Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Feel Guilty


__ADS_3

"Bibi.. Perutku.. Perutku sakit.." rintih Anna.


Bibi Van pun dengan cepat menghampiri Anna sambil menyentuh perutnya,


"Apakah sangat sakit Nona??" tanyanya mulai panik.


Anna kembali merintih dan merasakan perutnya semakin terasa kram dan sakit. Apa yang terjadi?? pikir Anna yang mulai cemas.


Erika terlihat baru keluar dari dalam kamarnya. Wanita itu berjalan dengan gemetar kearah ruang makan. Setelah dirasa Alex telah benar-benar berangkat ke kantor, Erika pun memberanikan diri untuk keluar.


Wanita itu melangkah kearah ruang makan. Dari kejauhan dia dapat mendengar suara Bibi Van yang terlihat cemas.


Dengan jantung yang berdebar Erika pun mengintip dan melihat kearah Bibi Van dan Anna. Erika dapat melihat Anna yang sedang merintih kesakitan. Wanita itu menggigit jarinya dengan perasaan yang bercampur aduk. Dia tidak tega mendengar rintihan Anna dan melihat Bibi Van yang terlihat panik.


Dengan cepat Erika pun menghampiri mereka,


"Bibi!! Ada apa??" tanya Erika panik.


Bibi Van mengarahkan pandangannya pada Erika dan menggeleng dengan cemas,


"Bibi tidak tau.. Nona tiba-tiba merintih kesakitan seperti ini" ujarnya panik.


Anna masih merintih kesakitan sambil memegang perutnya. Bibi Van dengan cepat menatap kearah telepon rumah,


"Bibi akan menghubungi Tuan Alex! Kita harus segera membawa Nona ke rumah sakit.." ujarnya cepat.


Dengan tatapan paniknya Erika pun mencoba menghentikan Bibi Van,


"Tunggu Bi!! Bi.. Biar aku saja yang menghubunginya" ujar Erika cepat.


Bibi Van pun mengangguk dan kembali mencoba menenangkan Anna. Erika melangkah kearah telepon rumah dan terdiam sejenak. Wanita itu terlihat berpikir dengan jantung yang berdegup kencang.


Setelah itu Erika pun mengangkat teleponnya dan berpura-pura menekan tombol telepon. Dengan tangan gemetar Erika meletakkan ganggang telepon ke telinganya dan menunggu beberapa saat. Setelah itu Erika menutup teleponnya dan kembali menghampiri Bibi Van dan Anna,


"Alex.. Alex tidak mengangkat teleponnya" ujarnya berbohong.


Bibi Van semakin terlihat panik dan menyentuh bahu Anna dengan lembut,


"Kalau begitu kita akan ke rumah sakit sekarang saja, Bibi akan menyuruh pengawal untuk mengantar kita" ujarnya cepat.


Bibi Van mengambil walkie talkie dan menghubungi pengawal untuk segera datang dan membawa Nona Anna ke rumah sakit.


Tidak perlu menunggu lama, pengawal pun datang dan menghampiri Bibi Van dengan cepat,


"Cepat kita bawa Nona ke rumah sakit sekarang!!" perintahnya.


Pengawal pun dengan cepat membantu membopong tubuh Anna bersama Bibi Van. Erika yang melihat itu seketika terlihat takut dan menyusul Bibi Van,


"Aku akan ikut!!" ujarnya.


Bibi Van menatap Erika dan mengangguk,


"Ayo, kita harus cepat!" ujarnya.


Setelah itu mereka pun membawa Anna ke rumah sakit..


Disisi lain, Alex masih berada di perjalanan menuju kantor. Pria itu terlihat masih fokus menatap jalan di depannya.


Drtt..


Drtt..


Tiba-tiba handphone Alex bergetar. Pria itu memasang earphonenya dan mengangkat panggilan itu,


"Hallo" jawabnya datar.


Dari balik sana terdengar suara Harry yang tengah menahan kegugupan,


("Ha.. Hallo Tuan") jawabnya takut-takut.

__ADS_1


Alex yang mendengar suara Harry seketika dapat merasakan ada sesuatu yang tidak beres,


"Cepat katakan ada apa!!" perintah Alex.


Harry terdengar menghela nafasnya dan mulai berbicara pada Alex,


("Tuan.. Ada berita buruk..") ucapnya terputus beberapa saat.


Alex terlihat sedikit tidak sabar untuk mendengarkan kelanjutan dari ucapan Harry,


("Ada yang telah berhasil menggelapkan uang di perusahaan kita Tuan.. Dan.. Dan jumlahnya cukup fantasis..") lanjut Harry cemas.


Alex mengerutkan keningnya sejenak,


"Apa maksudmu?? Bicara yang jelas!!" ujar Alex tajam.


