
"Sebuah kecelakaan terjadi tadi malam, sebuah mobil terjatuh ke dalam jurang dan tenggelam di dalam laut. Seorang pria pengendaraan mobil tewas di tempat. Belum di ketahui identitas pria tersebut dan......."
BRUK!!!!
Anna menjatuhkan buku diary di tangannya dan menutup mulutnya tidak percaya. Tiba-tiba rasa cemas dan takut menyelimuti hatinya.
Tidak!!!! Tidak mungkin!!!! Itu bukan Alex!!!!!
Tangan Anna gemetar dan matanya mulai berkaca-kaca. Jantungnya berdetak dengan cepat. Tidak!!! Itu pasti bukan Alex!! ujar Anna meyakinkan dalam hatinya.
Perlahan Anna mencoba mengatur detak jantungnya dan menghembuskan nafasnya perlahan. Dia harus memastikan sendiri bahwa Alex baik-baik saja sekarang.
Dengan cepat Anna pun melangkah keluar rumah untuk menemui Alex. Namun, saat Anna baru keluar dari pintu, dia langsung berpapasan dengan ayahnya yang baru tiba di rumah.
"Kau mau kemana???" tanya William tajam.
Anna menahan nafasnya dan mengepalkan tangannya kuat menatap William,
"Aku harus pergi ke suatu tempat untuk memastikan sesuatu" ujar Anna tidak sabaran.
William memicingkan matanya dan menatap wajah Anna yang terlihat mengkhawatirkan sesuatu.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk keluar dari rumah ini!!!" ujarnya tajam.
Anna menatap William dengan tajam dan mencoba untuk menahan amarahnya.
"Aku tidak membutuhkan izin darimu!!!" ujar Anna tajam dan berusaha kembali berjalan melewati William.
Namun dengan cepat William menahan tangan Anna,
"Lepaskan aku!!!!" geram Anna mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman William.
"Bawa dia masuk ke kamarnya dan kunci pintunya!!!" perintah William pada pengawalnya.
Anna membelalakkan matanya dan menatap William dengan geram.
Para pengawal itu pun menunduk mengerti dan mulai mencengkram tangan Anna lalu menyeretnya kembali ke kamarnya.
"Aku tidak mau!!!! Lepaskan aku!!!!!!!!!" teriak Anna mencoba melepaskan diri.
Namun sayang tenaganya masih kalah jauh oleh 2 orang pengawal yang berbadan kekar itu.
"Lepaskan!!!!!!!" teriak Anna tidak menyerah.
Setelah sampai di kamar Anna. Pengawal itu pun mendorong gadis itu masuk dan mulai mengunci pintunya.
Anna mencoba menahan pintunya namun para pengawal itu bergerak lebih cepat dan mengunci pintunya.
"Tidak!!!! Tunggu!!!" teriak Anna mencoba menahan pintunya.
Namun sayang pintu itu telah tertutup dan terkunci,
BRAK!!!!
BRAK!!!
"Buka pintunya!!!!!" teriak Anna mencoba memukul dan menendang pintu itu.
BRAK!!!!
"Kumohon buka pintunya!!!!!" teriak Anna yang mulai bergetar menahan tangis.
BRAK!!!!
BRAK!!!
Anna pun mulai kelelahan dan terduduk bersandar di balik pintu sambil menangis pilu.
__ADS_1
"Hiks..... Alex...." bisik Anna sambil menangis.
Hatinya sangat sedih dan hancur sekarang. Perasaannya tidak tenang. Alex tidak kunjung datang untuk menemuinya. Dan berita kecelakaan tadi telah membuatnya semakin mencemaskan Alex.
"Alex kau dimana....." ujar Anna bergetar.
"Bawa aku pergi..." lirih Anna sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Air mata mengalir deras membasahi pipinya. 'Ya Tuhan... Tolong lindungilah Alex...' lirih Anna berdoa dalam hatinya.
-
William masuk ke dalam ruang kerjanya. Melepaskan jas di tubuhnya dan duduk di meja kerjanya. Namun tiba-tiba pintu ruangannya terketuk dengan pelan.
