
-
-
Di tengah malam yang sunyi dan gelap terdengar suara keributan di dalam sebuah rumah yang besar. Para penjaga di dalam rumah tengah sibuk mencari keberadaan seorang gadis. Begitupun di luar, para penjaga bergegas masuk dan mengitari ke sekeliling hutan untuk menemukan gadis yang sama.
"Sial!! Bahkan kamera pengintai pun tidak dapat menemukan gadis itu.. cctv di rumah juga mati saat gadis itu kabur!! Sial.. persiapan gadis itu benar-benar matang" gerutu salah satu penjaga.
"Bukankah ini aneh.. Kenapa dia bisa kabur dengan leluasa, padahal aku rasa dia tidak pernah keluar dari kamarnya, bahkan sepertinya posisi setiap ruangan di rumah ini pun dia tidak tau" ujar penjaga bernama Gerald yang bertugas sebagai pemimpin disana.
"Siapa tau gadis itu tidak se polos kelihatannya. Bukankah dia anak dari William Pratama? William juga orang yang licik dan pandai mengelabui. Mungkin sifat anaknya pun sama" ujar penjaga lain.
"Tapi seperti ada yang mengganjal dari kaburnya gadis ini. Tidak mungkin dia melakukan hal itu dalam waktu singkat, kecuali... ada orang dalam yang membantunya"curiga Gerald.
"Siapa yang membantunya?" tanya penjaga yang lain.
Mereka terlihat berpikir sesaat,
"Mark!! Dimana dia?? Bukankah dia bertugas menjaga pintu belakang??" ujar Gerald.
"Benar!! Aku tidak melihatnya sejak tadi. Apa jangan-jangan... Ayo cari dan temukan dia!!!"
Beberapa penjaga pun berpencar mencari keberadaan Mark.
"Kamera pengintai di dalam hutan harus diaktifkan seluruhnya, baru kita dapat menemukan gadis itu" ujar salah satu penjaga.
"Tidak!! Kamera pengintai di hutan terhubung langsung dengan handphone Tuan Alex. Jika kita mengaktifkannya, maka Tuan Alex akan tahu ada masalah darurat disini. Kita semua akan habis!!" jawab Gerald.
"Lalu bagaimana?? Beberapa kamera tidak menemukan keberadaan gadis itu"
Gerald terlihat sedang berpikir untuk mencari sebuah cara, seseorang membuka pintu keras dengan nafas yang memburu.
"Gerald!! kami menemukan sebuah kain di dalam hutan!!" ujar salah seorang penjaga yang baru datang dengan nafas yang memburu. Lalu memberikannya pada Gerald.
"Ini... Bukankah ini pakaian yang biasa dipakai Lidya" bisik Gerald. Dia mengamati pakaian yang sudah tidak berbentuk itu. Ada bercak darah disana, apa jangan-jangan...
"Bukankah dia kabur memakai pakaian itu? Apa... gadis itu sudah mati dimakan hewan buas?" ucap si penjaga tadi.
"Sial!!!!! Jika begitu Tuan Alex akan marah besar!!! ****!!" geram Gerald.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanyanya.
"Kita harus segera temukan gadis itu!! Dalam keadaan apapun!!" tegas Gerald.
Kemudian dia menyalakan semua kamera pengintai darurat di seluruh hutan, yang otomatis akan terhubung dengan handphone Alex. Gerald tidak ada pilihan lain, dia harus menemukan gadis itu, walaupun dalam keadaan mati atau bahkan hanya potongan tubuhnya saja. Ini sudah terlanjur, walaupun Alex akan tahu dan akan membunuhnya juga, dia hanya bisa pasrah.
"Ayo.. temukan gadis itu!!" teriaknya.
-
-
Alex tengah duduk sambil menatap kosong gelas wine yang ada di tangannya. Pesta sedang berlangsung begitu meriah, namun Alex hanya terdiam di mejanya saja tanpa ekspresi.
__ADS_1
Roy sedang berbincang dengan Gracia. Dia melihat kearah temannya itu yang hanya duduk termenung, sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Alex yang terlampau dingin dan acuh dengan sekitar.
"Hah.. Memang sulit mencairkan es yang berada di kutub" celetuknya yang di dengar oleh Gracia.
"Apakah sifatnya memang begitu?" tanya Gracia penasaran.
"Iya.. begitulah.." jawab Roy acuh.
"Kau menyukainya?" tanyanya.
Gracia terlihat salah tingkah dengan pertanyaan Roy. Roy tersenyum melihat reaksi Gracia yang mudah di tebak.
"Mari bertaruh.. Jika kau bisa membuat dia menatap wajahmu saat berbicara, maka aku akan memberikan satu set perhiasaan keluaran terbaru dari perusahaan ku, edisi ini belum keluar dimana pun, kau orang pertama" ujar Roy menantang.
"Huh.. Aku bisa membelinya dengan uangku.." jawab Gracia.
Roy hanya mendelik mendengar jawabannya.
"Tapi... Baiklah... Aku akan mencoba. Kita lihat, siapa yang bisa menolak kecantikan Gracia Welles Wong ini" ujarnya percaya diri.
Gracia menghampiri Alex dan duduk di hadapannya,
"Ekhm.. Hai.."
Alex terlihat acuh, dan kembali meminum wine nya tanpa melihat Gracia sedikitpun.
Gracia terlihat sedikit kesal dengan reaksi Alex
'Sial, dia mengacuhkanku' gerutunya dalam hati.
