Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Masa Lalu Yang Kelam


__ADS_3

-Anna POV-


"Kau!!" ujar ku cukup terkejut.


Ternyata yang membuka pintu adalah Lidya, kupikir pria psikopat itu yang akan muncul. Aku tidak siap untuk bertemu dengannya saat dalam kondisi lemas seperti ini. Melihat wajahnya membuatku muak. Apa yang telah dia lakukan pada Kak Billy sungguh sangat kejam. Dan aku tidak tau apakah Kak Billy masih hidup saat ini atau tidak.


Ya Tuhan lindungilah dia..


"Selamat malam nona.. Aku mengantarkan makan malam untukmu. Sudah hampir seharian nona pingsan dan belum makan apapun" ujar Lidya sambil meletakkan makanan di meja samping tempat tidurku.


"Oh.. Terima kasih" ucapku.


"Silahkan dimakan" ujarnya tersenyum padaku.


"Apakah nona mau aku suapi?" tanyanya.


"Ti.. Tidak usah, aku bisa makan sendiri" ujarku tersenyum sambil mengambil makanan itu dan memakannya perlahan.


"Nona.. Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur dan bertanya tentang masalah nona dan mengapa nona bisa di kurung oleh Tuan Alex.."


"Tapi.. Aku menyarankan nona jangan sekali-kali menyinggungnya. Karena Tuan Alex adalah orang yang mudah marah. Dia akan melakukan hal-hal kejam untuk menghukum orang yang telah menyinggung dan membuatnya marah. Dan saat dia marah, dia akan kehilangan akal sehatnya" ujar Lidya dengan wajah yang serius.


Aku hanya terdiam dan bergidik ngeri mendengar perkataan Lidya.


"Hmm bolehkah aku bertanya padamu? ucapku ragu pada Lidya.


Dia terdiam sejenak, kemudian mengangguk tersenyum.


"Apa kau sudah lama bekerja disini?" tanyaku padanya.


"Sebenarnya.. Yah.. bisa dibilang seperti itu.." ujarnya sambil menatap lantai seperti mengingat sesuatu.


"Dulu.. Saat aku berusia 16 tahun, aku diculik oleh sekelompok orang yang tidak ku kenal. Mereka adalah sekelompok organisasi yang menjual organ tubuh manusia. Dan mereka mengincar anak-anak yang masih muda, bahkan anak-anak kecil yang tidak berdosa. Lalu, tidak tau bagaimana tempat persembunyian mereka diserang oleh kelompok lain, yang ternyata adalah kelompok dari Tuan Alex. Mereka menyelamatkan kami. Para anak-anak yang telah diculik, lalu diantarkan kembali pada keluarganya masing-masing.. Tapi saat itu aku adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di sebuah panti. Saat itu memang aku sedang melarikan diri dari panti, karena suatu hal.. Aku tidak ingin kembali ke tempat panti asuhan itu lagi. Lalu aku meminta pada salah seorang pria suruhan Tuan Alex untuk membawaku saja, karena aku tidak ingin kembali ke panti.. Kemudian pria itu membawaku pada Tuan Alex. Saat pertama, aku mengira pimpinan mereka mungkin seorang pria dewasa atau mungkin orang yang sudah berumur. Tapi.. perkiraanku salah.. Ternyata pemimpin mereka adalah seorang pria remaja, dengan wajah datar dan dingin tanpa ekspresi. Mungkin saat itu usia Tuan Alex sekitar 17 tahun, yang hanya berbeda 1 tahun dariku.. Awalnya Tuan Alex menolakku dan menyuruh bawahannya untuk membawaku pergi. Tapi saat itu aku berlutut dan memohon padanya agar aku bisa tetap disana. Kemudian salah satu pembantu rumah tangga Tuan Alex, Bibi Lin, dia melihatku dan merasa iba padaku. Lalu Bibi Lin memohon dan meminta pada Tuan Alex agar bisa merawatku. Dan akhirnya Tuan Alex hanya diam saja kemudian pergi.. Saat itu Bibi Lin menjagaku seperti putrinya, aku membantu setiap pekerjaan rumah dengannya. Bibi Lin bercerita banyak tentang Tuan Alex yang baru aku tau, ternyata dia hidup sebatang kara, kedua orang tuanya meninggal secara tragis. Mungkin itu yang membuat Tuan Alex menjadi pribadi yang seperti saat ini. Dan mulai saat itu aku benar-benar mengaguminya. Walaupun dia kejam.. tetapi dia sebenarnya masih mempunyai hati yang baik" ujar Lidya sambil tersenyum.


Aku menatap Lidya dengan seksama, sepertinya dia benar-benar mengagumi si Alex itu. Tapi apakah hanya sekedar mengagumi? pikirku.


" Ahh.. Maaf aku berbicara panjang lebar" ujar Lidya sambil membungkuk malu.


"Tidak.. Tidak apa-apa. Aku senang mendengar ceritamu" ujarku tersenyum.


"Lalu.. Dimana BiBi Lin sekarang?" tanyaku.


Lidya terdiam mendengar pertanyaan ku. Lalu tersenyum getir.

__ADS_1


"Bibi Lin sudah meninggal.." ucapnya sedih.


Aku menatap terkejut pada Lidya,


"Maaf.. aku tidak tau, aku turut berduka cita" ujarku.


"Tidak apa-apa.." ujarnya mencoba tersenyum.


"Bibi Lin meninggal 1 tahun yang lalu" ucap Lidya.


