Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 265


__ADS_3

Keberangkatan untuk Umrah telah tiba. Dan karena untuk menjaga Amyra, maka Najma dan Ashraf akhirnya dibatalkan keberangkatannya, sebab nantinya Amyra butuh banyak perhatian dari Denny.


Sementara itu, Reno yang ikut dalam rombongan tersebut adalah yang tidak membawa pasangan, sebab Nazla memiliki pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan karena sedang mempersiapkan Adnan dalam ikut kompetisi uji bakat Hafiz di Turki yang akan diadakan dalam waktu dekat.


Ke lima orang tersebut berangkat dengan biaya yang keberangkatan dan kepulangan yang dibiayai oleh Rudy.


Sepanjang perjalanan, Denny tak lepas terus mengawasi Amyra agar tidak seorangpun yang melirik Amyra, termasuk Reno.


Ternyata Denny menyadari, rasa cemburu itu menyakitkan. Apalagi Ia sangat mengetahui jika Reno dan Sam adalah orang yang sama, orang yang pada masa saat Amyra terpuruk selalu mengulurkan tangannya untuk membantu Amyra dengan cepat.


Sedikit atau banyaknya, setidaknya dahulu Reno pernah menyimpan rasa untuk Amyra, meskipun akhirnya kembali pada Rania dan kini berjodoh dengan Nazla.


Setelah melakukan perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka mendarat dibandara King Abdul Aziz Jeddah, Mekkah, mereka menuju tempat penginapan yang telah di sediakan oleh pihak travel Umrah.


sesampainya di hotel, mereka beristirahat sejenak dan akan memulai rukun Umrah pada esok hari.


Reno menempati kamar sendiri tanpa pasangannya. Dan entah kebetulan entah tidak, Ia kembali ke kamar yang sama saat Umrah bersama dengan Rania.


Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana saat itu Rania menginginkan Umrah saat sebelum ajal menjemputnya ketika melaksanakan rukun terakhirnya.


Bahkan Rania sempat membisikkan jika Ia telah meminta kepada Rabb-Nya agar memberikan jodoh terbaik dari yang terbaik setelah Ia pergi nantinya.


Saat itu Reno menganggap jika apa yang diucapkann Rania adalah hanya sebuah igauan seseorang yang dalam mengidap penyakit kronis, namun ternyata apa yang diucapkannya terkabul dengan begitu cepatnya.


Reno sudah memaafkan dan mengikhlaskan segalanya. Ia menatap sebuah sudut ruangan saat mereka melakukan ibadah shalat berjamaah, Rania bersujud kepadanya, mengutarakan sehala pintu maaf atas dosa yang pernah Ia lakukan terhadap suaminya, meminta keridhaan sang suami untuk mempermudah jalannya menghadap Sang Ilahi.


Sekitika Reno membelai lembut ujung kepala Rania, dan mengatakan Ia telah Ridha atas segalanya dan memaafkan segala dosa dan khilafnya, dan saat itu Rania menangis dalam penyesalan terdalamnya.


Suara isak tangis tersebut seolah masih terdengar diruang sudut tersebut.


"Semoga kamu Husnul Khatimah.. Damailah di sana bersama orang-orang yang diberi pengampunan" Reno berguman lirih, saat bayangan wajah Rania melintas didepan matanya.

__ADS_1


Ia tak ingin membenci siapapun, sebab Ia menganggap semua itu adalah bagian dari takdir perjalanan hidupnya.


Sementara itu, Rudy dan Renata masih sibuk membenahi perlengkapan barang mereka bawa.


"Mas.. Aku ingin berziarah ke makam Rania" ucap Renata lirih.


Rudy terdiam, lalu menatap sang istri " Tetapi kita baru sampai, apakah tidak besok saja?" ucap Rudy menyarankan.


Renata menggeelngkan kepalanya, Ia ingin hari ini juga mengunjungi pemakaman syoraya yang mana tempat Rania dimakamkan.


"Bentar, Mas hubungi Reno dahulu, sebab Ia yang membawa surat kematian Rania" ucap Rudy menjelaskan.


Rudy menghubngi Reno, menjelaskan jika Reneta ingin pergi berziarah ke makam Rania saat ini.


"Oh, Iya.. Pa.. Saya juga akan sana, jika ingin bareng biar saya tunggu.." jawab Reno dari seberang telefon.


Rudy mengiyakan ucapan Reno, lalu mengakhiri panggilan telefonnya.


