
Roy berjalan cepat menuju lantai bawah sambil menggendong Anna yang terlihat merintih kesakitan. Pria itu mulai cemas dan panik melihat darah yang terus mengalir di kaki Anna. Jika dibiarkan terlalu lama, Roy takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Anna dan calon bayinya.
Bibi Van terlihat menahan tangisnya melihat keadaan Anna yang memprihatinkan. Wanita paruh baya itu merasa bersalah karena Anna seperti ini untuk menolong dirinya yang di pukul oleh pria bertopeng tadi.
Setelah sampai di lantai bawah, Roy pun mendudukkan Anna di salah satu kursi sambil mengarahkan pandangannya ke sekitar dengan cemas,
"Apakah bantuannya belum tiba juga???" tanya Roy tidak sabaran pada salah satu anak buahnya.
Anak buah Roy menatap Roy dan menggeleng pelan,
"Belum Tuan, mungkin mereka masih dalam perjalanan" jawabnya.
Roy terlihat mengacak rambutnya dan menatap Anna yang merintih dengan tidak tega. Bibi Van mencoba mengusap punggung Anna untuk menenangkan gadis itu,
"Nona.. Tolong tahan sebentar lagi" ucapnya khawatir.
Anna memegang perutnya sambil merintih kesakitan. Gadis itu memegang tangan Bibi Van dan menatap wanita paruh baya itu dengan wajah pucatnya,
"Bi... Bibi... Sakit...." rintihnya.
Bibi Van terlihat menangis dan mencoba kembali melakukan apapun untuk membantu Anna menghilangkan rasa sakitnya.
Roy yang panik melihat Anna mencoba kembali menghubungi seseorang. Namun, tidak ada jawaban dari seseorang yang dihubunginya,
"Sial!!!" desis Roy kesal.
Pria itu menghampiri Anna dan mencoba menenangkan gadis itu,
"Apakah sangat sakit???" tanya Roy khawatir.
Anna menggigit bibirnya untuk menahan sakit dan menggeleng pelan kearah Roy,
"Roy... Ja.. Jangan pedulikan aku... Tolong.. Tolong cepat temukan Alex.." ujar Anna terbata-bata dengan wajah memohonnya.
Roy pun seketika terdiam dan mengangguk pelan pada Anna,
"Aku sudah memerintahkan yang lain untuk mencari Alex.. Apakah tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu disini dengan Bibi Van dan yang lain???" tanya Roy lembut.
Anna pun kembali menahan sakitnya dan mengangguk cepat kearah Roy,
"Tolong.. Tolong cepat temukan Alex.." ujarnya.
Roy pun menghela nafasnya dan mulai berdiri,
"Baiklah.. Aku akan menyusul yang lain untuk menolong Alex" ujar Roy.
"Bibi.. tolong jaga Anna disini, aku akan kembali keatas sekarang" lanjutnya pada Bibi Van.
Bibi Van pun mengangguk pada Roy..
Roy dengan cepat memerintahkan beberapa anak buahnya untuk berjaga di samping Anna sampai bantuan tiba. Lalu, pria itu pun dan beberapa anak buahnya yang lain langsung berpencar untuk mencari Alex..
Disisi lain..
Erika dan Leonard tengah saling berhadap dan menatap tajam pada satu sama lain.
Erika memegang sebuah korek di tangannya dengan gemetar. Wanita itu tengah mengancam Leonard dengan korek itu, karena saat ini keduanya telah basah oleh minyak yang ada di drum tadi. Bahkan lantai dan beberapa benda di sekitar pun telah terkena oleh tumpahan minyak.
Jika korek itu menyala dan mengenai minyak, maka sudah dipastikan mereka akan langsung terbakar oleh api.
Leonard menyeringai pelan mendengar ucapan Erika dan mencoba kembali melangkah untuk mendekati wanita itu,
"Jangan bermain-main denganku Erika!!!!" desisnya tajam.
