Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Ancaman


__ADS_3

BUGH!!


BUGH!!!


Pada dini hari yang gelap di sebuah hutan yang lebat, terdengar sayup-sayup suara teriakan orang-orang yang tengah saling bertempur dengan brutalnya.


Kelompok Leonard terlihat sudah mulai banyak berkurang dan tergeletak tak bernyawa di tangan Alex dan anak buahnya. Pria itu terlihat begitu menyeramkan dengan wajah yang penuh dengan emosi membara.


Alex bisa menghabisi kelompok Leonard dengan tangan kosongnya. Sedangkan kelompok Leonard diam-diam membawa senjata tajam di balik pakaian mereka.


Walaupun Alex sempat terkena sedikit goresan pisau di pipinya, tetapi pria itu terlihat tidak peduli, bahkan tidak merasakan sakit sedikit pun.


Roy sempat khawatir melihat wajah Alex, tetapi dia tidak mau lengah dan tetap fokus menghajar kelompok Leonard. Bagaimanapun juga dia harus ikut berjuang membantu Alex. Dia tidak ingin sesuatu hal yang buruk menimpa Alex dan istrinya.


Masalah Alex adalah masalahnya juga..


"BEDEBAH SIALAN!!!" teriak Alex sambil menghajar orang-orang itu dengan membabi buta.


Yang ada dipikirannya saat ini adalah Anna..


Dia ingin segera membawa istrinya itu keluar dari sini dan memeluknya. Alex ingin memastikan bahwa istrinya itu baik-baik saja..


Dari atas gedung tua itu terlihat Leonard masih setia menonton pertunjukkan di bawahnya dengan tersenyum puas,


"Tuan.. Sepertinya kelompok kita telah berkurang cukup banyak. Jika kita membiarkan keadaan seperti ini terus, bisa di pastikan kita akan kalah" ujar anak buahnya yang berdiri di samping Leonard.


Leonard mendelik tajam pada anak buahnya itu dan menyeringai pelan,


"Dasar pecundang!!! Siapa yang akan kalah kau bilang????" ujarnya tajam.


Anak buah Leonard itu seketika menunduk dengan takut. Leonard kembali menatap pemandangan di bawah dan melihat bahwa memang anak buahnya telah berkurang cukup banyak dan tergeletak tak bernyawa.


Namun Leonard tidak gentar sedikit pun dan menyeringai dengan pelan,


"Akan ku pastikan kau tidak dapat berkutik Alex!!" geramnya tajam.


Leonard pun seketika mengeluarkan sebuah pistol dari dalam saku celananya. Pria itu mengarahkan pistolnya dari atas sana pada Alex.


Leonard kembali menyeringai pelan dan tersenyum jahat.


Pria itu menarik pelatuk di pistolnya dan memfokuskan arah tembakannya pada Alex yang sedang terlihat membabi buta menghajar anak buahnya.


Dari bawah, Roy pun tidak sengaja menatap keatas dan melihat Leonard yang tengah mengarahkan pistolnya pada Alex.


Dengan cepat pria itu menghampiri Alex dan mendorongnya menjauh,


"AWAS ALEX!!!!!" teriaknya.


DOR!!!


"Aarrgghhh!!!"


Tembakan Leonard meleset dan mengenai anak buahnya sendiri.


Alex yang cukup terkejut dengan teriak dan dorongan Roy pun seketika menatap Roy yang terlihat memandangnya dengan cemas.


Alex yang sadar jika seseorang tengah mencoba untuk menembaknya pun seketika mengarahkan pandangannya ke atas dan tidak menemukan siapapun disana,


"Brengsek!!!!!" geram Alex emosi.


Saat Alex hendak kembali menatap anak buah Leonard. Tiba-tiba dalam sekejap anak buah Leonard berlarian mundur dan kembali ke dalam gedung.


Alex yang menyadari hal itu pun tak tinggal diam,


"TANGKAP MEREKA!!!!" perintah Alex pada anak buahnya dengan keras dan tajam.


