Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Selfishness


__ADS_3

Peter pun tersenyum dan menatap puas pada wajah Alex yang terlihat telah terpancing oleh ancamannya.


"Kalau begitu berhentilah melawan!!!" ujar Peter.


"Bawa dia ke kamar di lantai 3" perintah Peter.


Lalu dengan cepat para pengawal itu mencengkram tangan Alex dan hendak menuntunnya untuk pergi. Namun, Alex dengan kasar menghempaskan tangan para pengawal itu,


"Lepaskan!!!! Aku bisa berjalan sendiri!!!!!!" geram Alex lalu melangkah terlebih dahulu.


Alex pun berjalan hendak menaiki tangga diikuti oleh beberapa pengawal yang menjaganya. Namun tiba-tiba Donna datang dan menatap penasaran kearah para pengawal itu,


"Ada apa ini??? Apa yang kalian semua lakukan disini???" ujar Donna.


Seketika Alex pun membalikkan badannya dan menatap Donna dengan tatapan datarnya. Donna berhenti sejenak dan memperhatikan wajah Alex dengan seksama.


Setelah itu matanya pun terbelalak tidak percaya,


"Kau.... Apa kau Alex??? Alexander???" tanya Donna tidak percaya.


Alex menatap Donna dengan datar dan tidak menjawab pertanyaan wanita itu. Lalu dari belakang Peter pun datang dengan seorang pengawal yang mendorong kursi rodanya.


"Iya, dia Alex, putra Diana. Mulai hari ini dan seterusnya dia akan tinggal disini" ujar Peter tegas.


Alex menatap Peter dengan tajam dan tersenyum sinis padanya,


"Pria tua yang licik!! Kau kira aku sudi tinggal di rumah ini??" ujar Alex tajam.


Peter tidak mengindahkan ucapan Alex dan kembali memerintah pada para pengawalnya,


"Cepat bawa dia ke kamarnya!!!" ujar Peter.


Para pengawal itu pun mengangguk dan dengan cepat mencengkram tangan Alex dan membawanya paksa menuju kamar di lantai 3. Alex terlihat tidak melawan dan memilih diam saat dibawa oleh para pengawal Peter.


Sekarang tidak ada gunanya dia melawan, Alex harus memikirkan cara agar bisa keluar dari rumah ini, pikir Alex.


Donna menatap kepergian Alex dan mengarahkan pandangannya pada Peter,


"Apa yang ayah lakukan???" tanya Donna sedikit khawatir.


"Apakah ayah memaksanya??? Ayah..... kumohon jangan melakukan hal yang tidak-tidak" lanjut Donna memohon.


Peter tidak menghiraukan ucapan Donna dan menyuruh pengawalnya untuk membawanya pergi mengikuti Alex.


"Tidak ada cara lain!! Aku melakukan semua ini demi kebaikannya dan juga kebaikan keluarga Wijaya" ujar Peter lalu berlalu pergi.


Donna menghela nafasnya melihat kepergian Peter. Di dalam hatinya dia merasa bersalah pada kakaknya Diana.. Sekarang akibat dari ke egoisan ayahnya juga, putranya harus merasakan hal serupa.


-

__ADS_1


Hari sudah menunjukkan pukul 10 malam. Anna merasa resah di dalam kamarnya karena Alex belum juga pulang ke rumah. Apakah pria itu begitu sibuk?? pikir Anna.


Anna mengerti pasti masalah yang ada di perusahaan membuat pria itu harus bekerja keras untuk mengatasinya.


Anna pun melangkah kearah pintu dan berjalan turun ke lantai bawah. Dia akan menunggu Alex disana.


Saat berada di lantai bawah, Anna berpapasan dengan Bibi Van yang sedang berjalan ke arah dapur,


"Nona belum tidur???" tanya Bibi Van.


Anna pun menggeleng pelan dan melangkah ke arah sofa. Bibi Van menghela nafasnya dan menghampiri Anna.


"Apakah Nona tidak bisa tidur karena Tuan belum pulang???" tanyanya.


Anna duduk di atas sofa dan mengangguk pelan,


"Sudah larut seperti ini tapi Alex belum juga pulang. Dia juga tidak menghubungiku sama sekali sejak tadi" ujar Anna sedikit khawatir.


Bibi Van duduk di samping Anna dan menyentuh pundaknya dengan lembut,


"Mungkin Tuan benar-benar sibuk hari ini. Tuan juga sudah lama tidak masuk ke kantor, pasti banyak sekali pekerjaan yang menumpuk dan harus dia selesaikan" ujar Bibi Van menenangkan.


"Sudah, Nona tidak perlu khawatir.. Mungkin sebentar lagi Tuan akan pulang. Nona istirahatlah di kamar" lanjutnya.


Anna menghela nafasnya dan tersenyum tipis,


"Iya, mungkin dia benar-benar sibuk... Aku akan menunggu disini sebentar lagi. Bibi tidak usah cemaskan aku" ujar Anna.


