Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Reunion Preparations


__ADS_3

-Satu minggu kemudian-


Matahari terlihat sangat cerah di pagi hari ini..


Di sebuah rumah yang terlihat sangat megah, seorang suami dan istri tengah menghabiskan sarapan mereka bersama-sama secara romantis.


Sang suami terlihat sangat telaten menyuapi sang istri. Bahkan tangannya juga sangat sigap mengelap sudut bibir istrinya jika ada sedikit saja noda makanan disana.


"Sayang... Aku bisa makan sendiri" ujar Anna sedikit protes.


Pria itu selalu saja menyuapinya makan sampai lupa memakan makanannya sendiri,


"Tidak apa-apa sayang.. Menyuapi istri itu bukannya sangat bagus??" tanyanya santai.


Anna menghela nafasnya dan menatap Alex dengan kesal,


"Iya.. Tapi sejak tadi kau hanya menyuapiku saja.. Kau juga harus makan Alex. Bukankah kau juga harus ke kantor??" ujarnya pelan.


Alex pun tersenyum lembut dan mengusap pipi istrinya dengan lembut,


"Baiklah.. Baiklah.. Ini, aku juga memakannya" ujar Alex sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Bukankah sepiring berdua itu lebih romantis??" tanya Alex sambil mengedipkan matanya pada Anna.


Anna pun tersenyum melihat tingkah sang suami dan mengangguk,


"Iya.. Yang penting kau juga harus makan" ujarnya.


Setelah beberapa menit, mereka pun selesai menghabiskan makanannya. Anna terlihat berdiri di hadapan suaminya sambil merapihkan dasi dan jas nya,


"Oh iya, jam berapa kau akan pulang dari kantor hari ini??" tanya Anna.


"Malam ini kan pesta reuniannya akan dilaksanakan.." lanjutnya.


Alex tersenyum lembut dan menyentuh rambut Anna dengan lembut,


"Aku akan pulang cepat sayang.. Aku akan menemanimu ke pesta reuni itu.." ujarnya lembut.


Anna pun tersenyum dan mengangguk senang,


"Baiklah.." ujarnya.


Setelah itu Anna pun menemani Alex sampai di depan mobil. Alex membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan mengecup bahunya lama.


CUP!!


"Tunggu aku pulang ya" bisiknya lembut.


Anna pun membalas pelukan Alex dan mengangguk pelan. Pria itu pun melepaskan pelukannya dan mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir manis istrinya.


Seperti biasa, sudah menjadi peraturan dari Alex, jika dirinya akan berangkat ke kantor. Pria itu hanya ingin bersama istrinya saja agar bebas bermesraan seperti ini. Alex menyuruh semua pengawal dan penjaga untuk tidak keluar sampai dirinya benar-benar meninggalkan rumah, karena pria itu memang selalu mengendarai mobilnya sendiri.


CUP!!


Alex mencium dan ******* bibir istrinya untuk beberapa menit. Pria itu membelai tubuh istrinya dan masih menciumnya dalam.


Setelah dirasa cukup lama, Anna pun mendorong tubuh suaminya dengan pelan,


"Sudah cukup sayang, kau bisa terlambat" ujar Anna.


Alex terlihat enggan melepaskan ciumannya namun dia harus melepaskannya dengan terpaksa,


"Baiklah... Kalau begitu aku berangkat" ujarnya pasrah.


Sebelum memasuki mobilnya, Alex pun berjongkok dan mengecup perut Anna yang mulai menonjol dengan lembut,


CUP!!


"Papa berangkat ke kantor dulu ya sayang.." bisiknya di perut Anna.


Anna pun tersenyum melihat kebiasaan baru suaminya itu. Alex mengusap pelan perut Anna dan kembali mengecupnya singkat. Setelah itu Alex pun kembali berdiri dan mulai memasuki mobilnya,


"Aku berangkat dulu sayang.." ujarnya lagi pada Anna.


Anna pun mengangguk pelan dan melambaikan tangannya,


"Hati-hati" ujarnya.


Alex pun mengangguk dan melambaikan tangannya pada sang istri. Setelah itu mobil Alex pun mulai melaju dan meninggalkan rumah.


Anna menghela nafasnya dan kembali ke dalam rumah. Gadis itu harus bersiap-siap untuk ke acara reuni nanti malam..



Seorang pria yang sedang duduk di kursi rodanya terlihat sedang sibuk dengan sesuatu yang berada di tangannya.



Pria itu menatap cermin di depannya dan mulai memasang sesuatu di wajahnya dengan hati-hati.



