Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 76


__ADS_3

Setelah melalui pertengkaran dengan mamanya dan akhirnya mengetahui kebenaran kalau dirinya bukanlah putri kandung dari.taun Adi Wijaya Tyas langsung keluar dari rumahnya dan menuju ke apartemennya karena ingin menenangkan diri dari kabar yang mengejutkannya.


Selama dalam perjalanan Tyas terus berfikir dan menebak siapa ayah kandungnya yang sebenarnya, namun dalam hatinya dia telah terpatri kalau tuan Adi Wijaya yang selama ini dia kenal adalah ayahnya dan dia tak ingin orang lain yang menjadi ayahnya.


"Apa yang terjadi, sebenarnya apa yang sudah terjadi?" Tyas menggerutu dan mabuk di kamar apartemennya karena dia terus teringat akan perkataan dari mamanya kalau dia bukanlah anak dari tuan Adi, melainkan anak orang lain. Dan karena ingin hidup mewah serta ingin memberikan kehidupan yang jauh lebih baik maka Nyonya Ayu mendekati tuan Adi dan menikah serta menjadi istri kedua dari tuan Adi yang merupakan seorang pimpinan perusahaan besar.


Dengan mata memerah dan wajah sembab Tyas terus saja menenggak minumannya karena dia ingin melupakan apa yang dia dengar dari mamanya, karena Tyas merasa tak terima dan buruk telah dibohongi selama ini. Serta Tyas tak ingin kalau dia harus melepaskan julukan putri dari keluarga Wijaya yang sangat dipandang orang ini.


"Aku, aku tak akan melepaskannya. Tak akan pernah! Aku akan selalu memilikinya dan aku adalah putri Wijaya. Apa yang aku miliki sekarang ini adalah milik ku yang aku usahakan selama ini adalah milik ku dan hanya milik ku seorang.!" dengan kesal Tyas berteriak dan melemparkan botol minumannya hingga pecah berkeping - keping.


...💔💔💔...


"Tyas Putri Wijaya." Melinda bergumam dan tersenyum melihat resume Tyas yang dia dapatkan dari orang yang disuruhnya.


"Aku tak pernah tau kalau dia adalah saudaranya Fairi, karena nama mereka tak sama. Saat pertama kali bertemu dengannya di pesta amal aku tak tau siapa dia, namun pertemuan kedua saat dia mabuk dan tak mengenaliku di tempat kerjaku aku jadi tertarik padanya untuk menjadikannya senjata, karena aku tau kalau dia juga menyukai mas Kenan." Melinda tersenyum dengan sangat bangga dan dia mulai merencanakan sesuatu untuk memanfaatkan Tyas sebagai senjata membalas Fairi.


"Mel, apa yang kau lakukan." Danang masuk dan melihat Melinda tersenyum sendiri.


"Kakak tak tau apa pun, jadi urus saja urusan kakak." Melinda berkata dengan kesal pada Danang karena dia juga merupakan orang yang membuat dia diceraikan oleh Kenan.


"Aku ingin bicara dengan mu soal Maya, kenapa kau menitipkannya di pati asuhan." Danang bertanya soal putri Melinda yang bernama Mayangsari yang telah dititipkan oleh Melinda di panti asuhan tempatnya dulu.


"Kenapa, apa kamu mau mengasuhnya sendiri? Karena aku tak bisa, sibuk bekerja." Dengan sewot Melinda menawan dan beranjak pergi meninggalkan Danang di ruang tengah.


"Kenapa kau jadi berubah begini, dulu saat kau bersama dengan suamimu itu kau selalu menjaganya dengan baik. Kau tak bisa seperti ini Mel, dia adalah putri kita dan harusnya kita merawatnya sendiri." Danang mengikuti Melinda dan berkata dengan tak puas.

__ADS_1


"Karena dulu aku tak kerja dan juga mas Kenan membantuku dalam merawatnya." Melinda berkata dengan cuek "sudahlah jangan tanya terus aku ngantuk, sebaiknya kakak pergi saja pada wanita baru kakak." Melinda pun menutup pintu kamarnya dan menguncinya.


Danang terlihat sangat frustasi dengan sikap Melinda, karena sebenarnya Danang memang benar mencintai Melinda hanya saja Melinda tak mau memiliki hubungan serius dengan Danang karena dia masih menginginkan Kenan dan berharap kalau Kenan mau menerimanya lagi.


...💔💔💔...


"Bagaimana Ken?" tuan Adi bertanya dengan penasaran.


"Ya sebentar lagi akan ketahuan yah, dan firasat Fairi memang benar karena layar cctv ini sangat mencurigakan." jawab Kenan dan dia masih fokus dengan layar komputer didepannya tanpa berpaling sedikit pun


"Oh maaf anda adalah..." Fairi yang baru datang kaget melihat Agus bersama dengan Handoko.


"Iya benar saya Agus asisten tuan Kenan Bu Laras." Agus dengan sopan menjawab dan menunduk pada Fairi.


"Kenan di sini om? Bagaimana bisa dia di sini" Fairi bergegas mencari Kenan dan menuju ke ruang kendali cctv bersama dengan Handoko dan juga Agus.


