Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Jebakan


__ADS_3

-Alex POV-


Brak..


Aku menutup pintu kamarku keras. Sial!!! Apa yang telah kulakukan tadi!! Aku hampir kehilangan akal sehat..


Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku?


Perasaan itu.. Gairah itu..


Bahkan aku bisa merasakan bagian tubuh bawahku mengeras..


Seumur hidupku aku tidak pernah merasakan gairah seperti itu. Ratusan bahkan ribuan wanita manapun belum pernah membuatku sampai kehilangan akal seperti tadi. Tetapi mengapa dengan gadis itu tubuhku malah berkhianat. Ada suatu perasaan yang tidak bisa ku kontrol, bahkan aku menginginkan yang lebih dari sekedar ciuman.


Saat pertama kali aku mencium gadis itu, aku sudah mulai merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhku. Padahal aku hanya ingin memanas-manasi supir bodohnya itu.


Tetapi aku mencoba memastikannya kembali, saat aku mencium yang kedua kalinya tadi, rasanya masih tetap sama.


Selama hidupku aku belum pernah mencium wanita terlebih dahulu. Bahkan para wanita yang cantik dan sexy sekalipun belum bisa membuatku merasa bergairah.


Tapi dengan gadis kecil itu, yang bahkan tubuhnya tidak seberapa bagusnya, gairahku malah bergejolak.


Tidak!! Tidak Alex..


Itu semua hanya kebetulan saja, mungkin karena gairahku yang belum pernah tersalurkan, yang membuat aku seperti itu tadi. Atau mungkin karena efek wine yang di berikan Roy juga bisa menjadi pemicunya.


Ya itu benar...


Sudahlah, lupakan hal yang tidak penting tadi. Aku harus menjernihkan dan membersihkan pikiranku. Lagipula gadis itu adalah anak dari William, musuh yang ku incar saat ini. Aku tidak boleh terjebak olehnya. Dia adalah tawanan ku, dan aku juga bisa membunuhnya kapan saja.


Kau tidak boleh terjerat olehnya Alex..


Tidak boleh!!


-Anna POV-


Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela. Aku memicingkan mataku, dan membuka perlahan.


"Selamat siang Nona" ujar seseorang.


Aku mengusap mataku dan melihat kearah suara itu berasal.


Ternyata itu Lidya. Dia membuka tirai yang menutupi jendela, kemudian berjalan kearah meja di samping tempat tidur. Dia menyimpan nampan yang berisi makanan dan segelas susu.


"Silahkan diminum Nona, ini ada segelas susu dan makanan" ujarnya. Lalu memberikannya padaku.


Aku mengambil susu itu lalu meminumnya sedikit.


"Sudah jam berapa sekarang?" tanyaku padanya.


"Sekarang sudah jam 11 siang, Nona tertidur sangat lelap. Apakah semalam Nona bergadang?" tanyanya padaku.


"Oh.. ya... bisa dibilang seperti itu.. Aku tidak bisa tidur" ucapku.


"Apakah ada hal yang membuat Nona tidak bisa tidur?" tanyanya dengan tatapan yang sedikit aneh menurutku.


"Ti.. Tidak ada apa-apa.. Hanya tidak terbiasa di tempat ini" ujarku.

__ADS_1


Seketika aku teringat kejadian semalam, huh.. sial!!!


"Oh.. begitu.." ujarnya tersenyum menyadarkan lamunanku.


"Hmm.. Nona.. Apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Lidya padaku.


Aku terdiam sejenak menatapnya lalu menganggukkan kepala.


"Bolehkah aku tau.. kenapa Tuan Alex mengurung Nona Anna disini?" tanyanya.


Aku menghela nafas sejenak, dan menatap gelas yang ada di tanganku.


"Dia.. Pria kejam itu mengincar ayahku" ujarku.


Lidya terdiam menatapku,


"Ayahku kabur entah kemana. Dia pergi tanpa membawaku dan meninggalkanku seorang diri. Dan.. Yahh.. sampai disinilah aku... diculik disini... tidak tau apakah ayahku akan muncul menyelamatkanku atau tidak.." ujarku dengan senyum miris.


Lidya menatapku iba. Lalu dia menarik tanganku dan menggenggamnya.


"Nona... Apa.. kau mau keluar dari tempat ini?" ujar Lidya menatapku serius.


Aku membelalakkan mataku menatap Lidya. Apakah dia akan membantuku keluar dari sini?


Ya Tuhan.. Kau memang baik.. Kau mengirim bantuan tanpa aku harus meminta terlebih dahulu padanya!!


Aku menganggukkan kepalaku cepat.


"Apa.. Kau akan menolongku keluar dari sini?" tanyaku padanya.


Lidya menganggukkan kepalanya mantap.


Akhirnya.. Semoga aku bisa benar-benar pergi dari tempat ini..


"Bagaimana caranya?" tanyaku pada Lidya setelah melepaskan pelukannya.


"Tengah malam ini Tuan Alex akan pergi ke suatu acara. Saat itu aku akan menolong mu keluar dari rumah ini.. Tetapi di luar sana ada banyak hewan buas di dalam hutan. Maka dari itu aku akan memberikanmu peta jalan keluar dari dalam hutan sampai ke gerbang depan. Aku juga akan memberikanmu kartu kunci untuk membuka pintu gerbang hutan" ujarnya.


"Sungguh? Kau akan melakukannya?" tanyaku.


Lidya mengangguk yakin menatapku. Aku yang terlalu senang kembali memeluknya.


"Terimakasih..." ucapku.


