Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Meet You


__ADS_3

Austin memasuki ruang rawat putranya dalam diam. Saat pria paruh baya itu masuk, tatapannya langsung tertuju pada putranya yang terdiam dengan tatapan kosongnya. Sedangkan istrinya tengah tertunduk dengan bahu yang bergetar.


Austin menunduk sesaat dan menghela nafasnya. Pria itu pun melangkah pelan kearah putranya dan menyentuh pundak sang istri dengan lembut.


Bella mengangkat wajahnya dan menatap sang suami sambil menghapus air matanya,


"Sudah jangan menangis..." ujar Austin pelan pada Bella.


Bella menggeleng pelan sambil menahan isak tangisnya. Lalu wanita itu bangkit dari duduknya dan menatap Austin dengan air mata yang berlinang,


"Bicaralah padanya... Aku butuh waktu untuk menenangkan diri..." ujar Bella pelan lalu berlalu keluar dari ruangan Daniel.


Austin menghela nafasnya dan mulai duduk di samping tempat tidur Daniel. Pria paruh baya itu terdiam sesaat, lalu mengangkat wajahnya dan menatap putranya dengan serius,


"Kenapa kau menyembunyikan semua ini pada kami???" tanya Austin pelan.


Daniel terlihat terdiam dengan matanya yang mulai berkaca-kaca,


"Maaf....." bisiknya pelan.


Austin menghela nafasnya kembali dan menutup matanya sejenak,


"Mengapa kau menjadi seperti ini Daniel???" tanya Austin kembali.


"Apa hanya karena kau tidak bisa hidup bersama seseorang yang kau cintai, kau memilih hidup seperti ini???"


"Hidup yang tak tentu arah, hidup yang berantakan... Seperti seseorang yang tak memiliki arah..." ujar Austin tak habis pikir.


"Bahkan.. kau lebih memilih untuk mati daripada melanjutkan hidupmu hanya karena seorang wanita..." lanjut Austin pelan.


Pria paruh baya itu kembali menghela nafasnya dan menatap Daniel dalam,


"Apa kau tidak memikirkan perasaan kami, ibu dan ayahmu???" tanyanya lagi.


"Apa kau tidak memikirkan bagaimana hidup kami nantinya jika kami kehilanganmu, putra kami satu-satunya????" ujar Austin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Seketika Daniel pun mengarahkan pandangannya kearah Austin dengan mata yang berkaca-kaca pula,


"Berhentilah hidup seperti ini Daniel....." bisik Austin menatap Daniel dalam.


"Aku sangat menyayangimu.... Ibumu juga sangat... sangat menyayangimu... Apa kau bisa membayangkan bagaimana hidup kami jika tidak ada dirimu???" tanyanya lagi.


Air mata pun mengalir di sudut mata Daniel. Pria itu menutup matanya sejenak,


"Berhentilah... Berhentilah hidup seperti ini... Kau masih memiliki kami... Kau masih memiliki banyak hal yang bisa kau cintai..." ujar Austin.


Daniel kembali menatap Austin dalam,


"Maafkan aku.." bisik Daniel.


Disisi lain..


Bella terduduk di salah satu kursi tunggu di luar ruangan Daniel.


Wanita itu masih terlihat menunduk dan menangis. Perasaannya sangat hancur melihat putranya yang telah berubah menjadi seperti itu.


Dia tidak ingin kehilangan putranya. Dia ingin Daniel kembali seperti dulu, menjadi seorang Daniel yang penuh semangat, optimis dan periang..

__ADS_1


Wanita itu tidak tau jika cinta dapat membuat hidup putranya menyedihkan seperti ini. Bahkan putranya itu sampai memilih untuk mengakhiri kehidupannya hanya karena cinta yang bertepuk sebelah tangan..


Bella masih menundukkan wajahnya. Namun, seketika sepasang sepatu wanita berdiri di hadapannya.


Seketika Bella pun mengangkat wajahnya dan langsung membelalakkan matanya saat melihat seorang gadis yang sudah dia anggap sebagai anaknya berada tepat di hadapannya,


"A... Anna...." bisiknya.


Anna menatap wajah Bella dengan mata yang berkaca-kaca.


Gadis itu menahan tangisnya dan mencoba untuk tersenyum pada Bella,


"Bibi....." ujar Anna pelan.


Bella pun menghapus air matanya dan berdiri di hadapan Anna. Lalu pandangannya beralih ke belakang dan melihat Alex yang berdiri tidak jauh dari Anna dan tersenyum tipis kearahnya,


Seketika Bella kembali menatap Anna dan langsung memeluk tubuh gadis itu.


Dengan cepat, Anna pun membalas pelukan Bella sambil menahan tangisnya,


"Maafkan Bibi Anna..." bisik Bella terisak.


