Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Fight


__ADS_3

"Aakkhh!!"


Terdengar rintihan seorang wanita dari dalam sebuah ruangan yang cukup gelap dan lembab.


Wanita itu terlihat tengah berusaha mengeluarkan sebuah peluru yang menancap di bahu kirinya dengan tangan kosong.


Erika mencoba kembali menarik peluru itu dengan jarinya sambil menggigit bibirnya kuat untuk menahan sakit,


SRET!


"Aakkkhhhh!!!!" rintihnya lagi menahan sakit.


Peluru itu sudah hampir keluar dari kulit bahunya..


Erika menyandarkan tubuhnya di tembok dan mencoba kembali mengatur nafasnya. Tubuhnya telah basah oleh keringat dan darah masih terus mengalir dari bahunya.


Erika tidak bisa menutup luka di bahunya jika peluru itu masih bersarang di dalam sana. Jadi, Erika memutuskan untuk mencabutnya sendiri lalu menutup lukanya dengan kain.


Wanita itu kembali menghela nafasnya dan mencoba menarik peluru itu,


"Baiklah Erika.. Hanya satu tarikan lagi.." bisiknya pada diri sendiri.


Erika mengabaikan darah yang terus mengalir di bahunya dan mencapitkan kedua jarinya pada peluru kecil itu dan menariknya dalam satu tarikan kuat.


SRET!!!


"AAARRRKKKKHHH!!!!!" teriaknya keras.


PLUK!!


Peluru itu pun akhirnya keluar dari dalam kulit bahunya..


Erika melempar jauh peluru itu dan menangis menahan sakit yang luar biasa di bahunya.


"Hiks... Hiks..."


Dengan sisa tenaganya, Erika merobek pinggir bajunya dan melilitkan kain robekan itu untuk menutupi luka di bahunya,


SRET!!!


Erika melilitkan kain itu sebisanya dan mulai mengikatnya secara perlahan. Setidaknya kain itu bisa menutupi lukanya dan meminimalisir darah yang keluar dari bahunya.


Setelah selesai, Erika pun kembali bersandar di tembok untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga. Dia harus segera keluar dari sini..


Wanita itu menatap kamera pengawas yang kembali menyala. Entah mengapa sebelumnya kamera itu sempat mati beberapa saat. Dan sekarang sepertinya kamera itu kembali berfungsi.


Erika tidak mau ambil pusing memikirkan hal itu. Yang harus dia pikirkan sekarang adalah, cara keluar dari tempat ini. Ia tidak mau terus di kurung di dalam sini dan menjadi tawanan pria psikopat itu sampai mati membusuk di dalam sel ini.


Erika pun mencoba mengarahkan pandangannya ke sekitar untuk mencari sesuatu yang bisa membantunya keluar dari sini.


Seketika tatapannya mengarah pada sebuah batu yang berukuran sedang yang ada di sudut ruangan itu. Dengan perlahan, ia pun bangkit dan mengambil batu itu.


Erika terlihat terdiam sesaat sambil menatap batu itu cukup lama. Lalu pandangan wanita itu pun mengarah pada kamera pengawas di sudut atas ruangan itu.


Dan tanpa ba-bi-bu, Erika pun mengangkat batu itu dan melemparnya cukup keras kearah kamera pengawas itu,


BRUK!!


PRANG!!!


Dengan satu lemparan, batu itu tepat mengenai kamera pengawas dan membuatnya hancur dan mati.


Erika mencoba kembali mengatur nafasnya dan mengambil kembali batu itu.


Wanita itu lalu melangkah perlahan kearah pintu sel dan menatap gembok yang terkunci disana.


Tangannya kembali terangkat keatas dan.. dengan cepat Erika pun memukul gembok itu dengan batu di tangannya,


BUGH!!


BUGH!!!


"Ayo!!!! Terbukalah!!!" geramnya tak menyerah.


Erika berhenti sejenak dan kembali mengatur nafasnya. Matanya menelisik ke sekitar dan tidak mendengar tanda-tanda akan ada orang yang masuk kesana.


Tangannya kembali terangkat dan dengan lebih kuat Erika memukul gembok itu sekuat tenaga,


BUGH!!!


BUGH!!!


"AYOLAH!!!!!!" teriaknya hampir putus asa.


Erika tidak menyerah dan menutup matanya lalu kembali bersiap untuk memukul dengan kuat,


"AAKKHH!!!!" teriaknya kencang.


Dan..


BUGH!!


PRANG!!


Gembok itu pun terbuka dan terjatuh ke bawah..


