Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 225


__ADS_3

Rudy sedang mempersiapkan berkas pekerjaan di perusahaan cabang yang berada diluar kota. Tepatnya di dekat butik milik Renata.


Kali ini Ia akan memeriksa kondisi perusahaan yang sudah lama tidak Ia kunjungi.


Tampak Renata ingin ikut bersama, sebab Ia juga ingin mengunjungi butiknya. Namun sesaat Renata merasakan perutnya tak nyaman.


Wajah Renata tampak pucat, dan Ia seperti merasakan pusing.


"Kamu kenapa?" tanya Rudy yang melihat perubahan pada Renata.


Renata menggelengkan kepalanya, namun Ia tak mampu menahan rasa mual yang mendera perutnya.


"Ayo, Kita periksa ke Dokter" ucap Rudy dengan nada Khawatir.


Renata menggelengkan kepalanya "Tidak usah, Mas.. Mungkin dengan berbaring akan sembuh sendiri" ucap Renata mencoba menolak.


Rudy mendenguskan nafasnya "Jangan membantah.. Ayo pergi" ucap Rudy lalu memegang pergelangan tangan Renata dan membawanya masuk kedalam mobil.


Renata tak mampu lagi membantah ucapan Rudy, Ia kini hanya dapat menuruti semua ucapan pria itu.


Rudy mengemudikan mobilnya menuju praktik dokter yang merupakan langganan keluarga mereka dan sudah menghubunginya terlebih dahulu.


Sementara itu, Renata merasakan kepalanya semakin berat dan pusing, sehingga membuatnya ingin memuntahkan isi perutnya yang seakan merasa diaduk-aduk.


"Mas.. Aku mau muntah" ucap Renata yang menutup mulutnya menahan desakan dari dalam perutnya.


Seketika Rudy menepika n mobilnya dan berhenti sejenak ditepi jalan.


Dengan cepat Renata membuka pintu mobil dan memuntahkan isi perutnya, rasa mual yang sangat tak biasa dan membuatnya semakin merasakan sakit yang sangat luar biasa dibagian ulu hatinya.


Rudy turun dari mobil dan menghampiri Renata, lalu menggosokkan minyak kayu putih dibagian leher belakang dan pundak Renata, untuk membantu mengurangi rasa mual tersebut.


Setelah muntah itu menghabiskan isi perutnya, dan keluarnya cairan berwarna kuning yang terasa sangat pahit ditenggorokan, barulah Renata berhenti dengan rasa mualnya.


"Ayo" ajak Rudy sembari memegang pundak Renata dan membawanya masuk kedalam mobil. Lalu Rudy kembali menyetir untuk menuju praktik dokter.


Sesampainya ditempat praktik dokter, Rudy memapah tubuh Renata yang tampak lemah. Lalu memasuki ruang praktik.


"Wah.. Pak Rudy dan Ibu Renata, silahkan masuk" ucap Seorang dokter laki-laki dengan raut wajah bersahaja.

__ADS_1


Renata menganggukkan kepalanya dan duduk di kursi pasien.


"Apa saja keluhan yang Ibu rasakan" tanya Dokter itu, sembari mengambil buku daftar pasien, lalu mencatat nama pasien dan data diri, serta keluhan.


"Mual, pusing dan lemah" jawab Renata singkat.


Dokter itu tampak terdiam dan tersenyum "Kalau begitu biar saya periksa, dan Ibu tolong berbaring diranjang pasien" Ucap Dokter itu dengan tenang.


Lalu Renata berbaring diranjang pasien dan dokter itu beranjak menghampiri Renata yang telah berbaring dengan wajah lemah.


Dokter itu mulai memeriksa kondisi Renata, Ia menekan perut bagian bawah Renata, dwn mencoba terdiam. Lalu dokter mencatat hasil pemeriksaannya.


"Bu.. Coba bawa tabung ini, dan ibu buang air kecil, lalu tampung dan bawa kemari.lagi" titah Dokter itu dengan nada ramah.


Seketika Renata merasa bingung,namun Ia beranjak dari ranjang pasien dan menuju kamar kecil.


Tak berselang lama, Renata kekuar membawa tabung kecil setinggi 10 cm yang berisi setengah air seninya, lalu menyerahkannya kepada dokter itu.


Dokter tersebut memasukkan benda yang merupakan testpack alat test kehamilan.


seketika Rudy dan Renta saling pandang, namun mereka masih menunggu hasil keterangan dari dokter tersebut.


