
Di rumah Sofiana dia baru menggeliat dan bangun dari tidurnya setelah jam menunjukkan pukul 3 sore, karena dia hampir tak bisa tidur semalaman karena melakukan aktifitas malam yang menggairahkan hingga menjelang pagi.
"Oh tubuhku sakit semua."
Sofiana mengeluh dan memegangi kepalanya yang terasa sakit serta pusing.
"Ini"
Sofiana duduk dan melihat sekeliling, dia mengerjapkan matanya berkali kali dan berusaha untuk mengingat apa yang telah terjadi, karena dia bangun tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
"Aduh, sakit."
Sofiana yang berusaha untuk bangun merasakan sakit di daerah intinya dan juga anusnya, dia merasakan perih di sana dan lemas pada kedua kakinya seolah dia habis melakukan olahraga berat.
"Apa yang sedang terjadi sebenarnya?"
Sofiana berjalan tertatih melihat rumahnya yang berantakan dan juga bajunya berserakan dimana - maka, serta botol minuman juga ada dimana - mana.
Sofiana berjalan keluar dengan perlahan dan melihat sekeliling rumahnya yang bagai kapal pecah merasa bingung, karena dia tak ingat dengan apa yang telah terjadi semalam.
"Tunggu dulu"
Sofiana yang selesai membereskan rumahnya dan mandi duduk termenung dan berusaha untuk mengingat kembali apa yang telah terjadi dan dilakukan, karena dia merasa kalau dirinya telah melakukan hubungan badan dengan seseorang dengan sangat panas dan bergairah.
"Tunggu, Kenan. Iya seingat ku aku sedang menghubungi Kenan setelah itu aku melakukan itu, akankah itu Kenan."
Sofiana membuka ponselnya dan melihat riwayat panggilan yang ternyata memang ada nomer Kenan di panggilan terakhir yang dilakukan oleh Sofiana.
"Apa ini, jadi ini benar - benar kenan. I i adalah nomer Kenan"
Sofiana melihat terpaku pada handphonenya dan melihat panggilan terakhirnya adalah benar nama Kenan yang dilakukan pada pukul 10 malam.
"Apakah itu artinya aku melakukannya dengan Kenan semalam, oh. Tubuhku terasa tak bertenaga, rasanya semua energiku terkuras dan terserap habis."
Sofiana sulit untuk bergerak dan dia pun mulai melihat kilasan bayangan kalau dia membuka pintu dan melihat Kenan berdiri didepan pintunya dan mereka saling berciuman serta bergulat setelahnya. Sofiana tersenyum dan merasa puas dengan melihat bayangan ingatannya itu.
...💔💔💔...
Keesokan harinya Sofiana mendatangi kantor Kenan untuk bertanya karena Kenan tak bisa dihubungi dari sejak kemaren. Dengan wajah tak sabar Sofiana berjalan dengan cepat untuk segerah sampai di ruangan Kenan.
"Pagi Ken" Sofiana masuk dan berjalan mendekati Kenan dengan wajah sumringah
"Ah Sof, kenapa kamu datang pagi - pagi sekali, apa ada masalah dengan produksinya?" Kenan bertanya dan menanggapi Sofiana biasa saja
"Tidak, tidak ada masalah dengan produksinya. Aku datang cuma ingin memastikan sesuatu dengan mu." Sofiana
__ADS_1
"Hem, soal apa, apa yang ingin kau pastikan." Kenan menatap penasaran
"Apakah akhir pekan kemaren setelah makan malam kita gagal aku ada menghubungi mu?" Sofiana
"Oh iya maaf untuk itu, karena aku harus membereskan dia sebelum dia membuat ulah semakin besar. Dan kalau menghubungi kau memang menghubungi aku. Tapi kau tak membuka pintu rumah mu saat aku datang jadi aku pulang lagi, kenapa memangnya." Kenan menjelaskan dengan biasa saja.
"Kau datang tapi pulang lagi" Sofiana duduk didepan Kenan dan menatap Kenan dengan bingung
"Iya, aku sudah menekan bel rumahmu berkali - kali dan kau tak keluar, tak ada respon apa pun dari mu." Kenan
"Bagaimana mungkin, lalu siapa yang datang" Sofiana bergumam
"Kenapa, apa ada yang salah?" Kenan
"Apa aku mengatakan sesuatu saat menghubungi mu" Sofiana
"Kau terdengar sedang mabuk, dan aku datang karena ingin menyerahkan dokumen yang ketinggalan di mobil ku" Kenan
"Kenapa kau tak memastikan kalau aku tak membuka pintu, bukankah harusnya kau khawatir padaku" Sofiana
"oh soal itu aku bertemu dengan tetangga rumahmu yang katanya kau sedang keluar dengan seseorang jadi aku pulang." jelas Kenan
"Apa? ada tetangga yang bilang aku keluar rumah." Sofiana semakin bingung.
"Iya, akun diberitahu oleh tetamggamu. Baiklah, kalau tak ada masalah maka aku akan pergi untuk rapat dulu. Nanti kalau ada masalah kau hubungi Agus saja, aku pergi dulu." Kenan bangun dan keluar dari ruangannya
"Jadi bukan Kenan, lalu siapa orangnya yang bersama ku malam itu, dan siapa tetangga yang dimaksud kenan." Sofiana terlihat bingung dan linglung
...💔💔💔...
