Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Attraper


__ADS_3

"Kau membuat kesabaranku habis!!!!" desis Leonard.


"AKU AKAN MEMBUATMU MENYESAL BAJINGAN!!!!!" teriak Leonard sambil mengangkat kayu itu untuk memukul Alex kembali.


"MATI KAU KEPARAT!!!!!!!"


Leonard mengangkat kayunya keatas dan hendak memukul Alex dengan sekuat tenaganya.


WUSHH!!!


Namun tiba-tiba kayu itu tertahan tepat di atas wajah Alex yang tak sadarkan diri.


Leonard menggertakkan giginya dengan kuat dan kembali menarik kayunya menjauh dari wajah Alex.


"SIALAN!!!!!" teriaknya.


BRUK!!!


Leonard membuang kayu yang ada di tangannya dan menatap wajah Alex dengan penuh amarah,


"Aku tidak bisa membunuhmu sekarang!!!!" geramnya.


Leonard menundukkan wajahnya dan menatap Alex dengan geram. Pria itu mengangkat kakinya dan menginjak dada Alex lalu menekannya,


"Jika aku membunuhmu sekarang.. bukankah itu terlalu mudah??" ujarnya tajam.


Pria itu kembali menekan kakinya lebih kuat lagi pada dada Alex,


"Aku akan membunuhmu secara perlahan dan menyakitkan!!!" desisnya lagi.


"Kau akan merasakan siksaan yang lebih kejam daripada di neraka!!!!!" teriaknya lagi sambil menendang perut Alex.


BUGH!!!


"KEPARAT SIALAN!!!!" teriaknya.


"Cepat bawa pria ini ke ruang rahasia!!!" perintahnya pada anak buahnya.


Dengan cepat anak buah Leonard pun mendekati Alex dan membopongnya untuk di bawa ke ruangan yang telah di persiapkan Leonard sebelumnya.


Leonard merapihkan jas nya dan mendelik pada salah satu anak buahnya,


"Dimana Erika??? Bukankah aku menyuruhmu untuk membawanya kemari???" tanyanya tajam.


Anak buah Leonard itu menunduk pelan dan menatap Leonard dengan takut,


"Maaf Tuan, aku tidak menemukan Nona Erika di sekitaran gedung ini... Kurasa sepertinya dia ikut dengan Tray dan Lim membawa gadis itu ke dalam hutan" jawabnya.


Seketika Leonard pun menatap anak buahnya itu dan menarik kuat kerah bajunya,


"Brengsek!!!! Cepat hubungi kedua pria bodoh itu!!! Dan bawa Erika serta gadis itu kembali kemari!!!" geramnya marah.


"Mulai saat ini... Erika juga adalah musuh kita!!!!" lanjutnya tajam.


Leonard pun melepaskan cengkramannya pada anak buahnya itu dan mendorongnya kuat,


"Ba.. Baik Tuan" jawabnya cepat lalu segera bergegas keluar.


Leonard menutup matanya dan menghela nafasnya dengan kasar. Sebelumnya dia telah memeriksa cctv karena penasaran dengan bunyi benda yang jatuh sebelumnya di depan ruangan tadi.


Dan benar seperti dugaannya, Erika lah yang menjatuhkan benda itu dan menguping pembicaraannya dengan anak buahnya tadi.


Leonard menyeringai pelan dan tertawa dengan licik,


"Kau pikir aku bodoh????" ucapnya sinis pada diri sendiri.


"Erika... Waktumu sudah habis!!! Aku akan segera membuatmu menyusul ayah tercintamu itu..!!" bisiknya dengan senyuman jahat.



Erika menghapus air matanya dengan kasar dan menghela nafasnya dalam.



Sekarang dia sudah tau kebusukan apa yang selama ini di sembunyikan oleh Leonard. Erika tidak ingin lagi menjadi kaki tangan pria itu dan melancarkan rencana Leonard untuk membunuh Alex,



"Yang seharusnya mati adalah kau!!!!" geramnya penuh emosi.



Erika pun menegakkan tubuhnya dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Namun, dua orang anak buah Leonard yang membawa Anna tadi tiba-tiba sudah berada di hadapannya,



"Nona.. Apa yang kau lakukan disini??" tanya salah satu pria itu pada Erika.



Erika seketika menatap para pria itu dengan terkejut dan mencoba menenangkan dirinya agar tidak membuat mereka curiga,



"Te.. Tentu saja aku mencari kalian!!" ujarnya tegas.



Erika melihat ke belakang para pria itu dan berpura-pura seperti mencari seseorang,



"Dimana gadis itu???" tanya Erika tajam.


__ADS_1


Seketika para pria bertopeng itu terlihat gugup,



"I... Itu... Dia.. melarikan diri" jawab salah satu pria.



Erika lagi-lagi berpura-pura terkejut dan menatap marah pada kedua pria itu,



"APA???" teriaknya.



"Kenapa dia bisa melarikan diri????" tanyanya tajam



Para pria itu terlihat gugup dan menatap Erika dengan sedikit takut. Bagaimana pun yang mereka tau Erika adalah istri dari Boss mereka Leonard. Mereka tidak mau jika Erika sampai mengadu pada Leonard. Jika itu terjadi, maka nyawa mereka akan terancam.



"Ma.. Maafkan kami... Kami akan segera mencarinya" ujar pria itu terburu-buru.



Erika menghela nafasnya kasar sambil memijat keningnya,



"Cepat cari dia sampai dapat!!!" perintahnya tajam.



