Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Permainan


__ADS_3

"Kita mulai permainannya sekarang..." ujarnya tersenyum licik.


"Kurasa.. Sedikit hiburan akan menyenangkan.." lanjutnya sambil menatap Alex dengan seringainya.


"Tangkap gadis itu!!" perintah Leonard pada anak buahnya.


"Dia sedang bersembunyi di balik tembok ujung lantai 3!!!"


"Sebagai hiburan.... Kalian boleh sedikit bersenang-senang dulu dengannya setelah menangkapnya" lanjutnya menyeringai pelan.


Leonard pun memantau dari balik layar cctv nya sambil tersenyum licik.


Sedangkan Alex yang mendengarkan hal itu seketika langsung mengepalkan tangannya dengan kuat. Walaupun tubuhnya sangat lemas dan mati rasa, tetapi Alex tau Leonard sedang membicarakan istrinya.


"Ba... Bajin....gan!!!... Ja... Jangan... be... berani... kau.... sentuh... istriku!!!!" ujarnya terbata-bata dan tajam.


Leonard pun dengan santai membalikkan kursinya dan menatap kearah Alex sambil terkekeh pelan,


"Ternyata kau masih sanggup untuk berbicara.." ledeknya.


Pria itu menaruh tangannya di dada dan berpura-pura berpikir,


"Aku tidak menyentuh istrimu Alex..." ujarnya pelan.


"Tapi.... Mungkin anak buahku akan sedikit bermain-main dengannya" lanjutnya menyeringai licik.


Seketika Alex langsung memberontak kuat dan mencoba untuk melepaskan diri,


"Urusanmu itu denganku!!!! Jangan sentuh dia!!!!!" gertak Alex semakin kuat dan tak terkendali.


Leonard tertawa senang melihat reaksi Alex dan sengaja memancing pria itu kembali,


"Tenang Alex.... Tidak perlu semarah itu.." ujar Leonard santai.


Pria itu kembali menatap layar dan mengamati wajah Anna,


"Tapi... Jika dilihat-lihat... Istrimu ini lumayan juga.." ujarnya menyeringai.


"Wajah dan tubuhnya cukup menggoda.." lanjutnya terkekeh.


BRAK!!!


BRAK!!!


"BAJINGAN!!!!!!!!!" teriak Alex membabi buta sambil mencoba melepaskan ikatannya.


Tenaga Alex cukup kuat sampai membuat ranjang yang di tempatinya bergoyang.


Leonard yang melihat hal itu langsung menggeleng prihatin dan berdecak pelan,


"Ckck.. Ternyata kau tidak bisa tenang" ujarnya sambil mengarahkan tangannya pada tombol.


Pria itu terkekeh melihat kebrutalan Alex dan menekan tombol listriknya kembali,


KLIK!!!


"AAARRRGGGHHH!!!!!"


Teriakan Alex kembali terdengar saat sengatan listrik kembali menghantam tubuhnya.


Leonard tertawa puas menyaksikan hal itu dan sedikit bertepuk tangan,


"Maaf Alex... Kau terlalu berisik" ujarnya tersenyum puas.


Pria itu kembali menatap layar dan menyaksikan anak buahnya yang hampir dekat dengan tempat persembunyian Anna,


"Sekarang kita lihat.. pertunjukan apalagi yang bisa aku saksikan" ujarnya sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan santai.




Anna masih terduduk di balik tembok tempatnya bersembunyi.



Sebelumnya Roy menyuruhnya untuk tetap tinggal disini dan menunggunya kembali. Tetapi, entah mengapa Anna merasa posisinya sekarang ini tidaklah aman.



Gadis itu menggigit bibirnya dan mencoba untuk tenang..



Tiba-tiba tatapan Anna langsung mengarah pada titik merah disudut tembok.



Itu adalah kamera pengawas, pikir Anna.



Benar saja, tempat ini memang tidak aman untuk bersembunyi, pikir Anna. pasti seseorang tengah mengawasinya dan mengetahui bahwa dirinya tengah bersembunyi disini.