"Dapat." suara Kenan setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Benarkah yang mana?" Tuan Adi mendekat begitu juga dengan Fairi dan yang lainnya.


"Lihatlah om, Fa, sebelum jam kejadian layar cctv sengaja ditutup dengan gambar yang sama dengan tampilan yang ditunjukkan oleh cctv, dan itu membuktikan kalau mereka tak bekerja sendiri melainkan bekerja sama. Dan sudah dipastikan pihak dari penjaga kendali cctv ikut membantunya." jelas Kenan dan menunjukkan seseorang yang dengan sengaja memasang penutup pada layar cctv sehingga semua cctv yang ada tak menunjukkan aktifitas mereka, dan mereka bekerja dengan tenang dalam menjalankan operasinya untuk membakar pabrik dan gudang dengan santai.


"Benar - benar kelewatan mereka, sebenarnya apa mau mereka dan ada maslah apa mereka ini." Tuan Adi berkata dengan geram.


"Tak masalah ada maslah apa dengan mereka, yang jelas sekarang urusannya sudah jelas kalau mereka dengan sengaja membakar pabrik dan gudang dan serahkan semua buktinya kepada polisi. Urusan mereka kita selesaikan nanti dan sekarang aku ingin fokus pada semua korbannya." Fairi berkata dengan tenang dan merasa lega karena itu bukan kecelakaan tapi itu disengaja, dalam hati Fairi sudah tau siapa dalangnya tapi dia tak ingin mengatakan apa - apa karena dia ingin tau apa permainannya selanjutnya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan maslaah cctv dan masalah pembakaran pabrik Kenan pun sedikit bersantai karena semua masalahnya telah diserahkan ke pihak berwajib dan mereka mulai mencari dalang dari semua perbuatan itu.


"Arman bersama siapa jika kau di sini?" Fairi bertanya soal putranya pada Kenan.


"Dia bersama dengan mama, dan dia anak yang sangat pandai. Dia bisa mengambil hati mama dengan baik, aku tak mengatakan kalau dia adalah putra kita." jelas Kenan tersenyum menatap Fairi.


"Ehem, hem. Baiklah terima kasih dan besok aku akan kembali jadi aku bisa mengambilnya lagi tolong bilang sama ma...mama kamu untuk tak menjemputnya di sekolah" Fairi berkata dengan sedikit tak nyaman pada Kenan.


"Kenapa kau jadi tak tenang? Fa..." Kenan belum menyelesaikan kalimatnya Fairi sudah bangun karena ada seseorang yang menghubunginya.


"Maaf aku angkat telepon dulu." Fairi beranjak menjauh dari Kenan.


Dari kejauhan Kenan memperhatikan kalau Fairi berbicara dengan santai dan terlihat sesekali Fairi tersenyum pada orang yang diteleponnya. Tatapan Kenan yang melihat gerak tubuh dan juga senyumnya Fairi dia merasakan sesuatu yang tak nyaman dalam hatinya.


Perasaan yang mencekam dan mencekik sehingga membuatnya merasa sesak membuat Kenan terus bernafas dalam karena dia tak pernah bicara santai seperti saat Fairi bicara dengan orang lain di teleponnya. Senyum Fairi yang merekah dan terlihat cantik dengan sinar lampu yang menyorotinya membuat wajah Fairi yang putih bersih terlihat semakin bersinar.


"Kenapa aku merasakan sakit melihat dia bicara dan tersenyum begitu manis pada seseorang yang menghubunginya, siapa orang itu dan kenapa dia bisa membuat Fairi berbicara dengan sangat lama padanya, karena sepertinya mereka bukan membahas soal pekerjaan." Kenan bergumam sambil memegangi dadanya sendiri yang terasa tak nyaman.


Lama sekali Fairi berbicara dengan seseorang lewat panggilan telepon dan terlihat dia sangat santai serta menikmati pembicaraan itu. Dengan sengaja Kenan melangkah mendekati Fairi dan menepuk bahu Fairi yang sedang asyik bicara hingga tak sadar kalau Kenan sudah berdiri dibelakangnya.


"Apakah masih lama? Karena ayah memanggil kita." suara Kenan membuyarkan keasyikan Fairi.


"Oh maaf, kamu duluan saja aku masih bicara dengan Lime, nanti kalau sudah selesai aku akan masuk." Fairi berkata dan tersenyum pada Kenan.


"Lime, jadi orang yang membuat mu tersenyum begitu manis adalah Lime." gumam Kenan dalam hati dan berbalik meninggalkan Fairi

__ADS_1


"Tidak, tidak ada apa - apa. Semua sudah selesai dan tinggal menyerahkan semua urusannya pada polisi saja untuk diurus, dan iya Kenan yang telah membantu. Tadinya aku ingin menghubungimu untuk datang, tidak semua sudah baik sekarang. Dan syukurlah tak ada korban yang serius, mereka hanya luka - luka ringan saja." terdengar suara Fairi menjelaskan dengan nada yang sangat lembut pada Lime sehingga hal itu membuat Kenan semakin panas. Dan terus menghela napas dalam dan menelan salifanya dengan tak tenang.


"Apa aku cemburu?" gumam Kenan dan pergi meninggalkan Fairi sendiri melangkah dengan berat.


__ADS_2