"Wah.. Selamat, Ya Pak, Bu.. Kalian akan mendapatkan rezeki anak lagi" ucap dokter itu dengan nada penuh kegembiraan.


Rudy dan Renata saling pandang dan tak percaya dengan apa yang didengar oleh mereka.


"Kan usia saya sudah 50 tahun, Dok.. Masa iya bisa hamil lagi?" tanya Renata bingung. Iya Juga merasa malu, sebab Amyra dan juga Nazla sedang hamil. Masa iya menantu dan mertua hamil bersamaan.


"Bisa saja, Bu.. Sebab tingkat kesuburan mempengaruhi seorang wanita bisa hamil lagi atau tidaknya" ucap Dokter itu menjelaskan.


Lalu Dokter itu meberikan resep kobatbyang harus dibeli keduanya di apotik.


Ada obat anti mual, dan suplemen vitamin bagi Renata.


Lalu Renata mengbambil kertas resep yang diberikan oleh dikter itu, dan keduanya keluar menuju parkiran, lalu memasuki mobil.


Didalam mobil, Renata tampak diam dan seperti tampak bingung.


"Kamu kenapa? Mengapa tampak murung?" tanya Rudy dengan nada tenang.

__ADS_1


Renata menatap wajah Rudy dengan gelisah "Aku malu, Mas.." ucap Renata sembari merunduk.


Rudy mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Renata.


"Maksud kamu, apa? Tanya Rudy yang masih penasaran dengan apa yang difikirkan oleh Renata saat ini.


"Aku malu jika sampai hamil" ucap Renata yangbtak berani menatap wajah Rudy.


"Bukannya Kamu memiliki suami? Lalu mengapa Malu?" tanya Rudy dengan nada setenang mungkin.


Renata menghela nafasnya dengan berat, lalu berusaha menengadahkan wajahnya menatap Rudy.


"Bukan tentang hal itu.."jawab Renata.


"Lalu apa?" Cecar Rudy.


Renata mencoba mengungkapkan apanyang mengganjal dihatinya, dan Ia benar-benar sangat cemas.


"Aku malu jika hamil berbarengan dengan menantu.." ucap Renata lirih "Apalagi usiaku sudah tidak muda lagi, pasti banyak resiko yang akan dihadapi" ucap Renata mencoba mengungkapkan alasannya.


Rudy meraih jemari tangan Renata "Ini titipan Rabb.. mungkin usia saat ini baru diberi kesempatan untuk dapat memiliki anak lagi. Dan masalah hamil bersamaan dengan menantu jangan dirisaukan, Mas yakin mereka akan mengerti" ucap Rudy meyakinkan.


Namun Renata masih ragu, sebab nantinya Ia merasa jika cucu dan anaknya akan besar secara bersamaan dan itu sangat lucu saja menurutnya.


Melihat Renata masih terdiam, Rudy kembali meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja.


"Lagipula jarak kehamilan kamu dengan Amyra lumayan jauh, kamu masih bisa merasakan menjaga cucu untuk beberapa saat" ucap Rudy dengan tatapan teduh yang membuat Renata tak dapat membantah ucapan pria.


"Kamu yakin, Mas?" tanya Renata dengan debaran dihatinya tampak menderu.


Rudy menganggukkan kepalanya. "Yang penting kamu menjaga kesehatan kamu, karena usia kamu tidak lagi muda dan perlu menjaga pola makan" ucap Rudy mengingatkan.


Renata mulai tersenyum, namun Ia masih ragu menerima kehadiran sang calon bayi dalam kandungannya.


Lalu keduanya menuju apotik untuk membeli obat yang diresepkan oleh Dokter tadi.


Sementara itu, didalam hati Rudy Ia nuga tidak menduga jika diusianya yang sekarang Ia masih bisa membuahi Renata, dan ini sebuah kejutan yang sangat tak pernah dibayangkan sebelumnya.


Jika janin yang dikandung oleh Renata tumbuh berkembang dan lahir ke dunia, maka Denny akan mendapatkan adik baru dan tak lagi sendiri meski dengan jarak usia yang sangat jauh.

__ADS_1


Namun Rudy belum dapat menentukan apakah reaksi dari Denny nantinya saat mengetahui jika Ia memiliki adik baru.


__ADS_2