Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Fakta Pertama


__ADS_3

Hari ini tepat sudah 5 hari Erika tinggal di kediaman Alex. Dan selama 5 hari itu pula, Erika belum berhasil menuntaskan tugasnya untuk memata-matai seluruh ruangan di rumah Alex. Wanita itu sepertinya sudah menyerah karena dia tidak bisa mendapatkan celah sedikitpun untuk bergerak bebas di rumah ini.


Entah perasaannya atau tidak, Erika merasa Alex lebih posesif pada istrinya, dan seperti memberikan jarak antara dirinya dan Anna.


Belakangan ini Alex terlihat banyak menghabiskan waktunya di rumah. Bahkan pria itu memilih bekerja di rumah. Jadi Erika tidak mempunyai kesempatan sedikitpun untuk melihat-lihat rumah ini.


Hari ini Erika akan keluar untuk menemui Leonard. Dia cukup frustasi karena pria itu terus menuntutnya untuk segera bertindak, tapi Erika tidak bisa melakukannya. Dia terlalu takut jika nantinya Alex akan semakin curiga padanya.


Erika melangkah keluar dari kamarnya sambil membawa tas miliknya. Wanita itu melangkah perlahan sambil menatap ke sekeliling. Erika sedikit menghela nafasnya saat melihat keadaan rumah yang sepi. Dia pun semakin mempercepat langkahnya agar bisa segera keluar.


Namun, saat dirinya hampir tiba di depan pintu. Tiba-tiba Anna dan Alex yang baru masuk ke dalam rumah pun berpapasan dengannya.


Erika sedikit terperanjat dan berusaha mengatur kembali mimik wajahnya,


"Erika, kau mau pergi kemana??" tanya Anna ramah.


Erika tersenyum pelan dan menatap Anna,


"Ah.. Aku.. Aku mau keluar sebentar untuk mengurus beberapa pekerjaan. Aku mulai kembali membangkitkan perusahaan kecilku, dan untungnya ada klien juga yang ingin membantuku. Setelah itu... aku juga ingin mencari-cari rumah untuk tempat tinggal. Tidak mungkinkan aku akan selamanya berada disini" ujarnya pelan.


Anna tersenyum senang mendengar ucapan Erika,


"Syukurlah.. Aku ikut senang mendengarnya" ujarnya senang.


Erika tersenyum dan mengangguk pelan sambil mengalihkan pandangannya pada Alex,


"Iya, aku juga tidak mungkin kan terus mengandalkan bantuanmu saja, Alex" ucapnya pelan pada Alex.


Alex menatap Erika dan mengangguk,


"Syukurlah" ujar pria itu singkat.


Erika menatap wajah Alex dengan sedikit gugup,


"Kalau begitu... Aku akan berangkat sekarang" ujarnya berpamitan.


Saat Erika mulai melangkah tiba-tiba saja Alex membalikkan tubuhnya sambil menatap Erika dengan datar,


"Aku akan menyuruh pengawal untuk mengantarmu" ujarnya yang membuat Erika seketika mematung.


Wanita itu terlihat semakin gugup dan membalikkan tubuhnya kembali menatap Alex sambil tersenyum,


"Tidak usah.. Aku, bisa memesan taksi. Tidak perlu repot-repot" ujarnya menolak.


Alex menatap Erika untuk beberapa saat, lalu mengangguk pelan,


"Baiklah, terserah padamu" ujarnya.


Erika pun tersenyum dan kembali berpamitan sambil berjalan cepat agar bisa segera meninggalkan kediaman Alex.


Anna mengalihkan tatapannya dari Erika pada suaminya. Gadis itu menatap wajah Alex yang terlihat menatap kepergian Erika dengan ekspresi penuh curiga.


Apa... maksud perkataan Alex tentang kecurigaannya waktu itu sebenarnya di tunjukkan untuk Erika?? pikir Anna. Entah mengapa Anna merasa belakangan ini Alex seperti menjaga jaraknya dengan wanita itu.


