
Anna membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya masih terlihat kabur dan di sekitarnya masih terlihat sangat gelap. Sepertinya hari masih malam, pikirnya.
Gadis itu menyandarkan kepalanya di dinding dengan nafas yang sedikit terengah dan keningnya yang berkeringat.
Kepalanya terasa sangat pusing dan berat..
Tubuhnya juga terasa sangat lemas..
Anna merasakan tenggorokannya yang kering. Gadis itu sangat haus dan lapar sekarang. Sejak siang tadi, dirinya belum meminum dan memakan apapun.
Anna menatap perutnya dengan sendu. Calon bayinya pasti merasa lapar dan haus sekarang.
Gadis itu mengarahkan pandangannya ke sekitar. Anna menjilat bibirnya yang kering sambil mencoba memanggil seseorang,
"Permisi!!!" teriak Anna.
"Bisakah aku meminta segelas air???" teriaknya lagi.
Namun tidak ada respon apapun dari luar.
Anna kembali terdiam dan menyandarkan kepalanya di dinding dengan lemas. Tangannya yang terikat ke belakang mulai terasa sakit dan kebas.
Anna kembali menatap perutnya dengan perasaan bersalah,
"Tunggu sebentar ya sayang... Kau pasti merasa haus dan lapar.." ujarnya pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Sebenarnya Anna merasa seperti sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Momen saat ini mengingatkannya kembali pada masa lalu.
Anna cukup kuat jika hanya dirinya saja yang di sekap dan di kurung seperti ini. Tetapi, gadis itu tidak mau calon anaknya merasakan hal yang seperti ini..
Itu membuat Anna merasa sangat sedih dan bersalah.
"Akhh.." rintih Anna lagi saat dirinya merasakan kram di perutnya.
Gadis itu menutup matanya untuk menahan sakit. Entah mengapa sekarang dirinya sering merasakan kram di perutnya.
Tangan Anna ingin sekali menyentuh perutnya dan mengusapnya dengan lembut untuk menenangkan calon anaknya. Namun sayangnya, tangannya masih terikat ke belakang.
Anna tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menggigit bibirnya sambil menahan sakit.
Sedangkan disisi lain, terlihat Erika sedang duduk di depan layar kamera pengawas yang memperlihatkan ruangan tempat Anna di kurung.
Wanita itu terlihat sedikit cemas saat melihat Anna yang tengah sedang merasa seperti menahan sakit. Erika seketika teringat dengan obat yang dokter berikan tadi padanya untuk Anna.
Dokter itu berpesan agar Anna harus rutin meminum obatnya setiap 3 kali sehari. Tapi, hari ini Anna telah melewati 2 waktu konsumsi obatnya..
"Ada apa??" tanya Leonard tiba-tiba yang sedang berjalan menghampiri Erika.
Erika seketika mengalihkan pandangannya dari layar monitor dan menatap Leonard dengan gugup.
"Kau terlihat seperti mencemaskan sesuatu.." ucap Leonard terputus.
Tatapan pria itu pun menyipit dan menelisik wajah Erika,
"Jangan katakan padaku bahwa kau benar-benar mengkhawatirkan gadis itu??" tanyanya lagi curiga.
Erika memalingkan wajahnya dengan gugup dari Leonard dan tidak menjawab pertanyaan pria itu.
Leonard menyentuh pundak Erika dan mendekatkan bibirnya pada telinga wanita itu. Tatapannya pun ikut mengarah pada layar cctv yang memperlihatkan ruangan tempat Anna di sekap.
"Gadis itu.. Gadis itu adalah senjata kita sayang.." bisiknya pada Erika.
"Dia adalah kelemahan musuh kita..."
"Bukankah jika gadis itu mati, itu akan membuat hidup Alex hancur dan menderita?? Ditambah lagi.. pria bajingan itu tidak akan bertemu dengan keturunannya.. Aku yakin itu adalah siksaan yang setimpal untuknya!!" ujarnya tajam.
