
Zain duduk didalam rumah kontrakannya, lalu menatap pada Khumairah " Mas pergi sebentar, ingin mencari mobil yang baru, sebab mobil yang lama sudah Mas jual" ucap Zain berpamitan.
Khumairah mengerutkan keningnya, bukan tanpa alasan, namun Ia merasa trauma saat semalam Zain berpamitan kepadanya dan malam hari baru pulang kerumah.
"Jangan lama-lama.. Mai takut" ucap Khumairah dengan nada cemas.
Zain teringat sesuatu, Ia ada membelikan Istrinya phonsel tulalit yang hanya dapat digunakan untuk menelefon dan mengirimkan pesan.
Zain mengambil kotak kecil berisi phonsel tersebut, lalu menyalakan layarnya setelah Ia charger sebelumnya selama 3 jam sebelum digunakan.
Zain menghampiri Khumairah, dalam phonsel itu hanya ada satu nama kontak saja, yaitu nama Zain.
"Dik.. Coba perhatikan, ini gunanya untuk kita berkomunikasi dan jika Mas melakukan panggilan seperti ini" Zain memanggil nomor phonsel Istrinya.. "Adik tekan tombol hijau ya" ucap Zain memberikan tutorial kepada istrinya hingga panjang lebar.
"Apakah Kamu sudah faham, Dik?" tanya Zain mencoba mengingatkan.
Khumairah menganggukkan kepalanya, lalu mencoba mengulanginyanya beberapa kali hingga Ia benar-benar sangat ingat dan juga faham.
"Mai sudah faham, Mas" ucap Khumairah dengan cepat.
"Bagus.." jawab Zain, lalu mengacak ujung kepala istrinya dengan lembut. "Mas berangkat dulu, Ya.. Jangan keluar rumah, makan malam Kamu sudah Mas belikan dan Mas gantung didindin itu, dan Ini pegang uang ini untuk berjaga-jaga" ucap Zain sembari memberikan 2 lembar uang ratusan ribu.
Bukannya Zain tidak ingin memberikan uang hasil dagangannya dipegang oleh Khumairah, namun Ia tau jika Khumairah terlalu polos dan takutnya jika ada seseorang berbuat tidak baik, Ia akan menyerahkan uang itu dengan polosnya.
Zain beranjak bangkit dari duduknya dan akan segera pergi untuk bertemu dengan penjual mobil tersebut dan beranjak menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Mas.." panggil Khumiarah.
"Ya.." jawab Zain dengan cepat.
Sesat Khumairah berusaha bangkit dari duduknya, berjalan tertatih dengan kesusahan karena perutnya yang membuncit dan terkadang pinggangnya terasa sakit.
Setelah dekat dengan Zain, wanita itu memeluk Zain dari arah belakang "Jangan lama-lama, Mai takut sendirian" ucap Khumiarah dengan sendu, Ia masih takut peristiwa semalam karena Zain terlalu lama pulang.
Zain melepaskan pelukan Khumairah, lalu menatapnya dengan lekat "Kamu harus belajar menjadi pemberani, kamu harus kuat, andaipun Mas tidak kembali karena sesuatu hal, Mas ada menyimpan uang didalam kartu, dan kamu nanti datangi sebuah bank yang sama tertulisnya dinama kartu ini, minta bantuan seorang security untuk mengambilnya" ucap Zain memberikan sebuah kartu ATM yang selama ini Ia simpan dengan nama identitas palsunya.
"Uang itu hanya bisa kamu ambil melalui kartu ini, dan ini nomor sandinya" Zain kemudian mebgetikkan nama sandi di phonsel Khumairah dan menympannya dalam contak nama.
Khumairah menatap pada pria itu "Kenapa Mas ngomongnya seperti itu?" ucap Khumairah semakin merasa khawatir.
"Tapi, Mas.." Khumiarah kembali menyela.
"Tidak ada tapi-tapian, Kamu harus kuat dan belajar menjadi wanita tangguh, ingat..! Semua manusia yang bertemu suatu saat akan berpisah, seperti kamu dan Ayah waktu dihutan, maka Kamu harus belajar dari hal itu" ucap Zain dengan lembut namun namun penuh penekanan.
