Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 258


__ADS_3

Zain masih dalam suasana hati yang sangat gelisah, namun Ia mencoba menutupinya dari Wanita yang polos yang kini duduk disisi kemudinya.


"Maafkan, Mas, belum bisa ajak kamu makan enak di Mall, sebab Mas kebelet pengen buang air" ucap Zain berbohong.


Khumairah tersenyum tipis"Gak apa, Mas.. Kirain tadi buru-buru ada apa, rupanya lagi kebelet. Emang di Mall tidak ada tempat buang airnya ya, Mas? Tanya Khumairah dengan selidik.


"Ada, Sayang.. Tapi padat dan harus ngantri, Kita beli diwarung sekitar sini saja makannya ya?" ajak Zain yang masih dalam gemuruh didadanya.


"Sudah, Mas.. Makan dirumah saja. Nanti Mai buatin sambal telur ceplok saja" jawab Khumairah dengan santainya.


Zain menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis. Ia merasa sangat beruntung karena Khumairah tak pernah menuntut banyak dan meminta hal yang berlebihan.


Akhirnya mereka kembali pulang kerumah, meski ada barang yang belum sempat mereka beli.


Sementara itu, dua orang intel kembali ke Markas dan membawa barang bukti untuk dilakukan uji laboratirium dan mencocokkan sidik jari yang mereka temukan di Mall sebagai petunjuk untuk menemukan apa yang sedang mereka cari.


Setelah melakukan uji komputer, dan ternyata sidik jaru itu menunjukkan identitas Zain Hisyam yang merupakan salah satu tahanan yang melarikan diri saat tragedi kebakaran didalam lembaga permasyarakatan beberpa tahun yang lalu.


Sebenarnya kedua intel itu sedang mengincar seorang bandar shabu tingkat internasional yang sedang dikonfirmasi melakukan transaksi disalah satu Mall yang dimana tempat Zain berbelanja, namun dalam pengincaran tersebut, mereka menemukan target lain yang diluar dari instruksi.


Seketika penemuan Zain yang kini merubah penampilannyapun mulai dilakukan target penangkapan.


Semua cctv diperiksa untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan kemana arah Zain pergi, serta kendaraan apa yang digunakan oleh pria yang kini masih menjadi buronan.


Zain dan Khumairah sudah sampai di depan rumah kontrakan mereka. Zain sepertinya akan berniat menjual mobilnya, sebab mobil itu bisa saja dilacak oleh polisi untuk mendapatkan keberadaan dirinya.


Zain membuat akun palsu dan mulai memposting mobilnya untuk ditawarkan dengan menyamarkan nomor platnya.


Setelah itu Ia mulai melihat-lihat apakah ada notif dari calon pembelinya.


Tak berselang lama, Khumairah memanggilnya untuk makan siang, sebab Ia sudah memasak menu sederhana, namun semua menjadi istimewa karena ada saling menjaga dan pengertian satu sama lain diantara mereka.

__ADS_1


Zain dan Khumairah akhirnya makan siang dengan menu seadanya.


Saat sedang menyuapkan makan siangnya, sebuah notif pesan masuk kedalam akunnya. Ada dua orang penawar yang ingin membeli mobilnya. Zain memeriksa akun pembeli tersebut dan memastikan bukan seorang penipu atau bahkan pihak kepolisian.


Setelah melakukan pemeriksaan akun dan menemukan salah satu pemilik akun yang alamatnya tak jauh dari lokasi tempat tinggalnya, Zain mengadakan janji bertemu dan akan melakukan tawar menawar harga.


Setelah menentapkan tempat pertemuan, maka Zain menyetujuinya.


Ia mempercepat suapannya, lalu meneguk air minumnya dan berpamitan kepada Khumairah untuk keluar sebentar dan akan segera kembali.


"kunci pintunya, Dik. Jangan sembarangan membuka pintu kecuali Mas yang datang" ucap Zain menyarankan.


Khumairah menganggukkan kepalanya dan mencoba mematuhi perintah suaminya.


Zain mengemudikan mobilnya, dan menuju lokasi tempat mereka mengadakan janji bertemu kepada calon pembeli mobilnya.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, Zain akhirnya menemukan lokasi yang sudah disepakati.