"Lagipula... Aku sama sekali tidak ingin anak keturunan pria itu lahir ke dunia ini!!" lanjutnya.
Erika hanya terdiam mendengar ucapan Leonard tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Tatapannya fokus pada layar dimana Anna tengah terlihat terduduk lemas dan menahan sakit.
"Apa kau setuju denganku?? Atau... Kau mulai merasa goyah dengan tujuanmu untuk membalas dendam???" tanya Leonard tajam sambil mencengkram sedikit kuat bahu Erika.
Erika terlihat menahan rintihannya dan menutup matanya sejenak.
"Apa kau ingat betapa sadisnya pria itu membunuh ayahmu!!! Kau mau membiarkan ayahmu tidak tenang di alam sana??? Kau terima melihat jasad ayahmu waktu itu yang hangus terbakar dengan mengerikan??" ujarnya keras.
Erika terlihat menutup matanya dengan kuat sambil membayangkan kembali jasad sang ayah waktu itu.
Wanita itu menggeleng keras dan kembali membuka matanya dengan nafas yang memburu. Leonard yang melihat reaksi Erika diam-diam tersenyum puas di dalam hatinya.
"Sekarang jangan pikirkan hal apapun lagi.. Fokus saja pada tujuan kita sayang.. Jangan membuang-buang waktumu untuk memperdulikan hal yang tidak perlu" ujarnya lagi sambil mengusap lembut rambut Erika.
"Sebentar lagi pasti pria itu akan mengetahui tempat ini dan akan datang kemari" ujarnya sambil berjalan kembali ke arah meja sambil membawa handphonenya.
Leonard membuka sebuah pesan yang masuk ke dalam handphonenya dan seketika sebuah seringai mengerikan pun muncul di wajahnya,
"Cepat juga.." ujarnya pelan.
"Pria itu memang sulit untuk di perdaya" bisiknya lagi.
__ADS_1
Leonard pun merapihkan jasnya sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Hanya butuh beberapa jam saja bagi Alex untuk bisa melacak keberadaannya.
Anak buah Leonard mengabarinya bahwa Alex telah berhasil memporak porandakan kediaman dan juga kantornya hari ini.
Leonard tidak peduli dengan hal itu. Yang jelas, sebentar lagi pria itu akan datang dan... tiba saatnya bagi Leonard untuk menjalankan balas dendamnya.
"Akan ku buat kematianmu begitu menyakitkan dan mengenaskan Alex!!" geramnya.
Leonard kembali mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang,
"Bersiaplah!! Sebentar lagi pria itu akan datang!! Lakukan sesuai rencana!!" perintahnya tajam.
Alex terlihat berdiri mondar-mandir di depan mobilnya. Semua anak buahnya telah berkumpul dan menunggu perintah dari Bos mereka.
Hari sudah sangat larut dan pria itu tidak beristirahat sejak tadi sedikitpun. Pikirannya tidak tenang dan sejak tadi jantungnya terus berdebar dengan cemas.
Setelah mengumpulkan semua bukti-bukti dan petunjuk. Alex telah mengetahui tentang siapa Leonard sebenarnya dan motif apa yang membuat pria itu sampai menculik istrinya.
Bagaimanapun juga, Alex tidak akan pernah mengampuni siapapun yang berani menyakiti Anna. Kemarahan pria itu telah sampai di ambang batas. Alex telah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan membunuh siapapun yang berani menyentuh istrinya.
Beberapa mobil tengah terlihat menghampiri posisi Alex dan anak buahnya. Dengan tidak sabar Alex pun menghampiri mobil itu dengan emosi.
Roy baru saja keluar dari dalam mobilnya dan dengan cepat Alex langsung menarik kerah bajunya dan mendorong kuat tubuh pria itu sampai terbentur ke mobil.
BRUK!!!!
"KENAPA LAMA SEKALI BRENGSEK!!!!!!" teriak Alex emosi.
