
Saat sampai di perbatasan pabrik Fairi menghentikan mobilnya dan dia meminta agar Lina terus ke pabrik untuk bertemu dengan pimpinan pabrik dan menyampaikan berkas yang tadi sudah diperiksa dan dikoreksi sama Fairi selama dalam perjalanan ke Bogor.
"Boo ayo bangun mau ikut mama lihat - lihat perkebunan tidak?" Fairi membangunkan Arman yang sedang terlelap dalam dekapan bi Mina.
"Honey, kita sudah sampai?" Arman mengucek matanya dan bertanya dengan suara serak serta mulai berusaha untuk menyadarkan dirinya.
"Bibi langsung ke rumah saja dan Lina tolong kamu ajak tamu - tamu kita untuk ke ruang rapat setelah dari perkebunan aku akan langsung ke ruang rapat." Fairi berkata pada Lina yang mengambil alih setir mobilnya.
"Baik, ibu hati - hatilah." Lina berkata dan langsung melajukan mobilnya.
"Honey aku duluan." Arman langsung masuk kedalam kebun teh.
Fairi tersenyum dan mengikuti Arman serta bertemu dengan beberapa pegawai yang sedang memetik daun teh karena saat sampai disana Fairi sudah pada pertengahan hari sehingga banyak pegawai yang sedang istirahat dan Fairi hanya bertemu dengan beberapa pegawai saja yang masih bekerja dan berbincang dengan para pegawai itu.
Fairi beramah tamah dengan beberapa pegawai yang masih bekerja dan banyak tanya - tanya pada mereka soal bibit teh, mereka juga merespon dengan sangat baik dan menjelaskan dengan sangat ramah karena berfikir kalau Fairi adalah wisatawan yang datang dan ingin melihat serta banyak tau soal perkebunan teh ini.
"Baiklah selamat bekerja saya mau melihat - lihat yang lain dulu." Fairi berpamitan pada para pegawai lalu pergi melihat - lihat lebih jauh kedalam perkebunan bersama dengan Arman yang terlihat sangat senang bermain dan lari kesana kesini dengan sangat senang.
"Honey ini sangat menyenangkan." Arman berteriak dengan sangat seru
"Apa kau menyukai tempat ini Boo?" Fairi bertanya pada putranya dan tersenyum melihat keseruan Arman yang bermain.
"Suka, di sini sangat sejuk dan banyak orang, ayo kita main kejar - kejaran honey." Arman berlari dengan cepat melewati beberapa tikungan dan lompat naik semakin naik ke kebun teh serta menerobos beberapa pekerja yang masih bekerja dibeberapa bagian kebun teh.
"Boo jangan lari - lari nanti jatuh" Fairi berteriak mengejar putranya yang sedang lari di area perkebunan dengan sangat senang.
"Kejar aku honey, ayo dapatkan aku. Awas - awas lewat." Arman terus saja lari dengan sangat cepat dan menerobos orang - orang yang sedang berjalan dan berbincang.
"Permisi maaf - maaf mengganggu." Fairi juga ikut lari dan melewati 4 orang yang sedang berbincang. "Boo, berhenti jangan lari lagi, mama menyerah." Fairi menunjukkan nafas yang tersengal dan lelah.
"Honey..." Arman menoleh kebelakang dan saat dia melihat mamanya kelelahan dia berhenti lari dan mendekati Fairi.
"Eh, dia? Mbak Fairi." Seseorang menarik tangan Fairi saat Fairi melintasi dia.
__ADS_1
"Kau mengenal honey ku nona?" tanya Arman yang selalu memanggil seorang wanita yang tak dikenalnya dengan sebutan nona walau jauh lebih tua dari dirinya.
"Benar mbak Fairi kan, kemana saja dan kenapa pergi tanpa pamit apa mbak Fairi tau bagaimana aku merasa sangat panik waktu itu." Melisa langsung memeluk Fairi
"Meli, maafkan aku karena waktu itu sangat mendesak." Fairi menjawab dan merasa bersalah karena pergi tanpa pamit dan tersenyum dengan canggung.
"Dia...?" Melisa terkejud melihat Arman yang berdiri disamping Fairi dan menatap Melisa dengan tatapan tajam dengan mata elangnya yang terlihat imut. lalu Melisa jongkok dan menatap Arman "Katakan siapa namamu sayang?" sambung Melisa bertanya pada Arman yang berdiri dengan tenang disamping Fairi dan menatap Melisa.
"Kemal Armansyah." jawab Kemal dengan lantang dan Fairi yang mendengarkan tersenyum bangga dengan putranya yang selalu berani dan juga tegas walau pada orang yang baru ditemuinya.
"Nama yang sangat indah dan juga dia sangat tampan serta menggemaskan sungguh dia bagaikan boneka, ingin rasanya aku mencubit dan membungkusnya serta membawahnya pulang." Melisa berkata dengan sangat senang melihat Kemal yang menggemaskan.
"Bagaimana kabar mu selama ini?" Fairi bertanya dan Melisa bangun menatap Fairi.
...💔💔💔...
