Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Past


__ADS_3

"Sebenarnya... Aku masih memiliki seorang kakek. Dia adalah ayah dari ibuku. Saat itu dia memerintahkan anak buahnya untuk membawaku kembali. Dia menginginkanku untuk menjadi penerusnya dan mengambil alih kepemimpinannya di keluarga Wijaya" ujar Alex.


Anna menatap Alex sejenak dan tidak berkata apa-apa. Jadi... Alex tidak benar-benar hidup sebatang kara, pikir Anna.


Lalu, mengapa dia memilih hidup seorang diri?? pikir Anna tidak mengerti.


"Ketika William menembak kedua orang tuaku, secara tidak sengaja aku melihatnya secara langsung. Aku yang ketakutan saat itu langsung berlari ke dalam hutan. Tetapi ternyata William mengikuti ku dan berusaha untuk menangkap ku. Aku sempat tertangkap olehnya, tetapi untungnya aku bisa kembali melarikan diri. Setelah itu aku sempat memutuskan untuk tinggal di dalam gubuk kecil di dalam hutan untuk beberapa hari karena aku masih ketakutan untuk kembali ke rumah... aku takut jika William mencari ku dan menangkap ku kembali..." ujar Alex.


"Setelah beberapa hari akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Tapi, saat itu kakek dari ayahku menyalahkan kematian ayah pada keluarga Wijaya. Entah bagaimana mereka akhirnya berselisih dan memutuskan untuk memutus hubungan mereka. Bahkan makam ayah dan ibu pun terpisah. Setelah aku kembali banyak percekcokan yang terjadi di keluarga Wijaya, tentang penerus kedua, harta warisan mendiang ibu dan lain-lain. Kakek memilihku sebagai pewaris tunggal atas harta milik ibu dan juga pewaris kedua setelah kakek. Tetapi banyak yang keberatan dengan hal itu karena mengganggap aku masih terlalu muda untuk menerima itu semua. Lalu, Pamanku menyadari bahwa aku tidak memakai lencana di bajuku. Saat itu mungkin aku tanpa sengaja menghilangkannya waktu aku berada di hutan. Lalu Pamanku berkata di dalam undang-undang keluarga jika tidak ada lencana atau menghilangkannya maka dia dianggap ceroboh dan tidak dianggap sebagai anggota keluarga. Kakek saat itu menentang hal itu dan terjadilah kembali percekcokan. Namun entah mengapa keesokan harinya Kakek berubah pikiran dan mereka dengan tanpa belas kasihan nya mengasingkanku ke tempat lain, tempat kumuh dan terpencil di sebuah desa. Dan sejak saat itulah aku memutuskan untuk pergi dan tidak ingin kembali lagi ke keluarga yang gila harta itu!! Bahkan saat aku di pengasingan tidak ada satupun yang datang untuk melihatku!!! Mereka bahkan tidak peduli jika aku mati kelaparan sekalipun!!!" ujar Alex menahan emosi dan sakit hatinya.


Anna menatap pada mata Alex yang terlihat sekali memendam kepedihan disana. Perlahan tangannya terangkat dan mengusap lembut tangan pria itu.


"Sudah.. Tidak usah di teruskan.." bisik Anna yang entah mengapa bisa merasakan kepedihan yang Alex rasakan.


Alex pun menghela nafasnya dan menggenggam tangan Anna dengan erat.


"Maafkan aku...." ujar Alex pelan.


Perlahan tangannya terangkat menyentuh pipi Anna dan menyandarkan keningnya pada kening gadis itu lalu memejamkan matanya. Seketika amarahnya pun perlahan mulai mereda. Alex menyadari bahwa hanya Anna lah yang bisa mengendalikan tubuhnya.


Sejak dulu, Alex bukanlah orang yang bisa mengendalikan amarahnya. Jika sudah terpancing dan mengingat masa lalunya, maka dia akan melakukan hal-hal yang mengerikan untuk menyalurkan amarahnya itu.


"Aku mencintaimu....." bisik Alex tulus.


Anna memejamkan matanya dan dapat merasakan hembusan nafas Alex yang menyentuh wajahnya dengan lembut,


"Aku juga mencintaimu..." jawab Anna.


Sebuah senyuman pun muncul di bibir Alex. Lalu perlahan pria itu mendekatkan bibirnya pada bibir Anna.


CUP!!!!!


Alex mengecup bibir Anna dengan pelan dan hati-hati. Lalu dia membuka mulutnya dan mulai ******* bibir gadis itu dengan lembut. Perlahan Alex memainkan lidahnya dan menghisap bibir bawah Anna secara perlahan. Tangannya sedikit menekan kepala gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka.


