
"Arman"
Sapa seseorang yang sangat dikenal oleh Kemal, dan orang itu terlihat sangat gagah serta berwibawa.
"Om Lime"
Kemal sangat senang saat dia melihat siapa orang yang memanggilnya.
"Bagaimana kabar mu, sudah lama sekali kita tak bertemu"
Lime tersenyum dan dia mendekati Kemal yang terlihat sedang sibuk dengan sesuatu.
"Seperti yang om lihat saat ini, aku sedang menyiapkan karangan bunga untuk acara pernikahan mama dan papa lusa. Om sudah lama sekali tak pernah berkunjung aku sangat merindukan om."
Kemal berkata dengan semangat karena saat ini yang paling bisa memahami perasaan Kemal hanya Lime. Dan karena Lime yang selalu ada disetiap dibutuhkan selama 1 tahun terakhir ini.
"Akhirnya mereka bersatu juga, tapi bagaimana dengan mu. Apa kau tak apa mamamu masih belum bisa mengingat mu dengan baik." tanya Lime yang menatap khawatir pada Kemal
"Tak masalah om, semua baik - baik saja. Dan juga Arlan sekarang terlihat lebih tenang serta koperatif dengan semua orang. Jadi aku merasa santai saat ini." Kemal menjawab dengan senyuman dan pemikiran yang dewasa.
"Dimana dia sekarang." Lime melihat kesegaran arah untuk mencari Arlan.
"Dia sedang bermain dengan anak seusianya disamping rumah. Rasanya aku sangat senang untuknya, sejak dia masuk sekolah dan ada guru relawan dari singapura Arlan jadi mulai terbuka dengan orang lain." Kemal menjelaskan dan merasa sangat berterima kasih pada guru relawan yang ada di sekolah adiknya.
"Guru relawan dari Singapura" Lime bertanya dan merasa heran.
"Iya namanya Bu Ayu Lestari." jawab Kemal
"Ayu Lestari, bukankah itu nama yang dominan dengan Indonesia. Apa dia asli orang Singapura." Lime menatap Kemal
"Em..." Kemal terlihat berfikir dan saling tatap dengan Lime
"Aku tidak tau, karena aku juga belum pernah bertemu dengan orangnya."
Lime tersenyum dan ikut membantu Kemal dalam merangkai bunga melati yang akan digunakan untuk hiasan dalam pernikahan Kenan dan Fairi nantinya.
...💔💔💔...
"Oh Bu Ayu, apa ada yang bisa.saya bantu?" seorang guru lain bertanya
__ADS_1
"Tidak ada Bu, saya cuma mencari Arlan apa dia tak masuk sekolah?"
"Hem, orang tuanya akan memperbarui nikah jadi sepertinya dia tak masuk karena acara itu. Orang kaya selalu aneh - aneh ya. Untuk menikah lagi dengan istri yang sudah menjadi istrinya saja sampai harus dibikin meriah seolah pernikahan pertama kalinya." jelas guru itu dan Ayu yang merupakan guru pembantu itu mendengarkan dengan seksama.
Setelah sekolah selesai dan semua orang pulang Ayu pergi ke daerah rumah Kenan, dia melihat memang rumah Kenan terlihat sibuk dan banyak orang berlalu lalang yang sepertinya sedang menghias rumah dan mempersiapkan sesuatu. Ayu tersenyum sekilas dan dia pun pergi dari kawasan perumahan itu.
...💔💔💔...
"Apa yang sedang kau lakukan, bersembunyi dan menangis sendiri." Sujono menegur Ayu yang sedang berdiam diri dalam kamar dan terlihat sedang murung.
