
Acara pertukaran cincin telah selesai. Saat ini orang-orang tengah memberikan selamat pada pasangan yang sudah resmi bertunangan. Ada juga beberapa tamu yang memilih makan dan ada juga yang berdansa di lantai khusus untuk pasangan yang ingin berdansa.
Alex mengulurkan tangannya pada Anna dan tersenyum lembut,
"Maukah kau berdansa denganku???" tanya Alex lembut.
Anna menatap uluran tangan Alex dan tersenyum ragu. Sebenarnya dia sedikit malu untuk berdansa disini. Namun, Alex kembali menatapnya dan mengangguk pelan.
Anna pun perlahan mengulurkan tangannya dan berjalan bersama Alex menuju lantai dansa.
Tangan Alex merangkul pinggang Anna dengan lembut, dan tangan satunya lagi meraih tangan gadis itu untuk di genggamnya.
Anna membalas genggaman tangan Alex dan menaruh satu tangannya di dada pria itu.
Musik mengalun dengan indah dan romantis. Cahaya lampu pun sedikit meredup, membuat suasana semakin indah dan intens.
Tubuh Anna dan Alex mengalun indah mengikuti suara musik yang merdu. Alex tidak pernah melepaskan pandangannya dari wajah cantik kekasihnya itu.
"Kau sangat cantik..." bisik Alex intens yang membuat Anna merona seketika.
"Kau sudah mengatakannya berulang kali" ujar Anna sedikit bergurau.
Alex pun tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada wajah Anna,
"Itu karena aku berkata jujur.. Dan aku sama sekali tidak pernah bosan mengatakannya" bisik Alex.
Pria itu pun memutar tubuh Anna dan menahan tubuh gadis itu dengan satu tangannya. Mereka saling bertatapan dengan mesra untuk beberapa saat, sampai Alex kembali menegakkan tubuh Anna dan membawanya kembali pada pelukannya.
Musik mulai mengalun dengan lambat dan merdu. Alex merangkul pinggang gadis itu dengan kedua tangannya dan menuntun tangan Anna untuk merangkul lehernya.
Mereka menggerakkan tubuh dengan mengikuti alunan musik yang merdu. Alex menempelkan keningnya pada kening gadis itu dan menatapnya intens,
"Menurutmu, bagaimana dengan acara pertunangan ini?? Apakah kau lebih suka melakukan pertunangan terlebih dahulu baru menikah?? Atau tidak???" tanya Alex pelan pada Anna.
Anna terlihat berpikir sejenak dan terlihat bingung. Gadis itu menggeleng pelan dan kembali menatap Alex,
"Aku tidak tau... Menurutmu???" tanya Anna balik.
Alex sedikit menjauhkan wajahnya dan menatap mata Anna,
"Jika bisa langsung menikah, untuk apa melakukan pertunangan" jawab Alex singkat.
Anna pun menggigit bibinya dan tersenyum kecil. Sebenarnya ucapan Alex ada benarnya. Untuk apa pasangan melakukan pertunangan terlebih dahulu??? pikir Anna tidak mengerti.
Alex kembali memajukan wajahnya dan menempelkan hidungnya pada hidung Anna,
"Jangan menggigit bibirmu seperti itu.. Kau membuatku ingin menciumnya" bisik Alex.
Pria itu pun hendak menempelkan bibirnya pada bibir Anna. Namun dengan cepat Anna menutup bibir pria itu dengan tangannya,
"Alex, disini tempat umum" bisik Anna pelan.
Alex pun membuka matanya dan menghela nafasnya pasrah,
"Baiklah, aku akan melakukannya saat kita pulang nanti" ujar Alex sedikit kecewa.
Pria itu pun menyentuh tangan Anna yang berada di bibirnya dan mengecupnya lama.
Setelah berdansa, Alex dan Anna pun menikmati hidangan yang telah tersaji di pesta itu.
Hari sudah sangat larut, Anna dan Alex pun memutuskan untuk pulang. Di perjalanan pulang, terlihat Anna tidak bisa menahan kantuknya dan tertidur pulas.