"Kau tidak mungkin mau membakar dirimu sendiri!!!" lanjutnya tajam.
Leonard perlahan kembali melangkah mendekati Erika untuk mengambil korek yang berada di tangan wanita itu, namun, dengan cepat Erika mundur dan mencoba menyalakan koreknya,
"Kau pikir aku sedang bermain-main dengan perkataanku????" tanya Erika tajam.
Wanita itu menahan tangisnya dan menggeleng pelan,
__ADS_1
"Kau tau... Aku akan melakukan apa saja untuk membalaskan kematian ayahku padamu!!!!" ujarnya tajam.
KREK!!!
Erika pun dengan cepat menyalakan korek api itu dan mengancam Leonard dengan tangannya yang bergetar.
"Walaupun.. aku harus mati sekalipun!!" teriaknya tajam.
Seketika Leonard langsung terdiam dan kembali tertawa pelan mendengarkan ucapan Erika,
"Erika... Erika... Kau terdengar sangat menyedihkan.." ucapnya mencemooh.
Perlahan Leonard pun kembali melangkah mendekati Erika dan tidak sedikit pun gentar dengan ancaman wanita di depannya itu,
"Jika kau ingin menyusul ayahmu...." ucapnya terputus.
Lalu dengan cepat ia pun mendekati Erika dan menahan tangan wanita itu dengan kuat untuk merebut korek yang berada di tangannya,
"SUSUL SAJA SENDIRI!!!!!!" lanjut Leonard sambil berteriak dan mencoba merebut korek di tangan Erika.
Erika yang terkejut seketika terkesiap dan menahan kuat korek yang ada di tangannya,
"Aakkhhh LEPASKAN!!!!!!" teriak Erika mencoba memberontak.
"JALAN SIALAN!!!!! BERIKAN PADAKU!!!!" teriak Leonard kencang.
Keduanya terlihat kembali saling bergulat untuk merebut korek yang sedang menyala itu.
Dan.. Tanpa sengaja korek yang mereka perebutkan itu mengenai rambut Erika dan membuat api langsung menjalar ke seluruh rambut wanita itu,
"AARRGGHHH!!!!" teriak Erika mencoba mematikan api di rambutnya.
Leonard yang terkejut seketika menarik korek yang berada di tangan Erika dan mendorong gadis itu sampai terjatuh,
"AARRGGHHH!!!" teriak Erika kepanasan.
Leonard dengan cepat mundur ke belakang dan melihat Erika yang menggeliat mencoba mematikan api di rambutnya. Namun, sayangnya api itu semakin menyebar ke seluruh tubuhnya dan juga ke sekeliling tempat itu.
Leonard menyeringai kecil dan membalikkan tubuhnya untuk segera keluar dari tempat itu...
Dan di tempat lain...
Terlihat Roy dan anak buahnya sudah berada di ruangan rahasia Leonard, dimana pria itu mengurung Alex disana sebelumnya.
Anak buah Roy yang sudah mengetahui kode pintu itu langsung menekan beberapa tombol dan dengan segera pintu itu pun terbuka,
"Cepat masuk!!!!" perintah Roy.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam dan alangkah terkejutnya Roy saat melihat Alex yang tengah terduduk lemah sambil menyentuh perutnya yang mengeluarkan banyak darah,
"ALEX!!!!!!" teriaknya dengan cepat langsung menghampiri pria itu.
"Alex kau tidak apa-apa??????" tanyanya khawatir.
"CEPAT TUTUPI LUKANYA!!!!!" teriaknya panik pada anak buahnya.
Roy tanpa menunggu lama langsung melepas pakaian atasnya dan menutupi luka di perut Alex,
"Kita harus segera ke rumah sakit!!!" ujarnya sambil mencoba membopong tubuh Alex.
Namun seketika Alex menahan bahu Roy,
"Pri... Pria itu.. Melarikan diri!!" ujar Alex memperingatkan.