Tapi... Mengapa Alex mencurigainya??


Sejauh yang Anna lihat, tidak ada sedikitpun dari Erika yang mencurigakan.


Saat Anna hendak membuka mulutnya untuk bertanya, Alex langsung menatap padanya sambil berbicara,

__ADS_1


"Sayang.. Tidak apa-apa kan jika kau masuk lebih dulu?? Aku akan ke belakang dulu untuk menemui pengawal" ujarnya lembut.


Anna terdiam sejenak dan mengangguk pelan. Gadis itu memilih untuk tidak bertanya. Dia akan menunggu pria itu mengatakannya sendiri padanya.


"Terimakasih.." ujar Alex lalu mengecup lembut kening istrinya.


Anna pun membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Alex menatap punggung Anna dan menghela nafasnya pelan. Dia belum bisa memberitahu Anna tentang kecurigaannya pada Erika karena Alex belum mempunyai bukti yang cukup kuat.


Alex mengambil handphonenya, lalu menghubungi seseorang,


"Ikuti dia!" perintahnya singkat dan tajam.


Setelah selesai Alex pun langsung mematikan panggilannya..


Pria itu lalu mulai melangkah ke lantai atas untuk memasuki markasnya. Sudah lama sekali Alex tidak memasuki tempat itu. Terakhir kali adalah saat para anak buahnya membawa Anna pertama kali ke rumah ini.


Tempat itu cukup membuatnya tidak nyaman sekarang, karena mengingatkan dirinya akan kekejaman sikapnya pertama kali pada Anna.


Sejak dirinya memiliki hubungan dengan Anna, Alex tidak pernah mau lagi berhubungan dengan kekerasan atau pun kekejaman lainnya tanpa suatu alasan yang kuat. Dia tidak mau membuat istrinya merasa khawatir dan takut.


Alex masuk ke dalam ruangannya dan melihat sudah ada beberapa pengawal di dalam sana bersama dengan seorang pria paruh baya yang berhasil di bawa oleh orang suruhannya.


Alex duduk di hadapan pria paruh baya yang menatapnya dengan takut. Pria itu menatap tajam dengan wajah dinginnya,


"Selamat siang, Pak George" sapanya datar.


Pria paruh baya bernama George itu menatap Alex dengan kening yang mulai berkeringat,


"Se.. Selamat siang Tuan Alex" balasnya.


"Ma.. Maaf Tuan, se.. sebenarnya ada masalah apa Tuan Alex membawaku kemari??" tanyanya dengan suara yang bergetar.


Alex menyeringai pelan mendengar pertanyaan Pak George dan menghela nafasnya pelan,


"Tanpa ku jelaskan, sepertinya Pak George juga sudah tau apa alasanku menyuruh pengawalku untuk membawamu kemari" ujarnya dingin.


George terlihat bertambah ketakutan saat dirinya mendengar ucapan Alex,


"A.. apa maksud Tuan?? Aku.. Aku benar-benar tidak mengerti.." ujarnya gugup.


Alex pun menatap Pak George dengan tajam, lalu mengambil sebuah amplop cokelat yang berada di saku jasnya dan memberikannya pada Pak George.


George terlihat bertambah gugup dan berkeringat dingin. Pria paruh baya itu mengambil amplop itu dengan tangan yang bergetar.


Perlahan George membuka amplop itu dan matanya pun terbelalak saat melihat apa yang berada di dalam sana.


Sebuah foto yang memperlihatkan dirinya bertemu dengan Leonard beberapa waktu lalu. Dan sebuah berkas penandatanganan atas nama dirinya dan juga Leonard tepat pada hari dimana Erika mulai mendatangi rumah Alex saat pertama kali.


Alex menautkan jarinya di atas meja dan menatap tajam pada Pak George yang mulai bergetar ketakutan,


"Bisakah, kau jelaskan padaku??" tanyanya menuntut dan tajam.