Dengan tatapan tidak percayanya, Erika pun tersenyum penuh haru. Wanita itu terduduk sejenak untuk mengatur nafasnya yang memburu.


"Ya Tuhan... Terimakasih...." bisiknya.


Erika pun menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan..


Ia pun kembali berdiri dan bersiap untuk keluar dari sana..



Disisi lain..



Roy dan anak buahnya telah berhasil melumpuhkan satu per satu anak buah Leonard tanpa membuat keributan dan ketahuan oleh yang lainnya.



Roy mengisyaratkan pada anak buahnya untuk langsung merebut pakaian anak buah Leonard, dan memakainya agar tidak ketahuan.


__ADS_1


"Bagus!! Masih banyak orang yang tersisa.. Aku serahkan semuanya pada kalian!!" ujar Roy pada anak buahnya.



"Sekarang sebagian ikut aku!! Aku akan menjemput Anna di tempat persembunyiannya" lanjut Roy.



Roy dan beberapa anak buahnya pun berjalan ke lantai atas dengan pakaian samaran mereka. Namun, saat mereka sedang berjalan, tiba-tiba langkah mereka terhenti saat lampu di gedung itu tiba-tiba mati.



ZLEP!!!



Roy terlihat berjaga-jaga sambil memegang senjatanya,



"Ada apa ini???" tanyanya pada yang lain.



Lalu selang beberapa lama, lampu pun kembali menyala.



Roy menatap anak buahnya dan mengarahkan pandangannya ke sekitar,



"Sepertinya listrik disini sedang bermasalah" ucap salah satu anak buahnya.



Roy terlihat terdiam sejenak, dan dengan segera kembali memberikan kode pada anak buahnya untuk kembali melangkah,



"Ayo cepat!! Kita harus temui Anna!!!" perintahnya.



Dan, saat pria itu berada di tempat dimana ia bertemu Anna tadi, seketika Roy pun terkejut saat tidak melihat keberadaan Anna disana.



"Anna!!!" sahut Roy.



Ia mengarahkan pandangannya ke sekitar dan mencoba mencari Anna, namun nihil, dia tidak menemukan gadis itu dimana pun,



"Sial!!! Anna tidak ada disini!!!" ujarnya mulai panik.



Roy pun mencoba berpikir sejenak,




Mereka pun mengangguk mengerti dan mulai berpencar..



'Semoga saja gadis itu tidak tertangkap oleh Leonard' doa Roy dalam hatinya.



Leonard menyeringai pelan saat melihat Alex yang telah berdiri di belakang tubuhnya. Pria itu mengarahkan pistolnya pada Alex sambil terkekeh pelan,


"Trik yang bagus.." ujarnya dengan nada mencemooh.


Alex menggertakkan giginya dengan kuat sambil menatap Leonard dengan tatapan membunuhnya.


Terlihat luka di kedua pergelangan tangan Alex yang mengartikan bahwa pria itu melepaskan ikatannya dengan paksa.


Leonard cukup terkejut melihat hal itu. Padahal ikatan itu terbuat dari besi yang cukup tebal, tetapi Alex bisa melepasnya dengan tangan kosong, pikirnya tidak percaya.


"Apa kau terkejut???" tanya Alex tajam.


Leonard menatap Alex dan terkekeh pelan,


"Kau tau... Aku sudah mengira hal ini akan terjadi" ujarnya santai.


Pria itu pun menarik pelatuk senjatanya dan bersiap untuk menembak Alex,


"Sepertinya sudah cukup aku bermain-main denganmu!!" desisnya tajam.


Dan, Leonard pun menekan senjatanya untuk menembak Alex. Namun..


KLIK!!


KLIK!!!


Leonard telah menekan pistolnya, namun, pistol itu tidak mengeluarkan pelurunya.


Seketika Leonard yang sadar bahwa senjatanya tidak berpeluru pun menyeringai pelan.


Dia kembali teringat dengan anak buahnya yang berdiri di depan pintu tadi..


Sepertinya pria itu telah merencanakan semua ini, pikirnya.


Leonard pun menatap Alex dan tertawa pelan,


"Sepertinya aku.. telah tertipu.." ujarnya menyeringai.


Alex masih menatap Leonard dengan tatapan tajamnya. Pria itu mengepalkan tangannya dengan kuat,


"Kau akan membayar semuanya!!!!" desis Alex tajam.


Leonard pun kembali terkekeh dan melempar senjatanya ke sembarang arah. Pria itu mengepalkan tangannya kuat sambil menatap kearah Alex,

__ADS_1


"AKU YANG AKAN MEMBUATMU MEMBAYAR SEMUANYA!!!!!" teriaknya penuh emosi.


