
Tiga bulan kemudian..
Zain masih melayani pembeli, saat ini Ia mendengar suara Khumairah yang setoap paginya selau mengalami morning sickness.
Setelah melayani pembeli, Ia bergegas menghampiri Khumaira, lalu berusaha membantu membelai punggung Khumairah.
Setelah muntahan terahir berupa cairan kuning dan terasa pahit ditenggorakan itu keluar, akhirnya Khumairah baru menghentikan muntahannya.
wajah pucat itu menatap Zain dengan penuh sendu, Ia tampak begitu tersiksa, dan ini pertama kalinya dalam seumur hidupnya.
Zain menghubungi bidan terdekat untuk memeriksa kondisi Khumairah, dan memeriksa janin dalam kandungan Khumairah.
"Pak.. Ini kandungan sudah hampir berusia 5 bulan, tolong bapak bawa ke kota dan USG untuk memastikan kondisi janin baik-baik saja.
Nanti hasilnya serahkan kepada saya dan akan saya periksa hasilnya.." Bidan itu menyarankan.
Zain menganggukkan kepalanya, namun Ia merasa khawatir jika nantinya ada polisi yang akan mencarinya dan menangkapnya, Ia tidak dapat membayangkan bagaimana nasib Khumairah.
Zain pergi kekamarnya, Ia menghitung uang hasil laba dagannya. Ia berfikir akan membeli sebuah mobil pick up meskipun hanya mobil bekas.
Zain akan membawa Khumairah ke kota untuk memeriksa kandungannya dan apapun resikonya Ia harus dapat menyelamatkan Khumairah.
Ia menduga jika ucapan dan saran dari bidan tersebut, pasti tersembunyi sebuah rahasia yang tidak dikatakannya, maka sebab itu, Zain akan berupaya membawa Khumairah ke klinik yang ada dikota untuk melakukan USG.
Melalui phonsel yang hanya dapat mengirimkan pesan teks dan juga menelfon saja, maka Zain menghubungi pak Halim untuk meminta bantuan mencarikan mobil pick up yang sedangbingin dijual.
Desa ini masih sangat jarang orang yang dapat memiliki phonsel canggih, sebab signal yang sulit dijangkau.
Pak Halim bersedia membantu, sebab Zqin akan memberikan imbalan dalam setiap meminta tolong sebagai ungkapan terimakasihnya.
Hampir sore hari, Pak Halim baru kembali menghubungi Zain. Ia mengatakan jika ada salah satu saudara mereka yang akan menjual mobil pick up dengan kondisi masih bagus, Sebab butuh biaya untuk anaknya yang sedang berkuliah di Kota.
Setelah terjadi tawar menawar, akhirnya Zain menyetujui untuk membeli mobil tersebut.
Zain merencenakan esok pagi Ia akan segera berangkat ke kota untuk membawa Khumairah pergi ke kota. Sebab perjalanan mereka membutuhkan waktu 4 jam perjalanan menuju kota, ditambah jalananan yang rusak, tentu akan memperlambat laju jalan mobil yang akan dikendarai,apalagi kondisi Khumairah yang masih dalam hamil yang sangat rentan seperti itu.
Selama hampir kurang lebih berada dihutan dan desa, penampilan Zain tentulah sangat berbeda dari sewaktu dahulu, rambut gondrong dan jambang yang tumbuh di wajahnya juga mulai tampak begitu menutupi ketampanannya.
__ADS_1
Namun Zain sengaja membiarkannya agar Ia tak terlihat seperti aslinya.
Namun beruntungnya, Khumairah masih menerimanya dengan ketulusan hati dan apa adanya.
Khumairah melihat Zain membeli mobil baru, Ia tampak tersenyum, karena itu adalah hal yang sangat istimewa baginya. Apalagi selama dihutan Ia tak pernah melihat benda itu apalagi menaikinya.
"Esok pagi kita ke kota, untuk memeriksakan kandunganmu" ucap Zain kepada Khumairah.
"Wah.. Apakah Kota itu bagus, Mas?" tanya Khumairah tak sabar.
Zain menganggukkan kepalanya, dan membelai rambut Khumairah.
"Ya.. Dan kamu bisa membeli apapun disana, ada banyak barang yang bisa kamu beli disana, tetapi jangan yang mahal-mahal, Ya.. Sebab Kita butuh biaya untuk kelahiran anak kita kelak" ucap Zain mencoba memberikan penjelasan kepada Khumairah.
Khumairah menganggukkan kepalanya, dan tersenyum sumringah, Ia sudah tak sabar untuk melihat kota esok hari.
Keesokan paginya, Zain sudah bersiap dengan membawa beberapa keperluan yang dibutuhkan selama perjalanan.