Namun saat mereka masuk ke dalam gedung, tiba-tiba Leonard telah berada di hadapan mereka dengan kelompoknya yang rata-rata memakai topeng yang sama, kecuali Leonard yang berdiri paling depan.


"JANGAN ADA YANG BERANI BERGERAK!!!" teriak Leonard pada Alex dan kelompoknya.


Alex menggertakkan giginya dengan kuat sambil mengepalkan tangannya.


Kejadian ini..


Seperti dejavu baginya, saat dirinya menghadapi ayah Leonard 15 tahun yang lalu.


Ayah Leonard, adalah pria yang saat itu menjadi Ketua dari kelompok orang-orang yang selalu menculik anak-anak dan remaja untuk di perjual belikan, entah itu jasa atau organ tubuh mereka.


Dan, salah satu korbannya dulu adalah Erika. Tetapi, Alex yakin Erika pasti tidak tau menahu tentang hal itu. Wanita itu telah di peralat oleh Leonard untuk membalaskan dendam pribadinya.


Leonard menatap Alex dengan seringainya yang tajam,


"Jika kau berani bergerak, maka...." ujarnya terputus.


"Aku tidak akan menjamin istrimu selamat.." lanjutnya menyeringai puas.


Seketika Alex langsung membelalakkan matanya dengan emosi yang meluap,

__ADS_1


"BAJINGAN!!!!!!" geramnya keras sambil melangkah cepat hendak menghajar Leonard.


Namun dengan cepat anak buah Leonard maju ke depan untuk menghalangi Alex, begitu juga Roy yang langsung menahan Alex agar tidak gegabah,


"Tahan Alex!!!" ujar Roy mencoba menahan Alex yang memberontak.


"LEPASKAN AKU!!!! akan ku bunuh bajingan itu!!!!" gertak Alex penuh emosi.


Roy kembali menahan tubuh Alex dengan kuat,


"Istrimu ada bersamanya!! kita tidak boleh gegabah!!" bisik Roy lagi membujuk.


Alex pun seketika berhenti memberontak dan menutup matanya kuat untuk menahan segala emosi di dalam dirinya.


Pria itu pun menatap kearah Leonard yang tengah tersenyum meledek padanya,


"Aku tidak akan mengampunimu jika kau berani menyentuh istriku seujung kuku pun!!!!!!!!!" geram Alex pada Leonard.


Leonard yang mendengar ancaman Alex hanya dapat tersenyum penuh kemenangan,


"Apa kau sedang mengancamku Tuan Alexander yang terhormat??" tanya Leonard mencemooh.


Pria itu pun tertawa pelan dan maju selangkah mendekati Alex,


"Istrimu akan aman jika kau tidak melawan dan menurut padaku.." ujarnya sambil menatap Alex dengan seringai liciknya.


Alex menahan gejolak amarah di dalam dirinya dengan kuat. Dia tidak boleh gegabah sekarang..


Yang terpenting adalah keselamatan Anna. Dia harus memastikan Anna baik-baik saja dan membawanya pergi dari sini, baru setelah itu dia mulai bertindak..


"Sekarang..." ujar Leonard terputus sambil menatap Alex dan para pengawalnya.


"Tahan semua orang yang berada di depanku ini lalu kurung mereka!!!!"


"Kecuali..... dia!!!!" perintah Leonard sambil menunjuk Alex dengan seringai liciknya.


Dengan cepat Roy dan Alex pun menatap Leonard sambil menahan emosi mereka,


"BRENGSEK!!!!" geram Alex kembali hendak maju untuk menghajar Leonard.


"Jika kau melawan, maka kau akan tau konsekuensinya!!" ancam Leonard lagi pada Alex dengan tajam.


Dengan cepat Roy pun menahan tubuh Alex kembali sambil berbisik padanya,


"Tenang Alex!!!! Ingat!!! Untuk saat ini kita ikuti saja kemauannya!!" bisik Roy pada Alex.