"Sakit?" tanyaku.


Lidya menggelengkan kepalanya.


"Bukan.. Dia tertembak" ujarnya.


Aku menutup mulutku terkejut, tertembak? Apakah pria psikopat itu? pikirku.


"Bibi Lin tertembak karena ingin menyelamatkan Tuan Alex" ujar Lidya, yang menghapus pikiranku seketika. Ternyata karena ingin menyelamatkan Alex itu.


"Saat itu Tuan Alex diserang oleh sekelompok orang. Dan saat Tuan Alex lengah, salah satu orang itu menembak kearah Tuan Alex. Tapi Bibi Lin yang menyadari hal itu langsung mendorong Tuan Alex, dan peluru pun tepat mengarah pada kepalanya" ucap Lidya sedih.


Aku menatap prihatin pada Lidya, aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. Saat mengingat kembali orang yang kita sayangi telah tiada..


"Maaf.. Aku terbawa suasana" ujarnya sambil menghapus air matanya yang menetes.


"Ngomong-ngomong.. Kita belum berkenalan secara resmi" ujarku.


"Namaku Anna Elizabeth Pratama" ujarku sambil mengangkat tanganku untuk berjabatan dengannya. Siapa tau kami bisa menjadi seorang teman dan dia bisa menolongku untuk segera keluar dari sini.


"Namaku Lidya Juana, panggil saja Lidya. Walaupun sepertinya aku lebih tua darimu, tapi panggil namaku saja" ujarnya tersenyum sambil menjabat tanganku.


"Baiklah Lidya" ujarku.


"Kalau begitu silahkan habiskan makananmu. Aku juga telah menyiapkan beberapa pakaian di dalam lemari yang bisa kau gunakan" ujarnya.


"Oh ya.. Apa tadi kau yang membersihkan kamar ini?" tanyaku.


" Oh bukan, ada beberapa pekerja lain juga yang bertugas membersihkan rumah. Sekarang tugasku adalah fokus untuk mengurus segala kebutuhanmu" ujarnya tersenyum.


"Begitu ya, baiklah" jawabku.


"Kalau begitu aku permisi keluar, nikmatilah makananmu" ujarnya, lalu membungkuk padaku dan berjalan keluar.

__ADS_1


Setelah pintu kembali tertutup dan terkunci, aku mulai melanjutkan makan ku. Sambil berpikir kembali tentang apa yang dikatakan Lidya tadi. Ternyata pria psikopat yang bernama Alex itu mempunyai kisah kelam dimasa lalunya yang membuat dia menjadi pria kejam seperti saat ini. Tapi tetap saja, pribadinya ini sungguh menakutkan dan berbahaya.


Tapi.. Jika dia memang masih mempunyai sedikit rasa murah hati, apakah dia akan membebaskan aku dari sini?


Hanya Tuhan yang tahu..


-Alex POV-


Aku duduk di kursi meja kerjaku, kepala ku terasa berat dan pening. Sial, sakit kepala ini kambuh lagi..


Aku mengambil obat yang ada di dalam laci dan meminumnya.


Memikirkan banyak sekali masalah yang timbul di perusahaan membuat kepalaku pening. Ditambah lagi ternyata si tua bangka itu sudah kabur kembali dari New Zealand dan entah kemana..


Ternyata menangkap si tua itu tidak semudah yang ku kira..


Saat aku tenggelam dalam pikiranku, handphoneku tiba-tiba berbunyi. Siapa yang berani menggangguku disaat seperti ini..


Tertera nama 'Roy' di layar handphone, aku mendengus malas dan mengabaikannya. Tapi ternyata Roy tidak menyerah begitu saja, dia terus menelpon dan membuatku terganggu. Dengan terpaksa aku mengangkat telfon dengan marah,


"Apa yang kau mau!!!!" ucapku dingin.


("Woahh.. relax bro.. sepertinya kau dalam mood yang tidak baik") ujarnya di balik telpon.


"Jika kau sudah tau sebaiknya jangan menggangguku!" balasku tegas.


("Justru aku menghiburmu Alex.. Ayolah datang ke club malam ini.. Aku mengadakan sebuah pesta yang akan menghiburmu, dan jangan lupakan aku menyiapkan banyak wanita sexy dan cantik") ujarnya.


"Aku tidak tertarik!!!" jawabku sinis.


("Ohh ayolah.. walaupun wanita-wanita cantik dan sexy tidak menarik perhatianmu tapi.. aku punya informasi yang akan membuatmu senang..") ujarnya.


"Informasi apa?" tanyaku.


("Kau datanglah kemari maka aku akan memberitahumu, aku jamin informasi ini akan membuatmu senang") ucapnya.


"Baiklah.. Jika itu bukan informasi yang membuatku senang, maka aku akan menghabisimu!!"


("Aku jamin Alex, baiklah aku akan menunggumu, see you") tutupnya.


Aku bergegas memakai jas ku dan keluar dari ruangan. Informasi apa yang dia tau? awas saja jika dia memberikan informasi yang tidak berguna..


Bersambung..

__ADS_1


Halo, jangan lupa komen dan like nya ya, mohon maaf jika ada kata atau kalimat yang kurang pas ☺️


Mohon maaf untuk yang tidak nyaman, untuk beberapa episode ke depan ceritanya terlalu banyak POV belum aku revisi ulang hehe, tapi cuma beberapa kok, selebihnya ngak.. jadi lanjut baca ya 🤗 di jamin ceritanya seru ❤️


__ADS_2