Anna perlahan mengangkat tubuhnya dan mulai berdiri. Gadis itu masih menatap fokus pada kamera pengawas yang sedikit bergerak mengikuti pergerakannya.



'Gawat! Kamera itu memang sedang mengawasi pergerakannya' pikir Anna cemas.



Tap..



Tap..



Tiba-tiba dari kejauhan, Anna mendengar suara langkah kaki yang mengarah kearahnya.



Dengan panik, Anna mencoba kembali menajamkan pendengarannya dan mendengar bukan hanya suara langkah kaki satu orang..


Tetapi antara tiga orang atau lebih..



Jantung Anna berdebar dengan kencang..


Apa mungkin itu Roy??? pikir Anna ragu.



Pandangan Anna kembali mengarah kearah cctv yang masih fokus mengarah pada dirinya.



Dengan cepat, Anna menggeleng kuat dan memutuskan untuk bersiap-siap melarikan diri. Firasatnya mengatakan bahwa langkah kaki itu bukanlah Roy.

__ADS_1



Anna pun mengintip sekilas dan melihat memang ada sekitar 4 orang pria bertopeng tengah melangkah kearahnya. Gadis itu pun bergegas pergi sambil menyentuh perutnya.



Leonard yang menyaksikan hal itu di layar seketika terkekeh pelan melihat Anna yang melarikan diri. Pria itu mengikuti setiap pergerakkan Anna saat gadis itu melewati kamera pengawas.



"Gadis itu berlari kearah tangga menuju lantai 4" ujar Leonard pada seseorang dari earphonenya.



"Kejar dia dengan perlahan.. Biarkan dia melarikan diri seperti seekor tikus kecil yang malang" lanjutnya menyeringai.



Anna saat ini sudah menaiki tangga menuju lantai 4. Gadis itu terlihat mulai terengah dan berlari tak tentu arah.



Tatapannya masih fokus pada kamera pengawas yang berada di setiap sudut. Kamera itu jelas selalu mengikuti setiap pergerakannya.



Jika dia terus menghindar seperti ini, Anna pasti akan kelelahan. Dan tetap saja orang-orang itu akan tau dimana dia bersembunyi. Sepertinya seseorang yang mengawasi layar itu tengah bermain-main dengannya, pikir Anna.



Tap..



Tap..



Anna dengan cepat kembali bersembunyi di balik tembok saat mendengar suara langkah kaki.



Sekarang dia harus lari kemana??? pikir Anna panik dan bingung.



Anna kembali berlari menaiki tangga menuju lantai selanjutnya. Dan.. tetap saja orang-orang itu mengikuti langkahnya dengan santai.



Leonard terlihat cukup terhibur melihat hal itu. Pria itu ingin melihat Anna kelelahan dan juga ingin tau apa yang akan di lakukan gadis itu selanjutnya.



"Gadis bodoh!!" sindir Leonard.



Alex yang masih lemas mencoba mengarahkan pandangannya ke layar dan melihat istrinya yang tengah kelelahan sambil berlari mencoba menghindari anak buah Leonard.



'Anna......' bisiknya dalam hati.



Pria itu menggertakkan giginya kuat sambil menatap punggung Leonard dengan tajam.




Tidak terasa saat ini Anna sudah berada di lantai 8. Tubuh gadis itu sudah basah oleh keringat dan nafasnya sudah terengah karena kelelahan.



Anna sudah tidak kuat lagi untuk melangkah..



Tatapan gadis itu kembali mengarah pada kamera pengawas yang masih terus mengikutinya, dan suara langkah kaki orang-orang yang masih terus mengikutinya.



Gadis itu tidak bisa terus seperti ini. Anna harus menemukan cara agar bisa lepas dari pengawasan kamera cctv yang terus mengikutinya.



Anna pun melangkah ke sudut lantai itu dan mencoba mencari tempat bersembunyi. Matanya menelisik ke sekitar dan tidak menemukan satu tempat pun yang bebas dari kamera pengawas.