"Om." Ayu melihat Sujono sekilas
"Ayu, sudah cukup kamu seperti ini. Kamu harus muncul dan melakukan apa yang harus kamu lakukan, apa kamu tak kasian sama anak - anak mu. Dan ini bukanlah Ayu yang aku kenal." Sabrina berkata dan duduk disebelah Ayu
"Bagaimana mungkin." Ayu menunduk
"Kenapa, kau takut karena wajahmu yang berubah. Seperti apa pun wajahmu dirimu tetaplah dirimu, lihatlah saat aku mengirim mu ke sekolah putramu untuk menjadi guru suka relawan. Dia walau tak mengenalimu sebagai mamanya tapi dia bisa merasakan kalau kamu adalah orang terdekatnya. Dia yang tadinya murung dan menghindari orang - orang, setelah kamu datang dan memberitahu dia sekarang dia telah bisa bersosialisasi dengan baik, tapi orang yang tak ingin dia dekati hanya Fairi." Sabrina menatap Ayu
Sabrina duduk semakin dekat dan memeluk Ayu"Jika anak yang kau besarkan saja bisa merasakan aura ibu pada dirimu bagaimana jika anak yang kau lahiran, dia pasti bisa mengenalimu lebih dari yang lainnya. Ingatlah saat kau bersembunyi dan dianggap meninggal dia bisa merasakan kehadiranmu walau dia tak melihatmu. Maka kau tak perlu takut dengan kasih sayang kedua anak mu. Ayu seperti apa pun perubahan wajahmu kau tetaplah ibu mereka, tak akan ada yang bisa menjadi dirimu walau mereka merubah tampilan mereka seperti dirimu."
"Apa yang dikatakan oleh Sabrina benar, tak akan ada yang bisa menjadi dirimu selain kamu sendiri. Walau dia menyerupai wajahmu tapi dia bukanlah kamu. Jadi kamu tak perlu takut, kami ada bersama dengan mu." Sujono pun ikut bersuara dan memberikan dorongan pada Ayu
"Baiklah." Ayu tersenyum pada Sujono dan Sabrina.
"Sudah cukup, sudah cukup bagi mereka untuk terus menyakiti ku. Sekarang adalah saatnya aku kembali dan akan ku ambil lagi semua milik ku. Tyas, Melinda. Kalian harus menerima konsekuensi atas apa yang telah kalian lakukan padaku." ucap Ayu dan Sujono sama Sabrina mendukungnya.
Pada hari H acara pernikahan Kenan para undangan telah datang semua, terlihat acara hari itu sangat meriah dan juga megah, karena Kenan ingin menjadikan pernikahan keduanya dengan Fairi terjadi dengan sempurna.
"Fa, kau sangat cantik." Puji Kenan pada Fairi yang saat itu sedang bersiap untuk acaranya.
"Terima kasih mas Kenan, semua terjadi karena mas Kenan. Dan aku merasa sangat bahagia hari ini, karena akhirnya aku bisa menjadi istri mas Kenan setelah sekian lama aku mengharapkannya." jawab Fairi dengan senyum yang terus merekah
Kenan yang mendengarkan kalimat itu merasa sedikit bingung dan mengerutkan keningnya karena dia merasa ada yang aneh dengan Fairi, tapi karena kebahagian telah meliputinya sehingga Kenan mengabaikan semuanya karena menganggap mungkin itu adalah sebagian dari ingatan Fairi yang hilang.
Acara pun telah dimulai, semua keluarga berkumpul bersama untuk menyaksikan acara sakral yang akan diucapkan oleh kemam untuk Fairi. Terlihat disana sua orang sangat bahagia, selain kedua mempelai semua keluarga pun terlihat sangat bahagia, terutama nyonya Tias dia merasa bersyukur akhirnya menantinya kembali lagi.
"Bagaimana para saksi, sah." ucap penghulu pada semua orang setelah Kenan melantunkan janji sucinya.
"Sah." Jawab semuanya serempak dan tepuk tangan semua orang memeriahkan ruangan itu.
__ADS_1
Namun tidak semuanya merasa bahagia, karena dua anak kecil yang duduk sedikit jauh dari mereka semua menatap dengan tatapan kosong dan wajah datar, ya dia adalah Kemal dan Arlan. Kedua bocah itu merasa cuek dan tak peduli dengan pernikahan orang tua mereka. Arlan terus duduk dengan tenang sambil menggenggam tangan kakaknya dan Kemal pun tak memiliki ekspresi apa pun.
