
-Satu bulan setengah kemudian-
Pagi ini, terlihat Anna dan Alex tengah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Hari ini tepat usia kandungan Anna memasuki usia 6 bulan.
Dan hari ini tepat jadwal pemeriksaan kandungan Anna. Gadis itu terlihat tidak sabar ingin melihat perkembangan calon buah hatinya.
Setelah tiba di rumah sakit, Anna dan Alex pun langsung masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa kandungannya,
"Bagaimana perkembangannya dokter??" tanya Anna sedikit gugup.
Entah mengapa dirinya selalu merasa gugup dan berdebar setiap melakukan pemeriksaan kehamilan.
"Perkembangannya sangat baik Nona, calon anakmu benar-benar sehat" ujar dokter itu tersenyum.
"Sekarang usia kandungan Nona sudah memasuki usia 6 bulan pas" lanjutnya.
Anna pun tersenyum mendengar ucapan dokter itu. Alex menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya lembut. Pria itu selalu merasa tersentuh dan bahagia bila mendengar perkembangan calon buah hatinya.
"Apakah Nona masih ingin merahasiakan jenis kelamin bayinya??" tanya dokter itu tiba-tiba.
Anna menatap dokter itu dan mengangguk yakin,
"Iya dokter.. Setelah usia kandungannya memasuki 7 bulan, dokter bisa memberitahuku" ujarnya.
Dokter pun tersenyum dan mengangguk,
"Kurasa Nona dan Tuan Alex akan sangat senang setelah aku mengatakan jenis kelamin bayinya nanti" ujar dokter itu tersenyum penuh arti.
Alex hanya mengangguk pelan sambil tersenyum,
"Apapun jenis kelaminnya, aku akan tetap bahagia.. Asalkan calon anakku sehat, itu sudah cukup" ujar Alex tulus sambil menatap Anna dengan penuh cinta.
Anna pun mengangguk menanggapi ucapan Alex,
"Iya, Tuan benar.." ujar dokter itu menyetujui.
Setelah itu dokter pun mulai menuliskan beberapa resep obat yang akan di berikan untuk Anna,
"Ini beberapa resep obat yang harus Nona minum" ujarnya.
Alex mengambil resep itu dan mengangguk pelan,
"Terimakasih dokter" ujarnya.
Setelah selesai di periksa, Anna dan Alex pun melangkah keluar ruangan dokter kandungan dan bersiap untuk pergi ke kantor Alex.
Setelah di dalam mobil, Alex pun duduk di kursi kemudi dan memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya,
"Sayang, benar kau ingin ikut bersamaku ke kantor??" tanya Alex.
Anna pun mengangguk menjawab pertanyaan Alex,
"Iya.. Aku bosan di rumah, bolehkan aku ikut??" tanya Anna penuh harap.
Alex menatap wajah istrinya dan tersenyum gemas sambil mengusap rambut Anna,
"Tentu saja boleh sayang..." ujarnya lembut.
"Justru aku sangat senang jika kau ikut denganku" lanjutnya.
Anna tersenyum menanggapi ucapan Alex. Lalu setelah itu Alex pun mulai menyalakan mobilnya dan bersiap untuk pergi ke kantor.
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya mobil Alex pun telah tiba di kantornya. Pria itu memarkirkan mobilnya di parkiran yang di buat khusus untuknya. Setelah itu Alex pun menuntun Anna untuk turun dan mereka pun mulai menaiki lift menuju ruangan Alex.
Keduanya berjalan di koridor kantor dengan tangan Alex yang merangkul mesra pinggang istrinya. Perut Anna sudah terlihat sangat menonjol, dan gadis itu mulai merasa sedikit sesak jika berjalan terlalu jauh.
__ADS_1
Pandangan seluruh karyawan di lantai itu langsung mengarah kearah Alex dan Anna. Para karyawan itu menyapa Boss mereka dan istrinya. Mereka memuji keharmonisan dan keromantisan pasangan suami istri itu. Bahkan mereka sudah menerka-nerka jika calon anak Alex dan Anna kelak pasti memiliki wajah yang sangat cantik dan tampan seperti kedua orangtuanya.
Harry membungkukkan badanya saat melihat Alex dan Anna yang melangkah mendekatinya,
"Selamat pagi Tuan dan Nona" sapanya tersenyum senang.
"Wah.. perut Nona sudah terlihat lebih besar. Apa sebentar lagi akan melahirkan??" tanya Herry dengan senyum 3 jarinya.