Disaat Fairi bertemu dengan Melisa di perkebunan teh dan mulai membicarakan tentang masa lalunya yang telah terlewatkan di tempat lain Kenan yang sedang membaca ulang berkas perjanjian antara perusahaannya dengan pihak yang bekerja sama dengan dia, Kenan merasa terkejud dengan nama penanggung jawab yang merupakan nama dari orang yang dia kenalnya.
Kenan menyentuh nama penanggung jawab yang tertulis di berkas itu dengan hati - hati "Fairi Ayu Larasati." Kenan menyebutkan nama itu dengan suara kerinduan yang sangat mendalam.
"Agus, datanglah ke ruangan ku sekarang." Kenan memanggil Agus melalui telepon.
"Pak ada apa, apa ada yang bapak perlukan?" Agus bertanya dengan bingung saat masuk kedalam ruangan Kenan dan melihat Kenan nampak tak tenang.
"Katakan pada ku, siapa nama orang yang bertanggung jawab dalam kerja sama ini." Kenan bertanya pada Agus untuk memastikannya.
"Saat itu kami tak bertemu dengan orangnya pak, tapi kalau tak salah namanya ibu Larasati." jawab Agus menatap Kenan bingung.
"Apa sekarang mereka berangkat ke Bogor untuk bertemu dengan orang itu?" Kenan bertanya lagi.
"Iya pak, karena dari pihak mereka ibu Larasati sendiri yang akan menemui pak Farid dan Melisa pak, memangnya ada apa ya pak? Apa ada masalah?" Agus bertanya dan semakin bingung.
"Tunda janji temu hari ini dan siapkan mobil aku akan pergi ke Bogor sekarang juga." Kenan bergegas mengenakan jasnya dan berjalan dengan cepat.
__ADS_1
"Baik pak tunggu sebentar." Agus langsung bergegas lari melewati Kenan dan menyiapkan mobil kantor yang sudah diservis kemarin.
"Atasi semua yang di sini, aku pergi dulu." Kenan berkata dan terlihat terburu - buru
"Baik pak, hati - hati jalan." Agus menatap bingung pada bosnya. "Apa yang terjadi sebenarnya? Apa sebaiknya aku menghubungi pak Farid saja dulu dan mengatakan kalau pak Kenan akan menyusul mereka ke Bogor." Agus langsung menghubungi Farid.
Sementara dijalan Kenan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat cepat karena ingin lebih cepat sampai dan bertemu dengan orang yang dia anggap kalau itu adalah wanita yang selama 7 tahun ini dia cari dan dia rindukan.
...💔💔💔...
"Baiklah terima kasih atas kepercayaan dari pihak kalian dan senang bekerja sama dengan kalian, semoga kerja sama ini akan terus berjalan untuk waktu yang lama." ucap Fairi pada Farid dan Melisa yang telah melakukan perundingan dan telah mendapatkan kesepakatan sangat baik.
"Baik, saya juga sangat senang bekerja sama dengan anda." Farid berkata dengan sopan pada Fairi dan berjabat tangan.
"Mbak Fairi aku gak nyangka kalau kita bisa bertemu dan bekerja sama seperti ini" Melisa memeluk Fairi karena dia masih merasa kurang dalam pertemuan ini.
"Iya aku juga gak nyangka kalau kamu kembali ke sini dan bekerja dengan jabatan yang bagus di sini." Fairi membalas pelukan Melisa dan mereka saling melepaskan rindu.
"Honey, mama Rita menghubungi katakan dia ingin kita pergi kesana dan aku ingin pergi sekarang juga honey." rengek Arman yang ingin ikut Amrita untuk liburan.
"Tapi sayang kita berada jauh dari mereka sekarang, nanti mama akan bilang pada mereka untuk berangkat lagi lain hari bersama - sama ok." Fairi mencoba membujuk Arman agar tak ikut Amrita untuk liburan ke Bangkok.
"Apa kata mu Gus? Ada apa emangnya? Dia dimana sekarang?" Farid yang menerima panggilan dari Agus asisten Kenan. "Baik, baik aku akan menghubunginya dan akan tanya padanya apa ada masalah dengan kerja sama ini, ya kamu tenang saja." setelah itu Farid mematikan teleponnya.
"Aku tinggal dulu ya Mel." Fairi pamit pada Melisa dan pergi dari ruang rapat.
"Kenapa kak? Apa ada masalah?" Melisa bertanya pada Farid yang terlihat bingung.
"Aku sedang menghubungi Kenan, Agus bilang Kenan menuju kesini dengan terburu - buru dan seperti ada sesuatu yang penting. Tapi dari tadi telepon kakak tak diangkat olehnya." Farid berkata dengan khawatir.
"Loh memangnya ada apa? Terus kita bagaimana sekarang." Melisa pun merasa bingung
"Terpaksa kita harus menginap dan menunggunya di sini." Farid berkata dan mulai menyampaikan pada pihak Fairi kalau bosnya akan datang kemari dan mereka menyiapkan kamar untuk Farid dan Melisa.
__ADS_1