
Setelah kepergian Alex dan Anna, Donna menyuruh seorang pelayan untuk membereskan barang-barang milik Alex dan juga Anna ke kamarnya masing-masing.
Donna berada di kamar yang akan di tempati oleh Anna. Entah mengapa hatinya merasa senang karena akhirnya kamar dari mendiang kakaknya ini akan di tempati kembali. Dan secara kebetulan orang yang akan menempati kamar ini pun adalah seseorang yang sangat dicintai oleh putra Diana, calon menantunya juga...
Donna tersenyum senang dan kembali melangkah memperhatikan kamar itu. Seorang pelayan membawa tas milik Anna dan hendak menyimpannya ke dalam lemari. Namun ada sesuatu yang terjatuh dari tas itu dan membuat Donna dengan cepat mengambil benda yang berada di atas lantai itu.
"Hey, kau menjatuhkannya!!!" ujar Donna sedikit memarahi pelayannya.
Pelayan itu terlihat membungkuk takut dan mencoba kembali mengambil barang yang terjatuh itu dari tangan Donna. Namun Donna menahannya setelah membaca sesuatu yang tertera disana.
"Tunggu... Ini kartu nama William" ujar Donna terkejut.
Wanita itu membaca kartu tersebut dan melihat nomor telepon yang tertera disana. Seketika terlintas sesuatu di pikirannya..
Donna menggenggam erat kartu itu dan memasukannya ke dalam kantung bajunya,
"Tidak apa, aku akan membawa ini. Kau bereskan sisanya" ujar Donna pada pelayan tadi.
Pelayan itu pun mengangguk dan kembali mengarah pada lemari pakaian untuk menyimpan tas milik Anna.
Donna menuruni tangga dan berjalan ke lantai bawah. Dia melangkah ke tempat tidurnya lalu mengambil kembali kartu nama tadi dari dalam saku bajunya.
Donna terlihat berpikir, apakah dia harus menghubungi pria ini sekarang??
Ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan pada mantan kekasih mendiang kakaknya itu. Dia ingin masalah di masa lalu segera berakhir dan membuat hidup keluarga Wijaya ini kembali damai.
Dengan yakin Donna pun mengambil handphonenya yang berada di atas meja lalu duduk dan mengetikan nomor itu pada handphonenya.
Donna menghela nafasnya lalu menempelkan handphone itu ke telinganya,
Tut...
Terdengar suara sambungan dari panggilan itu. Donna merasa jantungnya berdetak kencang menunggu William mengangkat panggilannya,
Tut...
("Hallo") ujar seseorang di seberang sana.
Donna membelalakkan matanya terkejut dan kembali menghela nafasnya, mencoba untuk tenang.
"Hallo, William...." ujarnya pelan.
Donna menutup matanya, dan memberanikan diri untuk berbicara kembali pada pria itu,
"Ini aku.... Donna.... Donna Zivanna Wijaya" lanjutnya.
Tidak ada jawaban dari seberang sana untuk beberapa saat. Donna menatap handphonenya dan berpikir apakah sambungannya terputus. Namun panggilan itu masih tersambung. Donna kembali menempelkan handphonenya di telinga,
"Hallo" ujarnya lagi.
("Donna???") tanya William ragu.
Donna menghela nafasnya lega saat mendengar kembali suara William. Dia mengira pria itu akan menutup panggilan teleponnya,
"Iya, ini aku, Donna adik dari mendiang Diana. Apa kau ingat??" tanya Donna.
William terdiam sesaat dan bergumam pelan,
__ADS_1
("Ya, aku ingat... Darimana kau tau nomor teleponku??") tanya William sedikit curiga.
Donna pun terlihat berpikir, apakah dia harus menjawab jujur atau berbohong pada pria ini?? pikirnya.
"Aku... Aku mendapatkan kartu namamu dari tas milik putrimu, Anna" ujar Donna jujur.
William kembali terdiam setelah mendengar jawaban Donna. Mungkin pria itu sedang kebingungan dan bertanya-tanya di dalam hatinya, mengapa dia bisa mendapatkan nomornya dari putrinya Anna, pikir Donna.
("Kau mengenal putriku???") tanya William.
Donna pun mengangguk pelan walaupun sebenarnya William tidak bisa melihatnya,
"Iya, tentu saja aku mengenal putrimu.. Dia adalah kekasih dari keponakanku Alex. Dan sekarang dia juga kebetulan akan tinggal di rumah keluarga Wijaya untuk beberapa hari ke depan.." jawab Donna.
("Apa??? Tinggal di rumah keluarga Wijaya??? Bagaimana bisa?? Apakah ayahmu tau tentang hubungan mereka??") tanya William tidak percaya.
"Iya, ayahku sudah tau tentang hal itu" ujar Donna.
William terdengar menghela nafasnya kasar dan terdiam sesaat,
("Sudah kuduga!! Kurasa dia tidak menyukai hal itu, dan dia pasti akan mencari cara untuk menyakiti putriku dan memisahkannya dengan cucunya itu, benar begitu bukan?? Apa rencana kalian padanya??? Jangan berani-berani sakiti putriku!!!") ujar William sinis.
Donna menggigit bibirnya dan menghela nafasnya dengan kasar,
"Kau pikir aku sejahat itu??? William, kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya.. Dan tolong kau juga jangan mencoba memisahkan mereka hanya karena Alex adalah keturunan dari keluarga Wijaya.. Aku tau kau pasti masih merasakan sakit hati yang teramat dalam pada keluarga ini" ujar Donna.