Roy menghela nafasnya dan kembali membantu Alex untuk berdiri,
"Kau tidak usah khawatirkan itu.. Aku telah menelpon bantuan, dan sebentar lagi polisi akan kemari" ujar Roy.
Alex menaruh tangannya di bahu Roy sambil meringis kesakitan. Roy seketika kembali menatap khawatir melihat kedua pergelangan tangan Alex yang bersimbah darah dengan luka yang terbuka cukup lebar,
"Ya Tuhan tanganmu!!!!" ucapnya lagi panik.
Roy mendudukkan Alex di kursi dan meminta bantuan pada anak buahnya untuk menutupi luka di kedua telapak tangan Alex,
"Apa yang pria gila itu lakukan padamu???" tanya Roy menahan amarah.
Alex sedikit meringis saat Roy menutup lukanya dengan kain dan menjawab pertanyaan pria itu dengan singkat,
"Dia menyerangku dengan samurai itu" jawabnya sambil menatap sebuah samurai yang tergeletak tak jauh dari mereka.
Roy seketika membelalakkan matanya dan mencoba menahan amarah,
"Dasar psikopat gila!!!! Darimana dia mendapatkan samurai ini!!! Bukankah itu ilegal!!!" ujarnya geram.
Alex tidak menjawab perkataan Roy dan seketika menatap pria di depannya dengan cemas saat mengingat istrinya,
"Dimana Anna??? Apa kau melihatnya??? Apa Anna baik-baik saja???" tanyanya bertubi-tubi dengan tidak sabaran.
Alex pun langsung mencoba berdiri namun seketika ia kembali meringis saat merasa perutnya semakin sakit,
"Aakkhhh!!!" rintihnya.
Roy dengan sigap langsung menahan tubuh Alex dan mencoba menenangkannya,
"Tenang Alex!!! Kau masih terluka" ujarnya cemas.
Alex tidak mengindahkan rasa sakitnya dan kembali menatap Roy,
"Jawab aku!!!!!!! Apa Anna baik-baik saja???" tanyanya menuntut.
Roy pun menatap Alex dan menghela nafasnya,
"Anna sedang berada di bawah dengan Bibi Van dan pengawalmu" jawabnya.
Namun Roy seketika menunduk dan kembali menatap Alex dengan ragu,
"Tapi... Tapi.. sepertinya, Anna mengalami pendarahan" ucap Roy yang langsung membuat Alex membelalakkan matanya.
"APA?????" ucapnya panik.
Seperti tidak peduli dengan luka yang berada di tubuhnya. Alex dengan segera berdiri dan hendak melangkah untuk segera menemui istrinya dengan cemas,
"Aku harus bertemu dengan Anna!!!!" ujarnya tidak sabaran.
Roy pun ikut berdiri dan hendak menahan Alex. Namun, tiba-tiba sebuah ledakan mengagetkan mereka semua,
DUARRR!!!!!
Seketika Roy langsung menunduk dan menatap ke sekeliling untuk mencari tau darimana sumber suara itu,
"Apa itu?????" tanyanya dengan panik.
Alex tidak memperdulikan hal itu dan hendak kembali melangkah pergi untuk menemui istrinya.
Lalu salah seorang anak buah Roy seketika berlari masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah cemasnya,
"API!!!!! ADA API YANG MENYEBAR DARI LANTAI ATAS!!!" ujarnya panik.
Bersambung...
Hallo, jangan lupa kasih komen, like, vote dan hadiahnya ya ☺️
Itu sangat-sangat berarti bagi author receh ini 🥲
Setidaknya kasih jejak juga di kolom komentarnya 😁
Author juga mau ngucapin terimakasih buat readers yang masih setia nungguin cerita ini, walaupun up nya agak lama hehe..
Terimakasih ya ❤️🙏
__ADS_1
Oh iya, author juga minta dukungannya ya buat novel kedua author yang judulnya 'Mysterious Man' ☺️🙏