"Reno juga akan pergi ke sana, jiak ingin pergi sekarang Ia menunggu di loby hotel" ucap Rudy menjelaskan.


Saat akan keluar dari pintu kamar hotel, tampak Denny juga akan keluar untuk membeli sesuatu "mau kemana, Pa?" tanya Denny penasaran.


"Mau berziarah ke makam Rania, Tantemu meminta hari ini dan Reno juga akan berziarah, sebab yang memegang surat kematian Rania kan Reno" ucap Rudy menjelaskan.


Seketika Denny terdiam. Terbesit dihatinya juga ingin berziarah "Bentar, Pa.. Aku juga ingin berziarah, tetapi Aku pamitan dulu dengan Amyra" ucap Denny kepada Rudy.


"Ya.. Sudah. Papa tunggu di loby hotel" jawab Rudy, lalu beranjak menuju lift bersama Renata.


Denny kembali ke kamarnya. Amyra masih beristirahat, dan tampak masih lelah. Ia menghampiri Amyra dan ingin menhampaikan sesuatu kepadanya.


"Sayang.." ucap Denny sangat hati-hati.

__ADS_1


"Ya.." jawab Amyra lirih.


"Papa, Tante Renata dan juga Reno akan berziarah ke makam Rania di pemakaman Syaraya, apakah Mas boleh ikut berziarah? Sebab bisa masuk ke area pemakaman jika memegang surat kematian Rania, dan hanya Reno yang memilikinya" ucap Denny dengan sangat lirih.


Amyra memandang suaminya "Pergilah, Mas.. berdoalah untuknya agar Ia damai disana. Myra tidak bisa ikut, sebab masih lelah" jawab Amyra dengan tenang.


"Kamu tidak marah kah?" tanya Denny dengan lirih.


Amyra mengerutkan keningnya "Haruskah Aku marah pada orang yang sudah tiada? Tidak, Mas.. Pergilah.. Mungkin ini kesempatan Mas bagi Mas untuk mengunjungi makamnya" jawab Amyra dengan tenang.


"Terimakasih, Sayang" jawab Denny dan mengecup ujung kepala Amyra, lalu bergegas keluar dari kamar hotel, sebab Reno, Rudy dan juga Renta sudah menunggunya.


Mereka menaiki kendaraan yang mereka sewa. Jarak hotel dengan pemakaman itu sekita 4 kilometer. Pemakaman itu dibangun khusus bagi jemaah haji dan umrah yang meninggal di makkah saat menjalani ibadah haji dan umrah.


Sepanjang perjalanan, tak ada satupun dari mereka yang berbicara, semua diam membungkam dengan fikirannya masing-masing.


Sesampainya didepan pemakaman itu, tedapat tembok pembatas yang dijaga ketat oleh para penjaga muda.


Tidak dibenarkan siapapun masuk dengan sembarangan tanpa memperlihatkan surat kematian yang diberikan oleh pemerintahan Arab Saudi.


Setelah memperlihatkan surat kematian tersebut, mereka berempat diperbolehkan memasuki area pemakaman.


Saat memasukinya, hamparan gundukan tanah, tanpa nisan dan juga nama yang tertulis disana tampak membentang luas.


Meskipun mereka tidak mengetahui dimana makam Rania terletak, namun mereka meyakin salah satunya tempat Rania dimakamkan dan sebagi tempat peristirahatan terakhirnya.


"Rania.. Maafkan atas segala kesalahan yang pernah Mama lakukan terhadapmu. Mama pernah berambisi membuat agar menikahi Denny dan memisahkanmu dengan Reno demi harta yang membutakan" Renata berguman dalam hatinya.


Ia begitu sangat menyesali segala perbuatannya, bahkan Ia tidak melihat detik-detik kematian Rania yang mana saat itu Rania berhasil menyelesaikan rukun umrahnya.


Rania pergi setelah mendapat pintu maaf dari sang suami sah nya, yaitu Reno, dan Ia juga pergi setelah mencoba menjalani pertaubatannya dari segala perbuatannya yang menyakiti hati seseorang.

__ADS_1


Bahkan Ia juga sudah meminta maaf kepada Amyra saat mereka tanpa sengaja memiliki rumah yang berada satu komplek.


Kini tubuh itu terbaring tanpa daya dihamparan tanah tandus yang luas, bersama dengan para jamaah lainnya, tanpa nisan, dan juga tanpa nama.


__ADS_2