Air mata Anna pun mengalir di pipinya, gadis itu menggeleng pelan dan menghapus air matanya dengan cepat,


"Tidak Bibi... Kenapa Bibi harus meminta maaf" bisik Anna.


Gadis itu pun melepaskan pelukannya dan mengusap bahu Bella dengan lembut. Bella menghapus air matanya dan menyentuh pipi Anna,


"Bibi memang harus meminta maaf padamu atas semua hal yang telah terjadi.." ujarnya.


"Aku senang kau mau datang kemari Anna..." lanjut Bella.


"Bibi.. Bagaimana keadaan Daniel???" tanya Anna pelan.


Sebelumnya saat di mobil, Alex telah menceritakan semuanya pada Anna. Pria itu memutuskan untuk tidak membohongi istrinya.


Dia memendam segala egonya dan mengatakan semuanya pada Anna, termasuk penyakit Daniel yang saat itu baru Alex ketahui.


Setelah Alex menceritakannya, Anna sempat syok dan sedih. Namun, Alex kembali mengatakan bahwa sepertinya Daniel telah berubah.


Lalu setelah itu, Anna pun meminta izin pada Alex untuk menjenguk Daniel di rumah sakit.


Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Alex pun mengizinkan Anna dan membawanya ke rumah sakit untuk menemui Daniel.


Bella menghela nafasnya dan menatap Anna dengan ragu,


"A.. Apa... Kau sudah tau semuanya???" tanya Bella.


Anna pun mengangguk pelan,


"Alex telah menceritakan semuanya padaku" jawab Anna.


Bella mengarahkan pandangannya pada Alex dan tersenyum padanya,


"Aku tidak tau bagaimana sebenarnya perasaan Daniel, dan seberapa dalam kesedihannya, sampai-sampai dia melakukan perbuatan yang negatif seperti itu.." ujar Bella.


"Maaf Anna... Aku merasa sangat bersalah padamu..." bisiknya lagi.

__ADS_1


Anna kembali menggeleng dan menyentuh bahu Bella dengan lembut,


"Tidak ada yang perlu di maafkan Bibi... Aku yang seharusnya meminta maaf" ujar Anna pelan.


Bella kembali meneteskan air matanya dan menatap dalam pada Anna,


"Aku hanya menginginkan putraku kembali sehat dan hidup bahagia seperti dulu.. Aku tidak mau kehilangannya Anna.." ungkap Bella sedih.


Anna pun mengangguk dan memeluk tubuh Bella,


"Iya Bibi... Aku yakin, semuanya pasti akan baik-baik saja.." bisik Anna.


Sedangkan di dalam ruangan, Austin masih berbicara dengan putranya.


Pria paruh baya itu menatap Daniel dengan serius,


"Ayah ingin kau segera melakukan pengobatan!" ujar Austin tegas.


Daniel menatap ayahnya dan tersenyum miris,


"Apa setelah itu ayah akan menjamin aku akan sembuh???" tanya Daniel dengan tatapan kosongnya.


Pria itu pun menatap langit-langit di atasnya lalu menghela nafasnya,


"Aku merasa hidupku tidak akan lama lagi.." lanjut Daniel putus asa.


Austin menggertakkan giginya dan menatap Daniel dengan tatapan tidak sukanya,


"Hidup dan mati itu sudah di rencanakan oleh Tuhan.. Semua orang pasti akan mati pada akhirnya.. Tapi, setidaknya kita harus mencoba dan berusaha" ujar Austin tegas.


"Apa kau tidak kasihan pada ibumu??" tanya Austin dengan mata berkaca-kaca.


Daniel kembali menitikkan air matanya dan terdiam mendengar ucapan Austin.


Tiba-tiba pintu pun terbuka dan memperlihatkan Bella yang kembali masuk ke dalam ruangan.


Wanita itu mendekati suaminya dan berbisik pelan padanya. Seketika Austin pun terdiam dan menghela nafasnya.


Pria itu bangkit dari duduknya dan menatap sang putra,


"Pikirkanlah... Aku akan keluar sebentar" ujarnya.


Lalu Austin dan Bella pun keluar dari ruangan Daniel, meninggalkan pria itu seorang diri dengan pikirannya.


Pria itu menutup matanya dan menghela nafasnya pelan. Lalu tiba-tiba pintu ruangannya pun kembali terbuka.


Daniel membuka matanya dan menatap kearah pintu,


DEG!!


Seketika pria itu membelalakkan matanya saat melihat seorang wanita yang sangat dia cintai sedang berdiri di depan pintu,


"A... Anna...." bisiknya.


Bersambung..


Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️

__ADS_1


Terimakasih 🙏❤️


__ADS_2