Tubuh George bertambah gemetar dan keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Pria itu menatap pada Alex. Dan dengan cepat George mendekati Alex sambil menjatuhkan tubuhnya di bawah kaki pria itu.


BRUK!!


"Hiks.. Maafkan aku Tuan Alex!! Maafkan aku!!" ujarnya sambil menangis memohon ampun.

__ADS_1


Alex yang melihat hal itu hanya menatap datar dan tidak bergeming. Pak George menangis sejadinya dan meraih kaki Alex sambil memohon ampun,


"Hiks.. Pria itu.. Pria itu mengancamku dan telah menculik istri dan anak-anakku!! Dia bilang, dia akan membunuh istri dan anakku jika aku tidak mengikuti perintahnya hiks" lanjutnya tersedu.


"Hiks.. Pria itu juga telah mengambil alih surat-surat rumah dan beberapa aset penting milikku hiks... Aku tidak tau bagaimana pria licik itu bisa melakukannya!!"


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa Tuan!!" lanjutnya lagi.


Alex masih menatap datar pada Pak George yang berlutut di hadapannya. Para pengawal Alex hendak mencoba menjauhkan pria paruh baya itu dari kaki Alex. Namun dengan cepat Alex mengangkat tangannya, mengisyaratkan pengawalnya untuk diam.


"Duduklah kembali Pak George" perintahnya dingin.


George terlihat masih tersedu dan mencoba kembali duduk di kursinya. Pria paruh baya itu menunduk dalam dan tidak berani menatap pada Alex.


"Aku tau, aku telah menipumu Tuan... Aku juga telah mengkhianati kerjasama kita selama ini.." ujarnya pelan.


"Aku.. Aku pantas mendapatkan hukuman.." lanjutnya.


"Aku akan menerima hukuman apapun dari Tuan.. Sekalipun... Sekalipun Tuan ingin membunuhku.." ucapnya pasrah.


"Aku pantas mendapatkannya.." bisiknya lagi sambil menangis.


Alex terdiam sejenak dan menghela nafasnya,


"Kau terlalu berpikiran jauh Pak George" ujarnya datar.


Alex pun perlahan berdiri dari duduknya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana,


"Aku tau, kau telah mengatakan yang sejujurnya padaku... Aku hanya ingin mendengarkan semuanya langsung dari mulutmu" lanjutnya.


"Sebenarnya.. Aku cukup kecewa atas perbuatanmu Pak George... Tapi, kali ini aku akan memaafkanmu" ucapnya.


George seketika mengangkat wajahnya dan menatap Alex sambil menangis penuh haru. Alex kembali terdiam dan menatap George,


"Untuk sementara, aku tidak akan melepaskanmu dulu. Setelah semua urusanku selesai, maka aku akan mengeluarkanmu dari sini" ujarnya lagi.


Pak George terlihat menghela nafasnya dan tersenyum penuh haru,


"Terimakasih!! Terimakasih Tuan!!" ujarnya sambil menangis.


Alex tidak memberi respon apapun dan mulai membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan ruangan itu. Namun, Pak George kembali menatap punggung Alex dan mengatakan sesuatu yang membuat pria itu berhenti melangkah,


"Satu lagi Tuan..." ujar George tiba-tiba.


Alex menghentikan langkahnya tanpa membalikkan tubuhnya pada Pak George. Pria itu menunggu kata-kata apa yang akan di ucapkan Pak George selanjutnya,


"Sebenarnya... Sebenarnya, Tuan Leonard itu... Tidak benar-benar bercerai dengan istrinya.." ucapnya terputus.


"Dia.. Dia merekayasa semuanya.."


Bersambung..


Halo, support selalu cerita ini ya,


Jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️


Yuk, bikin author semangat lagi nulis dengan tinggalkan jejak di kolom komentar 🙏😁


Dan, jangan lupa kalau baca novel jangan lupa waktu ya, dan ibadah juga ☺️🙏

__ADS_1


__ADS_2