Khumairah mendekap pria dengan erat, kata-kata yang diucapkan oleh Zain begitu teramat menakutkannya dan itu membuatnya seakan tak rela untuk melepaskan kepergian sang suami.
"Mas harus pergi untuk membeli mobil ini, Doakan yang terbaik untuk Mas, agar kita terus dapat bersama" ucap Zain, lalu mengecup lembut ujung kepala Khumairah dengan perasaan yang begitu dalam "Mas mencintaimu" bisiknya, lalu melepaskan pelukannya, dan melangkah pergi.
Khumairah menatap kepergian Zain dengan hati yang begitu berat, Ia tidak ingin berpisah dari pria itu, hanya Zain yang menjadi tempatnya bersandar dan menaruh harapan pada hidupnya yang rapuh.
Setelah Zain menghilang dari pandangannya, Ia memandang kartu yang diberikan oleh Zain, terkesan aneh padanya, bagaimana mungkin sebuah kartu dapat menyimpan uang dalam jumlah banyak, Ia membolak-balik kartu itu dengan bingung, lalu membaca nama Bank yang tertulis diatas kartu tersebut, dan mencoba mengingatnya, lalu membaca kata sandi yang disimpankan oleh Zain kedalam phonselnya.
__ADS_1
Khumairah duduk bersandar didinding, lalu menselunjurkan kedua kakinya, dan sepanjang hari terus berdizikir meminta kemudahan proses kelahiran sang anak dan juga keselamatan atas suaminya.
"Laa Ilaaha Ilaa anta subhanaka inni kuntu minadzhalimin" hanya tasbih itu yang Ia ingat saat diajarkan oleh Almarhum ayahnya saat itu.
"Ya Rabb.. Sebagaimana Engkau memudahkan Nabi Yunus keluar dari perut ikan Nun, maka permudahlah urusanku dan urusan suamiku, Mudahkanlah jalan kelahiran anakku dengan mukjizatmu, dan mudahkanlah urusan suamiku" Doanya dalam hati, sembari terus menggaungkan tasbih tersebut sepanjang saat sembari menunggu kepulangan Zain.
Sementara itu, Zain telah sampai disimpang gang, lalu menunggu taksi online yang dipesannya untuk pergi menemui pe jual mobil yang telah menjanjikan pertemuan dengannya.
Setelah taksi itu datang, dan ternyata taksi yang malam tadi mengantarnya, lalu keduanya seperti seakan sudah saling mengenal.
Zain meminta untuk mengantarnya ke tempat tujuannya. Lalu taksi itu membawa Zain ketempat tunuan dimana Ia akan bertemu dengan penjual monil tersebut.
Sepanjang perjalanan, keduanya terlibat obrolan ringan dan seputar anak dan istri saja, sedangkan Zain mennaggapinya dengan sekedarnya, sebab Ia tidak ingin terpancing membuka identitasnya kepada siapapun, sebab tidak mudah mempercayai seseorang dalam sekejab saja.
Setelah menemukan tempat bertemu janji, Zain turun dari taksi, lalu mengedarkan pandangannya mencari orang yang akan menjual mobilnya.
Zajn menghubungi orang tersebut, dan tampak diujung jalan sebuah mobil pick up berwarna putih menghampirinya.
Melihat sopir itu membawa anak dan istrinya, Zain merasa lega, sebab pastinya penjual itu tentu bukan penipu ataupun pelaku kejahatan.
Setelah keduanya berhadapan dan saling memperkenalkan diri, Pria itu memperlihatkan data-data dan juga kelengkapan surat-surat yang akan mendukung penjualan mobilnya serta mempersilahkan Zain memeriksa kondisi mesin mobil tersebut.
Setelah melihat semua dalam kondisi baik, maka keduanya melakukan kesepakatan untuk jual beli dan dengan harga yang disepakati, Zain melakukan pembayaran secara tunai.
Setelah mendapatkan mobilnya, Zain mengemudikan mobilnya menuju pulang, Ia tidak menyangka jika hari ini begitu sangat mudahnya Ia dalam urusannya, sebab tanpa Ia sadari, ada doa yang tulus dari seorang istri polosnya yang mengiringi setiap langkahnya sehingga Ia begitu dipermudah oleh Rabb-Nya dalam mencapai apa yang diinginkannya.
__ADS_1