Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 99


__ADS_3

Setelah mendengar cerita dari nyonya Tias Amrita menatap Kemal dengan sedih, Amrita tak tau harus bagaimana mengatakan kalau sebenarnya mamanya masih ada dan masih hidup hanya saja tak mau menemuinya.


"Sebenarnya apa alasan Fairi tak ingin bertemu dengan putranya, karena aku yakin dia juga sangat merindukan putranya. Karena terakhir kali aku melihatnya dia terlihat tak bahagia sama sekali."


Amrita bergumam dan berfikir keras soal alasan Fairi tak ingin menemui putranya dengan alasan masih sibuk dan ingin menyelesaikan pekerjaan.


"Oh, tunggu. Kalau nomernya tak bisa dihubungi mungkin Wati bisa membantu, iya dia pasti bisa."


Dengan cepat Amrita menghubungi Sri Wati yang merupakan temannya juga dan yang tau soal Fairi karena pamannya yang telah menjaga dan merawat Fairi selama ini


"Halo Wati kamu dimana?" Amrita menghubungi Sri Wati


"Hem, ada apa kenapa ibu model yang terhormat menghubungiku siang - siang begini, apa ada hal penting." jawab Wati penasaran sambil berjalan masuk ke rumah Fairi.


"Aku tanya kau dimana, karena Fai.. oh paman mu tak bisa dihubungi nomernya." Amrita berbicara dengan aneh menurut nyonya Tias


"Oh, aku di rumah Fairi ada apa emangnya. Apa ada sesuatu yang gawat?" Sri Wati ikut panik


"Tidak-tidak, aku hanya butuh bantuanmu saja. Kalau kau sekarang disana kebetulan sekali, karena dari tadi aku menghubungi nomernya tapi tak bisa" Amrita


"Oh, Sa. apa nomer Fairi diganti lagi?" Sri Wati bertanya pada Sabrina.


"Iya non, baru diganti tadi pagi, dan maaf belum konfirmasi." jawab Sabrina pada Sri Wati.


"Iya kau dengar barusan, kalau nomernya memang diganti lagi ada apa? Biar aku sampaikan padanya" Sri Wati menjawab dan duduk di sofa.


"Tidak, kau dengarkan saja apa yang aku ceritakan."


Amrita berjalan keluar dan menceritakan semua cerita yang tadi diceritakan oleh nyonya Tias pada Amrita soal Kemal yang merajuk dan merindukan mamanya.


"Oh, siapa yang kau bilang tadi, Ar siapa?" Sri Wati mengulang nama yang disebutkan oleh Amrita namun dia lupa lengkapnya


"Arman." jawab Amrita


"Iya, siapa dia dan apa hubungannya dengan Fairi kita." Sri Wati yang tak tau apa pun bertanya dengan heran.


"Dia adalah putra Fairi yang masih berusia 7 tahun dan saat ini dia sedang merindukan Fairi. Dia gak mau ngapa - ngapain hanya duduk diam dan membisu." jelas Amrita lagi.


"Kasian sekali apa alasan Fairi tak mau menemuinya padahal dia masih sehat walafiat. Terus apa yang bisa aku bantu katakan saja." Sri Wati pun bersedia membantu Amrita untuk mempertemukan antara Fairi dan Kemal


"Kau mau cari tau Fairi mau kemana hari ini? Kalau dia tak ada kepentingan yang menuntut tolong bantu aku. Jika dia tak mau menemui putranya maka biarkan si kecil saja yang mencarinya dan membawahnya pulang." Amrita berkata dengan jelas pada Sri Wati.


"Tunggu, bagaimana caranya si kecil membawahnya pulang? Kau jangan aneh - aneh, anak kecil bisa apa." Sri Wati merasa bingung dengan penjelasan Amrita.