Alex dapat merasakan kehangatan yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya saat bibir mereka bertemu. Alex bisa merasakan ketenangan dan kebahagiaan di dalam hatinya.

__ADS_1


Gadis ini.... Alex menginginkan gadis ini untuk hidup bersama dengannya untuk selama-lamanya.


Perlahan Alex pun mulai melepaskan ciumannya dan menatap mata Anna dalam,


"Anna....." bisik Alex.


Anna pun membuka matanya dan menatap mata Alex yang menatapnya sangat dalam.


"Ayo kita menikah" ujar Alex mantap.


Anna pun seketika membelalakkan matanya mendengar ucapan Alex. Ada perasaan bahagia di dalam hatinya, namun ada juga sedikit perasaan ragu. Hubungannya dan Alex belum mendapatkan restu dari ayahnya.


"Alex...." ujar Anna pelan yang hendak berbicara.


Alex pun dengan cepat menaruh jari telunjuknya di bibir gadis itu,


"Sshhh.... Aku tau apa yang ada di dalam pikiranmu. Jangan khawatirkan hal itu. Aku akan mengatasi semuanya" ujar Alex sambil tersenyum lembut.


Alex pun membawa tubuh Anna ke dalam pelukannya dan mengecup kepala gadis itu. Dia harus mencoba berdamai dengan masa lalunya, dan secepatnya dirinya harus menyelesaikan masalahnya dengan William, bagaimanapun caranya....


-


William terus mondar-mandir menunggu Anna pulang. Hari sudah menunjukkan pukul 12 malam. Awas saja jika pria itu membawa Anna kabur darinya, gerutu William dalam hatinya.


Suara mobil terdengar masuk ke halaman rumah. Dengan cepat William menatap jendela dan melihat Alex keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Anna.


William pun menghela nafasnya dan melangkah keluar rumah. Tatapannya langsung mengarah tajam pada Alex yang menggandeng tangan Anna dan hendak berjalan kearah pintu.


"Selamat malam Tuan William" ujar Alex dengan mata tajamnya.


"Maaf aku mengantar Anna pulang terlalu larut" lanjutnya.


William pun mengalihkan pandangannya pada Anna,


"Kembalilah ke kamarmu!!" perintah William pada Anna.

__ADS_1


Anna pun terdiam sesaat dan menatap Alex. Alex menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Anna,


"Masuklah" ujarnya lembut.


William memperhatikan ekspresi Alex yang tiba-tiba berubah lembut saat berbicara dengan Anna.


Anna pun mengangguk pada Alex dan melepaskan genggaman tangan mereka, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Kini hanya tertinggal Alex dan William yang sama-sama terdiam dan saling menatap tajam. Alex memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan menatap William dengan serius,


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" ujar Alex tiba-tiba.


William mengernyitkan keningnya dan menatap Alex sedikit ragu. Setelah berpikir beberapa saat William pun menghela nafasnya pasrah dan membalikkan tubuhnya,


"Masuklah" ujar William lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Alex terdiam sesaat lalu akhirnya mengikuti William dari belakang. Mereka telah masuk ke dalam ruang kerja William dan duduk saling berhadapan di atas sofa.


"Apa yang ingin kau bicarakan??" tanya William.


Alex pun menghela nafasnya dan menatap William dengan tajam. Mencoba menahan emosinya yang entah mengapa selalu muncul saat berhadapan dengan pria ini.


'Ayolah Alex, kendalikan emosimu!!! Kita selesaikan semua ini sekarang juga!!!! ujar Alex dalam hatinya.


"Mengapa kau membunuh kedua orang tuaku???" tanya Alex tajam.


William pun menatap mata tajam pria di depannya itu. Terlihat jelas bahwa pria ini tengah menahan emosinya. William pun menghela nafasnya dan kembali menatap Alex dengan serius.


'Huh... Sepertinya aku harus meluruskan masalah ini sekarang juga..... pikir William dalam hatinya.


Bersambung...


Halo, i'm back. Akhirnya bisa up hari ini, walaupun otak harus berpikir keras..


Terimakasih untuk yang gak pernah bosen nungguin kelanjutan kisah cinta Alex dan Anna 🤗

__ADS_1


Jangan lupa kasih like dan komen yang banyak ya..


Kasih vote dan hadiah juga boleh sekali, biar makin semangat 🤭🙏❤️


__ADS_2