Khumairah masih dengan morning sicknessnya, dan Zain membalurkan minyak kayu putih keseluruh punggung Khumairah dengan penuh kelembutan.
Setelah selesai, Ia membawa Khumairah menaiki mobil di jok depan, membawa bantal dan minyak kayu putih untuk mengurangi rasa mual Khumairah.
Setelah keluar dari jalanan berbatu, mereka menemukan jalan lintas untuk menuju kota.
Meskipun jalanan sudah baik, namun Zain masih tak dapat melajukan mobilnya, disebabkan Khumairah yang terus mual sepanjang perjalanan.
Setelah pukul 1 siang, keduanya sampai di kota, rasa was-was menghantui diri Zain, Ia takut diciduk polisi karena masih termasuk buronan dan data pencarian orang.
Dalam ketakutannya, Ia mencoba bersikap tenang.
Disisi lain, Khumairah terapana denagn keindahan kota. Gedung menjulang tinggi dan berbagai kehidupan orang yang tidak pernah ditemuinya selama ini membuatnya begitu sangat melongo.
"Ini kota ya, Mas?" tanya Khumairah yang masih dalam kondisi lemah, namun melihat semua yang terpampang dihadapannya, Ia sesaat melupaka rasa mualnya sejenak.
Bagaimana mungkin jika selama hidupnya Ia melihat hamparan hutan dan pertanian, namun di kota Ia melihat berbagai gedung pencakar langit dan berbagai model kendaraan yang lalu lalang tanpa henti.
Bahkan Ia bingun saat melihat kereta api yang melintas didepannya saat mereka berhenti karena palang pintu yang tertutup karena kereta api akan lihat. Semua hal itu membuat Khumairah terkagum-kagum.
__ADS_1
Zain membawa Khumairah berbelanja ke minimarket, sebab membawanya ke Mall bersiko Khumairah kelelahan.
"Wah.. Beda dengan warung kita Ya, Mas.. Jika warung kita dibuat sepwrti ini pasti bagus, Mas" ucap Khumairah meluncur begitu saja.
"Ya.. Nanti kita buat, tapi sesudah kamu melahirkan dulu, Ya?" ucap Zain menyarankan.
Khumairah menaggukkan kepalanya. Ia mengambil minuman susu kurma dan berbagai makannan ringan yang tidak dijual di warungnya.
Zain tertawa geli melihat jlah Khumairah yang begitu polosnya.
Lalu keduanya makan didalam mobil. Zain masih tetap waspada agar Ia tak dikenali oleh orang.
Saat makan siang dimobil, Khumairah menatap sebuah butik yang tak jauh didepannya.
"Mas.. Pakaian yang dipakai orang dikaca itu dijual?" tanya Khumairah kepada Zain.
Zain menatap apa yang dikatakan oleh Khumairah "Itu bukan manusia, itu patung boneka. Apakah kamu ingin membeli pakain itu?" tanya Zain dengan nada lirih.
Khumairah tak menjawab, namun Ia tersenyum malu-malu.
Zain mendenguskan nafasnya. Ia tahu jika wanita hamil menginginkan sesuatu maka nika tidak dituruti katanya dapat menghambat proses kelahiran, meskipun itu masih mitos, namun masih banyak yang mempercayainya dan terkadang terbukti benar.
"Tunggu disini, Ya.. Mas akan tanyakan apkah pakaian itu dijual atau tidak" ucap Zain dengan lembut, lalu berusaha turun dari mobil dan memakai tongkatnya yang diletakkan diketiaknya.
Zain meyeberangi jalan dan menuju butik tersebut. Zain memasuki butik, dan seorang pelayan menyambutnya.
Zain menanyakan harga pakaian yang ada di patung manekin, dan pelayan itu menyebutkan harganya.
Zain menganggukkan kepalanya, namun Ia sudah sempat berjanji dengan sesorang untuk mengambil pesanan kaki palsunya hari ini.
Harga pakaian itu bahkan sangat mahal, jika Ia membelinya, maka Ia harus memikirkan untuk biaya perobatan Khumairah juga.
"Saya memginginkan pakaian ini, tetapi uang saya untuk keperluan istri saya berobat" ucap Zain menjelaskan keinginnanya.
Lalu pegawai itu menemui pemilik butik dan terjadi dialog yang sangat serius.
Akhirnya Zain keluar dari butik dengan tangan kosong. Zain menemui Khumairah " Sayang.. Gaun itu sudah pesanan orang, dan tidak dijual, apakah kamu mau gaun yang lain?" tanya Zain kepada Khumairah.
__ADS_1
Khumairah mengeglengkan kepalanya.
"Tak apa, Mas.. Lain kali saja" ucap Kbumairah. Zain tersenyum getir, Ia tahu jika Khumairah sangat menginginkannya, namun Ia tak memiliki pilihan.