"Itu semua hanya masa lalu William... Sekarang semuanya sudah berbeda. Aku tidak akan membiarkan siapapun tersakiti lagi" lanjutnya.
William terdengar menghela nafasnya pasrah dan tidak mengatakan apa-apa lagi,
"Oh iya, bagaimana kabarmu?? Ku dengar sekarang kau tinggal di Jepang??" ujar Donna mengalihkan pembicaraan.
("Aku baik.. dan... aku sekarang memang tinggal di Jepang") jawab William singkat.
"Hmm... Apa kau akan berencana kembali ke negara ini?? Kurasa kita harus bertemu secara langsung untuk membereskan beberapa masalah.. Aku ingin masalah kita dulu selesai secara bersih dan damai. Aku tidak ingin ada dendam atau apapun itu diantara kita.. Sekarang putrimu dan putra Diana sedang menjalin hubungan.. Ini cukup mengejutkanku saat pertama kali mendengarnya.. Bukankah takdir Tuhan begitu mengejutkan?? Aku berharap hubungan mereka akan berakhir dengan bahagia" ujar Donna tulus.
William kembali terdiam dan berdehem pelan,
("Aku hanya tidak ingin ayahmu menyakiti putriku.. Aku sangat berharap putriku bisa hidup bahagia ke depannya") jawab William.
("Aku ada rencana untuk kembali, tetapi aku tidak tau kapan waktunya... Mungkin kita bisa bertemu saat itu") lanjutnya.
Donna pun tersenyum lega mendengar ucapan William,
"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu kembali.." ujarnya.
"Terimakasih William" lanjut Donna tulus, lalu menutup panggilan teleponnya setelah mendengar jawaban dari William.
Dia berharap semua masalah di masa lalu segera berakhir. Dan ayahnya juga akan segera membaik dan mulai mengetahui kebenaran tentang kematian Diana. Lalu mereka pun akan hidup dengan damai dan bahagia...
Dan tidak ada lagi sakit hati dan dendam...
-
Waktu menunjukkan pukul 2 siang. Alex melangkahkan kakinya cepat kearah ruang kerjanya untuk menemui kekasih hatinya Anna.
Rapat tadi menghabiskan waktu cukup lama. Dan membuat Alex sedikit resah karena meninggalkan Anna terlalu lama.
__ADS_1
Namun untungnya hasil dari rapat tadi sangat memuaskan dan membuat saham perusahaannya kembali stabil.
Alex membuka pintu ruangannya dan tidak menemukan keberadaan Anna di dalam sana. Dengan cepat pria itu mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan dan belum juga menemukan gadis itu.
Alex pun melangkah kearah pintu kamar pribadinya di sudut ruangan dan membukanya.
CKLEK!!
Seketika Alex pun menghela nafasnya lega saat melihat gadis yang sangat dicintainya itu sedang tertidur di atas tempat tidur. Alex pun menutup pintunya dan melangkah pelan mendekati Anna.
Alex duduk di samping tempat tidur sambil menatap wajah Anna yang terlelap dengan lembut. Gadis ini sungguh begitu cantik, pikir Alex.
Perlahan tangannya menyentuh lembut rambut gadis itu dan mengecup keningnya pelan,
CUP!!!
Ciuman itu membuat Anna mengerjapkan matanya dan perlahan mulai membuka matanya. Tatapannya langsung mengarah pada mata Alex. Membuat pria itu tersenyum lembut menatap wajah Anna yang baru bangun dari tidurnya,
"Maaf sayang... Apakah aku mengganggumu??" tanya Alex lembut.
Anna yang mulai sadar pun mengerjapkan matanya dan menggeleng pelan pada Alex, membuat pria itu gemas melihat wajah polosnya dan langsung mengecup bibir gadis itu dengan cepat.
CUP!!!
"Kenapa kau selalu bisa membuatku bergejolak tanpa melakukan apapun??" bisik Alex pelan.
Anna yang sudah benar-benar sadar pun akhirnya mendorong dada Alex pelan dan mulai duduk berhadapan dengan pria itu,
"Kau ini!!!" gerutu Anna dengan suara seraknya.
"Apa rapatnya sudah selesai??" tanyanya.
Alex pun mengangguk dan menyentuh pipi Anna dengan lembut,
"Sudah, Maaf aku membuatmu menunggu.. apa kau lapar???" tanya Alex.
Anna pun mengangguk pelan pada pria itu,
"Baiklah, ayo kita makan di luar" ujar Alex.
Anna terlihat tersenyum senang dan hendak bangkit dari atas tempat tidur. Namun tangan Alex menahan tangannya dengan pelan,
"Tapi.... Aku sedang lapar di bagian yang lain... Dan hanya kau yang bisa mengatasinya..." ujar Alex pelan sambil menatap Anna dengan intens.
Anna pun menatap Alex dengan tatapan tidak mengertinya,
"Aku ingin makanan pembuka ku..." bisik Alex sambil mengusap bibir Anna dengan lembut.
DEG!!!
Seketika Anna merasakan debaran di jantungnya. Perlahan wajah Alex mulai mendekat pada wajahnya, membuat hembusan lembut nafas pria itu terasa di wajahnya.
"Cium aku... sayang...." bisik Alex yang membuat bulu kuduk Anna meremang seketika.
Bersambung...
Hai, support selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, komen, vote dan juga gift nya, terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti bagi penulis abal-abal ini 😁🥰