Setelah beberapa saat, pria itu pun kembali menatap wajahnya di cermin dan tersenyum puas. Wajahnya yang semula terlihat rusak sebelah, tiba-tiba berubah menjadi mulus dan normal.



Pria itu pun kembali memasang sesuatu di kakinya. Lalu, setelah itu, dia pun mulai bangkit dari kursi rodanya dan berdiri dengan tegap.



Kembali pria tersebut menatap penampilannya di depan cermin dengan tersenyum puas,



"Kau terlihat begitu normal Leonard..." bisiknya pada diri sendiri.


__ADS_1


Setelah itu, pria bernama Leonard itu pun mulai berjalan dan keluar dari ruangannya.



Leonard melangkah memasuki salah satu ruangan lain dan membuka pintunya,



CKLEK!!



"Mengapa kau melamun??" tanyanya pada seorang wanita yang terlihat duduk termenung di depan cermin.



Wanita itu pun seketika tersadar dan membalikkan tubuhnya untuk menatap pada lelaki itu,



"Tidak... Aku tidak apa-apa.." ujarnya pelan.



Leonard pun melangkah masuk dan duduk di samping wanita itu. Tangannya perlahan terangkat untuk menyentuh pipi wanita di sampingnya,



"Apa kau menangis Erika???" tanyanya pelan.



Erika pun sedikit memalingkan wajahnya dan menggeleng pelan,



"Tidak.. Aku tidak menangis" ujarnya.



Leonard pun menatap wajah Erika dengan sedikit curiga. Lalu seketika pandangannya pun mengarah kearah sebuah kalender yang di beri tanda merah dengan bertuliskan 'I Lost My Hero' disana.



Leonard yang mengerti pun seketika kembali menatap Erika dan menyentuh pipinya dengan lembut,



"Apa kau merindukan ayahmu???" tanyanya.



Erika terdiam dan terlihat berusaha untuk menahan air matanya. Leonard pun menakup wajah Erika dengan kedua tangannya dan menatapnya dalam,




Erika pun seketika tidak dapat menahan air matanya dan mulai menangis. Leonard dengan sigap membawa tubuh Erika ke dalam pelukannya untuk menenangkan wanita itu,



"Menangislah... Luapkanlah segala kesedihanmu.." ujarnya.



Erika semakin terisak di dalam pelukan Leonard. Tubuhnya terlihat bergetar hebat. Pria itu tidak mengatakan hal apapun setelah itu dan membiarkan Erika untuk menangis dengan puas di dalam pelukannya,



Setelah beberapa lama, akhirnya Erika pun mulai terlihat tenang dan berhenti menangis. Leonard mengusap rambut Erika dengan lembut dan mengecupnya pelan,



"Apakah sudah lega???" tanyanya.



Erika pun mengusap air matanya secara perlahan dan mengangguk pelan. Leonard tersenyum tipis dan terlihat memandang keluar jendela yang ada di sampingnya,



"Kesedihanmu ini harus cepat berakhir sayang.." bisiknya.



"Aku yakin, ayahmu masih belum tenang di alam sana karena dendamnya belum terbalaskan.." lanjutnya lagi.



Erika terdiam mendengarkan ucapan Leonard dan tidak mengeluarkan sepatah katapun,



"Kita harus segera bertindak dan membalaskan dendam kita.. Untukmu.. Untukku.. dan juga untuk ayahmu..." ujarnya lagi tajam.



Erika terlihat termenung dan masih terlihat diam,



"Nyawa harus di bayar dengan nyawa!!!" ujar Leonard tajam.



"Bukankah begitu???" tanyanya sambil menatap Erika.

__ADS_1



Erika tidak menatap kearah Leonard dan memilih memfokuskan pandangannya pada jendela,



"Kau benar..." balasnya pelan.



Leonard pun terlihat tersenyum puas dan semakin mengeratkan pelukannya pada Erika,



"Sampai saatnya hari dimana pria itu mati.. Maka disitu lah segala keresahan dan kedamaian hidup kita akan di mulai..." ujarnya yakin.



Alex terlihat sedang berkutat dengan beberapa berkas yang ada di tangannya. Pria itu ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang untuk menemani istrinya bersiap-siap.


Alex sudah berjanji untuk menemani Anna malam ini ke pesta reuni di sekolah istrinya itu, sekaligus menjaga istrinya dari pandangan pria-pria ingusan disana.


TOK..


TOK..


Tiba-tiba pintu ruangannya pun terketuk dari luar. Alex masih fokus menatap berkas di tangannya dan menyahut pelan,


"Masuk!!!!" ujarnya.


