
"Bagaimana bisa papa melakukan itu pa, apakah papa tak berfikir akibat dari perbuatan papa telah membuat nyawa seseorang yang tak bersalah melayang karena syok melihat jasad putrinya yang hangus terbakar." ucap nyonya Tias
"Iya tau ma, papa juga menyesal soal itu." Tuan Bram berkata sambil nunduk
"Papa tau kalau Adi baru saja keluar dari rumah sakit karena serangan jantung, tapi papa sebagi teman dan juga sahabat yang dipercayanya justru merahasiakan hal sebesar itu darinya hingga merenggut nyawanya. Papa benar - benar kelewatan." Nyonya Tias
"Papa juga tak menyangka akan semua itu ma. Papa menyesal atas semuanya, tapi kita harus mengambil resiko untuk segalanya, sama seperti bisnis. Kita harus mengorbankan sesuatu untuk bisa mencapai sesuatu yang lebih baik lagi." Tuan Bram
"Pa.! Apa papa pikir nyawa seseorang adalah bisnis? Kenapa yang ada di otak kalian ini hanyalah urusan bisnis, sampai - sampai kalian tak bisa melihat kesedihan dan rasa sakit dari orang yang kehilangan. Kalian mempermainkan perasaan semua orang bahkan merenggut nyawa seseorang yang tak berdosa." Nyonya Tias marah besar.
"Ma, yang dimaksud papa bukan begitu. Kita merahasiakan semuanya untuk menyelamatkan nyawa Fairi." Kenan ikut buka suara membela papanya.
"Benar ma, waktu itu adalah waktu yang tidak memungkinkan untuk papa berkata jujur dengan kondisi Fairi yang sangat memperihatinkan dan tak mungkin untuk muncul di tengah - tengah kita." Tuan Bram mencoba untuk menjelaskan.
"Haruskah, haruskah dengan berbohong dan membuat Adi meninggal dan meninggalkan kita semua." Nyonya Tias menatap Kenan dan tuan Bram dengan tajam
"Maafkan papa ma, tapi waktu itu papa benar - benar tak mampu berbuat banyak." Tuan Bram meminta maaf pada nyonya Tias
"Itu sebabnya, papa setiap Minggu datang kemakan Adi, karena papa merasa bersalah padanya dan memohon ampunannya. Akankah Adi memaafkan papa hah, bisakah dia memaafkan perbuatan papa ini." Nyonya Tias menangis dan tak habis pikir dengan suaminya yang merahasiakan soal Fairi selama 1 tahun lebih darinya dan yang lain.
"Dia pasti memaafkan papa ma, karna saat ini dia pasti akan bangga pada Fairi yang telah menjadi seseorang yang tangguh dan juga bijak sana, walau sifat lembutnya tetap sama namun Fairi yang sekarang telah berbeda, dia adalah seorang pebisnis yang tanpa ampun untuk orang - orang yang telah membuat kesalahan dan kecurangan pada Adi selama ini." tuan Bram berkata dengan percaya diri.
"Aku tak habis pikir dengan pola pikiran kalian. Aku tak tau harus bagaimana, jika waktu itu papa bilang mungkin Adi masih ada bersama dengan kita saat ini." Nyonya Tias mulai merendahkan suaranya dan menyandarkan tubuhnya dengan lemas di sandaran sofa.
"Maaf pak Ken, pak Bram, ada Anita yang datang ingin bertemu. Apa saya suruh masuk sekarang." Agus membuyarkan situasi yang tegang antara tuan Bram, nyonya Tias dan Kenan.
"Iya Gus suruh dia masuk." perintah Kenan pada Agus
"Siapa Ken?" tuan Bram bertanya penasaran.
"Salah satu asisten Fairi yang sekarang." jawab Kenan santai
"Selamat malam, maaf mengganggu, saya Anita asisten non Ayu. Saat ini jika anda tak ada urusan yang mendesak non Ayu mengundang anda sekalian untuk datang makan malam di rumah." Anita menyampaikan pesan Fairi pada tuan Bram dan Kenan serta nyonya Tias.
__ADS_1
"Baiklah kami akan siap dalam 10 menit." jawab tuan Bram langsung dan Kenan mengangguk.
"Baik, akan saya tunggu di luar." Anita pun keluar dan menunggu tuan Bram untuk bersiap.
"Siapa dia dan apa benar dia adalah asisten Fairi kita. Kenapa dia harus mengundang kita makan malam di rumahnya bukannya langsung datang saja kemari." Nyonya Tias menatap suaminya dan Kenan dengan heran.
"Dia adalah Anita asisten Fairi, kan tadi Kenan sudah bilang, mama ingin tau ceritanya kan dan ingin bertemu dengan dia bukan. Maka kita harus datang ke rumahnya. Mama siap - siaplah tadi papa bilang 10 menit untuk dia menunggu." jelas tuan Bram
"10 menit, tidak. Mama hanya butuh 5 menit." Nyonya Tias berdiri dan menuju kamarnya
"Maafkan papa Ken, papa merahasiakan soal ini selama ini." Tuan Bram meminta maaf pada Kenan.