Alex tersenyum lembut dan mengusap pipi gadis itu dengan satu tangannya.
Setelah perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya mobil Alex telah tiba di halaman rumahnya. Para pengawal dan Bibi Van telah menunggu Alex di halaman.
Dengan cepat para pengawal itu membawa dua koper dan memasukkannya ke dalam mobil Alex. Bibi Van menghampiri kaca mobil Alex yang terbuka.
"Semuanya sudah siap Tuan" ujarnya.
Alex pun mengangguk pelan,
"Terimakasih Bibi" ujarnya.
__ADS_1
Bibi Van pun tersenyum dan mengangguk. Tatapannya mengarah pada Anna yang sedang tertidur,
"Hati-hati di jalan Tuan.. Aku menunggu kabar baiknya" ujar Bibi Van penuh arti.
Alex pun tersenyum lalu kembali membawa mobilnya pergi diikuti oleh beberapa mobil bawahannya.
Alex menyalakan earphone di telinganya dan menghubungi seseorang,
"Aku dalam perjalanan.." ujar Alex pada seseorang di balik sana.
"Baiklah... Terimakasih, Bibi" ujar Alex lalu mematikan panggilannya.
Tatapannya kembali mengarah pada Anna,
'Sayang... Inilah waktunya...' ujar Alex dalam hatinya.
Dan mobil Alex pun melaju keluar dari kediamannya menuju suatu tempat.
-
Sebuah mobil sedang terparkir di depan sebuah rumah yang cukup kecil dan sederhana. Di dalam mobil itu terlihat seorang pria yang sedang memperhatikan rumah itu dalam diam.
Dia kembali menatap kertas di tangannya dan mencocokkan alamat rumah itu dengan rumah di depannya.
'Benar, ini rumahnya' pikirnya yakin.
Pria itu pun fokus pada rumah itu dan menunggu, siapa tau ada seseorang yang akan keluar.
Tiba-tiba pintu rumah itu pun terbuka. Dan membuat pria di dalam mobil berdebar tidak karuan.
Terlihat seorang wanita paruh baya keluar rumah itu sambil membawa seember besar pakaian yang telah di cuci.
Pria itu pun memperhatikan wanita paruh baya tadi. Apakah itu ibunya??? pikirnya dalam hati.
Wanita paruh baya itu dengan susah payah mengangkat ember besarnya. Namun tiba-tiba kakinya tersandung dan hampir terjatuh.
GREP!!!
"Bibi baik-baik saja???" tanya pria itu khawatir.
Wanita paruh baya itu pun menyentuh dadanya dan mengangguk pelan,
"Aku baik-baik saja... Terimakasih" ujarnya.
Pria itu pun mengangkat ember yang ada di bawahnya,
"Apakah Bibi ingin menjemurnya kesana?? Aku akan membantu mengangkatnya" ujarnya.
wanita paruh baya itu pun mengangguk dan mengikuti pria tadi yang melangkah ke tempat jemuran.
"Terimakasih" ujar wanita paruh baya itu.
Pria itu pun tersenyum dan mengangguk,
"Ah, santai saja.. Aku kebetulan sedang lewat" ujarnya.
Wanita paruh baya itu pun tersenyum,
"Sepertinya aku baru pertama kali melihatmu di sekitar sini. Boleh aku tau siapa namamu???" tanyanya hati-hati.
Dengan cepat pria itu pun tersenyum dan mengulurkan tangannya,
"Namaku Roy.. Aku hanya kebetulan saja lewat kemari" ujarnya tersenyum.
Wanita paruh baya itu pun mengangguk pelan,
"Oh iya, Apakah Bibi tinggal seorang diri?? Dimana putri Bibi??" tanya Roy cepat.
Wanita paruh baya itu pun sedikit memicing menatap Roy. Darimana pria ini tau bahwa dia memiliki seorang putri?? pikirnya.
