
Tok.. Tok..
Anna mengetuk pintu ruang pribadi Alex dengan sedikit gugup. Dia takut Alex akan mengungkit hal tadi malam padanya. Bagaimana dia menjelaskannya pada pria itu tentang mengapa Anna membawanya ke dalam kamarnya semalam dan tidak meminta tolong pada penjaga untuk membawa Alex ke ruangannya.
Anna menggelengkan kepalanya. Kenapa dia harus takut, bukankah seharusnya pria itu berterima kasih padanya karena Anna sudah menolongnya semalam.
Kecuali jika pria itu berpikir bahwa Anna mempunyai tujuan lain dengan membawanya masuk ke kamarnya..
"Masuk!"
Terdengar suara Alex menyahut dari dalam ruangan. Membuat Anna tersadar dari lamunannya.
Anna membuka pintu dan melangkah perlahan ke dalam ruangan pribadi Alex.
Alex sedang duduk di kursi meja kerjanya dan fokus dengan beberapa berkas di tangannya. Anna melangkahkan kakinya ragu mendekati meja Alex.
Anna berdiri di depan meja kerja Alex sambil menundukkan kepalanya, menunggu perintah dari pria itu.
Anna mengangkat wajahnya sedikit untuk melirik Alex yang masih berkutat dengan berkas di tangannya. Sudah beberapa menit dia berdiri disini, namun pria itu belum berkata apapun, membuat Anna sedikit canggung.
Apakah dia hanya akan menjadi patung disini? gerutu Anna dalam hatinya.
"Buatkan aku sarapan dan segelas kopi!" ujar Alex tanpa menatap Anna.
Anna terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya pada Alex.
"Baik" ujar Anna singkat lalu melangkah keluar.
Anna menutup pintu ruangan Alex dan menghela nafas lega.
"Huh.. Untung dia tidak bertanya apapun padaku tadi" ucap Anna, lalu melangkah menuruni tangga dan berjalan ke arah dapur.
Anna sudah berada di dapur. Dia kebingungan mencari dimana tempat kopi tersimpan.
Saat Anna sedang sibuk mencari kopi, Lidya masuk ke dalam dapur dan menatap Anna dengan tatapan bencinya.
"Apa yang sedang Nona lakukan disini?" tanya Lidya sinis.
Anna menatap Lidya dengan tatapan bingungnya.
"Oh, Lidya untung kau datang. Aku ingin bertanya dimana kau menyimpan kopi" ujar Anna.
Lidya mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Anna.
"Kopi? Untuk apa?" tanya Lidya.
"Pria itu menyuruhku membuatkannya sarapan dan segelas kopi" jawab Anna.
Lidya membelalakkan matanya mendengar ucapan Anna. Membuatkan sarapan?
Selama ini segala kebutuhan Alex selalu dia yang mengurusinya. Sekarang Tuan nya itu menyuruh gadis tawanannya ini untuk membuatkannya sarapan? Lidya tidak percaya dengan ucapan gadis ini.
"Benarkah?" tanya Lidya sambil mengepal tangannya kesal.
__ADS_1
Anna menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Lidya. Lidya menggigit bibirnya menahan amarah. Anna menatap Lidya dengan bingung. Mengapa sepertinya Lidya tidak senang dengan perkataannya barusan, pikir Anna dalam hatinya.
Lidya menghela nafasnya sejenak, lalu menatap Anna dengan tersenyum.
"Oh begitu.." ujar Lidya.
Lalu dia pun mengambil kopi yang berada di dalam lemari.
"Ini kopinya" ujar Lidya.
Anna mengambil kopi yang ada di tangan Lidya lalu tersenyum padanya.
"Terimakasih" ucap Anna.
Anna mulai membuat kopi untuk Alex. Diam-diam Lidya menatap setiap pergerakkan Anna dengan tatapan tidak sukanya.
Setelah membuat kopi, Anna sedikit kebingungan untuk membuat makanan apa yang akan dia berikan pada pria itu?
"Hmm.. Lidya bolehkah aku bertanya? Makanan apa yang biasa dimakan oleh pria itu untuk sarapan?" tanya Anna.
Lidya menatap Anna dengan acuh dan berpura-pura sedang berpikir.
"Biasanya Tuan Alex sarapan dengan sandwich saja" ujar Lidya singkat.
Anna menganggukkan kepalanya mengerti. Lalu mulai membuat sandwich.
Lidya memperhatikan Anna yang sedang membuat sandwich. Seringai muncul di wajahnya saat melihat Anna memasukkan selada dan tomat pada sandwich yang di buatnya. Lidya sangat tau bahwa Alex tidak menyukai sayuran. Namun dia sengaja tidak memberitahukan hal itu pada Anna.