"Duh dodol, bukankah diawal aku sudah jelaskan kalau putra Fairi memiliki kepekaan terhadap dirinya, jadi kamu cukup membuat Fairi sibuk dan terus aktif sampai Arman menemukannya." jelas Amrita lagi dengan kesal


"Ok, ok aku akan bantu. Ku tanyakan dulu hari ini ada kegiatan apa dia, nanti ku beritahu lewat pesan." Sri Wati pun menutup teleponnya dengan Amrita dan mendekati Sabrina.


"Sa dimana Fairi, dan apakah hari ini ada kegiatan yang sangat penting? Atau kalian mau pergi kemana gitu? Karena kalau tak ada aku ingin minta tolong pada Fairi untuk menanti ku sebentar." Sri Wati membuat alasan pada Sabrina.


"Tidak ada sih non, cuma nanti kami akan ada pertemuan dengan seseorang di restoran yang ada di mol Josua." jawab Sabrina tanpa curiga karena Sri Wati merupakan majikannya juga.


"Em, baiklah sekarang diaman dia." tanya Sri Wati lagi.

__ADS_1


"Tadi pagi saya lihat ada di dapur untuk mengambil air, setelah itu kembali lagi ke kamarnya dan belum keluar sampai sekarang." Sabrina menjawab dan melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Baiklah aku cari dia." Sri Wati langsung berjalan menuju kamar Fairi


"Fa...ups, dia masih tidur ya."


Sri Wati berjalan pelan mendekati Fairi yang sedang terlelap. Dengan dalam dan lama Sri Wati menatap Fairi dan tersenyum lalu menggenggam tangan Fairi dan termenung sangat lama sambil menatap Fairi yang terlelap.


"Uhg." Fairi menggeliat dan dia menatap sahabatnya Sri Wati yang duduk termenung disamping tempat tidurnya sambil menggenggam tangannya. Fairi tersenyum dan dia teringat akan kejadian 1 tahun lalu, saat dia terbangun untuk pertama kalinya dia juga melihat Sri Wati disampingnya dengan bengong.


"Wat kau di sini." Fairi bangun dan menarik tangannya membuat Sri Wati sadar dari bengong nya.


"Hem, apa aku membangunkan mu." Sri Wati tersenyum menatap Fairi.


"Tidak, kapan kau datang, kalau aku adalah pria mungkin aku sudah jatuh cinta padamu karna perhatian mu dan tatapan mu itu." Fairi bangun dan menyandarkan dirinya disandaran tempat tidur.


"Sudah dari tadi tuan putri." Sri mendekat dan memberikan kecupan di kening Fairi yang sedang bersandar ditempat tidur.


"Duh kebiasaan kau ini, gunakan saja perhatianmu itu pada kekasih mu." Fairi tersenyum dan turun dari tempat tidur.


"Aku dengar kau akan ada pertemuan di mol Josua siang ini. Apa aku boleh ikut dengan mu, aku janji tak akan mengganggu. Aku malas di rumah karena tak ada kegiatan boleh ya, ya, ya" Sri memohon pada Fairi dengan manja.


"Aku tau itu hanya alasan mu saja, kau ingin bertemu dengan dia kan? Karena tak ingin ketahuan makanya membuat alasan untuk ikut dengan ku." Fairi berkata dan menatap Sri


Sri tersenyum "kau tau saja, tapi boleh ya."


"Iya baiklah." Fairi pun masuk kedalam kamar mandi untuk mandi.


Siang itu Fairi bersama dengan Anita dan Sabrina yang selalu mengikuti kemana pun Fairi pergi sedang ada pertemuan dengan seseorang di restoran yang terletak didalam mol josua. Dan siang itu Fairi juga ditemani oleh Sri Wati karena dia mau bertemu dengan seseorang yang dia suka di mol itu, serta melancarkan rencana Amrita untuk mempertemukan Fairi dengan putranya.


"Di sini tempatnya?" Fairi bertanya pada Sri saat mereka sampai didepan mol besar.


"Iya ayo masuk, aku benarkan Sa." Sri menarik Fairi dan menatap Sabrina.


"Iya benar." Sabrina mengangguk.