"Masuk" ujar William.
Seorang pelayan masuk lalu membungkukkan badannya pada William,
"Tuan, Tuan Daniel baru tiba dan ingin menemui anda" ujar pelayan itu meminta izin.
William pun menghela nafasnya pelan lalu mengangguk pada pelayan itu, mengizinkan Daniel untuk menemuinya.
Tidak lama setelah itu, Daniel pun masuk dengan wajah yang sedikit cemas dan menghampiri William di meja kerjanya.
"Kenapa kau terlihat seperti sedang mencemaskan sesuatu???" tanya William datar.
Daniel menghembuskan nafasnya pelan lalu duduk di hadapan William dan memberikan sebuah surat kabar di tangannya.
William menatap Daniel sesaat lalu mengambil surat kabar itu dan membacanya.
"Apa maksudnya ini??? Kecelakaan??" tanya William tidak mengerti.
Daniel terlihat gugup dan menundukkan wajahnya,
"Paman... Se... Sebenarnya, semalam aku mengikuti pria bernama Alex itu bersama dengan Anna kemari. Setelah pria itu keluar dari sini, aku terus mengikutinya..."
Daniel terdiam sesaat lalu menatap William dengan putus asa,
"Setelah itu sebuah truk datang dari arah berlawanan dan menabrak mobil pria itu sampai jatuh ke jurang dan masuk ke dalam air!!!" jelas Daniel ketakutan.
William pun terlihat mengerutkan keningnya dan mulai mengerti dengan situasi yang terjadi.
"Lalu pagi ini aku melihat berita di surat kabar bahwa pria yang mengendarai mobil itu telah meninggal di tempat dengan wajah yang hancur karena mobil itu sempat meledak dan identitasnya pun tidak di ketahui!!!" ujar Daniel cemas.
"Paman... Apakah aku bisa di katakan sebagai tersangka??? Karena aku yang mengejar mobilnya sampai dia kehilangan kendali!!! Apa yang harus aku lakukan sekarang Paman????" ujar Daniel frustasi sambil menunduk dan meremas kuat rambutnya.
William menghela nafasnya lalu bersandar di kursi. Jadi, sepertinya tadi Anna juga melihat berita di televisi dan dengan terburu-buru ingin keluar untuk mengetahui keadaan pria itu.
"Bukankah justru itu bagus untukmu???" tanya William tiba-tiba.
Daniel pun mengangkat wajahnya dan menatap William tidak mengerti,
"A.. Apa maksud Paman??" tanya Daniel.
William menumpu tangannya di atas meja dan menatap Daniel dengan serius.
"Kejadian ini sepenuhnya bukan salahmu. Mungkin Tuhan sudah menakdirkannya seperti itu. Dan memberimu kesempatan untuk bersama dengan Anna. Bukankah itu tandanya tidak ada lagi yang menghalangi hubungan kalian??" ujar William tenang.
Daniel pun mulai mengerti maksud perkataan William. Benar juga, pria itu telah tiada dan kesempatannya untuk bersama dengan Anna semakin terbuka lebar. Kecelakaan kemarin tidak sepenuhnya di akibatkan karena dirinya. Tersangka utama adalah sopir mobil truk itu. Untung saja Daniel masih mengingat wajah sopir itu walaupun terlihat samar karena gelapnya malam.
"Paman benar... Mungkin ini sudah takdir Tuhan" ujar Daniel pelan.
William pun bangkit dari duduknya dan menatap kearah jendela.
"Temuilah Anna di kamarnya, mungkin dia sedang bersedih sekarang" ujar William.
Daniel pun terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalannya dan hendak bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Tunggu...." ujar William tiba-tiba sambil membalikkan badannya pada Daniel.
"Aku punya rencana...." ujat William.
Daniel pun mengernyit dan menatap William dengan penasaran. Rencana?? Rencana apa??? pikir Daniel tidak mengerti.