SRET!!!


BRAK!!!


Dengan cepat Leonard mengambil kursi di depannya dan melemparnya kearah Alex. Namun dengan sigap Alex menghindari serangan pria itu dan maju ke depan,


GREB!!!


Alex mendekati Leonard dan menarik kerah baju pria itu dengan kuat,


"BEDEBAH SIALAN!!!!!" teriak Alex sambil mengangkat tangannya untuk memukul wajah Leonard.


BUGH!!


SRET!!


Dengan cepat Leonard menahan tangan Alex dan menatapnya sinis,


"Huh!!! Kali ini aku tidak akan kalah darimu!!!!!" desisnya tajam.


BUGH!!!


Leonard pun menendang kaki Alex dan melepaskan cengkraman pria itu di kerah bajunya.


Alex tidak menyerah dan kembali mendekati Leonard untuk menyerangnya,


BUGH!!!


BUGH!!!


Mereka terlihat saling menyerang dan bertahan satu sama lain.


Tenaga Alex tidak dapat di remehkan..


Walaupun pria itu telah tersengat listrik beberapa kali dan gerakannya sedikit tidak seimbang, tetapi Alex masih dapat menghindari serangan Leonard dan membalasnya.


BUGH!!


BUGH!!!


Mereka kembali menyerang dan bertahan..


Alex terlihat menyerang Leonard dengan emosi yang meluap. Walaupun tenaganya tidak dalam kondisi yang bagus, tetapi Alex masih sangat mampu untuk menyaingi serangan Leonard.


SRET!!!


BRAK!!!


Dengan cepat Alex mendorong tubuh Leonard dan menekannya di bawah meja. Pria itu menatap Leonard dengan tatapan membunuhnya. Sedangkan Leonard masih bisa terkekeh pelan saat Alex menahan tubuhnya,


"Kuakui seranganmu cukup bagus... Tetapi..." ujarnya terputus.


"Kau tidak ada apa-apanya!!!" lanjutnya mencemooh.


Alex semakin kuat menekan tubuh Leonard dengan tatapan yang menyeramkan,


"Tapi sayangnya... Kau.. bahkan tidak bisa menyelamatkan istrimu!!!" ledek Leonard.


DEG!!


Seketika jantung Alex berdetak dengan kencang saat teringat dengan istrinya,


'Anna.....' bisik Alex khawatir.


Leonard menyeringai melihat tatapan Alex yang sekejap berubah melemah,


"Kau tau... Istrimu... Mungkin sekarang istrimu, sedang bersenang-senang dengan anak buahku..." ujar Leonard dengan seringainya.


DEG!!


Seketika jantung Alex semakin berdebar dengan kencang. Tatapan matanya dalam sekejap berubah menjadi sangat tajam dan penuh dengan amarah.


Pria itu menatap Leonard dengan tatapan matanya yang memerah,


"BAJINGAN!!!!!!! MATI KAU!!!!!!!!" teriaknya.


BUGH!!!!!!


Seketika Alex memukul kuat wajah Leonard sampai pria itu terpental ke samping dengan kencang.


BRUK!!!


"AARRGHH!!!" teriak Leonard.


Pria itu tersungkur ke lantai sambil memegang sebelah wajahnya,


KREK!!!


Seketika sebelah wajah Leonard hancur dan memperlihatkan wajah aslinya.


Pria itu menyentuh mulutnya yang mengeluarkan darah dan sebagian kulit wajahnya yang retak.


Leonard seketika melihat bayangan wajah aslinya yang hancur dan menyeramkan di lantai.


Wajah hancur ini adalah akibat dari kebakaran saat itu..


Dan..


Dan, semua itu adalah salah pria yang berada di depannya saat ini!!! pikir Leonard emosi.


Leonard seketika mengepalkan tangannya kuat dan menatap kearah Alex.


Alex cukup terkejut melihat perubahan wajah Leonard yang menyeramkan. Namun, pria itu tidak gentar sedikit pun.


Leonard berdiri perlahan dan menatap Alex dengan tatapan membunuhnya,


"Kau... KAU AKAN MEMBAYAR SEMUANYA!!!!!" teriak Leonard penuh emosi.


Bersambung...


Hallo, tolong di bantu like, komen, vote dan hadiahnya ya ☺️


Tapi buat yang udah baca jangan lupa tinggalin jejak ya, dan kasih hadiahnya buat author walaupun recehan 🥲


Oh iya, novel kedua author yang judulnya Mysterious Man sudah up ya ☺️

__ADS_1


Yuk bantu di ramaikan 😁🙏


Terimakasih ❤️


__ADS_2