"Selamat saya, mama sangat bahagia untuk kalian." Nyonya Tias berkata dan memeluk Fairi.
"Terima kasih ma." Fairi pun membalas pelukan nyonya Tias.
"Mama..." gumam Kemal dan langsung berdiri sehingga Arlan yang duduk dengan tenang merasa kaget hingga jatuh dari kursi.
"Aduh" keluh Arlan yang duduk dilantai menatap kakaknya dengan bingung.
"Kakak" Arlan memanggil Kemal yang mulai berjalan diantara kerumunan para tamu.
"Tunggu." Ayu berdiri tetap ditengah tamu yang hadir "kau tak pantas untuk menyentuh apa lagi mencium tangan suamiku."
Semua orang menatap pada Ayu yang bicara sembarangan, namun dia menatap tajam pada Fairi yang berdiri disebelah Kenan. Ayu tersenyum dan berjalan mendekat. "Tolong katakan pada ku, disaat mengucapkan kalimat akad nikah nama yang disebutkan dalam kalimat itu apakah dia yang akan menjadi istri sah dari pria yang mengucapkannya."
"Tentu saja selama ada kedua mempelai, ijab qobul, ada wali dari pihak wanita, dan dua saksi dan bukan pernikahan yang dipaksakan." jawab penghulu
"Kau dengar itu, ku anggap kau adalah saksi dari bagian diriku. Jadi kau, haram untuk menyentuh suamiku, paham." ucap Ayu tepat didepan Kenan dan Fairi.
"Mama." Kemal dari belakang menyebut kata mama sehingga membuat semua orang kaget.
Ayu tersenyum menatap Kenan, "seperti apa pun perubahan ku putraku tetap bisa mengenaliku karena dia miliki cinta dan kasih sayang untuk ku, cintanya sangat tulus untukku. Beda dengan cinta seseorang yang hanya mendahulukan nafsunya."
"Bicara apa kau, siapa kau sebenarnya, jangan bicara omong kosong." teriak Fairi dengan lantang.
"Tahan." Sujono menahan Kemal untuk tak maju kedepan.
"Om, dia..." Kemal menatap Sujono dengan bingung dan Sujono hanya tersenyum untuk menanggapinya.
"Sebaik apa pun kau meniru aku, tapi kau tetaplah bukan aku. Harusnya kau meniru ku sampai dalam, karena hanya bagian dalam ku yang berbeda dengan mu. Aku memiliki tanda lahir dibagian selangkanganku yang kanan dan itu hanya bisa dilihat oleh suamiku saja, apa kau memilikinya? Karena Fairi yang asli memilikinya, dan itu hanya dimiliki oleh ku. Fairi Ayu Larasati yang sesungguhnya" ucap Fairi dengan menekan pada penyebutan namanya dan menatap Fairi palsu didepannya.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan." ucap Fairi palsu dan menatap balik Fairi yang ada didepannya.
"Kenapa, kau takut Fairi atau aku harus memanggilmu Tyas Adi Wijaya, oh tidak harusnya adalah Tyas Bagus Diah. Perpaduan antara tuan Bagus dan nyonya Ayu Diah." ucap Fairi dengan tersenyum sengit.
"Tutup mulut mu, ah...mas Kenan" Tyas mengeluh dan memegangi kepalanya.
*Sebenarnya apa yang terjadi ini." Kenan terlihat bingung dengan adanya wanita yang datang dan mengaku sebagai Fairi yang asli
__ADS_1
"Cukup sandiwaramu Tyas.! Sudah cukup, aku sudah meminjamkan keluarga ku padamu selama 2 tahun dan itu sudah cukup, aku tak akan membiarkan kamu membuat ulah dan menyakiti aku lebih dalam lagi. Jadi, kembalilah pada posisimu sebelum aku benar - benar membongkar kejahatan mu atas penipuan, penculikan dan penganiayaan yang kau lakukan pada ku." Fairi berjalan semakin mendekati Tyas.