Dua orang pengawal berjas hitam membukakan pintu mol itu dan Sri sama Fairi melangkah masuk kedalam mol itu. Mereka berjalan kearah restoran Cina yang ada didalam mol itu. Selama dalam mol Sri banyak sekali bicara dan bertanya banyak hal pada Fairi agar Fairi terus menjawab. Dan Sri dengan sengaja membawah Fairi melewati jalan memutar dari pada lurus yang bisa langsung sampai restoran yang akan ditujunya.


Sabrina dan Anita merasa bingung dan bertanya - tanya ada apa dengan Sri Wati yang terlihat aneh sejak dia datang ke rumah, apa lagi saat ini dia bukannya langsung berjalan menuju restoran malah berputar dan menuju tempat yang tak jelas, dan anehnya Fairi seolah tak merasa curiga dia terus saja mengikuti Sri Wati dengan sabar karena masih ada waktu sebelum pertemuan sekitar 30 menit.


Disisi lain Amrita yang membawah Kemal dan putrinya ke Timezone sedang menunggu dengan cemas. Amrita seolah percaya dan tak percaya dengan cerita nyonya Tias kalau Kemal memiliki kepekaan terhadap keberadaan mamanya.


"Kakak Arman." Arumi memanggil Kemal dan mereka terlihat sangat seru bermain tembak - tembakan dengan didampingi Amrita dan nyonya Tias.


Sudah hampir 30 menit Amrita ada di mol itu dan bermain, hingga Sri Wati menghubunginya lewat SMS kalau dia dan Fairi sudah tiba dan akan masuk kedalam mol untuk ke restoran Cina.


Tap


Langkah kaki Fairi yang memasuki mol seolah mengirimkan pesan pada Kemal kalau mamanya ada ditempat yang sama dengan dirinya. Kemal yang tadi bermain dengan seru tiba - tiba saja terdiam dan mematung ditempat lalu menatap Amrita seolah dia meminta ijin pada Amrita untuk mencari mamanya.


Amrita yang melihat reaksi Kemal terkejud karena sesaat setelah Sri mengirimkan pesan padanya, Kemal seketika bereaksi aneh dan menatapnya dengan tajam, Amrita yang sadar tersenyum dan mengangguk memberikan ijin pada Kemal untuk pergi.


Dengan cepat Kemal berlari kearah lif untuk menurun sambil melihat ke kanan dan ke kiri dengan panik. Sedangkan nyonya Tias yang melihat Kemal lari dia langsung mengikuti Kemal dengan panik dan menggenggam tangan Kemal untuk turun kelantai dasar.

__ADS_1


"Honey...honey..."


Kemal langsung berlari dan menerobos banyaknya orang yang berkunjung di mol itu setelah keluar dari lif. Kemal seolah tak sabar untuk segerah menemukan mamanya yang bisa dia rasakan kehadirannya.


Amrita yang mengikuti nyonya Tias sambil membawah Arumi dia tersenyum dan tak menyangka kalau ada hal seperti itu. Ikatan bathin seorang anak pada mamanya yang begitu dalam sampai bisa membuat seorang anak mampu merasakan kehadiran mamanya walau dia tak tau dimana keberadaan mamanya.


"Arman ya Allah lari kemana anak itu tadi." nyonya Tias dengan panik mencari Kemal yang hilang di kerumunan orang.


Amrita menghubungi nomer Sri untuk bertanya dan ingin bicara dengan Fairi langsung. Sedangkan nyonya Tias yang ketakutan dia menghubungi Kenan sebab Kemal sudah menghilang dari pandangannya.


"Ya halo, kenapa?" Sri Wati menjawab panggilan Amrita.


"Dimana Fairi, berikan handphon mu padanya." ucap Amrita


"Apa, siapa yang telepon?" Fairi bertanya saat Sri menyerahkan telepon genggamnya pada Fairi.


"Amrita, dia ingin bicara dengan mu." jawab Sri Wati


"Halo ya Rit ada apa?" jawab Fairi dengan santai.


"Arman ada di sini dan dia sedang berlari mencari kamu, aku kehilangan dia saat ini." jelas Amrita panik.