Leonard yang melihat hal itu hanya dapat kembali tersenyum dengan puas. Pria itu pun mengangkat tangannya dan memberikan kode pada anak buahnya untuk segera menahan anak buah Alex dan juga Roy.


Dengan cepat pria-pria bertopeng itu langsung menahan para pengawal Alex dan juga Roy. Mereka mengikat tangan mereka semua dan membawanya entah kemana.


Roy menatap Alex dan memberikan kode pada pria itu.


Alex pun menatap tajam pada Leonard..


Kini hanya tinggal mereka berdua yang tersisa dan juga dua anak buah Leonard di belakang mereka untuk berjaga.


Alex mengepalkan tangannya dengan kuat..


Untuk saat ini, dia akan mengikuti cara main pria di depannya ini..




Anna menggigit bibirnya kuat sambil menahan sakit. Gadis itu masih bersembunyi di bawah batu besar di dekat pohon untuk menghindari dua pria bertopeng yang membawanya tadi.



"BRENGSEK!!! AYO CARI DIA!!!!" teriak salah satu dari mereka.



Mereka pun melewati batu tempat Anna bersembunyi dan berlari menjauh dari tempat itu.



Anna mencoba mengatur nafasnya dan menatap ke balik batu itu dan melihat kedua pria tadi telah berlari menjauh dari tempatnya.



Gadis itu menghela nafasnya sambil menyadarkan kepalanya pada batu itu. Tubuhnya terlihat sangat berantakan dan berkeringat. Sejak tadi Anna bersembunyi sambil menahan sakit pada perutnya yang kram.



"Kumohon.. Bersabarlah sayang.. Kita akan segera pergi dari sini..." bisik Anna sambil mengusap perutnya.


__ADS_1


Anna menahan sakit di pergelangan tangannya yang terluka dan mencoba terus mengusap lembut perutnya agar rasa sakitnya berkurang.



Setelah beberapa saat, perut Anna pun mulai sedikit membaik dan tidak terlalu sakit. Gadis itu dengan cepat mencoba berdiri untuk segera meninggalkan tempat itu sebelum kedua pria tadi menemukannya kembali.



Anna berjalan dengan tertatih sambil memegang pohon di sekitarnya. Gadis itu terkadang melihat ke belakang dan ke sekitar dengan cemas.



Gadis itu terus berjalan dan berjalan tak tentu arah. Anna sudah mulai merasa sangat kelelahan. Wajahnya sudah terlihat pucat.



SRET!!



SRET!!



Dari kejauhan, Anna dapat mendengar suara langkah kaki yang bergesekan dengan semak-semak.



Dengan cemas dan takut Anna pun kembali bersembunyi di balik sebuah pohon dengan jantung yang berdebar kencang.



'Ya Tuhan... Tolong aku...' doanya di dalam hati.



Anna merasa sudah sangat lelah dan tidak sanggup untuk berlari lagi..



Suara langkah itu pun semakin mendekat kearahnya..


Anna menutup matanya dengan jantung yang berdebar.



Setelah beberapa saat, Anna pun kembali membuka matanya saat tidak mendengar lagi suara langkah itu.



Gadis itu pun perlahan membuka matanya dan memberanikan diri untuk melihat ke balik pohon dan sekitar.



Anna pun menghela nafasnya dengan lega saat tidak melihat siapapun yang berada di sekitarnya.



Saat Anna kembali menyandarkan tubuhnya di balik pohon, tiba-tiba Anna pun terkejut saat melihat seseorang di belakang tubuhnya,



DEG!!!



"E.... Erika....." ujarnya terkejut.



Bersambung...



Halo, support selalu cerita ini ya,


Jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️



Yuk, bikin author semangat lagi nulis dengan tinggalkan jejak di kolom komentar 🙏😁



Dan, jangan lupa kalau baca novel jangan lupa waktu ya, dan ibadah juga ☺️🙏


__ADS_1


Maaf ya jarang update, maklum ide terkadang mentok dan ngak jalan 🤧🙏


__ADS_2