Pintu pun lalu terbuka dan memperlihatkan Harry yang masuk ke dalam sambil membungkukkan badanya,


"Selamat pagi Tuan, aku ingin menyampaikan beberapa jadwal Tuan hari ini" ujarnya ramah.


Alex tidak menatap kearah Harry dan masih fokus menatap berkasnya,


"Cepat katakan!" perintahnya pada Harry.


Harry pun mengangguk cepat dan sedikit maju mendekati meja Alex,


"Baiklah Tuan, hari ini ada beberapa laporan yang harus beres di tanda tangani, sekitar pukul 10 pagi ini perwakilan dari perusahaan Worldines akan datang untuk menyerahkan dokumen kerjasama langsung pada Tuan. Dan jam 12 siang nanti akan ada jamuan makan siang dengan Mr. Roberto di restoran Diamond.. Lalu pukul 3 sore nanti akan ada rapat dengan Mr. Zack dan Mr. Tom dari Belanda dan beberapa petinggi dari luar negri lainnya, dan mungkin juga akan ada dinner bersama setelah rapat. Aku sudah memboking beberapa...." ujar Harry terpotong saat Alex dengan tiba-tiba memotong ucapannya dengan tajam.


"Tunggu!!!! Apa maksudmu?? Rapat???? Makan malam??? Siapa yang mengatur jadwal itu???" tanya Alex tajam.


Harry pun seketika mengangkat wajahnya dan menatap Alex dengan takut,


"Me.. Memangnya kenapa Tuan?? Bukankah aku sudah mengatur jadwalnya dengan tepat??" tanya Harry tidak mengerti.


Memangnya apa salahnya?? pikir Harry.


Seketika Alex pun menyentuh keningnya dan menggebrak meja dengan kuat,


BRAK!!!!


"Bukankah aku sudah katakan padamu kemarin bahwa hari ini aku akan bekerja sampai siang saja????" tanya Alex tajam.


"Bukankah aku sudah menyuruhmu mengundurkan acara rapat itu karena hari ini aku ada acara dengan istriku????" tanyanya lagi dengan nada bicara yang meninggi.


Seketika Harry pun membelalakkan matanya dan mulai panik. Ya Tuhan!! Mengapa dirinya bisa sampai lupa seperti ini?? pikirnya takut.


Matilah kau Harry!!! Tuan Alex pasti akan membunuhmu kali ini!!!!! pikirnya lagi ketakutan.


"Ma... Maaf Tuan.. Aku... Aku lupa... A.. Aku pikir...." ujarnya terputus saat suara gebrakan meja terdengar keras.


BRAK!!!!


"APA MAKSUDMU????? APA KAU INGIN KU PECAT????" teriak Alex.


Pria itu terlihat sudah berdiri dari duduknya dan menatap Harry dengan tatapan membunuhnya.


Tubuh Harry mulai berkeringat dan pria itu terlihat menggigil ketakutan,


"Ma... Maaf Tuan" ujarnya sambil berlutut.


"Maaf... Aku benar-benar lupa... Ampuni aku Tuan..." ujarnya memohon.


Alex terlihat menutup matanya mencoba untuk menahan gejolak amarah di dalam dirinya,


"Sekarang aku tidak mau tau!!! BATALKAN SEMUA RAPAT DAN PERTEMUAN BODOH ITU!!!!" teriaknya lagi.


Harry terlihat masih menunduk ketakutan dan mencoba kembali bersuara,


"Ta... Tapi Tuan.... Para tamu itu sudah datang jauh-jauh.. Kurasa mereka akan..." ujarnya kembali terputus saat Alex kembali menggebrak mejanya.


BRAK!!!


"AKU TIDAK MAU TAU SIALAN!!!! BATALKAN SEKARANG JUGA!!!!" teriaknya lagi.


Lalu dengan segera Harry pun mengangguk dan tidak berani kembali bersuara,


"Ba... Baik Tuan, akan... akan aku batalkan.." ujarnya ketakutan sambil mengambil handphonenya untuk menghubungi seseorang.


Alex pun kembali memijat keningnya sambil mendengus kesal. Mengapa dirinya bisa memilih pria bodoh ini untuk menjadi asistennya?? pikirnya marah.


Bersambung..


Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️


Banyakin komentarnya ya dan jempolnya juga 😁🙏


Oh iya, author juga mau minta dukungan buat novel kedua author ya, yg judulnya 'Mysterious Man' 🙏


Terimakasih..


Dan jangan lupa pesan author, kalau baca novel jangan sampai lupa waktu ya..


Apalagi ibadahnya sampai terlewat 😁

__ADS_1


__ADS_2