahku! Aku juga tidak peduli dia bangkrut atau apapun! Yang jelas aku tidak ingin terlibat disini!" geram Anna.


"Benarkah Kau tidak ingin terlibat?" ucap Alex mencemooh pada Anna.


"Apakah karena ayahmu itu tidak mengirimkan mu surat lagi?" tanyanya dengan seringai licik.


Anna membelalakkan matanya terkejut mendengar perkataan Alex. Jadi pria itu sudah tau bahwa ayahnya memberikan surat padanya?


Alex berdiri dari duduknya dan berhadapan dengan Anna.


"Kau tau.. Penjaga suruhan ayahmu itu sudah ku bunuh!!" ucap Alex tajam.


"Kau pikir semudah itu mengelabui ku? Ternyata ayahmu itu tidak begitu pintar.." ledek Alex.


Anna menatap Alex dengan wajah frustasinya..


Dia sudah muak dengan ini semua. Dia adalah korban yang tidak seharusnya terlibat disini. Dia tidak peduli masalah apa yang terjadi diantara pria ini dan ayahnya. Dia tidak ingin ikut campur! Yang dia inginkan hanya kebebasan..


"Aku tidak peduli.. Aku sudah muak dengan ini semua!! Aku tidak ingin terlibat dengan dendam kalian!!" geram Anna frustasi.


"Aku hanya ingin kebebasan.." lirih Anna.


Anna menahan air matanya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan pria kejam ini.


"Aku tidak peduli lagi!! Aku akan pergi dari sini!!" tegas Anna lalu mencoba melangkah pergi.


Namun tangan Alex menahan tangan Anna dengan kuat.

__ADS_1


"Siapa yang mengizinkanmu untuk pergi!!" ujar Alex marah.


"Lepaskan aku!!!!" teriak Anna mencoba melepaskan cengkraman Alex.


Anna meronta-ronta dalam cengkraman Alex berusaha sekuat tenaga untuk lepas darinya.


"Jika kau tidak bisa diam maka aku akan membunuhmu!!!" geram Alex marah.


Dengan sekuat tenaga Anna berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman Alex. Lalu menampar wajah Alex dengan sekuat tenaga.


Itu adalah hal yang paling ingin Anna lakukan kepada pria kejam ini!! Walaupun dia tidak tau nasibnya setelah ini seperti apa. Namun yang jelas dia bisa melampiaskan amarahnya pada pria ini sekarang..


PLAK!!!


Alex terdiam sesaat saat sebuah tamparan keras melayang di wajahnya. Bekas tamparan terlihat jelas di pipinya yang memerah. Alex menggertakkan giginya menahan amarah, lalu menatap Anna dengan tatapan membunuhnya.


"Kau!!!" geram Alex tertahan.


Anna menatap Alex dengan berani. Tidak ada tatapan takut dan memelas seperti dulu lagi. Dia sudah muak dengan ini semua!!


Mati pun terasa jauh lebih baik baginya..


Alex menarik tangan Anna kuat dan menyeretnya ke sebuah pintu yang berada di sudut ruang kerja Alex.


"Lepaskan aku!!!!" teriak Anna meronta.


Alex membuka pintu ruangan itu dan mendorong Anna masuk lalu menguncinya dari luar.


Anna terjatuh di atas lantai karena dorongan Alex. Namun Anna mencoba bangkit kembali saat pria itu menutup pintunya dari luar dan menguncinya.


Tok.. Tok.. Tok...


"Buka pintunya!!! Lepaskan aku!!! Dasar bajingan!!!" teriak Anna sekuat tenaga.


Seumur hidupnya Anna tidak pernah berkata kasar apalagi bertingkah bar-bar seperti ini. Namun karena ulah pria kejam itu entah mengapa selalu membuat Anna merasakan gejolak amarah yang meluap-luap, sampai kata-kata kotor itu refleks keluar dari mulutnya.


Alex mengunci pintunya dari luar lalu melangkah kembali ke meja kerjanya dengan amarah yang meluap.


"Arghhhh!!!!!" geram Alex.


Alex mengacak semua kertas dan berkas-berkas yang berada di atas mejanya. Tamparan wanita itu masih terasa panas di pipinya. Sialan! Seumur hidupnya tidak ada seorang pun yang berani menamparnya!