Anna tertawa pelan mendengar pertanyaan Harry dan menggeleng pelan,
"Belum, kandunganku masih 6 bulan Harry" jelas Anna.
Harry pun seketika menutup mulutnya dan tersenyum salah tingkah,
"Ohh.. Maaf, kukira sudah memasuki bulan terakhir.. perut Nona terlihat lebih besar" ujarnya tidak enak.
Anna kembali tersenyum pada Harry,
"Tidak apa-apa.. Mungkin karena tubuhku yang tidak terlalu gemuk, jadi terlihat lebih besar" ujar Anna.
Alex menatap datar kearah Harry dan membuat pria itu seketika bergidik melihat wajah kaku Boss nya,
"Ah.. Silahkan masuk Tuan dan Nona" ujarnya seketika sambil membukakan pintu ruangan Alex.
Alex dengan segera menuntun tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam ruangannya. Anna duduk di atas sofa dan menghela nafasnya. Entah mengapa berjalan sedikit saja rasanya cukup membuatnya kelelahan, pikirnya.
Alex mengambil minuman dan beberapa cemilan termasuk buah dari dalam kulkas di dalam ruangannya dan memberikannya pada Anna,
"Minumlah ini.. Kau pasti kelelahan" ujar Alex lembut sambil memberikan segelas air pada Anna.
Pria itu membantu Anna untuk minum secara perlahan. Setelah itu dia pun mengelap sudut bibir istrinya dengan lembut,
"Hari ini aku hanya akan memeriksa beberapa laporan saja.. Setelah itu, apa kita akan langsung pulang atau kau mau pergi ke suatu tempat??" tanya Alex sambil mengusap pipi Anna.
Anna terlihat berpikir sejenak sambil menggigit bibirnya,
Semenjak dirinya hamil, dia jarang sekali pergi keluar. Anna banyak menghabiskan waktunya di rumah selama hamil.
Alex mengusap pipi istrinya dengan lembut dan mengecupnya pelan,
"Apapun yang kau mau, aku akan menurutinya, sayang.." ujarnya tersenyum lembut.
Anna pun mengusap pipi Alex dan tersenyum,
"Terimakasih.." ujarnya senang.
Leonard tengah duduk di ruang kerjanya. Pria itu telah memakai kulit palsu di wajahnya dan juga kaki palsu.
Dia terlihat sedikit resah di kursinya sambil menatap handphone miliknya yang berada di atas meja,
"Kenapa begitu lama!!" gerutunya pelan.
Selang beberapa detik, handphone miliknya pun bergetar, membuat Leonard dengan cepat mengambil handphonenya dan mengangkatnya dengan tidak sabaran,
__ADS_1
"Hallo, bagaimana???" tanyanya to the poin.
Terdengar suara seseorang di balik sana menjawab pertanyaan Leonard dan berbicara cukup lama.
Seketika sebuah seringai licik pun muncul di bibir Leonard. Pria itu tertawa pelan sambil menyandarkan punggungnya pada kursi,
"Bagus!!! Tidak sia-sia aku meminta bantuanmu.." ujarnya puas.
"Baiklah.. kerja yang bagus. Aku akan mengirimkan bonus untukmu" lanjutnya.
Leonard kembali tersenyum puas dan mulai mematikan handphonenya,
"Sesuai keiginanku.." bisiknya pada diri sendiri.
Setelah itu Leonard kembali menyalakan handphonenya untuk menghubungi seseorang,
"Hallo..." ujarnya pelan.
"Kita berhasil sayang... Sekarang, kita lanjut ke rencana selanjutnya.." lanjutnya.
"Aku serahkan rencana selanjutnya ini padamu. Aku tau kau tidak akan mengecewakanku.." ujarnya pelan dan tajam.
Setelah itu Leonard pun mematikan panggilannya dan menyandarkan punggungnya pada kursi sambil tersenyum senang,
"Huh... Tinggal beberapa langkah lagi, pembalasan dendamku akan terwujud..." bisiknya.
"Tunggu dan lihatlah apa yang akan aku lakukan padamu, Alex.." lanjutnya tajam.
Bersambung..
Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️
Banyakin komentarnya ya dan jempolnya juga 😁🙏
__ADS_1
Terimakasih..
Dan, kalau baca novel jangan sampai lupa waktu ya, apalagi buat ibadah 😁🥰