'Sekarang apa yang harus dia lakukan???' pikirnya.



Lalu secara tidak sengaja, Anna pun menatap sesuatu di sudut dinding.



Itu adalah sekring listrik..



Seketika sebuah ide muncul di kepala Anna. Satu-satunya cara untuk lepas dari pengawasan kamera ini adalah dengan cara mematikannya.



Anna pun dengan cepat mencoba menggapai sekring listrik itu. Namun sekring itu cukup tinggi, dan tinggi badan Anna tidak cukup untuk menggapainya.



Anna mengarahkan pandangannya ke sekitar untuk mencari benda yang bisa membantunya.



Gadis itu pun melihat sebuah kayu di lantai dan mengambilnya.



Leonard yang melihat hal itu dari layar seketika mengerutkan keningnya melihat tingkah Anna.



"Apa yang akan dia lakukan???" ujarnya penasaran.



Anna mencoba menggapai sekring itu dan menekannya, namun belum berhasil.



Langkah kaki orang-orang yang mengejarnya tadi seketika kembali terdengar di telinganya.

__ADS_1



Dengan panik Anna kembali menggapai sekring itu dan mencoba menekannya.



'Ayolah... Kumohon....' doa nya dalam hati.



KLIK!!!!



ZLEP!!!



Tiba-tiba seluruh lampu di gedung tua itu mati..


Dan tempat itu pun menjadi gelap total..



Seluruh pencahayaan dan semua teknologi disana mati dan tak berfungsi.



Seketika Leonard langsung duduk tegap dengan terkejut. Pria itu berdecak kesal saat seluruh monitor dan lampu di ruangannya mati,



"Dasar \*\*\*\*\*\*!!!! Ternyata dia sengaja mematikan listriknya!!!!" gerutunya.



Pria itu pun menekan earphonenya untuk kembali menghubungi anak buahnya,



"Cepat nyalakan kembali listriknya dan tangkap gadis itu!!!!! Sudah cukup bermain-mainnya!!!" ujarnya keras.



Leonard pun menunggu beberapa saat, dan lampu pun kembali menyala.



KLIK!!!



Pria itu kembali menatap layar dan melihat kamera cctv di lantai 8 tadi telah rusak dan mati.



"Dasar Tikus kecil!!! Ternyata dia cukup cerdik!!" gerutunya.



(/"Hallo, Tuan... Kami kehilangan jejak gadis itu Tuan.. Apa Tuan melihatnya???"/) tanya anak buah Leonard dari earphonenya.



Leonard mencoba menatap layar dan melihat semua kamera pengawas..


Dan.. Tidak ada satu pun di layar itu yang menunjukkan keberadaan Anna.



"Aku tidak melihatnya!!!! Cepat temukan dia!!!" perintahnya tajam.



BRAK!!!



Leonard memukul meja dan terlihat kesal,



"Sial!!! Kemana gadis itu!!" gerutunya.



Pria itu pun menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memijit keningnya. Lalu perlahan ia pun membalikkan tubuhnya untuk melihat Alex.



Namun...



Seketika Leonard membelalakkan matanya sambil berdiri dari kursinya saat melihat ranjang tempat Alex diikat tadi telah kosong.



"Di.. Dimana dia????" ujar Leonard terkejut.



Pria itu mengarahkan pandangannya ke sekitar dengan waspada. Leonard langsung mengambil senjata di sakunya dan mengarahkannya ke sekitar.



Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing dari belakang tubuhnya,



"Apa kau mencariku?????"



Bersambung..



Hallo, tolong di bantu like, komen, vote dan hadiahnya ya ☺️



Huhu.. sedih ni pembaca makin hari makin kurang, mungkin karena author jarang up juga 🤧



Tapi buat yang udah baca jangan lupa tinggalin jejak ya, dan kasih hadiahnya buat author walaupun recehan 🥲



Oh iya, novel kedua author yang judulnya Mysterious Man sudah up ya ☺️


Yuk bantu di ramaikan 😁🙏

__ADS_1



Terimakasih ❤️


__ADS_2