"Tak apa pa, Ken tau papa ingin berbuat yang terbaik." Kenan menjawab dan memeluk papanya.
"Papa tau kalau kau sudah mendapat ijin dari Adi untuk mengejar Fairi lagi, tapi kali ini papa tak bisa membantu karena Fairi bukan lagi Fairi yang dulu, dan kali ini pasti akan lebih sulit lagi" tuan Bram berkata dan menatap Kenan.
"Ken tau pa, tapi Ken tak akan menyerah. Dia adalah ibu dari anak Ken, dan Ken akan berusaha untuk mendapatkannya sampai kapan pun Ken tak akan berusaha walau harus membutuhkan waktu yang lama." jawab Kenan dengan tekat yang kuat.
"Hem, semoga berhasil." Tuan Bram memberikan semangat pada putranya.
"Wao benar - benar butuh waktu hanya 5 menit." Tuan Bram melihat jam tangannya dan memuji istrinya.
"Kami sudah siap" Kenan keluar dan bilang pada Anita
"Baik, mari kita berangkat." Anita membuka pintu mobil untuk Kenan.
"Maaf, sebaiknya kami bawah mobil sendiri saja." tolak Kenan
"Oh, kalau begitu silakan ikuti saya dari belakang." Anita pun masuk kedalam mobil dan mulai melaju.
Dalam perjalanan itu nyonya Tias tak sabar untuk bertemu dan bertatap muka dengan Fairi yang sudah 1 tahun lebih ini tak dilihatnya.
...💔💔💔...
__ADS_1
"Boo...jangan pilih - pilih makanan." Fairi memberikan potongan sayuran pada Kemal
"Tapi aku tak suka wortel." Kemal menjawab dengan suara kecil lalu terdiam karena dia ingat akan janjinya kalau dia tak akan nakal lagi dan akan menuruti perintah mamanya.
Kemal tersenyum menatap Fairi yang duduk didepannya sambil mengawasinya, perlahan Kemal mengambil lagi potongan wortel yang disingkirkannya.
"Dicoba dulu, pasti enak." Kemal memakan perlahan satu potongan wortel
"Bagus, habiskan sayurnya dan tidak boleh ada yang dibuang" Fairi berkata dan berdiri untuk mengambilkan jus buat Kemal.
Kemal yang duduk di meja makan turun pindah ke sofa lalu melirik pada tuan Sujono yang sedang duduk di sofa samping Kemal sambil membaca koran.
"Apakah om ini adalah papa baru ku."
Kenan bertanya dan menatap Sujono dengan mata polos berkedip kedip.
Sujono yang mendengar pertanyaan itu balik menatap Kemal dengan diam. Sedangkan Kemal terlihat sedang menunggu jawaban dengan tak sabar.
"Menurutmu bagaimana, jika aku memang adalah papamu." tanya Sujono
"Hmmm...aku tak masalah asal mama tak meninggalkan aku." jawab Kemal setelah berfikir.
"Apa kau menyukaiku, atau kau memiliki pilihan lain untuk mamamu, atau mungkin kau memiliki target seseorang yang harus menjadi papamu." Sujono bertanya dan menatap Kemal.
"Aku tak peduli dengan itu, selama mama tak meninggalkan aku dan menyukai om, aku juga akan belajar menerima om. Tapi untuk papamu tetap cuma 1 orang saja. Dan om tetaplah om bukan papaku." jawab Kemal dengan tegas.
Sujono tersenyum lalu mendekat dan duduk disebelah Kemal. "Kau ingin bekerja sama dengan ku? Jika kau mau aku bisa membuatmu menjadi seseorang yang tak akan terkalahkan."
"Tapi aku gak mau mengalahkan orang, aku hanya ingin membantu dan menolong orang." jawab Kemal polos.
Sujono tertawa terbahak mendengar jawaban Kemal yang lucu. Sedangkan beberapa orang yang melihat hal itu mereka merasa kalau ini adalah pertama kalinya mereka melihat pimpinan mereka tertawa lepas seperti saat ini.
"Kamu sudah datang Ta." Sabrina menyambut Anita dan Kenan sama orang tuanya
__ADS_1
"Mari silakan masuk." Sabrina mempersilakan tuan Bram dan yang lainnya masuk kedalam rumah.
Terlihat nyonya Tias menatap dengan bingung rumah yang begitu besar dengan banyak ya orang yang berdiri menjaga rumah itu, dan nyonya Tias menganggap kalau rumah itu sudah mirip dengan sebuah tahanan. Mereka berjalan perlahan mengikuti Sabrina dan Anita masuk kedalam rumah dan saat mereka masuk mulai terdengar suara tawa dan perbincangan antara orang dewasa dan anak kecil.