Setelah memastikan semua mesin dan kelengkapan surat-surat yang dibawa Zain sesuai dengan nomor mesinnya, maka mereka melakukan transaksi penjualan.


Setelah selesai, Zain akhirnya pulang dengan menggunakan angkutan umum. Ia berencana akan mencari mobil lain dijual beli online dan pastinya mobil secound yang mana Ia juga memerlukan kendaraan itu untuk tranfportasinya dalam membawa barang dagangannya.


Zain sampai didepan gang rumahnya setelah sore hari. Ia menuju rumah kontrakannya. Ia melihat dua orang mencurigakan sedang tampak mengintai rumah kontrakannya. Ia merasakan sesuatu yang tidak enak. Ia mulai berfikir apakah para pria itu intel yang sedang mengincarnya.


Zain menyelinap pergi dan Ia sepertinya harus mencari rumah kontrakan lain.


Zain mencari rumah kontrakan melalui akun media sosial, dan menemukan rumah kontrakan dipinggiran kota.


Zain kemudian menghubungi pemiliknya, karena pemilik rumah kontrakan mencantumkan nomor phonselnya di akun penawaran rumah kontrakannya.


Zain kembali menaiki angkutan umum dan mencari alamat rumah tersebut.

__ADS_1


Saat menemukan simpang alamat rumah kontrakan tersebut, Zain menghentikan angkot yang ditumpanginya, dan menuju gang dipinggiran kota untuk mencari alamat ruamh kontrakan tersebut.


Setelah bertanya sana sini, akhirnya Ia menemukannya, sedikit masuk kedalam gang, namun sepertinya ini cocok untuk tempat persembunyiannya.


Zain kemudian bertemu dengan pemilik kontrakan tersebut, dan menanyakan harga perbulannya. Setelah terjadi kesepakatan, Zain membayar untuk 2 bulan kedepan dan Ia memasuki rumah kontrakan tersebut, lalu membersihkannya, sebab Ia ingin saat Khumairah memasukinya nanti sudah tinggal beristirahat saja.


Sementara itu, waktu sudah memasuki hampir Isya. Khumairah begitu gelisah menatikan Zain yang tak juga kunjung pulang.


Ia tidak pernah berjauhan dengan Zain untuk waktu yang cukup lama, hingga Ia merasa takut dan gelisah.


Berulang kali Khumairah mengintai jalanan gang melalui tirai jendela, berharap Zain segera kembali.


Khumaira semakin takut, saat Ia melihat dua orang pria saat siang tadi tampak mondar-mandir didepqn rumahnya, namun pakaian mereka compang camping seperti seoramg pengemis, namun Khumairah merasakan firasat yang tidak enak.


Zain bingung hendak menghubungi Istrinya dengan apa, sebab Khumairah tidak memegang phonsel, bahkan tidak pandai menggunakannya.


Sesaat Zain berfikir untuk membelikan Khumairah phonsel meskipun hanya bisa untuk menelephone saja.


Zain berjalan mencari toko phonsel terdekat, membeli satu buah phonsel biasa yang hanya dapat dipakai untuk mengirim pesan dan juga menelephone saja, Ia ingin mempermudah komunikasinya kepada istri polosnya itu.


Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Zain masih mendekam dirumah kontrakan barunya, lalu Ia memesan taksi onlie, dan sebelumnya mengganti nomor phonselnya.


Zain dapat merasakan jika Khumairah akan merasa cemas menanti kepulangannya, sebab ini sudah hampir larut malam, dan Zain merasakan sangat bersalah atas semuanya.


Setelah taksi yang dipesannya datang, Zain menyebutkan alamatnya, dan meminta sopir taksi itu mengantarnya ke alamat yang Ia sebutkan.


Setelah lama diperjalanan, akhirnya Ia sampai, namun tidak turun dari simpang depan, melainkan dari arah belakang.


"Mas.. Tunggu sebentar, jangan pergi sebelum saya datang" titah Zain kepada sopir taksi itu, lalu menyelinap dari gang sempit rumah warga dan berjalan sembari mengendap-endap menelusuri jalanan sepi dan sedikit gelap.


Sesampainya di gang belakang rumahnya, Ia memastikan tidak ada yang melihatnya. Ia sampai didepan pintu belakang rumahnya, dan mencoba mengetuk pintu rumahnya agar Khumairah membuka pintu.

__ADS_1


__ADS_2