
Ditengah kesibukannya Fairi tiba - tiba saja mendapatkan panggilan dari nomer yak tak dikenalnya dan Fairi mengabaikan karena dia merasa tak kenal dengan moner itu, namun bukan hanya sekali atau dua kali nomer itu terus saja menghubungi Fairi, dan Fairi pun mengangkatnya.
"Halo iya dengan saya sendiri, apa. Apa maksud anda"
"Baik, baik saya akan kesana sekarang."
Fairi terlihat sangat panik dan juga kaget setelah dia menerima panggilan telepon.
"Ada apa Bu, apa ada yang salah?" Lina menatap Fairi
"Tidak ada hanya saja barusan dari kantor polisi dan mengatakan kalau Arman di tahan disana, ini pasti gara - gara Kenan. Sudah ku bilang jangan biarkan Arman bawah mobil sendiri masih saja dibiarkan." Fairi terlihat kesal
"Biar saya antar Bu." Lina menawarkan diri
"Tidak, tidak kamu urus yang di sini saja aku akan ke sana sendiri, tolong berikan kunci mobilnya."
Fairi langsung melajukan mobilnya dan dia menghubungi Fahmi untuk melihat kemana Kemal pergi setelah dia keluar dari rumahnya.
...💔💔💔...
"Apa aku bilang, kau menolong wanita itu dan dia malah meninggalkan mu sendirian kan." ucap pria yang meminjamkan uang pada Maya.
Kemal tersenyum dan tak menanggapi ucap orang - orang yang mencobak memprovokasi dia. Sedangkan orang tua dari pria yang dihajar Kemal dia tak terima dan dia terus saja berbicara sama polisi masalah penuntutan dan penahanan untuk Kemal.
"Arman." Fairi masuk dan melihat Kemal duduk dengan diam
"Ma, maafkan aku." Kemal mendekat dan meminta maaf pada Fairi.
"Oh jadi ini ibu anak brandal ini" ucap seorang pria gemuk pada Fairi
Fairi menepuk bahu Kemal dan menyuruhnya untuk duduk lagi "Apa yang terjadi pak polisi, tadi anda bilang kalau anak saya terlibat perkelahian" Fairi mendekat pada meja polisi
"Heh, ibunya saja masih muda pantas saja anaknya jadi preman, lihatlah anak mu membuat anak ku dan teman - temannya jadi babak belur seperti ini. Dan aku tak terima aku ingin agar kau membayar denda untuk luka - luka dari anakku dan aku juga ingin agar anak preman itu ditahan biar dia tau rasa." Pria itu berkata dengan emosi
Fairi tersenyum dan dia melihat pada anak dari orang itu dan ketiga temannya yang terlihat penuh dengan bengkak dan luka - luka, lalu Fairi melihat Kemal yang hanya memiliki luka di bagian lengannya.
Fairi berjalan mendekati pria gemuk itu "Saya tau betul bagaimana cara saya mendidik anak - anak saya dan juga saya sangat mempercayai dia, karena anak saya tak akan mungkin memukul orang tanpa sebab. Atau jangan - jangan putra anda dan teman - temannya itu memang pantas untuk dipukuli." Fairi berkata dengan santai.
Sedangkan para polisi yang mendengar tersenyum, Kemal pun dia juga tersenyum karena Kemal paling tau seperti apa mamanya. Dia tak akan mudah untuk terprovokasi yang ada justru orang yang mencobak mempengaruhinya yang akan kesal bicara dengan mamanya yang sedang dalam mood tak baik itu.
"Kau dasar wanita nakal." Pria itu berkata dengan marah.
"Hei." Kemal bangun dan berteriak pada pria gendut itu
"Arman" ucap Fairi dengan lembut dan menatap penuh dengan kelembutan
Seketika Kemal duduk dan menunduk serta merasa merinding, karena dia tau kalau mamanya sedang marah walau dia tak menunjukkan amarahnya sebab namanya disebut dengan lantang oleh mamanya dari awal datang. Karena Fairi tak pernah memanggil Kemal dengan langsung namanya, kecuali kalau Fairi sedang marah.
__ADS_1
"Apakah anda tau saya senakal apa, sebelum anda mengayak saya nakal sebaiknya anda melihat kenakalan putra anda." Fairi duduk di kursi depan meja polisi.
"Pak tenang mohon tenanglah, dengarkan dulu pengakuan dari anak - anak ini." Polisi menengahi Fairi dan pria itu.
"Anda ibu Laras ya wali dari saudara Kemal." Polisi itu bertanya pada Fairi
"Iya benar, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi pak." Fairi
Polisi itu pun menjelaskan semuanya pada Fairi dan dia juga mengatakan kalau Kemal telah melakukan kekerasan, karena saat polisi sampai terlihat Kemal yang sedang mukul orang dengan sangat keras.
"Begitu ya, baiklah saya ingin menunggu pengacara saya dulu." Fairi duduk dengan tenang
"Apa apa an ini, sudah jelas bukti dan kalian masih ingin mengikuti wanita ini untuk mengulur waktu, dia pasti akan mengarang lagi." Pria itu terlihat kesal.
"Tenang dulu pak sebaiknya anda duduk dulu." Polisi itu menenangkan pria yang dari tadi marah - marah.
"Fa." tak lama kemudian Fahmi datang
"Mas Fahmi." Fairi
"Yah" Kemal
"Hem." Fahmi menyentuh bahu Kemal dengan lembut.