Setelah selesai Anna menyimpannya di atas nampan.
Lidya menatap kepergian Anna dengan seringai di wajahnya. Dia ingat saat pertama kali membuatkan Alex sandwich dengan sayur, Alex langsung membuang makanannya dan memakinya.
Lidya berharap Alex akan melakukan hal yang sama pada gadis itu..
-
Anna memasuki ruangan Alex dan menyimpan makanan yang dibuatnya di atas meja. Alex menyimpan semua berkasnya lalu menatap makanan yang di bawa oleh Anna.
"Singkirkan sayuran di dalamnya!" ujar Alex dingin.
Anna menatap arah pandang Alex pada sandwich yang di buatnya. Apakah pria ini tidak menyukai sayuran? pikir Anna.
"Bukankah sayuran bagus untuk kesehatan?" ujar Anna.
Alex menatap Anna tajam. Seketika Anna menutup mulutnya yang refleks berkata seperti itu.
"Apakah aku memintamu untuk berpendapat?" tanya Alex tajam.
Dengan cepat Anna menyingkirkan sayuran yang ada di dalam sandwich. Dan Alex pun mulai meminum kopinya dan memakan sandwich nya sambil bekerja.
Setelah selesai bekerja Alex menatap Anna yang masih berdiri di depan meja kerjanya dengan menunduk sambil memainkan kakinya di atas lantai.
"Cepat ganti perban tanganku!" ujar Alex menyadarkan Anna dari lamunannya. Dan menunjuk perban yang ada di dalam lemari di depan Anna.
__ADS_1
Alex berjalan ke arah sofa dan duduk disana. Anna mengambil perban dan plester di dalam lemari yang di tunjuk Alex sebelumnya.
Anna duduk di atas lantai dan memegang tangan Alex untuk membuka perban sebelumnya. Alex menatap Anna dalam diam. Memperhatikan setiap gerakannya.
Tangan Anna terasa hangat menyentuh tangannya. Alex memejamkan matanya, apa yang barusan dia pikirkan!! Dia tidak boleh terpengaruh dengan pikirannya!!
"Kenapa kau membawaku ke kamarmu semalam?" tanya Alex tajam tiba-tiba.
Seketika Anna terdiam dan mulai gugup dengan pertanyaan tiba-tiba Alex. Anna terdiam sejenak,
"Ten... Tentu saja karena ruangan mu terkunci semalam. Dan dengan terpaksa aku membawamu ke kamarku" ujar Anna gugup.
Alex menatap dalam pada Anna, yang membuat Anna sedikit salah tingkah. Apakah pria ini akan berpikir yang macam-macam padanya? cemas Anna dalam hati.
"Kenapa kau menolongku? Bukankah itu kesempatan yang bagus untukmu kabur dari sini?" tanya Alex dingin.
Anna menghembuskan nafasnya kesal dengan pertanyaan yang di lontarkan Alex.
Pertanyaan macam apa itu? kesal Anna dalam hatinya.
"Aku masih punya hati nurani! Aku bukan manusia kejam yang tidak memperdulikan orang lain yang sedang kesusahan!" gerutu Anna.
Seketika Alex terdiam mendengar ucapan Anna dan merasa tersindir. Apakah gadis ini sudah berani menyindirnya? kesal Alex dalam hati.
Alex menatap Anna tajam, namun seketika Anna yang telah selesai mengganti perban Alex mengangkat wajahnya dan membuat mereka tidak sengaja saling bertatapan.
DEG!
Alex merasakan jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Lalu pandangannya turun kearah bibir Anna yang sedikit terbuka. Alex merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ada gejolak aneh yang dia rasakan saat bertatapan dengan gadis ini.
Dengan cepat Alex membuang wajahnya ke samping. Anna terdiam sejenak lalu bangun dari duduknya.
Anna membereskan kembali alat-alat itu dan menyimpannya ke tempat semula.
Alex kembali duduk di kursi kerjanya sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing karena pikirannya tadi.
"Kau bersiap-siaplah!" ujar Alex tiba-tiba.
Anna membalikkan badannya untuk menatap Alex. Siap-siap untuk apa? pikir Anna.
"Nanti malam kau ikut aku ke pesta pertunangan rekan bisnisku!" ujar Alex dingin.
Anna membelalakkan matanya mendengar perkataan Alex. Apa? pesta lagi?
Dia sangat tidak suka pergi ke acara-acara seperti itu..
Bersambung..
Hai, dukung terus cerita ini ya jangan lupa like dan komennya ☺️
Banyak yang minta up nya di banyakin..
Hmm.. Satu bab aja udah bikin puyeng 😅
__ADS_1
Tapi bolehlah lain kali aku bakal up 2 episode, jadi di tunggu ya kelanjutannya, terimakasih ❤️