"Jika tidak... Maka kalian akan tau konsekuensinya!!" lanjutnya.



Seketika dua pria itu langsung mengangguk cepat,



"Baik Nona!!!" jawab mereka bersamaan.



Dua pria itu pun dengan cepat kembali menyusuri hutan itu untuk mencari keberadaan Anna.



Erika yang sudah melihat kedua pria itu menjauh dengan segera berbalik arah untuk meninggalkan hutan itu..




Tiba-tiba terdengar suara gemuruh petir yang cukup kencang. Erika menatap keatas langit. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, pikirnya.



Erika pun seketika teringat dengan Anna..


Gadis itu terlihat sangat kelelahan dengan wajah pucatnya tadi.



Erika tiba-tiba merasa cemas dan takut terjadi sesuatu hal yang tidak-tidak pada Anna. Dan, Erika juga takut kedua anak buah Leonard tadi kembali menemukan Anna.



Tanpa pikir panjang, Erika pun melangkah cepat untuk menemukan Anna. Gadis itu pasti belum jauh dari sini, dia harus segera menemukannya, pikirnya.



Disisi lain, kedua pria bertopeng tadi belum terlalu jauh melangkah dari tempat Erika. Tiba-tiba salah satu dari mereka merasakan handphone di dalam sakunya bergetar.



Dengan cepat pria itu berhenti melangkah dan mengambil handphonenya,



"Siapa???" tanya pria bernama Lim.



Tray melihat nama 'Madison' di layar handphonenya,



"Gawat! Habislah kita" ujarnya cemas.



Dengan cepat pria itu pun mengangkat panggilannya,



"Ha... Hallo" ucapnya gugup.



("Kau dimana??? Mengapa begitu lama??") tanya seseorang di balik sana.

__ADS_1



Tray menelan ludahnya dan menghela nafasnya pasrah,



"Maaf Mad... Kami... Kami kehilangan gadis itu.. Dia... Dia melarikan diri" jawabnya takut.



("APA????? DASAR BODOH!!! MENGURUS WANITA HAMIL SAJA KALIAN TIDAK BISA!!!") bentaknya keras.



Tray dan Lim terlihat ketakutan,



"Tenang saja Mad, kami pasti akan menemukannya! Nona Erika juga membantu kami mencari gadis itu" ujarnya meyakinkan.



("DASAR BODOH!!! Cepat cari gadis itu sampai dapat!! Dan.. tangkap juga Nona Erika!!") perintahnya keras.



Tray dan Lim terlihat mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Madison,



"Nona Erika?? Mengapa kami juga harus menangkap Nona Erika???" tanyanya.



Madison terdengar menghela nafasnya dan berdecak kesal,



("Mulai saat ini dia adalah musuh kita!!! Ini perintah Tuan Leonard!!! Cepat cari dan tangkap mereka!!! Jika tidak....") ujarnya terputus.



("Maka nyawa kalian sebagai gantinya!!!") lanjutnya tajam.



Seketika Tray dan Lim pun terlihat ketakutan,



"Ba.. Baik, kami akan segera mencari mereka" jawab Tray cepat.



DUARR!!!


Suara gemuruh petir terdengar cukup keras dan saling bersahutan. Anna masih mencoba berjalan di tengah hutan sambil menyentuh setiap pohon yang dilaluinya untuk bersandar.


Tubuhnya telah basah oleh keringat. Wajahnya juga terlihat sangat pucat..


Gadis itu sudah terlihat sangat lelah dan lemas..


"Aku... harus.. segera... keluar dari sini..." bisiknya pelan.


Tes..


Tes..


Tiba-tiba air hujan pun perlahan mulai turun dengan lebatnya.


Anna menatap kearah langit dan dengan segera berjalan menggapai satu pohon yang cukup besar dan rindang lalu menyandarkan tubuhnya disana.


Gadis itu sudah sangat kelelahan. Dia pun perlahan menurunkan tubuhnya dan duduk bersandar di pohon itu.


Tubuhnya sudah basah kuyup terkena hujan. Anna memeluk tubuhnya dan menengadahkan kedua tangannya untuk menampung air hujan dan meminumnya.


Gadis itu sangat haus dan lapar. Anna memanfaatkan air hujan itu untuk mengisi perutnya.


Setelah cukup, Anna pun menyandarkan tubuhnya di pohon sambil menyentuh perutnya.


Tes..


Air mata gadis itu perlahan mengalir di pipinya. Anna mengusap pelan perutnya dengan lembut,


"Maafkan mama sayang.. Kau harus melewati semua ini.." ujarnya pelan.


Satu tangan gadis itu tiba-tiba menyentuh dadanya yang terasa sesak. Entah mengapa perasaan Anna menjadi tidak enak.


Pikirannya pun tertuju pada sang suami, Alex. Anna sangat takut jika sesuatu hal yang buruk terjadi pada suaminya.


Gadis itu mencoba menghela nafasnya pelan dan menenangkan diri. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah berdoa. Dia berharap semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Alex,


'Ya Tuhan, jagalah kami...' doanya dalam hati.


Bersambung...


Halo, support selalu cerita ini ya,


Jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️


Yuk, bikin author semangat lagi nulis dengan tinggalkan jejak di kolom komentar 🙏😁


Dan, jangan lupa kalau baca novel jangan lupa waktu ya, dan ibadah juga ☺️🙏


Maaf ya jarang update, maklum ide terkadang mentok dan ngak jalan 🤧🙏

__ADS_1


__ADS_2