"Apa lagi ini." Pria itu marah lagi dan bangun dari duduknya
"Saya Fahmi pengacara ibu Larasati." ucap Fahmi memperkenalkan dirinya.
"Tunggu dulu pak Suhandi." Fahmi berkata dengan nada yang ditekan.
"Silakan pak polisi tentukan sendiri, karena saya sudah membawahkan bukti kalau klien saya tak bersalah sepenuhnya dan dia melakukan semuanya karena ada penyebab dan pemicunya." Fahmi menyerahkan sebuah memori.
Saat memori itu diputar para polisi itu terlihat kaget dan Meraka menatap pak Suhandi, dan terlihat pak Suhandi meras bingung apa yang terjadi.
"Pelecehan dan ke karas, harusnya putra bapak yang ditahan." Polisi itu berkata dan menunjukkan rekaman pada pak Suhandi
"Ega kau." Pak Suhandi menatap putranya dengan tajam.
"Pa, itu sebenarnya." Ega terlihat takut dan dia menatap Kemal yang duduk di kursi penunggu dengan tenang.
Pada akhirnya pak Suhandi meminta maaf pada Fairi dan juga meminta bantuan agar Fairi tak memperkarakan anaknya.
"Maaf itu bukan urusan saya lagi, karena tindakan yang dilakukan putra and diluar tanggung jawab saya." Fairi berdiri dan pergi.
"Ar ayo. Terima kasih pak" Fahmi membawah Kemal dan pergi dari kantor polisi.
...💔💔💔...
__ADS_1
Malam harinya Fairi membawah Kemal masuk ke ruang kerja dan Kemal duduk dengan tenang didepan mamanya, Fairi bertanya pada Kemal tentang semua yang terjadi tadi siang, terlihat Kemal menunduk dan dia mengakui kalau dia bersalah.
"Katakan sayang, ceritakan semuanya dengan jujur." Fairi menatap Kemal
"Maafkan Arman ma." Kemal pun cerita semuanya tanpa ada yang dia sembunyikan
"Maya, siapa dia." Fairi menatap Kemal
"Dia adalah putri Danang dan Melinda, ada apa ini dan kenapa kau seperti sedang menginterogasi anak kita." Kenan masuk kedalam ruang kerja itu setelah diberitahu oleh Bi Mina, dan Fairi menghela nafas dalam.
"Darimana kau mengenal dia." Fairi kembali menatap Kemal
"Aku yang memberitahu dia, ada apa sih sayang, hem." Kenan melihat bingung.
"Dia masuk ke kantor polisi karena alasan dia membantu Maya" Fairi menatap Kenan.
"Maafkan aku sayang, aku tak tau kalau akan jadi begini." Kenan mendekati Fairi dan memeluknya.
"Tak apa, aku gak mau kalau nanti kamu jadi makin salah jalan. Boleh membantu asal jangan berlebihan dan satu lagi mama gak mau kalau semuanya akan mempengaruhi belajarmu, kamu tau kalau pagi ini ada ujian untuk mu di sekolah. Dan karena masalah ini semua jadi berantakan." Fairi berkata dan menatap Kemal yang duduk di depannya dengan menunduk.
"Iya maaf ma." Kemal
"Mama tak menyalahkan mu, tapi setidaknya kau bisa membaca situasinya, kalau kau ingin membatu atau menolong seseorang gunakan strategi dan persiapan bukan asal datang dengan bodohnya. Berapa kali aku bilang sebelum bertindak kau harus tau dulu situasinya dan tau bagaimana cara mengendalikannya, jika kau rasa kau tak sanggup maka dengan cepat harus mencari bantuan yang setidaknya bisa datang lebih cepat sebelum kau terlibat masalah."
"Tapi apa yang kau lakukan sekarang, kau tak menggunakan pikiran mu hah?! Tak bisa membaca situasinya?"
"Kau bertindak gegabah dan seperti orang idiot yang menyerahkan dirinya untuk dimangsa."
"Ingat ini, cukup sekali ini saja aku melihat mu bertindak gegabah dan bodoh."
Fairi terlihat sangat marah pada kemal malam itu dan dia memperingatkan pada Kemal untuk tak bertindak gegabah serta sembrono lagi.
"Sayang, sudahlah dia pasti tau apa yang harus dia lakukan." Kenan mencoba meredam emosi Fairi.
"Urusin putrimu dan jangan ajari anak - anak hal yang tidak - tidak." Fairi bangun sambil menatap tajam pada Kenan lalu keluar meninggalkan Kenan dan Kemal.
"Kau mengatasi semuanya sendirian." Kenan
"Maaf pa." Kemal
"Dia tak ada hubungannya dengan kita dan jangan sampai semuanya jadi berantakan hanya karena dia, karena dia masih memiliki orang tua." Kenan memegang bahu Kemal
"Kau boleh berbuat baik dan menegakkan keadilan, tapi jangan sampai berlebihan, kau mengerti kan." Kenan
"Iya pa." Kemal
"Baiklah, ayo keluar dan makan dulu, papa bangga padamu. Jangan buat mamamu semakin marah " Kenan
__ADS_1
"Baik pa." Kemal
Malam itu suasana meja makan sedikit sunyi karena Fairi masih kesal pada Kenan dan Kemal yang bertindak sendiri dibelakangnya. Fairi hanya sibuk pada Arlan yang hari itu terlihat manja pada Fairi.