"Jangan bergerak, berhenti ditempat." beberapa polisi sedang menyergap sebuah rumah
Terlihat ada beberapa orang yang lari untuk menyelamatkan diri dan mereka jadi tercerai berai. Namun karena sudah ada persiapan yang matang akhirnya semuanya bisa tertangkap dan diamankan serta dibawah ke kantor polisi semuanya.
"Semuanya sudah diamankan pak, dan saat ini sedang dibawah ke kantor polisi." seorang polisi sedang menghubungi seseorang lewat telepon.
"Ayo bawah semuanya tanpa terkecuali." polisi itu mengintruksikan pada polisi yang lainnya.
...💔💔💔...
"Bu Sofiana dipanggil ke ruangan bos sekarang" seorang pegawai memberitahu Sofiana saat dia sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Selamat siang pak, anda memanggil saya" Sofiana masuk ke ruangan bosnya
"Sof apa yang sedang kamu lakukan ini sebenarnya hah? Bukankah kamu bilang kalau kamu bisa menangani semuanya lalu apa ini." Bos Sofina melemparkan sebuah berkas dihadapan Sofiana
__ADS_1
"Maaf apa maksud anda pak" Sofiana merasa bingung
"Apa yang sudah kau lakukan sebenarnya hah, kau bilang kalau orang yang membuat janji awal telah membuat penolakan dan membatalkan kerja sama secara sepihak tapi yang terjadi bukanlah seperti itu, justru kau yang telah membuat klien kita menunggu sejam lebih dan setelah itu kau membatalkan janji begitu saja tanpa konfirmasi dan setelahnya kau memutuskan kerja sama dengan mereka dan mengalihkan kerja sama dengan pihak lain yang sejak awal memang sudah kau targetkan." Bos Sofiana marah besar dan Sofiana merasa kaget mendengar itu karena rencananya diketahui oleh bosnya.
"Tapi pak bukankah kita mendapatkan kerja sama yang lebih baik dengan pak Kenan saat ini." Sofiana membela dirinya dan mengambil berkas yang tadi dilemparkan oleh bosnya didepannya.
"Kerja sama yang baik, memang baik tapi kamu telah melakukan kebohongan dengan memberikan laporan palsu pada perusahaan kalau pihak mereka yang memutuskan kerja sama, sedangkan yang sebenarnya adalah kamu yang tak bisa bertanggung jawab" bentak bos Sofiana.
"Jangan terlalu marah padanya kak Sam" Fairi berjalan masuk ke ruangan Sama
Melihat itu Sofiana kaget dan menatap tak percaya pada Fairi yang ternyata kenal dengan bosnya bahkan memanggilnya dengan sebutan sangat akrab yang tak bisa dilakukan oleh orang biasa.
"Halo Sofiana kita bertemu lagi." Fairi menatap tersenyum pada Sofiana dan berjalan melewati Sofiana untuk berjabat tangan dengan Sama.
"Ras, kau datang juga akhirnya, bagaimana apa kau tak kesulitan mencari perusahaan ini" Sama menyambut Fairi dan sikapnya berubah 180 derajat dengan yang tadi
"Bagaiman bisa sulit, perusahan yang begitu terkenal dan besar aku pasti bisa menemukannya dengan sangat cepat." Fairi berkata dengan santai dengan Sama
"Jhon akan datang, karena perubahanmu sungguh sangat luar biasa, jika kamu tak menunjukkan kartu itu aku tak akan tau kalau itu adalah kamu." Sama
"Aku bersyukur masih memiliki kartu itu" Fairi berkata dan tersenyum
"Duduklah aku akan membuatkan minum untukmu, masih tetap sama yang kau sukai." Sama berkata dan pergi ke Pantry
"Masih tetap sama kak, karena aku masih orang yang sama." jawab Fairi
"ok ok." Sama berkata dan tersenyum.
Fairi bangun dan berjalan mendekati Sofiana yang masih berdiri ditempatnya dengan diam, lalu Fairi mendekat dan membisikkan kata pada Sofiana "Kejutan"
"Kau" Sofiana berkata dengan pelan
"Jangan pernah meremehkan orang, kau akan mendapatkan kejutan lainnya lagi tunggu saja." Fairi tersenyum menatap Sofiana.
"Ada yang bisa aku bantu kak? aku tak ingin membuatmu repot dengan pekerjaan dan membuatkan aku minuman diawal pertemuan kita, itu terlihat sepertinya aku sangat kejam padamu." Fairi berjalan melewati Sofiana dan mendekati Sama yang sedang sibuk membuat minuman.
"Oh sebaiknya anda keluar saja non Sofiana." ucap Fairi menoleh dan berkata dengan keras dengan sengaja agar Sama mendengarkan
"Ya sebaiknya kau keluar saja, nanti saat Jhon datang baru diproses lagi" Sama berkata dengan kesal menatap Sofiana
"Baik pak." Sofiana keluar dengan kesal.
"Ya ampun aku tak tau siapa bos ku sebenarnya, dia sungguh sangat misterius dan sangat keren." gumam Lina dalam hati menatap Fairi.
Terlihat perbincangan antara Fairi dan Sama sangat akrab dan juga sangat santai walau mereka sebenarnya serius. Lina yang menatap dan mengikuti Fairi jadi semakin mengidolakan Fairi dan juga sangat kagum sama Fairi.
__ADS_1