"Baiklah, kalau begitu Bibi akan ke belakang sekarang. Jika Nona sudah mengantuk, naiklah ke atas" ujar Bibi Van lalu berdiri dari duduknya.


Anna tersenyum dan mengangguk pelan, lalu memperhatikan Bibi Van yang mulai beranjak pergi. Anna menyentuh dadanya pelan, walaupun dia tau bahwa Alex berada di kantornya. Tetapi entah mengapa ada perasaan yang tidak enak menjalar di hatinya.


Anna menutup matanya dan menggeleng kuat. Tidak! Dia tidak boleh berpikir yang macam-macam. Alex pasti masih sibuk di kantor. Dan mungkin sebentar lagi dia akan pulang.


Anna pun menyandarkan tubuhnya di atas kursi sambil menunggu kepulangan Alex.


-


Alex masuk ke dalam sebuah kamar yang luas di lantai 3. Lalu para pengawal itu pun dengan tiba-tiba menggeledah tubuh Alex,


"Apa yang kalian lakukan brengsek!!!!!!" geram Alex memberontak.


Salah satu pengawal pun berhasil mengambil kunci mobil dan handphone milik Alex. Dengan cepat Alex mencoba mengambilnya kembali, namun suara Peter menghentikannya.


"Kuharap kau tidak melakukan perlawanan Alex!! Akan lebih baik jika kau menurut, jika tidak ingin kekasihmu itu mendapatkan masalah!!!" ancam Peter.


Alex menatap Peter dengan tajam dan tersenyum sinis,


"Kau benar-benar tidak tau malu!!! Apa kau masih belum puas membuat hidup ibuku menderita????" ujar Alex tajam.

__ADS_1


Peter pun menatap tajam pada Alex,


"Tutup mulut kurang ajar mu itu!!!! Ternyata hidup di jalanan dulu membuat sikapmu menjadi sangat buruk seperti ini!!!!" geram Peter.


Alex pun menatap Peter dan tersenyum mencemooh,


"Bukankah kau yang membuatku menjadi seperti ini???? Semua hal buruk di keluarga ini terjadi karena keegoisanmu!!! Kematian orang tuaku pun karena sifat egoismu itu!!!" ucap Alex tajam.


"Lagipula aku lebih senang hidup di jalanan dari pada hidup di rumah yang bagaikan neraka seperti ini!!!!!" lanjut Alex sinis.


Peter pun membelalakkan matanya mendengar ucapan Alex. Seketika nafasnya memburu dengan kencang, lalu dengan cepat Peter menyentuh dadanya yang terasa sakit.


"Kau!!!!! Kau benar-benar!!!!!!" ujar Peter kesakitan.


"Tuan!!! Apa Tuan baik-baik saja????" tanya pengawal pribadi Peter dengan cemas.


Tiba-tiba Donna masuk ke dalam kamar itu dan melihat Peter yang sedang merintih kesakitan,


"Ayah!!!! Ayah baik-baik saja??? Apa yang terjadi???" tanya Donna khawatir.


"Cepat panggilkan dokter!!!" lanjutnya cemas.


Pengawal pribadi Peter pun mendorong kursi rodanya menuju kamar Peter dan mulai menghubungi dokter. Donna tidak ikut keluar dan masih berdiri diam di kamar itu.


Dan tiba-tiba Donna pun membalikkan tubuhnya menatap wajah Alex dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau sudah dewasa..... Matamu mirip sekali dengan mata ibumu.." ujar Donna pelan.


Alex menatap Donna dengan tatapan datarnya. Dia tidak mengenali Donna.


Tetapi sebelum Donna menikah dan pindah ke Inggris dulu, Donna lah yang selalu mengasuh Alex saat pria itu masih berusia bulanan.


Donna perlahan berjalan mendekati Alex dan berdiri di depannya dengan bibir yang bergetar menahan tangis,


"Mungkin kau tidak mengenaliku.. Aku adalah adik dari ibumu.. Aku adalah bibi mu Alex..." ujarnya sambil meneteskan air mata.


Alex mengerjapkan matanya dan mencoba menilik wajah wanita di depannya itu. Wajah wanita ini sekilas mirip sekali dengan ibunya.


Seketika ada kehangatan di hati Alex saat memandangi wajah Donna. Dia merasakan ibunya berada di hadapannya saat ini dan menatapnya dengan lembut...


Bersambung..


Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like dan komen yang banyak ☺️


Boleh kasih vote dan gift nya juga 😁


Curhat dikit nih, sedikit down karena level karya bulan ini turun, pembaca juga naik turun.. Jadi kurang semangat untuk lanjut nulis.


Tapi, setelah dipikir-pikir cerita ini udah cukup panjang dan sayang kalau di putus. Aku juga udah terlanjur cinta sama dua sejoli di cerita ini, Alex dan Anna.

__ADS_1


Jadi..... Kita selesaikan dulu ini sampai Alex dan Anna hidup bahagia ya, semangat.... 🤗


Makasih supportnya readers, it means a lot to me 🥺🙏❤️


__ADS_2