Tetapi wanita ini dengan berani bertindak seperti itu, membuat amarah Alex tidak bisa terkontrol saat ini.


Dia bisa saja langsung membunuh wanita itu, atau menyiksanya dengan tangannya sendiri. Namun, entah mengapa ada sesuatu di dalam hatinya yang menahannya untuk tidak melakukan hal itu.


Alex yang masih emosi menelpon seseorang dari handphonenya.


"Harry! Cepat ke ruangan ku sekarang!!" ujar Alex masih dengan emosi yang meluap.


Dengan cepat Harry masuk ke dalam ruangan Alex. Harry membelalakkan matanya terkejut melihat ruangan Alex yang terlihat sangat berantakan bak kapal pecah.


Seketika Harry berkeringat dingin. Sepertinya Boss nya ini sedang sangat emosi. Apakah dia bertengkar dengan kekasihnya? Apakah kekasihnya cemburu saat Nona Gracia tadi datang?


Berbagai pikiran muncul di benak Harry tentang bagaimana Boss nya ini menjadi sangat emosi sekarang..

__ADS_1


"Bereskan semua kekacauan ini!! Aku akan keluar sebentar!!" ujar Alex tajam lalu melangkah pergi keluar ruangan.


"Jangan bukakan pintu itu sampai aku kembali!!" tegas Alex sebelum keluar.


Saat Alex benar-benar sudah pergi. Harry menatap pintu yang Alex maksud. Memangnya ada apa disana? pikir Harry.


Namun dia memilih untuk menghiraukannya dan mulai membereskan ruangan Boss nya yang sangat berantakan itu.


-


Anna terus mencoba memukul pintu dan berteriak agar pria itu mengeluarkannya. Namun nihil, ruangan itu kedap suara. Jadi sekuat apapun Anna berteriak tidak akan ada seorang pun yang mendengarnya dari luar.


Anna mulai merasa lelah dan lemas. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu.


Anna menatap ke sekitar ruangan. Ruangan ini adalah sebuah kamar yang cukup luas. Wangi khas milik Alex memenuhi ruangan ini.


Anna memegang perutnya yang lapar. Sejak pagi tadi dia belum makan sama sekali. Anna menutup matanya mencoba menghilangkan rasa laparnya dengan tertidur..


-


Hari sudah mulai gelap. Alex menatap segelas wine yang ada di tangannya dan meneguknya cepat.


Roy menatap Alex dengan tatapan heran dan prihatinnya. Sepertinya temannya ini sedang ada masalah. Saat tiba tadi terlihat sekali mood nya sangat buruk. Kebetulan sekali Roy tidak ke kantor hari ini, jadi dia bisa mengawasi temannya ini agar tidak berbuat macam-macam.


Sudah berjam-jam Alex berada di club nya hanya meminum wine nya dan tidak berbicara apapun.


Saat Alex hendak meneguk wine nya kembali, Roy menahan tangan Alex.


"Sudah cukup Alex! Kau sudah minum banyak sejak tadi! Ini bisa berbahaya untuk kesehatanmu!" ujar Roy.


Alex menepis tangan Roy dan kembali meminum wine nya.


Roy menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Alex.


"Kau ini sebenarnya kenapa?? Kau tau.. Kau seperti orang yang sedang putus cinta!" ledek Roy.


Alex tak menghiraukan perkataan Roy barusan dan kembali menuangkan wine ke dalam gelasnya.


Roy memperhatikan wajah Alex. Sudah lama Alex berada di depannya, namun dia baru menyadari bahwa pipi Alex sedikit memerah di bagian kiri.


"Tunggu!! Ada apa dengan wajahmu?" tanya Roy sambil mencoba menyentuh pipi Alex yang masih sedikit memerah.


"Apakah seseorang menamparmu??" tanya Roy.


Seketika emosi Alex yang sudah sedikit membaik kembali memburuk akibat pertanyaan Roy. Adegan saat gadis itu menamparnya terekam kembali di ingatannya.


PRANG!!!


Alex melempar gelas yang ada di tangannya di atas lantai. Membuat Roy terkejut seketika.


Sebenarnya ada apa dengan sahabatnya ini??


Bersambung....


Jangan lupa like dan komennya ya 🤗

__ADS_1


Dukung terus cerita ini... terimakasih ❤️


__ADS_2