Roy yang sedikit keceplosan itu pun seketika menutup mulutnya dan tersenyum canggung,
"Ma... Maksudku, apakah tidak ada anak atau suami Bibi di rumah yang bisa membantu Bibi mengangkat pakaian ini??? Ini sangat berat" ujarnya gugup.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu pun menghela nafasnya dan mengangguk pelan,
"Aku hanya tinggal berdua bersama putriku.. Sekarang putriku sedang bekerja" ujarnya.
Roy pun seketika terdiam. Jadi Amber hanya tinggal berdua bersama ibunya?? pikir Roy sedikit khawatir.
"Oh begitu... Kalau boleh tau, dimana putri Bibi bekerja???" tanya Roy lagi.
Wanita paruh baya itu pun terdiam dan mulai mengambil pakaian yang ingin di jemurnya,
"Di suatu tempat.. Dia tidak pernah bilang padaku dia bekerja dimana. Tapi yang jelas, putriku bilang dia bekerja di suatu perusahaan" ujarnya.
Roy pun kembali terdiam dan mengangguk,
"Oh, begitu..." gumamnya.
Perusahaan??? Kira-kira dimana gadis itu bekerja??
Jika dia bekerja, mengapa saat itu dia malah mencuri dan mengambil dompetnya?? pikirnya tidak mengerti.
Setelah itu Roy pun berpamitan dan kembali melaju pergi. Dia harus mencari tau dimana gadis bernama Amber itu bekerja, pikirnya.
Hari sudah mulai gelap, Roy sedang berada di club miliknya. Dia sedang meminum wine nya dengan sedikit frustasi.
Sudah seharian ini dia ingin mencari tempat bekerja gadis bernama Amber itu, tetapi dia tidak kunjung menemukannya. Pengawalnya pun tidak menemukan informasi apapun.
Roy kembali menegak minumannya. Tidak ada wanita sexy yang menemaninya di ruangan VIP miliknya seperti biasa. Entah mengapa Roy ingin menyendiri dan menjernihkan pikirannya yang diisi penuh oleh gadis bernama Amber itu.
"Sial!! Apa yang telah kau lakukan padaku???" gerutu Roy sambil membayangkan saat dirinya bertemu dengan Amber.
Tok..
Tok..
Tiba-tiba pintu ruangannya terketuk cukup keras. Roy mengabaikan ketukan itu dan kembali menegak minumannya. Namun lagi dan lagi pintunya terketuk dengan tidak sabaran.
Dengan emosi Roy pun bangkit dan membuka pintunya dengan kasar,
"Sialan!!! Ada apa?????" teriaknya.
Karyawannya pun seketika menunduk takut,
"I.. Itu Tuan, a..ada keributan di lantai bawah. Salah satu karyawan baru membuat masalah dengan pelanggan VIP kita. Dan.. Dan pelanggan itu ingin komplain langsung pada Tuan" ujarnya takut.
Roy pun menghela nafasnya kasar,
"****!!!! Apalagi ini!!!!!" gerutunya sambil berjalan cepat ke lantai bawah.
Terlihat seorang wanita dengan pakaian minimnya tengah berdiri dengan tatapan tajamnya pada seorang pria paruh baya di depannya.
Pria paruh baya itu terlihat basah kuyup dengan tangan yang menyentuh pipi merahnya. Ruangan VIP itu juga terlihat berantakan dengan berbagai pecahan botol.
Roy pun masuk dan menatap kekacauan itu,
"Ada apa ini??????" tanyanya marah.
Pria paruh baya itu pun menatap Roy dengan tajam,
"Lihat!!! Ini ulah pelayan tak tau diri ini!!!!" ujarnya emosi.
Roy pun seketika menatap pelayan wanita di depannya.
DEG!!!!
Tiba-tiba Roy merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Matanya terbelalak tidak percaya saat menatap seseorang yang dia cari selama ini..
"Ka... Kau????" ujarnya tidak percaya.
Bersambung...
Halo, dukung terus cerita ini dengan kasih like, komen, vote, hadiah dan ratingnya ya ☺️😘
Terimakasih 🙏❤️
__ADS_1