Harry kembali menghela nafasnya sesaat,


("Perusahaan Locorp telah menipu kita Tuan!! Mereka melakukan kecurangan dan berhasil mencuri beberapa data di perusahaan!!") lanjut Harry.


("Apa yang harus kita lakukan sekarang Tuan??") tanyanya khawatir.


Alex terlihat terdiam sejenak dan menyeringai tipis,


"Sudah kuduga.." ucapnya pelan.


Alex memang telah menebak kelicikan Leonard sejak awal. Pria itu sengaja bekerjasama dengan Leonard untuk memancingnya. Dan, ternyata dugaannya semua benar. Tapi, Alex tidak menyangka pria itu akan bertindak secepat ini, pikirnya.


Seketika Alex pun memberhentikan mobilnya disisi jalan dan terlihat cemas. Tunggu.. Sepertinya pria itu telah memulai rencananya, pikir Alex.


Dan, bukankah Erika juga termasuk orang yang bekerjasama dengan pria itu?? pikirnya lagi.


Jika pria itu telah bertindak, maka kemungkinan besar Erika juga sama..


Seketika Alex melepaskan earphonenya dan memutar setirnya untuk kembali ke rumah. Tiba-tiba saja perasaan pria itu menjadi tidak enak dan khawatir. Padahal Alex sudah sangat dekat dengan kantornya. Namun, pria itu tidak peduli dengan masalah di kantor. Yang dia pikirkan sekarang adalah istrinya.. Anna..


Apa yang akan Erika lakukan?? pikir Alex cemas.




Bibi Van dan Erika menuntun Anna untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Anna terlihat masih merintih menahan sakit. Dokter kandungan pribadi Anna langsung menidurkannya dan memeriksa Anna serta kandungannya. Sedangkan Bibi Van dan Erika menunggu di luar ruangan dengan cemas.



Bibi Van terlihat mondar-mandir sambil berdoa agar Anna dan calon bayinya baik-baik saja. Sedangkan Erika juga terlihat khawatir dan takut secara bersamaan.



Ada sedikit rasa penyesalan di dalam hatinya. Dia merasa sangat kejam dan keterlaluan. Erika berdoa di dalam hatinya semoga saja Anna dan kandungannya masih dalam keadaan baik-baik saja dan sehat..



Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dokter pun keluar dari ruangan. Bibi Van dengan cepat menghampiri dokter itu,



"Bagaimana keadaan Nona dok??" tanyanya panik.



Dokter tersenyum menanggapi pertanyaan Bibi Van sambil menyentuh bahunya,



"Nona Anna baik-baik saja, dan.. kandungannya juga baik dan sehat.." ucap dokter itu.


__ADS_1


"Nona Anna hanya mengalami kram di perutnya, dan itu adalah hal yang biasa dan wajar. Hanya kontraksi kecil.." lanjut dokter yang membuat Bibi Van menghela nafas leganya seketika, begitu juga dengan Erika,



"Syukurlah.. Terimakasih Tuhan.." ucap Bibi Van.



Erika tersenyum kecil dan mulai merasa lega, sepertinya cairan tadi memang belum sempat dia tuangkan. Dan Erika merasa sangat bersyukur akan hal itu. Dia benar-benar akan sangat merasa bersalah dan berdosa jika sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Anna.



"Kalian boleh masuk ke dalam untuk melihat Nona Anna, dia sudah baik-baik saja" ujar dokter.



Bibi Van pun mengangguk dan mulai masuk ke dalam ruangan untuk melihat Anna. Sedangkan Erika masih berdiri di depan pintu dan terlihat ragu untuk masuk.



Dokter menatap kearah Erika dan mendekatinya,



"Apa.. kau masih satu keluarga dengan Nona Anna??" tanyanya.



Erika menatap dokter itu dan dengan ragu mengangguk pelan,



"Iya... Aku masih satu keluarga dengan Anna" ujarnya pelan.



Dokter pun mengangguk dan menatap Erika serius,



"Bisakah aku meminta bantuanmu??" tanyanya.



Erika seketika mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan dokter itu dan mengangguk pelan,



"Aku belum memberitahu Nona Anna tentang hal ini karena Nona Anna sendiri yang meminta untuk tidak memberitahunya sebelum usia kandungannya memasuki 7 bulan.. Tetapi sebentar lagi usia kandungannya akan memasuki 7 bulan, dan sebagai anggota keluarganya aku ingin menyampaikannya dulu padamu untuk mengantisipasi.." ujar dokter itu.



"Nona Anna.... sedang mengandung anak kembar.." lanjutnya yang membuat Erika terkejut seketika.



Bersambung..



Halo, support selalu cerita ini ya,


Jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️



Yuk, bikin author semangat lagi nulis dengan tinggalkan jejak di kolom komentar 🙏😁


__ADS_1


Dan, jangan lupa kalau baca novel jangan lupa waktu ya, dan ibadah juga ☺️🙏


__ADS_2