Anak buah Roy mencoba untuk menolong Bos mereka, namun dengan cepat Roy mengangkat tangannya, mengisyaratkan anak buahnya untuk tetap berdiri diam di posisi mereka. Roy tau saat ini perasaan Alex pasti sangat kacau dan tidak karuan. Pria itu terlihat sangat sangat frustasi dan menyeramkan.
Roy mencoba menahan tangan Alex yang berada di kerah bajunya. Wajah pria itu telah memerah karena cengkraman tangan Alex di lehernya,
"Te.. Tenang kawan... Tenangkan... dirimu..." ujar Roy dengan nafas yang tertahan.
Sebelumnya Alex tidak sengaja bertemu Roy saat dirinya berada di kantor. Saat itu Roy berniat mengunjungi Alex seperti biasa. Namun, Alex datang ke kantor dengan terburu-buru dan penuh emosi.
Roy mencoba bertanya pada Alex tentang apa yang terjadi, namun pria itu tidak berbicara apapun dan malah memukul Roy. Untung saja ada Harry yang melerai dan akhirnya memberitahu Roy tentang semua yang terjadi. Dan dengan inisiatif dan kepeduliannya pada Alex, Roy pun ikut mencari tau dan membantu Alex.
Roy sebelumnya memang sudah tau tentang masalah Alex dan Franklin (ayah Leonard) di masa lalu. Tetapi dirinya tidak tau bahwa Franklin memiliki seorang anak, dan anaknya sekarang ingin menuntut balas pada Alex.
"Uhuk!!"
Roy mulai terbatuk dan mencoba kembali menenangkan Alex.
"Te.. Tenang... Kawan..." ujarnya lagi dengan susah payah.
Alex yang sadar pun seketika melepaskan cengkramannya dan menatap Roy dengan rasa bersalah.
__ADS_1
"Maafkan aku" ujarnya merasa bersalah.
Alex mengusap wajahnya kasar dan menarik rambutnya kuat untuk menyadarkan dirinya.
Perasaannya sangat kacau sekarang. Marah, sedih, kesal, bingung, semuanya bercampur menjadi satu.
Pikirannya sekarang di penuhi dengan sang istri..
Bagaimana keadaannya??
Apakah Anna baik-baik saja??
Apakah calon anaknya juga baik-baik saja?? pikirnya resah.
Roy menatap sahabatnya yang terlihat kacau itu dan menepuk pundaknya,
"Tenang kawan.. Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan" ujar Roy menenangkan.
Alex menghapus air matanya dan menggeleng pelan,
"Aku akan membunuh pria itu jika dia berani menyakiti Anna!!" ujarnya tajam.
Roy menghela nafasnya dan mengangguk. Pria itu mengeluarkan handphonenya dan memberikannya pada Alex,
"Ini... Aku sudah berhasil melacaknya.. Dia sedang berada di sebuah gedung tua di pinggir kota" terang Roy.
Alex seketika mengambil handphone Roy dan mencengkeramnya kuat,
"BAJINGAN!!!!!" geramnya.
Lalu dengan cepat Alex pun bergegas masuk ke dalam mobilnya,
"APA YANG KALIAN TUNGGU!!! CEPAT BERANGKAT!!!!" teriaknya tidak sabar.
Mobil Alex pun melaju dengan cepat disusul anak buahnya. Roy menghela nafasnya melihat kepergian Alex dan mulai masuk ke dalam mobilnya untuk menyusul,
"Ayo kita berangkat!!" perintahnya juga pada anak buahnya.
Bersambung..
Halo, support selalu cerita ini ya,
Jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️
Yuk, bikin author semangat lagi nulis dengan tinggalkan jejak di kolom komentar 🙏😁
Dan, jangan lupa kalau baca novel jangan lupa waktu ya, dan ibadah juga ☺️🙏
Maaf ya jarang update, maklum ide terkadang mentok dan ngak jalan 🤧🙏
__ADS_1