-
Anna menyadarkan wajahnya di atas bantal dengan air mata yang berlinang. Sejak tadi dia tidak berhenti menangis karena mengingat Alex. Apa yang harus dia lakukan sekarang??? Ana yakin, Alex pasti baik-baik saja dan orang yang ada di berita itu pasti bukan Alex nya.
Anna pun bangkit dari tidurnya dan menghapus kasar air mata di pipinya. Tidak!! Dia tidak boleh berdiam diri saja seperti ini. Dia harus mencari cara untuk keluar dari rumah ini sekarang.
Dengan cepat Anna turun dari tempat tidurnya dan berjalan kearah jendela hendak membukanya. Namun, saat gadis itu hendak membuka jendela, suara ketukan pintu menghentikan pergerakannya.
Tok... Tok...
Seketika Anna membalikkan badannya kearah pintu. Alex??? pikir Anna penuh harap. Dengan cepat gadis itu melangkah ke arah pintu. Lalu pintu pun terbuka dan memperlihatkan Daniel yang tersenyum padanya.
"Hai.... Anna...." ujar Daniel lembut.
Seketika senyuman Anna pun menghilang dan menatap Daniel dengan kecewa.
"Kau???" ujar Anna tidak bersemangat.
Daniel pun tersenyum dan masuk menghampiri Anna. Tiba-tiba sebuah ide muncul di pikiran Anna. Apakah pria di depannya ini bisa membantunya untuk keluar dari rumah?? pikir Anna.
"Daniel, bisakah kau membantuku??" tanya Anna penuh harap.
Daniel pun mengernyitkan keningnya penuh tanya,
"Aku harus menemui seseorang sekarang untuk memastikan sesuatu!!" ujar Anna menerangkan.
Seketika Daniel pun mengerti siapa yang di maksud seseorang itu. Dia pun mendekati Anna dan menyentuh pundaknya.
"Anna, apa kau mendengar berita pagi ini?? Aku turut berduka cita" ujar Daniel sedih.
Anna menatap Daniel tidak suka dan menepis tangan pria itu di pundaknya.
"Apa maksudmu????" tanya Anna tidak suka.
Daniel pun menghela nafasnya dan menatap Anna dalam,
"Alex... Pria itu telah meninggal dunia karena kecelakaan tadi malam. Apa kau sudah mendengar beritanya??" tanya Daniel.
Anna tersenyum sinis lalu menatap tajam pada Daniel,
"Itu bukan Alex!!!!" tepis Anna marah.
Daniel pun menghela nafasnya dan menunduk,
"Aku juga awalnya meragukan berita itu, tapi tadi pagi aku langsung ke tempat kejadian untuk memastikannya sendiri. Dan seorang polisi menemukan sebuah benda yang ada di saku jas korban..." ujar Daniel sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Anna menatap sebuah lencana emas yang berada di tangan Daniel lalu mengambilnya. Seketika matanya terbelalak tidak percaya saat melihat tulisan 'Wijaya' di lencana itu.
"Itu adalah lencana milik keluarga Wijaya. Tidak ada yang memilikinya selain anggota keluarganya. Dan aku tau pasti ini milik Alexander Wijaya" terang Daniel.
Anna menutup mulutnya sambil bergetar menahan tangis,
"Tidak..... Tidak mungkin!!!!!!" ujar Anna lalu jatuh terduduk di atas lantai.
"Hiks... TIDAK!!! KAU BERBOHONG!!! ITU PASTI BUKAN MILIK ALEX hiks...!!!!!!" teriak Anna menangis pilu sambil terduduk lemas.
Daniel pun terduduk dan membawa tubuh Anna yang menangis histeris dalam pelukannya. Hatinya terasa pilu dan sakit menatap gadis yang dicintainya sedih seperti ini. Daniel memejamkan matanya kuat merasakan hatinya juga ikut hancur.
'Maafkan aku Anna....' bisik Daniel merasa bersalah dalam hatinya.
Bersambung..
__ADS_1
Keep support this story, jangan lupa kasih like dan komennya ya 😁🙏❤️