Aku melepaskan pelukanku pada Lidya,


"Ta.. Tapi bagaimana kalau Alex itu tau aku kabur dari sini? Bagaimana denganmu?" tanyaku khawatir.


"Jangan khawatirkan hal itu.. Aku bisa mengatasinya" ujarnya yakin.


Walaupun aku sedikit ragu dengan ucapan nya, tetapi tidak ada kesempatan lain. Hanya ini kesempatan yang ada untuk aku bisa kabur dari tempat ini, dan aku harus mencobanya..


"Baiklah" ujarku.


Lidya tersenyum padaku,


"Kalau begitu sekarang makanlah, aku masih ada pekerjaan lain" ujarnya lalu berjalan keluar dan kembali mengunci pintu.

__ADS_1


Apakah ini akan baik-baik saja?


Ada sedikit keraguan dalam hatiku, aku takut jika cara ini akan gagal dan malah akan membuatku dalam bahaya amarah pria kejam itu. Bukan hanya aku tapi juga Lidya mungkin akan terkena masalah nantinya. Tapi..


perkataan Lidya sungguh meyakinkan. Dia sudah bekerja disini sangat lama, bahkan aku yakin dia cukup mengenal watak si Alex itu. Aku harus percaya padanya. Mungkin dia benar-benar ingin menyelamatkanku. Aku harus mencoba..


-Lidya POV-


Hari sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Aku menunggu Tuan Alex untuk turun ke lantai bawah. Hari ini aku dengar Tuan Alex akan pergi ke suatu acara. Tuan Alex tadi menyuruhku untuk menyiapkan pakaian. Aku sudah janji pada Nona Anna untuk menolongnya kabur tengah malam ini.


Huh.. Apakah dia pikir aku menolongnya dengan cuma-cuma?


Bodoh.. Tentu saja tidak!!


Setelah melihat adegan yang tidak aku inginkan tadi malam, cukup membuatku tidak tidur dengan nyenyak. Tapi lihatlah gadis ingusan itu, dia tidur dengan nyenyak dan bangun tengah hari. Dia pikir dia siapa?


Kupikir dia adalah tawanan Tuan Alex yang seperti biasanya, hanya hidup sehari dua hari lalu di eksekusi mati dengan tragis. Namun, setelah beberapa hari gadis ini masih dibiarkan hidup, bahkan Tuan Alex menciumnya entah sengaja atau tidak. Tapi itu membuat hatiku sangat hancur..


Aku tidak akan membiarkan Tuan Alex luluh padanya. Aku akan menolong gadis itu keluar dari rumah ini, lalu membiarkan dia di dalam hutan yang dipenuhi dengan hewan buas itu sendirian dan menjadi santapan para binatang yang kelaparan. Aku bahkan membuat peta jebakan untuknya, agar dia semakin dekat menjemput ajalnya.


Jika Tuan Alex belum mau membunuhnya, maka aku yang akan melakukannya..


Langkah kaki terdengar menuruni tangga. Aku melihat Tuan Alex berjalan dengan elegannya. Wajahnya yang tampan tanpa ekspresi, badannya yang sempurna dengan otot yang tertutupi kemeja dan jasnya, tubuhnya yang tinggi bak model profesional, sungguh tampan..


"Aku ada urusan. Jaga gadis yang ada di lantai atas, jangan biarkan dia kabur" ujarnya dingin dan berjalan tanpa menoleh sedikitpun padaku.


Aku mengepalkan tanganku diam-diam, cih.. gadis itu lagi..


"Baik Tuan" ujarku seraya membungkuk hormat.


Tuan Alex telah pergi keluar dan melajukan mobilnya. Aku bergegas naik lift ke lantai atas. Setelah aku mengeluarkan gadis itu dari sini, kita lihat apakah besok gadis itu masih hidup atau tidak.


Setelah sampai di depan pintu kamar gadis itu, aku membuka kunci dan membuka pintu. Gadis itu menatapku dengan tersenyum. Gadis itu telah mengganti pakaiannya dengan pakaian pelayan yang telah aku persiapkan. Aku tersenyum puas dalam hati.


"Ayo Nona ikut aku!!" ujarku dan menarik tangannya pergi.


Aku membawa gadis itu naik lift menuju lantai paling bawah ke arah pintu belakang. Aku melihat para penjaga sedang berjaga disana.


"Nona menunduk! Jangan angkat wajahmu" ujarku pada gadis itu yang berada di sampingku. Aku merangkul gadis itu agar tidak terlihat oleh para penjaga lalu mulai melangkah.


"Hei Lidya kau mau kemana?" ujar salah satu penjaga disana.


"A.. Aku ingin mengambil barang ku yang tertinggal saat bersih-bersih di belakang tadi pagi" ujarku gugup.


"Siapa dia?" tanyanya sambil menatap gadis ini.


"Salah satu pelayan yang menemaniku" ujarku.


Pelayan itu memicingkan matanya,


"Bukankah pelayan wanita disini hanya ada kau?" ujarnya.


"Ti.. Tidak.. ada satu lagi.. kau yang tidak tau, dia baru disini..." ujarku gugup. Sial... aku melupakan hal itu, pelayan wanita satu-satunya disini adalah aku. Semoga dia percaya ucapan ku..


Bersambung....


Keep support this story 🤗

__ADS_1


Mohon maaf untuk yang tidak nyaman, untuk beberapa episode ke depan ceritanya terlalu banyak POV belum aku revisi ulang hehe, tapi cuma beberapa kok, selebihnya ngak.. jadi lanjut baca ya 🤗 di jamin ceritanya seru ❤️


__ADS_2