Alex meneguk sisa wine nya dan berjalan pergi. Gracia ternganga melihat Alex pergi begitu saja dan mengacuhkannya. Sedangkan disisi lain Roy tertawa senang melihat kejadian itu.
"Sial! Dia mengacuhkan ku lagi! Lihat saja, aku pasti akan menjinakkan mu Alexander Wijaya.. camkan itu!!" kesalnya, lalu meneguk habis minumannya.
Alex berjalan kearah balkon, para wanita yang melihatnya berjalan mencoba untuk menyapa dan menghampiri, namun Alex memilih pergi dengan acuh. Langkahnya terhenti ketika Alex merasakan getaran dari handphone yang ada di sakunya.
Alex mengambil handphone nya dan melihat sebuah pemberitahuan bahwa akses keamanan di seluruh rumahnya tengah menyala. Alex memicingkan matanya, dan bertanya-tanya siapa yang berani menyalakan seluruh akses kamera pengintai?
Kecuali ada hal darurat yang terjadi..
Tanpa berlama-lama Alex melangkahkan kakinya cepat meninggalkan tempat itu.
Dari kejauhan Roy berlari menyusul, namun Alex telah menaiki mobilnya dan pergi. 'Mengapa dia terburu-buru' pikirnya. Walau sedikit khawatir namun Roy tidak ingin ikut campur masalah temannya itu. Akhirnya Roy hanya kembali masuk dan melanjutkan pesta.
-
-
Anna terduduk lemas dengan nafas yang memburu di balik batu besar yang menutupinya dari pengawasan kamera. Sudah sejak tadi Anna berlari untuk menghindari intaian kamera. Hampir di setiap sudut pohon dipasang kamera pengawas yang terus bergerak ke kiri dan kanan. Saat kamera berbalik arah, Anna memanfaatkannya untuk berlari dan menghindar agar tidak terlihat oleh kamera.
Tenggorokan Anna terasa kering, pakaiannya sudah kotor tidak beraturan, rambutnya yang diikat semula sudah terlepas tidak karuan. Selain menghindari pengawasan kamera, Anna juga menghindari binatang-binatang buas yang sedang tertidur.
Anna menatap kartu kunci milik Lidya yang dikalungkan di lehernya. Sudah lari sejauh ini, dia tidak boleh berhenti dan menyerah. Jika dia tertangkap kali ini maka bisa di pastikan ajal akan menjemputnya.
__ADS_1
Anna menarik nafasnya dalam, meyakinkan dirinya, dia harus berusaha untuk keluar sekarang. Tidak ada pilihan lain selain kabur dari sini..
Dari kejauhan Anna melihat sebuah danau yang luas. Dia sangat haus sekarang. Setidaknya dia harus minum sedikit untuk menambah tenaga.
Anna melihat ke arah kamera pengintai di depannya, kamera itu bergerak ke kanan. Jika kamera itu mengarah ke kiri maka dia harus lari sekencangnya.
Kamera bergerak berbalik arah ke kiri, Anna pun berlari dengan kencang dan bersembunyi di balik semak-semak. Begitupun seterusnya, sampai Anna tiba di pinggir danau.
Anna mengamati sekitar, ternyata tidak ada kamera pengintai di danau.
Anna berjongkok dan mengambil air dengan tangan lalu meminumnya dengan rakus.
Anna terduduk di pinggir danau. Air mata menetes di pipinya. Dia tidak pernah membayangkan hidupnya akan seperti ini. Mencoba bertahan hidup seorang diri, tanpa ada yang menolongnya. Bahkan ayahnya saja sudah selama ini tidak ada tanda-tanda untuk menyelamatkannya.
Anna menghapus kasar air matanya, tidak.. dia tidak boleh lemah.. saat ini dia tidak bisa mengharapkan pertolongan orang lain. Dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri, dia harus kuat..
"Itu dia!!!! Gadis itu ada di danau!!!" terdengar teriakan seseorang yang membuyarkan lamunan Anna.
Gawat!! Dia ketahuan..
Anna segera berdiri dari duduknya dan mulai berlari kencang,
"Ayo kejar dia!!!!"
Anna terus berlari dan berlari..
Teriakan orang-orang itu semakin terdengar. Jika seperti ini maka dia akan tertangkap.
Anna terus berlari, namun kakinya tersandung akar pohon besar yang membuatnya terjatuh.
"Akh.."
Anna mencoba bangkit dan mengabaikan kakinya yang sakit dan berdarah. Anna mendengar ngaungan hewan buas. Apakah darahnya tercium oleh hewan-hewan itu? Tidak!!
Anna terus berlari tak tentu arah, terdengar suara tembakan yang membuat Anna ketakutan. Anna terus berlari, di depan nya ada sebuah jalan besar, Anna mempercepat langkahnya..
Namun saat Anna berlari dia tidak melihat sebuah mobil yang melintas di sampingnya.
Bukk....
"Akhhh....!!!!"
Anna tersungkur di bawah aspal. Kakinya yang terluka semakin banyak mengeluarkan darah. Anna mencoba bangkit namun kakinya benar-benar sakit.
Suara pintu mobil terbuka, membuat Anna mengarahkan pandangannya pada seseorang yang melangkah menghampirinya.
Anna membelalakkan matanya, seketika tubuhnya lemas tak berdaya..
"Tikus kecil yang malang" suara yang membuat bulu kuduk Anna berdiri seketika.
Tamat sudah riwayatku...
Bersambung...
__ADS_1
Halo, keep support this story 🤗 komen dan like nya jangan lupa..