"Apa katamu. Bagaimana bisa" Fairi terlihat panik juga "Rina batalkan pertemuannya ubah untuk besok aku pergi dulu" Fairi menyerahkan handphone pada Sri dan dia langsung lari.


Di kerumunan banyak orang Kemal merasa bingung dan dia mulai berkaca - kaca karena tak menemuka mamanya. Disaat dia hampir menangis dan mau kembali mencari nenek dan juga mama Rita nya, suara Fairi terdengar dari pengeras suara.


"Sayang...jangan panik, jika kau tak dapat melihat dan menemukan mama, maka tutup matamu dan rasakan debaran jantungmu, tarik nafas perlahan dan pusatkan pikiranmu karena mama akan selalu ada disana, disetiap debaran jantung dan nafasmu."


"Honey..." Kemal pun menutup matanya dan mulai bernafas dengan perlahan, kemal tersenyum dan dia lari lagi kali ini dengan senyumannya karena mendengar suara mamanya bersenandung lagu kesukaannya. Lagu Twinkle Twinkle Little Star.


Fairi pun ikut mencari setelah memberikan pesan pada putranya dan mulai bernyanyi dengan perlahan menjauhkan mikrofon dan berjalan dengan bersenandung lagu kesukaan kemal. Sedangkan nyonya Tias yang sudah panik dan ketakutan karena kehilangan cucunya dia tak menyadari surat Fairi dari pengeras suara.


"Amrita, syukurlah aku melihatmu. Aku tak dapat menemukan Arman, dan Kenan tadi sudah memarahi aku, bagaimana ini? Habis ini Kenan akan sampai di sini. Apa kita lapor pada petugas saja untuk mencarinya dan menginfokan barang kali ada yang melihat Arman." Nyonya Tias berkata dengan panik


"Tenanglah Tante, dia tak akan hilang karena dia sedang mencari rumahnya untuk pulang. Tante tunggu saja dia akan datang membawah kebahagian untuk kita." jawab Amrita yang membuat nyonya Tias bingung.


Fairi yang mencari Kemal dengan bersenandung membuat Kemal lebih cepat dapat menemukannya. Dari jauh Kemal melihat bayangan mamanya berdiri dengan tersenyum. Wajah Kemal pun sumringah dan dia langsung berlari saat Fairi berlutut dan membuka kedua tangannya.


"Honey..." Kemal lari dan langsung menghambur kedalam pelukan Fairi dan tangisnya seketika pecah, seolah dia melampiaskan segala rasa yang menghimpit didalam dadanya.


"Sayang..." Fairi menepuk dan memeluk Kemal sangat erat


"Honey...mama...mama." Kemal memeluk Fairi kuat dan tak ingin melepaskannya karena takut kalau nanti dia akan kehilangan mamanya lagi.


Fairi menarik Kemal dan menghujani ciuman bertubi - tubi di seluruh wajah Kemal, begitu juga dengan Kemal. Dua orang yang terpisah dan dipertemukan lagi itu seolah tak peduli dengan pandangan orang yang sedang menatap mereka dan berfikir kalau itu adalah syuting film karena mereka bertemu dan saling melampiaskan rasa rindu yang mendalam.


"Tolong jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku lagi. Aku gak mau sendirian." Kemal menangis dan meminta pada mamanya untuk tak meninggalkan dia lagi.


"Hem, maafkan Mama sayang." Fairi memeluk Kemal lagi


"Berjanjilah jangan pergi lagi dan jangan pulang ke rumah tuhan, aku mau ikut kalau mama ke rumah tuhan. Aku juga janji gak akan nakal lagi dan akan memanggilmu mama. Aku sayang mama." Kemal banyak bicara sambil menangis dan mengusap air mata Fairi dengan kedua tangan mungilnya.


Fairi kembali menghujani Kemal dengan ciuman dan meminta maaf pada Kemal karena tak segerah menemuinya setelah dia kembali.

__ADS_1


__ADS_2